FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

Banjir, Lanskap Wilayah dan Wisata Pascakolonial


Muhammad Nurkhoiron
Anggota Tim Supervisi Penelitian Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3


Sembakung, nama ini baru kukenal setelah kunjungan pertamaku di Kabupaten Tarakan, Kalimantan Timur. Sembakung adalah daerah pemukiman di sekitar sungai yang menghubungkan daerah Nunukan dan Tarakan di Propinsi Kalimantan Timur. Meskipun ia masuk sebagai daerah Kecamatan di Kabupaten Nunukan, Sembakung lebih mudah dicapai melalui Tarakan dengan menggunakan motor Boat menyusuri sungai sepanjang kurang lebih 300 Km. Daerah ini dikelilingi sungai yang meliuk-liuk, menghubungkan satu desa dengan desa lain. Transportasi paling vital tentu saja adalah perahu boat, dan sedikit lebih sederhana adalah perahu kayu (canoe) yang disetel dengan mesin diesel berkekuatan 40-60 Pk.

Sebagai wisatawan, kesan pertama saya adalah takjub. Tentu tidak seperti ketakjuban “si Borokokok” Kabayan yang tersesat di keriuhan Metropolitan Jakarta. Sebaliknya, seperti petualangan si Kulit Putih dalam serial Indiana Jones –meskipun kukira posisi saya sebagai outsider tidak seekstrim itu. Di sela perjalanan menuju desa ini, aku menyaksikan pohon madu (kayu benggeris) berbaris tegap di sepanjang kiri-kanan sungai. Mirip lukisan naturalis Basuki Abdullah ketika menyisir kemolekan alam purba. Rumah-rumah kayu berdiri sambil menyapa ramah setiap penumpang perahu yang berjalan didepannya. Ah sudahlah, itu tidak terlalu penting karena aku tidak memiliki background kesenian. Lebih menarik bagiku, adalah suasana sosial yang kurasakan selama menjalani live in di lapangan, sebagai supervisor penelitian Yayasan Interseksi. Anak-anak kumus, bau tanah bersimpuh keringat apek mandi bersama sembari bermain-main dengan air sungai. Tidak jarang, ibu-ibu rumah tangga, sembari mencuci perabot rumah tangga, pakaian anak-anak, menggunjingkan masalah-masalah desa. Bapak-bapak bertelanjang dada, menyusuri sungai-sungai berlumpur di sepanjang Sembakung, sebagian memancing di sore hari.

[Baca selanjutnya..... ]

Bookmark and Share

Keterpencilan Komunitas Adat Terpencil

Tarlen Handayani
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur


Sulit bagi saya membayangkan bagaimana hidup di wilayah relokasi “Komunitas Adat Terpencil” sub etnik Tidung, di Gn. Temblunu, Sembakung, Kaltim. Hidup di sebuah rumah kayu yang dibangun pemerintah, di tengah-tengah hutan Gn. Temblunu yang belum lama dibuka (bahkan bekas bakaran bonggol-bonggol kayunya masih menyisakan asap). Hanya ada air rawa dan 30 rumah saja. Listrik yang menerangi, muncul dari solar sel yang masih perlu stabilizer pengatur tegangan untuk menyalakan lampu dan alat elektronik lain. Semua itu menjadi situasi yang harus dihadapi tiga puluh kepala keluarga warga RT 06 dan RT 07, warga Desa Atap yang rumahnya seringkali terendam banjir. Mereka menerima bantuan dari program Komunitas Adat Terpencil, Departemen Sosial Propinsi Kalimantan Timur.

