FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Diskusi Bulan Puasa: Health for All

Tgl. 1 September 2009, Interseksi akan mengadakan diskusi tentang hak warga atas kesehatan. Diskusi akan menghadirkan pembicara Diding Sakri, mantan direktur eksekutif Perkumpulan Inisiatif, Bandung, yang sudah bertahun-tahun, bersama lembaganya, menekuni isu hak kesehatan ini. Jadwalnya adalah sebagai berikut:

  • Hari/tgl: Selasa, 1 September 2009

  • Waktu: Jam 15.00 - selesai (dilanjutkan dengan buka puasa bersama)

  • Tempat: Kantor Yayasan Interseksi
                   Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 39
                   RT 003/RW 01, Kelurahan Lenteng Agung
                   Jakarta Selatan 12610
                   Telp./Fax.: 021 7820 444
                   Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com


    Abstrak
    Kesehatan adalah hal yang fundamental dalam mengatasi kemiskinan, hak asasi manusia sekaligus kewajiban Negara yang ditegaskan dalam konsitusi dan undang-undang. Untuk menjamin kesehatan seseorang, diperlukan pelayan public sector kesehatan yang aksesibel bagi semua orang. Permasalahannya, di Indonesia, hingga saat ini, pelayanan kesehatan tidak mudah diakses khususnya karena adanya kendala ekonomi atau biaya yang tidak terjangkau. Praktik terbaik dari upaya mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan suatu kebijakan jaminan pelayanan kesehatan dengan penerapan skema asuransi social yang berlaku bagi semua warga Negara tanpa terkecuali.

    Selanjutnya konsep ini kita sebut sebagai sistem jaminan sosial kesehatan, suatu konsep yang telah diamanatkan dalam UUD 1945 dan UU No. 40 tahun 2004 namun hingga kini tidak diimplementasikan oleh pemerintah Indonesia. Dengan terpilihnya kembali rezim pemerintahan yang telah berkuasa selama 5 tahun terakhir, maka cukup beralasan untuk mengatakan bahwa system jaminan social kesehatan di Indonesia tidak akan terimplementasikan dengan mudah dalam 5 tahun ke depan. Kecuali ada factor-faktor penentu di luar pemerintahan yang dapat mengadvokasi situasi ini. Pada titik inilah, penting kiranya kita menggantungkan harapan kepada kelompok masyarakat sipil, kampus, dan elemen perubahan lainnya untuk dapat menjadi kekuatan advokasi kebijakan. Paper ini akan terdiri dari 4 bagian utama. Pertama adalah pemaparan secara singkat mengenai sistem jaminan kesehatan sebagai upaya untuk menjaminan akses universal terhadap pelayanan kesehatan. Kedua, praktik terbaik di berbagai daerah sebagai langkah awal menuju universalisasi akses terhadap layanan kesehatan. Ketiga, alternatif model untuk universalisasi layanan kesehatan di Indonesia. Keempat tindakan strategis yang perlu dilakukan oleh kelompok reformis untuk mewujudkan jaminan akses universal terhadap pelayanan.


  • Komedi, Kritik!


    Hikmat Budiman

    Peneliti The Interseksi Foundation

    Mengapa Susilo Bambang Yudhoyono sering mengadakan konferensi pers di halaman belakang Istana Negara hanya untuk menanggapi kritik lawan-lawan politiknya yang sebenarnya tidak begitu penting? Mengapa gaya egaliter Jusuf Kala selama kampanye Pemilu pemilihan presiden 2009 yang lalu justru banyak dilihat sebagai penampilan seorang calon pemimpin yang kurang berwibawa? Ilmuwan politik atau ahli teori sosial mungkin bisa menjelaskannya dari banyak sisi. Tapi saya curiga, jangan-jangan itu semua bersangkutpaut dengan komedi dan relasinya dengan tradisi kritik politik dalam (sebagian) masyarakat Indonesia.

    Tanpa harus melihat banjir program-program variety show dan komedi situasi pada stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini, komedi pasti sudah lama menjadi bagian sangat penting dalam peradaban umat manusia. Kalau Aristotle benar, manusia adalah satu-satunya mahkluk yang bisa diajak tertawa. Melalui komedi kita seperti mendapatkan saluran untuk dorongan-dorongan dari dalam jiwa yang niscaya tersumbat oleh norma, oleh dogma, dan hipokrisi. Dalam komedi ketidakpatutan sosial justru menjadi norma, yang tidak masuk akal bisa diterima, budak bisa menjadi tuan atau sebaliknya, yang vulgar menjadi bagian dari tatakrama, dan penyimpangan (indecorum) sosial dan estetik merupakan keharusan inheren, sehingga sadar atau tidak kita selalu berada dalam posisi berguncang tanpa ikatan-ikatan standar kultural yang lazim. Karena itu, mereka yang merasa berasal dari kelas “terhormat” cenderung melihat komedi sebagai representasi dari kehidupan orang-orang kelas menengah ke bawah. Komedi dianggap bisa menghadirkan segala jenis ketidakpatutan sikap dan prilaku kelas sosial semacam itu. Jika demikian maka komedi juga merupakan fungsi dari perbedaan kelas sosial. Baca selanjutnya


    Migrasi ke Antah Berantah dan Tragedi Melting Pot

    Migrasi ke Antah Berantah dan Tragedi Melting Pot

    Mohammad Nurkhoiron, MA

    Peneliti The Interseksi Foundation

    nurkhoiron
    Darmaji, adalah profil yang masih tersisa dari sejarah transmigrasi di Indonesia. Kini ia sudah berusia sangat udzur, diatas 70 tahun. Ia adalah bekas petugas dinas kesehatan yang berada di Kecamatan Sembakung. Hidup di desa ini sudah ia alami sejak tahun 1960an.

    “Waktu itu saya naik kapal laut sampai ke Tarakan. Kita singgah dulu di Madura. Selebihnya naik perahu kayu yang ditumpangi beberapa orang dengan mendayung. Saya menginjak Tarakan sekitar tahun 1956”. Ujarnya, mengenang masa-masa sulit menuju Sembakung tempat terakhir dimana ia menggantungkan nasibnya. Nasib merantau ia harus lakoni untuk meraih hidup yang lebih baik. Ia sendiri adalah orang Jawa, keluarganya sebagian besar masih tinggal di Jawa Tengah. Mungkin, di masa itu Darmaji adalah satu-satunya yang memiliki semangat mengarungi lautan untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Ia hanya berbekal informasi serba sedikit bahwa di Kalimantan Timur dibutuhkan beberapa orang untuk mengisi posisi-posisi di dinas-dinas pemerintahan. Baca selanjutnya