FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Laporan Peluncuran dan Diskusi Film To Mompalivu Bure

LAPORAN

direktur tifa
Pada bulan Desember 2007 sampai bulan Januari 2008, Yayasan Interseksi mengirim sebuah tim peneliti audio-visual ke kawasan Cagar Alam Morowali, kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran terbaru tentang bentuk-bentuk pilihan strategi yang dilakukan oleh salah satu komunitas etnik Ta' yang tinggal di kawasan tersebut. Di luar tempat hidupnya, komunitas ini dikenal dengan sebutan orang Wana atau To Wana. Semula sebutan yang cenderung derogatif ini mungkin diberikan oleh para misionaris Belanda untuk menunjuk pada strategi mereka menghindar dari upaya perekrutan ke dalam agama Nasrani dengan cara melarikan diri ke dalam hutan. Tapi lama kelamaan mereka sendiri sudah terbiasa dengan sebutan tersebut. Meskipun tetap lebih senang disebut sebagai orang Ta', tapi mereka juga sudah mulai terbiasa menyebut dirinya sebagai orang Wana. Belakangan sebutan orang Wana atau To Wana jauh lebih sering dipakai daripada sebutan orang Ta'.

sambutan
Setelah beberapa bulan dalam proses post-production, sebagian kecil data audio-visual yang didapat dari pekerjaan lapangan selama satu bulan itu, antara lain, dijadikan sebagai bahan untuk menyusun sebuah film dokumenter berjudul To Mompalivu Bure atau Kisah Orang-orang Pencari Garam. Idenya berasal dari hal sederhana, yakni kenyataan bahwa orang-orang Ta' yang tinggal di kawasan Cagar Alam Morowali sangat senang membubuhkan garam pada makanan yang disantapnya. Karena di kampung halamannya, di wilayah pegunungan, sangat sulit ditemukan garam, konon dahulu mereka harus berjalan sangat jauh menuruni gunung untuk mencari garam. Perjalanan inilah yang membawa mereka ke dalam berbagai perjumpaan historis dengan dunia di luarnya. Maka kisah pencarian garam tadi adalah juga cerita tentang kisah-kisah eksitensial orang Wana berjumpa dengan dan berlari dari problem-problem dan peluang yang tersedia dalam modernitas, dengan kampung, dan agama, dan pemerintah, dan bemacam-macam kisah yang saling kelindan satu dengan lainnya.

pembukaan
Film inilah yang edisi previewnya diputar dan didiskusikan di Toko Buku Aksara, Kemang, Jakarta, 10 April 2008 yang lalu. Berdurasi sekitar 52 menit, film itu berisi puluhan sekuen tentang berbagai potret kehidupan Orang Wana. Masing-masing sekuen mewakili ragam yang berbeda dari bagaimana Orang Wana mempertahankan eksistensi mereka di tengah perubahan. Terdapat tiga komunitas Orang Wana, masing-masing tinggal di tiga lokasi berbeda, yang ditampilkan dalam film “To Mompalivu Bure” itu, yaitu Orang Wana di Kayopoli, Marisa, dan Taronggo. Masing-masing memiliki cerita sendiri, tetapi ketiganya secara simultan memberikan gambaran yang menarik tentang hubungan-hubungan Orang Wana dengan dinamika perubahan, baik yang bersifat internal maupun eksternal.

para panelis
Dalam acara tersebut, dua orang pembahas yang memberi masukan penting bagi film “To Mompalivu Bure” ini. Pembahas pertama, Suma Riella Rusdiarti, seorang kritikus film yang juga dosen di FIB UI, mengingatkan tentang pentingnya film sebagai salah satu media untuk merepresentasikan realitas yang tak terbatas ke dalam bahasa gambar yang, tentu saja, memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu. Sebagaimana terjadi juga dalam teks yang bersifat tulisan, bahasa gambar dalam film adalah teks yang tidak pernah netral karena ia dipilih untuk tujuan tertentu. Semua pihak yang terlibat dalam produksi sebuah film, termasuk sineasnya, adalah pengarang yang memilih bagian-bagian mana dari realitas yang perlu atau tidak perlu untuk direpresentasikan.

tutup
Akan tetapi, demikian kata Riella, di sinilah letak problemnya. Jika bahasa gambar yang direpresentasikan dalam sebuah film benar-benar tepat dan efektif, barangkali kepentingan sang sineas untuk mempengaruhi kesadaran penonton akan berhasil.Akan tetapi, jika yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah film akan sulit berbicara karena penonton hanya menyaksikan bahasa gambar yang bergerak dengan cepat—dan seringkali banyak—tetapi kehilangan fokus dan gagal mempengaruhi kesadaran penonton.

