Nov 2006
First Workshop on Report Writing on Minority Rights Phase 2
November 30, 2006/ 15:08 | Filed in: NEWS

In August to October 2006 we dispatched our research team to conduct field researches on minority rights issues in four local communities in Indonesia: Ahmad Uzair to Permalim community in Medan, North Sumatra; Paring Waluyo to Tengger community in East Java; Amin Mudzakir to Ahmadiyah Islamic community in Cianjur, West Java, and; Heru Prasetya to Tolotang community in South Sulawesi. After the field research is through, they took two months to write the rough draft of report based on their findings in the respective areas or communities.
On Monday to Wednesday (Desember 4th-6th, 2006), we are organizing a-three day meeting amongs our field researchers, team of supervisors, and some other resource persons in our first workshop on Report Writing. In the workshop the researchers will exchange their findings to each other, and will collaboratively define the main ideas to be more cultivated to compose a collective report representing Interseksi's research team. The main objective of the workshop is to enhance the quality of the report based on which we will start to prepare the book writing processes in our subsequent workshop later on. Convened at Gunung Geulis House, Bogor, West Java, the workshop is structured into two main activities: researchers' presentations, and discussion on book publication.
Report on Discussion on New (Islamic) Social Movement in Indonesia
November 29, 2006/ 17:14 | Filed in: FORACAFETARIA

On Monday, November 27th, 2006, at Bukafe Bookstore, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Interseksi held its fifth round monthly discussion on the topic of "Understanding New (Islamic) Social Movement". The speaker, Ahmad Suaedy, the excecutive director of the Jakarta-based Wahid Institute, highlited several crucial issues on the recent development of what he coined the new (Islamic) social movement in the country of Indonesia (paper).
Sueady said that most of the studies on Islamic movement before 1980s put emphasis on the intermingling relations of Islamic movements with Communism and/or Sosialism, and other issues such as the betterment of people's life, the succesion of government and the likes. However, since 1979 when Khomeini trembled the world with Iranian Revolution, most of the studies on Islam have shifted the focus to the emergence of the radical-fundamentalist movement groups by muslim communities in many regions in the world. This has been exacerbated by the September 11, 2001 terrorists attack of the WTC twin tower in the USA after which most writings on Islam have been focused on Islam and or as the source of world terrorism.

In Indonesia, according to Suaedy, there have been two different types of Islamic sosical movements: the moderate and the radical/fundamentalist. Despite the fact that they have totally different orientation, they do share something in common: both the radical and the moderate all are intermingling with other social institutions like NGOs, mass organizations (Ormas) or political parties. It is not surprising that Islamic social movements have frequently been reduced into merely the vehicles of political elites to pursue their vested political interests.
His presentation generated critical comments from the participants attending the forum that afternoon. Ridwan al-Makassary writes the report for all us here in bahasa Indonesia:
Wacana gerakan Islam yang mendominasi lingkungan intelektual sebelum 1980-an acap berkelindan dengan gerakan Komunisme atau Sosialisme yang mengusung aspirasi kelompok yang menuntut perbaikan nasib atau suksesi pemerintahan seperti kaum buruh, kaum tani, dan kelompok separatis, seperti GAM di Aceh dan pembebasan Muslim Moro.
Sementara pada tahun 2000-an, diskursus gerakan Islam kuat didominasi oleh gerakan Islam yang mengusung bendera Islam fundamentalisme, terutama paska 11 September 2001. Gerakan fundamentalisme Islam seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jamaat Al-Islamy di Pakistan; belakangan muncul Taliban dan Mujahidin di Afghaistan; FIS di Al-Jazair; revolusi Mullah di Iran dan seterusnya sejatinya memperjuang ideologi Islam sebagai negasi bagi kegagalan ideologi besar dunia, seperti nasionalisme, sekularisme bahkan kapitalisme.
Kesuksesan gerakan Islam yang terjadi sejak 1979, tahun dimana Revolusi Iran berkecamuk, telah menyebarkan virus ideologi Islam sebagai panacea melawan ideologi-ideologi Barat, yang terbukti gagal mensejahterakan. Ironisnya, sangat sulit sekali menemukan artikulasi pemikiran tentang gerakan Islam yang mereferensi pada konsep pembebasan tertentu, misalnya bebas dari kemiskinan. Sementara berkaca dari gerakan sosial secara umum dengan mudah bisa dibaca gerakan pembebasan dari ketertindasan, seperti teologi pembebasan para pastor di Amerika Latin.