"Ingat ya bapak-bapak, Ibu-ibu, bantuan ini kita peroleh dengan susah payah. Butuh waktu hampir tiga tahun untuk mendapatkannya. Jadi tolong dipergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai rumah baru itu tidak bapak-bapak dan Ibu-ibu tempati," Pesan Pak Sura'i, Sekretaris Camat Sembakung dalam pidato penyerahan bantuan Relokasi KAT, masih terngiang di telinga saya. Saya mengingat setiap detail ekspresi wajah warga Sembakung penerima bantuan KAT: datar dan biasa saja. Entahlah, saya tidak menemukan haru biru perasaan bahwa hidup mereka telah diselamatkan oleh negara dari banjir yang menenggelamkan mereka. Pompa Air, alat karaoke, genset, bibit tanaman durian, kelapa sawit, bohlam lampu, kabel listrik, seperti pembagian hadiah lebaran yang terasa rutin dan jauh dari harapaan dan kebutuhan. Menurut penjelasan kades Syarin Abdullah, bantuan ini diajukan pihak desa dan kecamatan Sembakung, kepada pihak Propinsi Kalimantan Timur, dengan pertimbangan, setiap banjir datang, warga RT 06 dan RT 07 Desa Atap mengalami kondisi yang paling parah. Air bisa menggenang sampai ke atap. Itu sebabnya pihak desa dan kecamatan mengajukan permohonan relokasi pemukiman untuk warga RT 06 dan RT 07.

[Baca selanjutnya..... ]

Merayap di Danau Kuping Bersama Pak Dullah



Dirmawan Hatta
Koordinator Tim Pembuat Video Dokumenter Hak Minoritas di kawasan Sembakung, Kalimantan Timur


Mesin tempel bertenaga 5 tenaga kuda itu mendorong ketinting yang kami tumpangi, melawan arus sungai Sembakung yang sedang surut. Di ujung ketinting, Pak Ismail duduk diam sembari mengisap rokoknya, mengawasi aliran sungai, sembari memberi isyarat pada Pak Abdullah yang memegang tuas kemudi di buritan, sembari sesekali tangannya memberikan isyarat setiap kali potongan reranting atau batang pohon yang hanyut menghalang laju. Dengan sebal, saya memandang tebing di kiri kanan yang tiba-tiba menjulang dari permukaan sungai dalam beberapa hari terakhir. Selama empat hari keberadaan kami (saya sendiri, Anggi Frisca dan Nova Rahmat) di desa Atap, kota kecamatan Sembakung di Kabupaten Nunukan itu, saya dihantui pikiran jahat untuk melihat sungai Sembakung itu meluap, menenggelamkan tebing-tebing dan gerumbul-gerumbul gelagah yang berkerumun di tepian, juga akar-akar pepohonan, juga pesawahan, juga kampung-kampung...

Mengitari beberapa tanjung --demikian warga setempat menyebut kelokan-kelokan 180 derajat yang membentuk meander sungai-- ketinting kami melaju dengan malas melawan arus, sembari sesekali bergoyang hebat setiap kali diterpa gelombang dari ketinting-ketinting lain yang sedang menghilir. Saya berusaha menandai sejumlah pohon entah dengan buah berwarna merah, pohon-pohon madu (entah namanya menggeris entah pamatodon), dan gerumbul-gerumbul yang saya anggap khas sembari menghitung tanjung, sebelum kemudian menyerah dan membiarkan saya tersesat dalam kepungan pepohonan yang tidak bisa saya namai di kanan kiri sungai.

[Baca selanjutnya.....]

PDL (Pakaian Dinas Lapangan)


Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat


Di antara hal yang kuingat dalam Workshop Riset Desain I adalah omongan-omongan dari seorang yang menjadi pemateri utama acara yang diselenggarakan di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ia yang jauh datang dari Yogyakarta dengan bersemangat memberikan materi dan membagi pengalaman-pengalamannya. Ilmunya tak setipis buku pengantar, pengalamannya tak sependek cerita sinetron. Ia pembelajar (orang umum menyebutnya dosen) dari Universitas Gajah Mada. Ia yang namanya sudah kukenal sejak kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang, pada malam itu dikenalkan dan memperkenalkan dirinya dengan sebutan Pujo Semedi (tanpa gelar akademis, Dr.). Mas Pujo (pangilan yang lebih dia sukai), pada kesempatan pengantar diskusinya sangat membuka wacana dan informatif, pun dalam diskusi yang berjalan sangat mengalir itu. Bagi peserta workshop yang lain mungkin omongan-omongannya sebatas omongan, tapi bagiku sebagian omongannya adalah instruksi. Di antara instruksi yang aku dengar saat itu adalah masalah pakain di lapangan. "…pakailah celana yang banyak kantongnya, seperti celananya tentara berwarna hijau itu, " kata Mas Pujo di salah satu materi dan berbagi pengalamannya malam itu.

