FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Surat dari Seorang Pembaca

Tanggal 14 Maret kami mendapat sebuah surat dari salah seorang pembaca buku yang kami terbitkan. Berikut salinannya.


Jakarta, 12 Maret '06
Pak Hikmat yang budiman,

Bagi saya, buku Hak Minoritas adalah yang terbaik yang pernah saya baca mengenai masyarakat alam di negara ini. Membesarkan hati mengetahui bahwa para penulisnya, meskipun masih muda, sudah terbuka pikirannya tentang masalah mereka dan lebih berani mengedepankan ancaman terhadap mereka, yaitu agama-agama modern yang tentu saja bertentangan dengan keyakinan yang mereka alami. Bukannya saya tidak menyadari bahwa mereka semua sedang dalam proses dimusnahkan, namun sangat disayangkan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki yang hanya ada di unida mereka akan turut lenyap. Dari yang katanya penegak hukum, pembuat hukum, para pembela rakyat, penguasa, pengusaha bahkan ke presiden kita rata-rata buta ekologi, apalagi ekologi dalamnya. Belum apa-apa seseorang sudah lemas membayangkan bahwa untuk membela masyarakat alam (holistik dan adat) dia harus berhadapan dengan hampir seluruh lapisan masyarakat kota dan kampung yang sudah modern.

Terlampir adalah buku saya yang ditujukan untuk anak-anak, namun menurut Pak Mochtar Lubis, boleh untuk semua orang. Pak Mochtar menyukainya, tapi rasanya beliau sendiri adalah mahluk langka. Bila Pak Hikmat ada diskusi lagi dengan teman-teman, tentu saya juga ingin hadir, tapi saya tidak memakai email. Tolong telpon saya di ..............(sengaja tidak dicantumkan--red) untuk tanggalnya melalui pegawai Interseksi.

Sekian dan terima kasih.

Salam,

An Mei



Ibu Mei yang terhormat,
Terima kasih banyak atas suratnya. Kami senang bahwa Ibu bisa menemukan sesuatu yang berguna dari buku yang kami terbitkan. Mewakili para penulisnya, saya juga ingin menyampaikan penghargaan tinggi atas apresiasi Ibu terhadap apa yang sudah kami kerjakan. Mudah-mudahan kami bisa menghasilkan karya yang lebih baik di masa yang akan datang. Masalah Hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, terutama saudara-saudara kita yang biasa disebut komunitas lokal, itu memang merupakan salah satu fokus perhatian kami di Yayasan Interseksi. Kalau tidak ada kendala yang terlalu besar, tahun 2006 ini kami akan segera melakukan penelitian lanjutan di beberapa daerah lain.

Kami juga menyampaikan terima kasih atas kiriman bukunya yang pasti akan banyak manfaatnya bagi pembaca yang ditujunya. Kami akan memberitahukan jadwal diskusi kami seperti yang Ibu minta.

Salam,
Hikmat Budiman


Protes Petani Pati

bersatu

Pagi itu saya menyaksikan suatu aksi demonstrasi petani. Tepatnya tanggal 19 Januari 2006 di alun-alun kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ribuan petani dari berbagai kecamatan memenuhi lapangan alun-alun tengah kota. Tua, muda, perempuan ibu-ibu terlibat aksi massal dengan muka yang sangat antusias. Tidak ada provokasi “pihak ketiga” disana. Aksi ini digelar sebagai usaha sadar diri petani Pati menyikapi berbagai kondisi yang ada. Di tengah alun-alun itu juga dipasang panggung besar untuk memberi tempat bagi peserta yang ingin melakukan orasi. Suasananya begitu ramai, gaungnya terdengar dimana-mana. Sound system yang disediakan panitia ternyata tidak sekadar ditujukan untuk ajang orasi, tapi juga hiburan. Jauh sebelum aacara dimuali panitia dari SPP (Serikat Petani Pati) telah mengontak Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk disertakan tampil menghibur gratis petani peserta aksi. Rupanya Cak Nun menyambut gembira.

Diantara petani peserta aksi itu, petani Sukolilo terlihat paling besar jumlahnya, dan mereka tampak paling bersemangat. Secara bergelombang mereka memadati alun-alun Pati, merembet dari arah selatan, tidak kurang dari empat puluh truk. Mereka berduyun-duyun ke alun-alun kota sambil meneriakkan yel-yel “hidup petani!” berulang-ulang. Ngardi, lurah dari desa Baturejo, kecamatan Sukolilo, sehari sebelum acara dimulai bahkan sudah berkeliling ke seluruh desanya. Sambil membawa mobil pribadinya, ia berkeliling melakukan woro-woro agar seluruh warganya terlibat aktif dengan aksi ini.

“Sedulur-sedulur ayo podho bebareng mangkat sesuk ning alun-alun. Nyuarakno petani sing sakini pdoho urop sengsoro. Pupuk longko, beras murah, petani tambah susah" (Saudara-saudara, mari kita pergi ke alu-alun besok. Menyuarakan nasib petani yang sekarang lagi sengsara. Pupuk langka di pasaran, beras murah, petani bertambah sengsara). Fenomena ini mungkin terkesan tidak lazim. Di dalam kondisi desa yang semula dianggap “adem ayem”, tiba-tiba menggelegar suara penderitaan, dan ajakan untuk melakukan aksi bersama. Saya tertegun, bukankah yang selama ini selalu menjadi kelompok pasif adalah petani? Sudah habiskah masa kesabaran petani di Pati? Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah saya untuk terus mencari pengetahuan sejauh mungkin mengenai dinamika petani yang kini bergolak. Baca selanjutnya>>


Indonesian Military in Human Rights Violations

by Mashudi Noorsalim
A corrupt legal system and a lack of political will means human rights abuses involving the Indonesian military have not been properly processed through the country’s legal system. The Law on Human Rights released in 1999 has not functioned as a firm basis for the processing of human rights abuse cases. In effect, the fall of the New Order regime in 1998 has brought no significant advances in dealing with human rights abuse cases.
Continue>>