Revolusi Komunisme sering mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi meraih tujuan. Gerakan Islam fundamentalis juga mengupayakan “kejayaan agama” dengan cara-cara yang sama. Ikhwanul Muslimin di Mesir yang terlibat pembunuhan presiden Anwar Sadat adalah contohnya. Karenanya, terpendam problema ideologis dan teologis dalam pandangan Islam ketika melihat pembebasan dalam dimensi-dimensi kemanusiaan. Perbedaan mendasar antara teologi pembebasan dalam Katolik misalnya, terlihat dari cara bagaimana ia secara langsung melakukan pemberdayaan rakyat untuk mengambil arus lain dari mainstream. Penyadaran atau conscientization dalam bahasa Paulo Freire, kepada rakyat telah mengukuhkan kesadaran yang bersifat massal.
Sebaliknya, demikian Suaedy, gerakan Islam yang saat ini ramai dibicarakan di dunia itu justru cenderung bergerak ke arah yang berlawanan: ketidakbebasan manusia dan penerapan diktum-diktum agama yang nyaris anti-dialog dengan kenyataan historis masyarakatnya. Sejak keberhasilan Revolusi Iran menumbangkan kekuasaan Syah, malah muncul rasa percaya diri pada tokoh-tokoh gerakan Islam radikal bahwa untuk mengambil alih kuasa (yang dianggapnya zalim), Islam terbukti tidak lagi membutuhkan boncengan komunisme atau sosialisme.
Tentang gerakan sosial baru berbasis Islam di Indonesia, Suaedy membaginya ke dalam dua kategori bentuk. Yang pertama adalah gerakan yang memilih jalan moderat. Artinya, gerakan ini tidak terutama berorientasi menawarkan alternatif radikal untuk menumbangkan kekuasaan yang ada. Yang kedua adalah gerakan yang secara fundemental berbeda, yakni yang secara radikal ingin menggantikan tatanan yang ada dengan tatanan baru yang mereka idealisasikan. Gerakan seperti ini cenderung memilih pendekatan konfrontatif baik terhadap musuh maupun kelompok moderat. Kelompok inilah yang juga sering disebut sebagai kaum fundamentalis Islam.