[Baca selanjutnya....]

Mencari Lauk, Menemukan Sate Pusut


Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat

Sebagian besar orang mengenal Pulau Lombok, namun dari yang kenal pulau di timur Pulau Bali ini belum tentu pernah menyinggahinya. Aku termasuk salah satunya, sebelum melakukan penelitian masyarakat Buda di Lombok Utara. Setelah mengenal dalam sebulan, aku merasakan seperti tinggal di tempat impian saat aku masih berusia kanak-kanak. Waktu seperti berhenti, kalau toh dikatakan bergerak ia hanya merambat pelan. Berada di dalam waktu yang terasa abadi menimbulkan keriangan dalam beraktivitas, seperti anak kecil yang sedang bermain. Berada di dalam pulau yang tidak terikat pada waktu, namun pada ruang, seperti tinggal di rumah dengan keamanan dan kenyamanan yang membetahkan.

Pukul 22.48 hari kelima terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta aku menikmati temaram malam. Aku masih memunyai lima jam yang sama di Lombok: empat malam menginap di Dusun Todo, dan satu malam lagi di Kota Mataram. Perasaan berat berpisah dengan lingkungan dan masyarakat yang menemaniku dalam memahami budaya yang ada di Lombok Utara sudah kuhinggapi di minggu terakhir ini. Apalagi sayup-sayup kudengar lantunan orang membaca lontar, sebagai bagian prosesi hajat (begawe) yang terdengar sangat khas. Aku tidak tahu apa persis yang dibaca, oleh sebagian besar narasumber mengatakan, biasanya yang dibaca tapal adam (serat galih) atau menak,[1] dan soundscape ini memberi kesan yang nanti tidak mudah kulupakan.

[Baca selanjutnya...]


Bomo, Saksi Perubahan


Dina Amalia Susamto
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3 di komunitas Orang Sakai, Riau


Seorang Bomo dalam struktur masyarakat Sakai sejak masa lalu merupakan seorang yang istimewa memperantarai dunia manusia dan dunia para hantu. Seorang Bomo berpengaruh dalam menentukan jalan pikiran masyarakat melalui lembaga yang mengurusi keyakinan animisme atau tradisi yang bersangkutan dengan alam atau mahluk halus termasuk pengobatan (dikir). Setelah masuknya Islam Bomo hanya tinggal memegang peran pengobatan, sedangkan upacara keagamaan dipegang oleh kholifah. Masuknya agama Islam tidak hanya mengurangi wewenang Bomo, bahkan ketika gerakan islam Wahabiah yaitu aliran ahlusunah Wal jamaah masuk dari Sumatra bagian Barat, praktik pengobatan dikir dilarang.

Akan tetapi aliran apapun dalam agama Islam yang masuk pada masyarakat Sakai sejak masa kesultanan Siak Sri Indrapura, yang sangat terkenal adalah Naqsabandyah yang diajarkan oleh Abdul Wahab Rokan, tradisi pengobatan dikir tetap dilakukan oleh masyarakat Sakai. Seperti yang ditulis oleh Parsudi Suparlan (1995), karena aliran keagamaan ini belum lama berada pada kehidupan orang Sakai, konflik-konflik antar aliran keagamaan cepat mereda. Sebagian orang Sakai tidak terlibat dalam konflik-konflik tersebut karena mereka tidak merasa menjadi bagian dari dua aliran yang sedang berkembang. Mereka masih lebih percaya pada keyakinan mereka sendiri yang sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Sakai yang digambarkan Parsudi Suparlan sepuluh tahun yang lalu mungkin telah mengalami perubahan. Bagaimana Bomo masa kini memandang masyarakat Sakai melewati perubahan-perubahan waktu dan transformasi sosial budaya di dalam diri mereka.

[Baca selanjutnya....]

