FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Monthly Discussion On Women's Leadership in Muhammadiyah

printer Print this Page



Theme: Competing Image and Negotiating Power for Women’s Leadership in Muhammadiyah
Speaker: Kurnia Hastuti Dewi[#]
Date: Friday, February 15th 2008. At 15.00

On Friday the 15th of February 2008 at 15.30 we are inviting Kurnia Hastuti Dewi of the Center for Political Studies, Indonesian Institute of Sciences (LIPI), to discuss the topic of Competing Image and Negotiating Power for Women's Leadership in Muhammadiyah to our monthly discussion. And as always the case with our monthly forum, it is only for limited participants. So please confirm your participation either by phone at 021-7820-444 (work hour with Nia) or by email to interseksi [at] gmail [dot] com.


Abstract (English)
This paper examines competing images of women leadership and dynamics of gender relations between Muhammadiyah and ‘Aisyiyah elites, and between old and young generations in these organizations. Interviewed with Muhammadiyah and ‘Aisyiyah elites indicates that they have similar concept on women’s leadership that women should behave according to fitrah. However, this paper analysis shows the possibilities that in practice, image of women’s leadership in Muhammadiyah is not monolithic. This paper also shows that there is struggle between the established notion of gender-role identities of being wanita sholehah for Muhammadiyah female as appropriate image for women leader vis a vis masculine traits of leadership which culturally assigned for Muhammadiyah male. The reservation of Muhammadiyah and ‘Aisyiyah prominent elites across generation toward female candidate with masculine traits of leadership and possible influence of the Javanese culture context in determining reasonable strategies for negotiation gender relations is also be addressed.

Bahasa Indonesia
Makalah ini memeriksa citra-citraan yang saling bersaing satu dengan lainnya tentang kepemimpinan perempuan dan dinamik relasi gender antara elit-elit Muhammadiyah dan Aisyiyah, dan antara generasi tua dan generasi muda dari organisasi tersebut. Wawancara dengan elit-elit Muhammadiyah dan Aisyiyah mengindikasikan bahwa keduanya memiliki konsep yang serupa tentang kepemimpinan perempuan, yakni bahwa kiprah perempuan harus sesuai dengan fitrahnya. Meskipun demikian, analisa dalam makalah ini menunjukkan beberapa kemungkinan bahwa dalam prakteknya citra tentang kepemimpinan perempuan di Muhammadiyah tidaklah monolitik. Makalah ini juga memperlihatkan adanya pergulatan antara gagasan mapan tentang identitas sebagai "wanita sholehah" untuk perempuan Muhammadiyah sebagai citra yang pantas untuk pemimpin perempuan vis a vis ciri-ciri kepemimpinan maskulin yang secara kultural diberikan kepada laki-laki Muhammadiyah. Reservasi lintas generasi elit-elit Muhammadiyah dan Aisyiyah terhadap kandidat perempuan dengan ciri kepemimpinan maskulin dan kemungkinan pengaruh dari budaya Jawa dalam menentukan strategi-strategi untuk negosiasi relasi gender juga dibahas dalam makalah ini.

[#] Kurniawati Hastuti Dewi is a researcher at the Centre for Political Studies The Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta, Indonesia.

Dari Workshop Hasil Riset Audio-visual tentang Komunitas Wana

printer Print this Page


pojector
Sebagai rangkaian dari program penelitian audio-visual tentang komunitas ToWana, Yayasan Interseksi telah mengadakan workshop pasca produksi yang diselenggarakan selama dua hari, Senin-Selasa, 4-5 Februari 2008 di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor. Dalam workshop ini, Tim Peneliti Interseksi yang terdiri dari Daniel Rudi Haryanto, Erwan Effendi, dan Ari Rusyadi menampilkan hasil penelitian mereka dari lapangan, yaitu footages yang selanjutnya akan diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah film tentang ToWana. Sebagaimana telah diberitakan dalam situs Interseksi sebelumnya, Tim Peneliti Interseksi telah mengadakan penelitian audio-visual selama sebulan lamanya dari tanggal 17 Desember 2007 sampai 17 Januari 2008 di sekitar Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. Di area yang luasnya sekitar 250.00 hektar itulah sebagian suku Tak, yang kemudian lebih dikenal sebagai ToWana, itu tinggal dalam pola-pola kehidupan yang terus berubah. Populasi mereka pada 2001 berjumlah 1.767 jiwa. Pemukiman mereka menyebar dalam beberapa area yang terus mengalami perubahan seiring dinamika kehidupan di tingkat yang lebih luas.