Meskipun jelas bahwa film ini banyak didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya, yang dimuat dalam buku Hak Minoritas. Dilema Multikulturalisme di Indonesia terbitan Yayasan Interseksi, tapi film ini berhasil tampil sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri. Ia bukan hanya pendamping bagi narasi tekstual dalam buku tadi, melainkan menjadi teks yang berbicara dengan pesannya sendiri.

Lebih lanjut, Suma Riella Rusdiarti menilai film “To Mompalivu Bure” telah berhasil menghadirkan narasi visual yang menarik. Gambar-gambar mengenai setting geografis Orang Wana ditampilkan dengan menawan, disertai dukungan narasi audio yang berusaha mengantar imajinasi penonton kepada kondisi rill yang mungkin dirasakan seorang yang baru pertama kali berkunjung ke sana. Akan tetapi, narasi audio atau teks yang tidak tepat akan membuat sebuah film gagal mendekatkan imajinasi penonton terhadap hal-hal yang tidak mungkin terrepresentasikan dalam gambar. Problem ini serinmenghinggapi jenis film dokumenter seperti film “To Mompalivu Bure” ini. Berbeda dengan jenis film lainnya, fungsi narasi audio atau teks dalam jenis film dokumenter menjadi begitu penting karena lewat inilah pesan yang hendak disampaikan sebuah film akan berhasil ditangkap atau tidak oleh penonton.

Kritik Reilla pada To Mompalivu Bure adalah tentang adanya kecenderungan terlalu banyaknya pesan yang ingin disampaikan. Alih-alih memilih fokus pada satu tema tertentu secara tajam, film ini terkesan hanya menampilkan banyak fragmen yang kurang dalam penggarapannya. Reilla memberi contoh sebuah film dokumenter lain tentang komunitas ToWana, Indo Pino, yang dibuat oleh pasangan Martina dan Gerard dari Prancis, yang secara terfokus mampu menampilkan isu tentang metode pengobatan tradisional orang Wana dan pertanyaan yang muncul ketika tokoh waliya yang biasa mengobati orang itu terserang sakit.

Pembicara selanjutnya adalah Jabbar Lahadji dari Sahabat Morowali, sebuah LSM yang telah sejak lama beraktifitas dalam isu-isu yang menyangkut Orang Wana. Menurut Jabbar, secara keseluruhan film To Mompalivu Bure ini telah berhasil merekam dinamika kehidupanOrang Wana dalam mempertahankan eksistensi hidup mereka. Meski demikian, Jabbar menekankan bahwa Orang Wana bukan hanya mereka yang berhasil ditampilkan dalam film “To Mompalivu Bure” itu. Di luar itu, masih banyak cerita megenai kehidupan Orang Wana yang belum diketehui oleh dunia luar. Orang-orang Wana yang tinggal di gunung, demikian kata Jabbar, relatif belum tersentuh pengaruh ‘kehidupan modern’.

Yang sangat disayangkan adalah kondisi tempat pemutaran film dan diskusi tersebut. Seting ruangannya bisa dibilang tidak cocok untuk pemutaran film: sebuah ruangan berdinding kaca, dan ditutup dengan kain berwarna putih sehingga seluruh cahaya matahari dari luar masuk ke dalam ruangan. Akibatnya, film yang ditampilkan dalam layar melalui proyektor langsung terkena cahaya matahari dari luar ruangan, dan mengakibatkan tampilan di layar sangat kabur.

Masalah lain, aliran listrik yang mendadak terputus. Pemilik tempat ternyata tidak memiliki generator cadangan yang cukup untuk kondisi seperti itu. Akibatnya, selain ruangan terasa sangat panas, pemutaran film juga berkali-kali terputus oleh mati-hidupnya listrik dari generator cadangan. Baru menjelang sore hari listrik menyala kembali. Meskipun demikian, ternyata masih cukup banyak peserta yang tetap bertahan dalam kondisi seperti itu. Acara berlangsung sampai sekitar pukul 17 sore.