Melihat "Buda Keling" dari Wetutelu

Hikmat Budiman
Peneliti Senior Yayasan Interseksi


artefak
Sebelum berangkat ke dusun Benthek, desa Bhoko, kecamatan Gangga, Lombok Utara (dulu Lombok Barat), saya mampir di salah satu isntansi pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat untuk bertemu dengan seorang teman lama yang kebetulan sedang bertugas di instansi tersebut. Tiba di Bandara sekitar jam 2 siang waktu Lombok, saya dijemput oleh Takeshi Ando, teman yang hendak saya sambangi itu, saya langsung diajak ke kantornya, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Setelah berkenalan dengan beberapa orang staf JICA yang lain, kami berdiskusi tentang beberapa program intervensi ekonomi yang sedang dikerjakan JICA di provinsi tersebut. Setiap orang yang bertanya pada saya tentang maksud kedatangan saya ke Lombok, dan saya jawab bahwa saya akan mengunjungi teman yang sedang meneliti komunitas Buda di kecamatan Gangga, asosiasi mereka pasti langsung tertuju pada para pemeluk agama Budha sebagai salah satu agama resmi yang diakui negara di Indonesia.

[Baca selanjutnya......]


Hujan Semalam di Malaysia, Banjir Sebulan di Sembakung


Tarlen Handayani
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur


Sembakung. Sebuah tempat yang sama sekali asing dan saya putuskan sebagai tujuan dari penelitian ini, saat sampai di Nunukan, Kalimantan Timur. Dari rencana semula, wilayah penelitian saya adalah Kepulauan Mentawai, tepatnya di Siberut. Namun, saat workshop persiapan sebelum berangkat ke lapangan, tempat penelitan sepakat di pindah ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur atas pertimbangan beberapa informasi, bahwa Siberut terancam tsunami.

Saya menyepakati kepindahan lokasi itu, meski berarti saya harus mempersiapkan semuanya lagi dari awal. Salah satu mentor workshop, Dave Lumenta, memberikan rekomendasi beberapa daerah di sekitar Kecamatan Sembakung atau Sebuku. Dave malah membekali saya dengan data catatan etnografi Desa Sujau di Kecamatan Sebuku, barangkali saya hilang ide, saya bisa pergi ke Sujau.

Waktu persiapan yang saya miliki dari workshop sampai benar-benar pergi ke lapangan hanya dua minggu.  Itu pun saya masih belum bisa memutuskan, daerah mana di Kabupaten Nunukan yang akan jadi wilayah penelitian saya. Mas Hikmat Budiman, Direktur Interseksi, berpesan pada saya, "pakai jurus Tai Chi saja, kepekaan kamu menangkap persoalan yang menjadi penting, karena kamu berangkat dengan tidak tau apa-apa soal Nunukan." Itu sebabnya dari Jakarta, saya singgah ke Balikpapan, menemui beberapa teman yang saya harap bisa memberi gambaran tentang Nunukan. Dua Hari di Balikpapan tidak banyak gambaran yang yang saya peroleh soal Nunukan, bahkan redaktur Tribun Kaltim yang saya wawancaraipun tidak banyak memberikan gambaran mengenai Nunukan. Bagi sebagian orang Balikpapan, Nunukan menjadi wilayah terasa lebih asing daripada Jawa. Akhirnya saya putuskan, saya harus  sampai dulu di Nunukan setelah itu, baru saya memutuskan, wilayah mana yang akan saya teliti. 

[Baca selanjutnya.....]

Cerita tentang Unpar, Problem Otoritas, dan Industri Penelitian di Kampung Naga


Oleh Amin Mudzakkir
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat

Peneliti yang berkunjung ke Kampung Naga akan menemukan cerita tentang Unpar. Saya sendiri mendapatkan cerita itu untuk pertama kalinya dari Kepala Desa Neglasari. Neglasari adalah nama desa (administratif) dimana Kampung Naga berlokasi. Kata Kepala Desa, demikian dia bercerita sewaktu saya kulo nuwun ke kantornya yang terletak beberapa langkah kaki saja dari parkir Kampung Naga, peneliti yang mengaku berasal dari Unpar akan ditolak di Kampung Naga. Sayang, Pak Kuwu, demikian Kepala Desa bisa dipanggil, tidak menjelaskan panjang lebar kenapa Unpar ditolak di Kampung Naga. Mungkin ada masalah dengan agama, karena mereka non-Islam, begitu dia menduga, dan barangkali mereka tidak “nyunda”, demikian dia melanjutkan dugaannya. Pak Kuwu mengaku mengetahui informasi mengenai penolakan terhadap Unpar di Kampung Naga itu dari cerita orang. Dia belum pernah mengonfirmasi duduk perkara cerita itu secara langsung kepada sesepuh Kampung Naga. “Saya tidak terlalu paham benar cerita itu. Saya belum bertanya langsung ke Kuncen Kampung Naga...”, kata Pak Kuwu.