Orang Wana yang tinggal di Marisa tetap memiliki komitmen terhadap nilai-nila tradisi mereka. Beberapa ritual penting tetap dijalankan, seperti ritual Mamago, yaitu ritual untuk penyembuhan dengan menggunakan media supranatural. Dari segi tertentu, ritual Mamago merefleksikan sikap mereka terhadap hal-hal baru yang datang kepada mereka, misalnya agama. Ini berkait dengan fakta bahwa bagi kalangan agamawan, yang dalam hal ini terutama tercermin dari sikap seorang pendeta GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang telah memiliki sebuah gereja di Taronggo, ritual Mamago adalah kekafiran yang harus ditinggalkan Orang Wana. Perlu diketahui, sebagian Orang Wana ada yang memeluk Kristen, meskipun pada kenyataannya mereka tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual Orang Wana, seperti keterlibatan dalam ritual Mamago. Selain Kristen, Islam adalah agama lain yang telah dianut oleh Orang Wana......


Workshop yang juga diikuti oleh sejumlah pekerja dan pemerhati film tersebut diawali dengan orientasi acara oleh Amin Mudzakkir sebagai panitia penyelenggara yang kembali mengingatkan secara singkat berbagai gagasan awal penelitian audio-visual tentang komunitas ToWana sebagaimana telah didiskusikan sebelumnya dalam workshop pra produksi. Gagasan awal penelitian audio-visual tentang komunitas Wana berangkat dari perdebatan teoritis tentang hak minoritas dan multikulturalisme dan fakta-fakta empiris tentang pilihan-pilihan strategi yang ditempuh oleh warga komunitas ToWana. Gagasan tentang hak minoritas, terutama dalam kaitannya dengan problem multikulturalisme, merupakan isu baru dalam wacana kebudayaan di Indonesia. Kemunculan wacana tersebut merupakan respons terhadap dinamika yang terjadi pada tingkat empiris, yaitu ketika problem-problem kebudayaan muncul ke permukaan dalam intensi yang luas terutama sejak jatuhnya kekuasaan Orde Baru. Problem-problem kebudayaan tersebut sebenarnya merupakan fakta historis yang telah berlangsung lama, tetapi bagaimana memahami problem-problem tersebut dengan pendekatan-pendekatan yang beraneka ragam di luar pendekatan resmi negara dan kelompok-kelompok dominan merupakan hal yang belum lama dimulai.

jurnal
Daniel Rudi Haryanto menjelaskan bagaimana tantangan yang dihadapi Tim Peneliti di lapangan. Dengan menampilkan jurnal harian, foto-foto, dan beberapa footage selama sebulan di Morowali, Rudi bercerita tentang betapa beratnya medan yang harus ditempuh untuk sampai ke lokasi dimana Orang Wana bermukim. Untuk sampai ke sana, diperlukan energi besar untuk menempuh perjalanan panjang melewati danau, sungai, bukit-bukit terjal, dan bentang-bentang alam yang tidak mudah. Ada tiga lokasi pemukiman Orang Wana yang dijadikan fokus dalam penelitian ini, yaitu Marisa, Kajupoli, dan Taronggo. Menurut Rudi, ketiga lokasi tersebut mewakili beberapa mode perubahan dalam kehidupan Orang Wana.

Marisa merupakan lokasi pemukiman komunitas Wana yang sebenarnya belum lama ditempati. Dalam catatan Tim Peneliti, Marisa merupakan lokasi paling menarik untuk melihat bagaimana Orang Wana mempunyai cara untuk merespons perubahan. Sebagian dari mereka yang tinggal di sini pada awalnya tinggal di Kajupoli, lalu pindah ke Kaekae, dan akhirnya sekarang bermukim di Marisa. Pola permukiman mereka sering berpindah mengikuti persebaran potensi-potensi sumber daya alam yang tersedia di area Cagar Alam Morowali. Selain bercocok tanam dengan menanam sejenis padi huma, Orang Wana menggantungkan sumber penghasilan ekonominya pada damar dan rotan. Dua komoditas itu dicari di hutan sebelum kemudian dijual ke para saudagar pengepul yang ada di Kolonedale. Bagi Orang Wana, Kolonedale adalah kota terdekat yang bisa dijangkau dimana di sana mereka selain menjual damar dan rotan juga membeli barang-barang konsumsi kebutuhan mereka sehari-hari.

bacapeta
Sebagai konsekuensi dari pola kehidupan ekonomi tersebut, demikian Rudi memaparkan hasil penelitiannya, Orang Wana pada masa sekarang bukanlah orang yang asing dengan barang-barang modern. Alat-alat elektronik seperti tape bisa ditemukan dengan mudah di rumah-rumah Orang Wana, selain benda-benda aksesoris lain seperti jam tangan yang biasa dipakai oleh sebagian besar Orang Wana. Ditambah dengan kehadiran para turis dan orang-orang luar lainnya, termasuk para peneliti, yang sering datang ke lingkungan mereka, Orang Wana menunjukan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap hal-hal baru yang datang dari luar. Terlepas dari soal apakah hal-hal baru itu dimengerti sebagaimana fungsi asalnya, yang jelas Orang Wana merespons hal-hal baru itu tanpa paksaan.