To Mompalivu Bure: A Synopsis

ENGLISH

Logo Interseksi

To Mompalivu Bure is a documentary video based on an audio-visual research in Wana community in Morowali Nature Reservation Park, Central Sulawesi. It sketches out the dynamics of Wana People community--they call themselves as Ta' Tribe--who are facing challenges brought about through social, cultural and economic contacts with outside environment. Earlier contacts between Wana people and outside world came about mainly through trades. For their daily life, Wana society/ people depend heavily on forest commodities, most notably from collecting rattan and resin. The Wana people simply collect the goods manually and transport it to Marisa, where broker await and later sell the commodities in the nearest market at Kolonedale.

To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various parts of the country. It is a part of our efforts in facilitating renegotiation of the nation with its subaltern sub-nation nations. Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.


The movie shows the differences among Wana people when responding to challenges and changes that occur around them. As Wana people inhabit a vast area in the Nature reservation zone, the film captures only three locations where Wana community resides, namely in Marisa, Kayupoli and Taronggo, with Kayupoli as the remotest among the three. The Wana community who live in Kayupoli sells resin or rattan in Marisa, therefore Marisa can be considered their ‘economic frontier zone’. From Marisa the commodities are then transported and traded in the market in Kolonedale, a sub district town in the district of Morowali. Meanwhile, a story of Toronggo represents intense encounters between the Wana and the modern world, where various institutions, i.e. education facilities, health centers, and religious traits have existed thus play important roles in the daily life of the Wana.

Toronggo settlement also shows the multi dimensions of development project. To some, settlement program is regarded as pulling the Wana people out of their traditional roots. To some others, the program is seen as a window of opportunity for the Wana to experience change and ‘progress’.

The movie shows how Wana people faces or confront resettlement program, with outside ‘agents’ play different and yet significant roles in the process. Other than NGO s (Non Government Organizations) and religious bodies, intellectual and government roles are prominent in shaping the contemporary world of the Wana people. Investors are also play decisive factor which alters the life of the Wana, with oil palm plantation in Taronggo as an icon of their involvement in a wider market economy. As a result the dependency of Wana people with consumption goods which signify modern society is getting bigger.

Based on our previous research conducted in 2005, the movie also tries to illustrate the historical encounter of local community with modern Indonesia and modernity. They respond diversely to it, with each group who live in different locations pose different strategy to meet both external changes and those which resulted from their internal dynamics.

Since 2005 the Interseksi foundation, supported by the Tifa foundation, has conducted research in several local communities in various parts of Indonesian archipelago. The research is mainly aimed find solid ground for the arguments in advocating minority rights and in critically discussing the problematic multiculturalism in Indonesia. To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various parts of the country. It is a part of our efforts in facilitating renegotiation of the nation with its subaltern sub-nation nations. Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.

Jakarta, 10 April 2008

THE INTERSEKSI Foundation

VERSI BAHASA INDONESIA

Logo Interseksi

To Mompalivu Bure adalah sebuah video dokumenter yang didasarkan pada penelitian audio visual di komunitas Wana di lingkungan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. Film ini bercerita tentang dinamika kehidupan Orang Wana--mereka sering menyebut dirinya sebagai Suku Tak--yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Dinamika yang terjadi pada awalnya didorong oleh adanya kontak-kontak perdagangan antara Orang Wana dengan dunia luar mereka. Berbagai komoditas dari lingkungan hutan cagar alam Morowali adalah sumber penghidupan bagi Orang Wana. Diantara yang paling penting dari komoditas-komoditas itu adalah damar dan rotan, yang dikumpulkan oleh Orang Wana dengan cara-cara sederhana sebelum mereka menjualnya ke pengepul. Para pengepul inilah yang menjual secara langsung berbagai komoditas tadi ke pasar yang paling dekat dengan lingkungan Orang Wana di Kolonedale.

