September 25, 2008/ 17:37 | Filed in:
CHRONICLES
Romiana Manurung
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat
Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.
Memahami apa yang dituliskan James C. Scott
dalam ”Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah”
adalah kesulitan tersendiri bagi saya.
Setiap kata yang James tuliskan membutuhkan
beberapa menit bagi saya untuk dapat
mencernanya dan hasilnya saya harus
mengulang kembali kata-kata itu sampai
beberapa kali. Begitulah yang saya rasakan
sampai kemudian saya dapat memahaminya
tanpa perlu mengulangnya kembali. Perubahan
ini yang saya alami setelah diskusi saya
dengan Dina dari Interseksi ketika ia
datang ke Medan beberapa waktu lalu. Saya
keluhkan ini kepadanya dan ia memberi saran
agar saya membacanya dalam situasi yang
tenang bukan saja ruang dan waktu tetapi
juga fikiran dan konsentrasi saya.
-
Tulisan Romiana
Sebelumnya
Setelah saya sadari, akar masalah
sebenarnya adalah ketika informasi yang
telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS
Amplas dalam mempertahankan hak-hak
perumahannya selama ini hanya saya rekam di
kepala dan membiarkannya mengendap begitu
saja.
Dina memang berulangkali mengingatkan saya
agar membuat transkrip, menurutnya kalau
transkrip langsung dibuat kita akan segera
tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan
selain itu juga akan sangat membantu dalam
membuat analisis. Ini mempermudah kita juga
untuk berkonsentrasi pada hal lain. Sempat
Dina meledek saya, katanya biasanya dalam
melakukan penelitian terlebih dahulu
dituliskan transkripnya baru analisisnya.
Sementara saya terbalik, analisisnya sudah
saya buat sebelum transkrip itu saya
tuliskan.
Dari pemahaman saya setelah membaca buku
James, apa yang ia tuliskan tentang gerakan
petani di Sedaka, memiliki pola yang hampir
sama dengan apa yang dilakukan warga rusun
Amplas. Karakteristik orang Batak yang
sering digambarkan sebagai orang yang
keras, tidak mau kalah dan ahli berdebat
(meski kadang tanpa disertai alasan)
menjadi salah satu alat dalam melawan
hegemoni yang dilancarkan PD. Pembangunan
Kota Medan. Hipotesis ini saya ungkapkan
mengingat apa yang pernah disampaikan oleh
staf PD. Pembangunan ketika mereka
berkunjung ke YPRP sekitar 3 bulan yang
lalu. Ketika itu PD. Pembangunan mencoba
mengajak YPRP untuk berdialog tentang
persoalan rumah susun Amplas. Warga rusun
sendiri mengakui bahwa mereka tidak ingin
nurut dengan PD. Pembangunan, mereka
mengeluarkan kata-kata dengan suara yang
jauh lebih keras jika PD. Pembangunan
mencoba menggertak mereka. Bahkan beberapa
warga menyatakan kalau harus
gelot
(beradu fisik) mereka juga siap walau
mereka seorang perempuan.
Sikap kasar dan keras kepala warga rusun,
sekilas memang menorehkan citra buruk bagi
mereka. Sebahagian masyarakat bahkan
menganggap bahwa warga rusun adalah warga
liar, hanya mau menang sendiri dan tidak
peduli dengan kewajibannya. Kata-kata itu
saya cuplik dari pernyataan kepala
lingkungan (kepling) lingkungan III,
kelurahan Amplas yang menyatakan sikapnya
ketika saya berkoordinasi senin lalu
kepadanya lewat HP soal Badan Pusat
Statistik (BPS) untuk survey tingkat
kemiskinan. Menurut pak Kepling, warga
rusun adalah orang yang tidak mau mengikuti
aturan pemerintah, dicontohkan olehnya soal
pengurusan KTP. Ketika saya katakan bahwa
warga rusun sudah mengurus KTP, tetapi
blankonya yang tidak ada, ia menjawab bahwa
sekarang ini memang blanko tidak ada,
tetapi dari dahulu jika diminta membuat KTP
mereka tidak pernah mau, dan ketika ada
masalah baru ramai-ramai mereka sibuk
mengurus. Bahkan ia menambahkan pihak
kelurahan sendiri sebenarnya sudah malas
mengurus mereka.
Selain membaca tulisan James, saya juga
baru tahu kalau beberapa model pendekatan
PD. Pembangunan dalam upaya menggusur warga
adalah bagian dari hegemoni PD.
Pembangunan. Ini saya ketahui saat Dina
menerangkan kepada saya tentang teori
hegemoni-nya Antonio Gramsci dan ia
merekomendasikan kepada saya untuk
menggunakan teori itu didalam penelitian
saya. Sayang buku itu tidak ada ketika kami
mencarinya di toko buku. Dina berjanji akan
mengirimi buku itu kepada saya via pos
setibanya ia di Jakarta.
Membaca James C. Scott dan Hegemoni-nya
Antonio Gramsci (beberapa hari kemudian
buku itu sudah saya terima) saya banyak
belajar untuk kasus KWRS Amplas terutama
belajar dari senjatanya orang-orang yang
kalah.