Meskipun demikian, demikian Rudi melanjutkan paparannya, Orang Wana yang tinggal di Marisa tetap memiliki komitmen terhadap nilai-nila tradisi mereka. Beberapa ritual penting tetap dijalankan, seperti ritual Mamago, yaitu ritual untuk penyembuhan dengan menggunakan media supranatural. Dari segi tertentu, ritual Mamago merefleksikan sikap mereka terhadap hal-hal baru yang datang kepada mereka, misalnya agama. Ini berkait dengan fakta bahwa bagi kalangan agamawan, yang dalam hal ini terutama tercermin dari sikap seorang pendeta GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang telah memiliki sebuah gereja di Taronggo, ritual Mamago adalah kekafiran yang harus ditinggalkan Orang Wana. Perlu diketahui, sebagian Orang Wana ada yang memeluk Kristen, meskipun pada kenyataannya mereka tetap mempertahankan nilai-nilai spiritual Orang Wana, seperti keterlibatan dalam ritual Mamago. Selain Kristen, Islam adalah agama lain yang telah dianut oleh Orang Wana. Penyebaran Islam sebenarnya berkait dengan interaksi Orang Wana dengan para pedagang dan para pengepul yang beragama Islam di kota. Belakangan, ada juga kegiatan dari organisasi Islam untuk menyebarkan secara langsung agama Islam di lingkungan Orang Wana. Pada beberapa kasus, penyebaran agama-agama itu, baik Kristen maupun Islam, menimbulkan ketegangan-ketegangan tertentu, meskipun hal itu tidak berlanjut menjadi sebuah konflik yang meluas. Biasanya, peristiwa-peristiwa penting yang bernuansa agama di luar lingkungan Orang Wana, seperti konflik Poso, memberi pengaruh tertentu terhadap wacana tentang bagaimana agama dipahami oleh Orang Wana.

nonton_footage
Sementara itu, agak berbeda dengan Orang Wana yang tinggal di Marisa, orang Wana yang tinggal di Kajupoli tampak mempunyai ikatan lebih kuat dengan nilai-nilai tradisinya. Pola kehidupan mereka sebenarnya tidak jauh beda dengan Orang Wana yang tinggal di Marisa, tetapi dalam beberapa aspek tertentu mereka menunjukan sikap yang lebih berhati-hati terhadap hal-hal baru. Dalam temuan Tim Peneliti Interseksi, hubungan kekerabatan antar orang Wana di beberapa lokasi permukiman yang berbeda masih menunjukan fungsinya sebagai instrumen untuk mengikat Orang Wana dalam sebuah intensi emosional tertentu. Meskipun mereka mempunya sikap berbeda-beda dalam hal bagaimana merespons perubahan, ada bagian-bagian tertentu dari nilai tradisi yang terus dipertahankan dan menjadi penyeimbang perubahan bagi Orang Wana. Dalam hal kegiatan ekonomi, Orang Wana yang tinggal di Marisa memang lebih intensif berhubungan dengan dunia luar dibanding dengan Orag Wana yang tinggal di Kajupoli, tetapi secara sosial hubungan di antara mereka tetap terjaga, sehingga mereka saling mengerti dimana batas-batas kultural dunia Wana dengan dunia di luar mereka.

Orang Wana yang tinggal di Taronggo pada awalnya dimukimkan di sana melalui program resettlement. Program ini telah dicanangkan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Sosial, sejak 1979. Menurut Jabar Lahadji, salah satu peserta workshop yang merupakan pendiri LSM Sahabat Morowali, program resettlement di Wana pada masa sekarang dalam kenyataannya banyak menemui kegagalan. Pendekatan yang digunakan dalam progarm tersebut dipandang Lahadji tidak memperhatikan secara utuh aspek-aspek kehidupan Orang Wana. Bagaimanapun, apa yang disebut permukiman bukan sekedar soal rumah, tetapi juga soal bagiamana orang yang bermukim di sana melangsungkan kehidupan sosial ekonominya. Selain itu, pendekatan resettlement berangkat dari kepentingan ekonomi kaum modal, dalam hal ini pengusaha perkebunan karet, untuk mendukung keberadaan industri perkebunan mereka yang berlokasi di sana. Orang Wana, oleh karena itu, sering hanya menjadi penonton dalam perubahan tersebut, sehingga tidak sedikit dari mereka yang kemudian memutuskan meninggalkan Taronggo untuk kembali ke pola pemukinan tradisi mereka.