Salah satu sisi yang hendak diperlihatkan oleh film ini adalah keragaman di antara Orang Wana dalam menanggapi kesempatan dan perubahan yang berlangsung di sekitar mereka. Ada tiga lokasi permukiman Orang Wana yang diangkat dalam film ini, yaitu Marisa, Kayupoli, dan Taronggo. Di antara ketiganya, Kayupoli adalah yang paling terpencil. Orang Wana yang tinggal di Kayupoli biasanya menjual damar atau rotan ke Marisa. Dapat dikatakan, Marisa adalah frontier zone bagi Orang Wana, sebelum mereka menjual komoditas-komoditas hasil hutan ke Kolonedale. Sementara itu, cerita mengenai Taronggo merupakan representasi dari perjumpaan Orang Wana dengan dunia modern dalam bentuk yang paling intensif. Di sini, institusi-institusi pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah telah berdiri dan berperan penting dalam dinamika kehidupan sehari-hari Orang Wana.

Lokasi permukiman Orang Wana di Taronggo, selain itu, adalah cotoh untuk melihat sebuah program pembangunan yang disebut “resettlement”. Bagi sebagian kalangan, program seperti ini dianggap akan mencerabut Orang Wana dari akar tradisinya. Bagi sebagian yang lain, program tersebut menyediakan kesempatan bagi Orang Wana untuk berkembang menghadapi perubahan. Film ini menunjukan bagaimana dilemma dari program “resettlement” tersebut dihadapi oleh Orang Wana. Peran yang dimainkan oleh orang luar terhadap proses ini cukup besar. Selain kalangan NGOs (non-government organisations) dan organisasi-organisasi keagamaan, peran kalangan akademisi dan tentu saja pemerintah adalah faktor-faktor yang ikut membentuk dunia Orang Wana. Satu lagi, kalangan pemodal adalah faktor lain yang turut serta mengubah banyak hal dalam dunia Orang Wana. Kehadiran perkebunan sawit di Taronggo, misalnya, telah membawa Orang Wana ke dalam aktifitas ekonomi pasar yang lebih luas. Dari sini, ketergantungan Orang Wana terhadap barang-barang konsumsi yang menjadi tanda masyarakat modern semakin besar.

Secara umum, film ini mencoba mendeskripsikan dinamik sebuah komunitas lokal menghadapi perubahan. Cara mereka menanggapi perubahan ternyata tidak seragam, masing-masing kelompok orang Wana yang tinggal di lokasi berbeda ternyata memiliki strategi yang berbeda ketika harus menghadapi perubahan, baik yang berasal dari luar maupun yang terjadi sebagai konsekuensi dari dinamika internal di dalam komunitas mereka.

Sejak tahun 2005 Yayasan Interseksi, dengan dukungan dari Yayasan Tifa, telah melakukan penelitian di beberapa komunitas lokal di berbagai tempat di kepulauan Indonesia. Penelitian tersebut terutama dimaksudkan untuk mencari landasan yang kuat bagi upaya-upaya advokasi hak-hak minoritas dan usaha mendiskusikan kembali secara kritis problem-problem multikulturalisme di Indonesia. To Mompalivu Bure adalah salah satu bagian dari upaya kami mendiskusikan beberapa agenda problematik dari arah pembangunan yang ditempuh negara terutama dalam kaitannya dengan komunitas-komunitas lokal. Ia adalah bagian dari upaya kami memfasilitasi proses renegosiasi antara bangsa Indonesia sebagai sebuah nation-state dengan bangsa-bangsa subaltern subnasional yang membentuknya. Mudah-mudahan film ini akan berguna bagi para pengambil kebijakan, dan bagi mereka yang menaruh perhatian pada isu-isu hak minoritas, terutama mereka yang perhatian utamanya tertuju pada komunitas lokal dan politik lokal.

Jakarta 10 April 2008

THE INTERSEKSI Foundation

GOODIES



poster backdrop_thumbnail
Click to see larger images




Public Discussion and Film Screening

kit undangan

The Interseksi Foundation in cooperation with the TIFA Foundation cordially invites you to A Public Discussion and Film Screening on

Date/Time: Thursday, 10 April 2008 at 13.00 - 16.30 PM
Venue: AKSARA Book store, Jl. Kemang Raya No. 8 B, Jakarta Selatan 12730. Phone: 021-7199288
Film Title: To Mompalivu Bure (Kisah Orang-orang Pencari Garam)
Speakers:
  • Suma Riella Rusdiarti (Lecturer, University of Indonesia)
  • Daniel Rudi Haryanto (Adio-visual Researcher at the Interseksi Foundation)
  • Jabar Lahadji (Executive Diretor, Sahabat Morowali, Palu, Central Sulawesi)


RSVP: Nia at 021-7820444