Mendengar informasi dari Pak Kuwu, saya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan Unpar? Sejauh yang saya tahu, Unpar, kependekan dari Universitas Parahyangan, adalah sebuah kampung terkemuka di Bandung yang reputasinya sangat baik. Sulit membayangkan, apalagi karena alasan agama dan etnisitas, Unpar ditolak di Kampung Naga. Begitu juga dengan Kampung Naga sendiri, sulit membayangkan sesepuh di sana menolak peneliti atau mahasiswa atau siapapun yang mengaku dari Unpar ditolak gara-gara mereka bukan orang Islam dan bukan orang Sunda. Meskipun Unpar adalah universitas Katolik, saya tahu persis kalau dosen dan mahasiswa Unpar sangat beragam. Banyak orang Islam dan orang Sunda yang jadi dosen dan mahasiswa di sana. Jadi, singkatnya, cerita tentang Unpar yang saya dapat dari Pak Kuwu terasa sangat janggal dan alasan dibaliknya, meski baru dugaaan, sangat tidak masuk akal.

[Baca selanjutnya.....]


Mencari Asisten Peneliti, Menemukan Sugeng

Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara

Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari 2009. Aku duduk di situ karena itulah tempat yang tidak disukai banyak orang. Para penumpang biasanya memilih bangku depan atau tengah. Berbagai alasan mereka miliki untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang sering terlontar adalah masalah keamanan. Alasan mereka memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam angkutan umum memang banyak dilakukan di barisan belakang. Dalam perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak ngobrol. Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga hari pertama.

Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat membuat aku tenggelam di dalamnya, yang penuh ketidaknyamanan. Memasuki pintu tol Serang Timur, Banten, suasana bus yang kuinginkan baru kudapatkan: ketenangan dalam ketegangan. Hampir sejam perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok Utara. Paling tidak ada tiga kontak person yang kumiliki, sebagai alternatif asisten peneliti. Pertama, kontak person yang diberikan oleh M. Khoiron, Direktur Eksekutif Desantara. Kedua, kontak person dari Erasmus, aktivis AMAN, dan ketiga, kontak person dari Mas Ashar, teman kuliah istriku.

Hampir satu tahun tidak terlibat dalam aktivitas penelitian komunitas membuatku seperti melakukan penelitian yang pertama kali. Keraguan pada banyak hal menjadi kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di lapangan sangat penting kurasakan. Apalagi meneliti di tempat yang belum kukenal betul dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih kuat. Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu singkat dapat mengenal daerah dan masyarakat setempat tanpa partner di lapangan. Idealitas tentang asisten peneliti tergambar dalam bayanganku: kenal lokasi dan kenal masyarakat dengan bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku tentang asisten peneliti malah memunculkan ketakutan. Aku pun segera menghentikan bayangan tentang asisten peneliti, sekaligus mempersiapkan untuk turun dari bus. Tapi aku sempat berpikir (mengutip sebuah kalimat dalam novel Pram--mungkin), mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.

Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam perjalanan ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena konversi waktu sejam lebih awal. Aku berpikir baik-baik saja dalam kekecewaan ini sampai check-in hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu. [Baca selanjutnya......]