bergerombol
Menurut Hikmat Budiman, Direktur Yayasan Interseksi yang juga menjadi peserta workshop, isu mengenai permukiman adalah pintu masuk untuk diskusi teoritis yang lebih luas mengenai ‘kampungisasi’. Lebih dari sekedar penanda geofisik, kampung adalah wacana yang diimposisikan ke dalam kehidupan Orang Wana dengan berbagai konsekuensi tertentu, mulai dari konsekuensi ekonomi, sosial, dan politik. Melalui kampung itulah proses modernisasi bekerja. Bersamaaan dengan itu, intervensi negara dan agama adalah dua hal yang ikut menopang sekaligus kemudian menggunakan kampung sebagai arena untuk merepresentasikan kekuasaan mereka. Bagi negara, kampung adalah instrumen untuk menempatkan Orang Wana dalam wilayah kontrol aparatusnya. Bagi agama, kampung adalah tempat dimana Orang Wana bisa didisiplinkan dengan nilai-nilai tertentu, sesuatu yang sulit diwujudkan kalau Orang Wana masih bertempat tinggal di permukiman tradisonal mereka.

Berbagai perdebatan tentang Orang Wana pada akhirnya harus direpresentasikan ke dalam sebuah—meminjam istilah Hikmat Budiman—film semi-etnografis. Dan di sinilah sebenarnya masalah sesungguhnya, yaitu bagaimana merepresentasikan perdebatan tentang Orang Wana di atas ke dalam scene-scene tertentu yang mampu menarik perhatian penonton. Menurut Hafiz, seorang pekerja film dokumenter dan pegiat Forum Lenteng yang ikut hadir dalam workshop, footage dari lapangan yang begitu melimpah itu harus diseleksi dan diedit sedemikian rupa agar menghasilkan sebuah film yang mampu menyampaikan pesan substantifnya tanpa kehilangan fungsinya sebagai media yang mempunyai nilai-nilai estetika tertentu. Untuk itu, dramaturgi sang sutradara harus berangkat dari konstruksi yang jelas. Menanggapai hal ini, Rudi sebagai sutradara film mengajukan beberapa hal yang akan menjadi konstruksi dalam proses pasca produksi film tentang Orang Wana ini. Berangkat dari diskusi teoritis tentang hak minoritas dan multikulturalisme, Rudi mengajukan sebuah istilah ‘To Maliwu Bure’, istilah yang diambil dari bahasa Wana yang artinya para pencari garam. Istilah ini masih diperdebatkan, karena dalam pandangan Jabbar Lahadji, istilah ‘To Maliwu Bure’ kurang tepat secara semantik sebagai istilah untuk mengacu pada pengertian para pencari garam. Sementara perdebatan tentang istilah terus berlangsung, Rudi kemudian mengeksplorasi bagaimana garam berperan dalam dinamika kehidupan Orang Wana. Lebih dari sekedar komoditas konsumsi sehari-hari, garam adalah simbol untuk menunjukan kemoderenan. Oleh karena itu, konstruksi film yang sekarang akan masuk proses pasca produksi itu adalah bagaimana menampilkan secara audio-visual respons Orang Wana di beberapa lokasi yang telah disebutkan di atas terhadap perubahan. Respons yang diberikan tentu akan berbeda-beda, karena Orang Wana bukanlah sekumpulan orang yang monolitis. Mereka, seperti juga komunitas-komunitas lain di luar Wana, adalah sekumpulan orang yang mempunyai pandangan berbeda dalam banyak hal. Pilihan-pilihan hidup individu-individu Wana amat dipengaruhi oleh keterlibatan masing-masing mereka dari dalam pergaulan yang lebih luas, di samping kepentingan internal masing-masing dari mereka yang terus berubah.

Akhirnya, workshop pasca produksi tersebut berakhir dengan menghasilkan sejumlah tugas lanjutan bagi Tim Peneliti untuk menyelesaikan sebuah film tentang Orang Wana sebagaimana diharapkan dalam perdebatan teoritis dan empiris yang berlangsung selama dua hari itu. Bagaimanapun, gagasan-gagasan besar dan temuan-temuan empiris penting yang dipresentasikan dalam workshop pasca produksi itu harus direpresentasikan ke dalam sebuah film yang secara audio-visual memadai, baik secara substantif maupun secara estetis, sehingga pesan yang hendak disampaikan akan sampai kepada penonton atau siapapun yang berkepentingan dengan kehadiran film tentang komunitas ToWana ini.