Di balik perbedaan karakteristiknya, Suaedy tetap melihat bahwa dua bentuk gerakan Islam tadi pada dasarnya membagi satu hal yang sama dalam peta politik nasional saat ini: keduanya berhimpitan dengan Ornop dan Ormas atau bahkan partai politik.
Alih-alih menjadi saluran aspirasi masyarakatnya, gerakan-gerakan sosial semacam itu justru hanya menjadi, dalam bahasa Suaedy, ”penundukan oleh atau titipan dari struktur negara atau kekuasaan tertentu”. Dalam kalimat lain, yang terjadi bukanlah gerakan sosial rakyat melainkan lebih merupakan apa yang oleh Cunningham disebut contra-movements. Melaui contra-movements itulah negara menundukkan seluruh potensi gerakan sosial rakyat yang mengganggu kekuasaannya.
Padahal, yang lebih dibutuhkan di Indonesia adalah gerakan yang benar-benar berpijak pada kebutuhan masyarakatnya. Perlawanan terhadap kekuasaan, atau bahkan lebih jauh perlawanan terhadap dominasi Barat, tidak harus selalu dilakukan melalui pendekatan frontal, melainkan bisa pula melalui bentuk-bentuk perlawanan simbolik seperti melalui praktek-praktek kebudayaan yang resisten terhadap hegemoni dan dominasi.
Suaedy menunjuk gerakan komunitas seniman yang dibidani Acep Zamzam Noor di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu sebagai salah satu contoh bentuk perlawanan yang tidak memilih jalur frontal, meskipun snowbooling effectnya mungkin harus didiskusikan lebih jauh. Keberaniannya untuk melawan aturan Perda syari’at Islam dengan menyebarkan spanduk, misalnya, ”dengan Perda syari’at kita masyarakatkan poligami”, adalah kritik yang pada akhirnya mendorong ibu-ibu untuk ”alergi” dengan isu ini. Atau ketika dalam suatu karnaval ia hanya mengenakan celana dalam, adalah semacam situs perlawanan dari anjuran Buparti Tasikmalaya untuk mengenakan busana Muslim. Demikian pula gerakan yang dilakukan SMP Alternatif Qorriyah Thoyyibah yang dikomandani Bahruddin di Salatiga dan Pengajian Rutin untuk kesetaraan perempuan dalam Islam pimpinan Ruqoyyah di Bondowoso. Lebih jauh lihat makalah Ahmad Suaedy.
Diksusi Bulanan tentang Gerakan Sosial Islam Baru
November 21, 2006/ 20:35 | Filed in: FORACAFETARIA
Islam seperti tiba-tiba masuk ke dalam pusat perbincangan global setelah peristiwa peledakan menara kembar World Trade Center 11 september 2001 yang lalu. Padahal Islam jelas sejak lama telah menjadi bagian dan memberi kontribusi pada dinamik politik, ekonomi, dan kebudayaan dunia. Ironisnya, dalam peta diskursif dominan saat ini, wacana tentang Islam, dan gerakan sosial berbasis Islam terutama, justru tampil dengan segala gambaran negatif tentangnya. Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran bulan November kali ini, akan secara khusus membincangkan pola-pola gerakan sosial berbasis Islamisme tersebut, dengan terutama mengambil pelajaran dari kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Menghadirkan Ahmad Sueady, direktur eksekutif the Wahid Institute, sebagai pembicara, diskusi kita kali ini akan diadakan pada:
Seperti biasa, diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas. Jadi silakan pastikan keikutsertaan Anda melalui telepon pada 021-79192676 atau melui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
- Hari/Tgl: Senin, 27 November 2006
- Waktu: Jam 15.00 - selesai (dilanjutkan buka puasa bersama)
- Topik: Memahami Gerakan Sosial Baru Berbasis Islam
- Pembicara: Ahmad Suaedy
- Tempat: Bukafe,
Jl. Duren Tiga No. 6A, Jakarta Selatan 12760 - Pembicara: Ahmad Suaedy
Seperti biasa, diskusi hanya untuk jumlah peserta yang sangat terbatas. Jadi silakan pastikan keikutsertaan Anda melalui telepon pada 021-79192676 atau melui email ke INTERSEKSIATGEMAILDOTCOM.
Catatanku Sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara
November 21, 2006/ 19:45 | Filed in: CHRONICLES
Posted by M. Nurkhoiron. Program Director, the Interseksi Foundation
Sabtu, 7 Oktober 2006
Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait –salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari hari senin, 9 Oktober 2006. Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan. Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek, pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.
Aku datang di Medan siang, sekitar Jam 11.00. Uzair menjemput saya di bandar Udara Polonia. Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. Karena di pesawat tiba-tiba badanku lemas, dan kepalaku nyaris pusing. Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan. Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya. Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. Tidak ada rasa canggung, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja . Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. Biasanya warung-warung muslim tetap dibuka, tapi sedikit ditutupi, agar kelihatan tidak mencolok. Baca selanjutnya >>
Sabtu, 7 Oktober 2006
Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait –salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari hari senin, 9 Oktober 2006. Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan. Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek, pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.
***
Aku datang di Medan siang, sekitar Jam 11.00. Uzair menjemput saya di bandar Udara Polonia. Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. Karena di pesawat tiba-tiba badanku lemas, dan kepalaku nyaris pusing. Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan. Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya. Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. Tidak ada rasa canggung, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja . Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. Biasanya warung-warung muslim tetap dibuka, tapi sedikit ditutupi, agar kelihatan tidak mencolok. Baca selanjutnya >>