Cerita Si Willy dan Kampung Naga yang ‘Mooi Indie’

Amin Mudzakkir
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3



Siapapun yang melakukan penelitian di Kampung Naga pada bulan-bulan terakhir ini akan mendengar sebuah cerita tentang si Willy. Datang pada tanggal 29 Oktober 2008, si Willy mencatatkan diri kepada petugas yang ditunjuk oleh sesepuh Kampung Naga dengan maksud hendak melakukan penelitian selama seminggu. Pak Endut, petugas yang sehari-hari memandu para tamu yang berkunjung ke Kampung Naga, tidak berpikir macam-macam terhadap si Willy ini. Selain karena sudah biasa dikunjungi orang-orang yang hendak melakukan penelitian atau sekedar untuk melancong, sikap dan penampilan si Willy yang pantas membuat Pak Endut menerimanya secara baik. Lebih lanjut, Pak Endut meminta si Willy untuk melapor kepada sesepuh Kampung Naga terlebih dahulu dan kemudian kepada ketua RT.

Singkat cerita, si Willy konon datang kepada Pak Henhen, salah seorang sesepuh Kampung Naga, untuk meminta izin penelitian. Pak Henhen mengizinkan dan menyuruh si Willy melapor kepada Pak Risman, sang ketua RT. Karena telah diizinkan oleh sesepuh, Pak Risman tentu menerima maksud si Willy. Pak Risman kemudian meminta si Willy melengkapi syarat-syarat untuk melakukan penelitian di Kampung Naga, seperti menyerahkan surat izin dari kabupaten dan aparat pemerintah yang terkait. Nah, ketika diminta syarat-syarat itu, si Willy tidak mempunyai surat izin yang dimaksud. Dia hanya membawa surat tugas penelitian dari sebuah lembaga yang—di dalam kop surat—berlokasi di sebuah gedung di lingkungan UNJ (Universitas Negeri Jakarta). [Baca selanjutnya....]



Ke Suluk Bongkal

Perjalanan ke Area Konflik

Dina Amalia Susamto
Peneliti the Interseksi Foundation, Jakarta
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Tahap 3




Baru pagi, 23 Januari tadi, tanpa direncanakan akhirnya saya nekad menempuh perjalanan ke Suluk Bongkal, setelah selesai mengambil data statistik kecamatan Pinggir.

Suluk Bongkal, sebuah desa yang Desember 2008 lalu pecah keributan antara PT Arara Abadi dan masyarakat dengan persoalan lahan perbatasan. Keributan tersebut menurut masyarakat telah menyebabkan pembakaran lahan yang sudah siap panen yang dilakukan oleh PT Arara Abadi. Tidak hanya lahan, rumah-rumah penduduk juga dibakar karena perusahaan tersebut menganggap lahan di Suluk Bongkal merupakan wilayah perusahaan.

Masyarakat tidak menerima perlakuan PT Arara Abadi. Lahan tersebut menurut pengakuan tokoh masyarakat Sakai yang disebut bathin, sebenarnya merupakan tanah ulayat masyarakat peninggalan kerajaan Siak yang diakui juga oleh pemerintahan Belanda. Tidak semua lahan milik PT Arara Abadi, yaitu lahan yang sudah bersemak belukar yang pernah digarap warga. Sayangnya lahan tersebut dijual kepada pendatang.

Penjualan lahan pada pendatang itu yang menjadikan Arara Abadi bertindak mengusir mereka, karena perusahaan menganggap lahan tersebut miliknya dan menganggap warga yang mengola lahan hanya meminjam. Sementara menurut warga, tanah tersebut memang milik orang Sakai yang dijual kepada pendatang untuk bertahan hidup. Masyarakat pendatang dan Sakai diorganisir oleh Sarekat Tani Riau (STR) yang didukung oleh beberapa LSM seperti Sorak, Segera, Walhi, Jikalahari, Komnas HAM dan mahasiswa memprotes tindakan tersebut, dan menuntut pihak perusahaan dan pihak lain yang terlibat dibawa ke pengadilan atas nama HAM. [Baca selanjutnya......]


DIKIR, Tradisi Pengobatan Orang Sakai di Tengah Gelombang Perubahan

Catatan perjalanan ke Riau 17-20 Januari 2009

Irine H Gayatri
Peneliti The Interseksi Foundation

Perjalanan dari Pekanbaru kutempuh dengan jalur darat menumpang travel berjenis Avanza. Rute Pekanbaru-Duri hanya memakan waktu tiga jam kurang dan sepanjang jalan kendaran kami melintasi kompleks Chevron yang tertata rapi diseling rumah-rumah staf perusahaan minyak itu. Menurut Pak Nardia, sopir travel, perusahaan Chevron yang awalnya adalah perusahaan asing baru-baru saja menemukan lagi 22 titik pengeboran. Sudah tentu aktivitas pengeboran ini, menurutnya selain akan mendatangkan rejeki untuk para pemilik perusahaan (asing) akan membuka lapangan kerja bagi para pendatang, yang, menurutnya lagi, ‘dikuasai’ oleh alumnus dari perguruan tinggi negeri ternama di Jawa Barat. Pak Nardia sendiri mengakui, setelah kendaraan kami hampair mendekati Duri dan tinggallah kami berdua di mobil, dia pernah bekerja sebagai salah satu staf kontrak untuk Cevron (dahulu Caltex) di salah satu divisi teknis. Dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Pak Nardia sehingga ketika pensiun, dia bsi amenyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Pak Nardia memang ‘orang asli’ dari Riau, dan dia membahasakan pendatang sebagai ‘orang kita Jawa’.

Memang perekonomian di Pekanbaru sebagai ibukota provinsi saat ini dapat dikatakan ditopang oleh urban sectors yang dimiliki oleh beragam etnis. Keberadaan Chevron membuat Provinsi Riau dapat disebut sebagai Jika kita berjalan-jalan di kota Pekanbaru, gemerlap lampu dari pusat-pusat perbelanjaan yang notabene berskala menengah-atas dipegang oleh kalangan etnis Cina. Orang Minang dan sebagian pedagang juga berasal dari Bugis. Komposisi etnis yang beraneka ini juga telah ditelusuri oleh antropolog Parsudi Suparlan dalam bukunya ‘Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing dalam Masyarakat Indonesia’ (YOI, 1995). Di pusat kota Pekanbaru, gedung-gedung pemerintahan berarsitektur Melayu berdiri megah. Sudah barang tentu yang termegah adalah kantor Gubernur Riau.

’Petualangan’ ku ke Riau kali ini adalah untuk ‘mengikuti’ perjalanan riset Dina, program officer Interseksi yang melakukan penelitian tentang transformasi identitas orang Sakai di Riau. Siapa sangka di balik kegermelapan urban di Pekanbaru, saya akan menemukan berbagai sisi yang tampaknya paradoks? [Baca selanjutnya.....]



PEWARTA (Persaudaraan Warga Tani)

Hilma Safitri
Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA, Bandung.


Tulisan Hilma Sebelumnya
  • Dokumen yang Menyelamatkanku

    Baca Juga Kronika Terkait
  • Jati Mulya di Bulan Puasa
  • Belajar Spradley di Jatimulya
  • Perjalananku ke Solo
  • Narasi Kecil Kota Bahagia
  • Observasi dan Wawancara
  • Bingung Aku!
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang


  • “Jangan Pake Gula ya… Kang..”
    Perjalananku yang terakhir merupakan perjalanan yang berbeda dengan perjalananku sebelumnya. Lokasi studiku adalah gerakan tani di Kabupaten Batang, yaitu organisasi yang bergerak di wilayah pesisir pantai utara, namun aku kali ini melakukan perjalanan ke Yogyakarta, kota Gudeg yang sebetulnya harus ditempuh selama kurang lebih 4-5 jam dari kota kabupaten Batang. Mengapa?? Karena aku sangat ingin mengunjungi seluruh personil aktivis PEWARTA, organ mahasiswa yang selalu setia membantu FPPB sejak awal berdiri tahun 1999-2000, yang memang ber’markas’ di kota Yogya.

    Perjalanan ke Yogya adalah perjalanan favoritku – sebetulnya – karena rute yang aku tempuh dari Bandung hingga Yogya adalah rute yang sangat familiar dan merupakan rute yang sangat menarik, karena melewati banyaknya kota yang dilewati. Dimulai dari wilayah-wilayah yang termasuk dalam wilayah Pasundan, lalu memasuki wilayah Jawa. Aku selalu berhenti untuk beristirahat sejenak, dan biasanya aku selalu membersihkan muka, kaki dan tangan serta memesan kopi di warung yang ada agar pada perjalanan selanjutnya aku tidak merasakan kantuk. Biasanya aku berhenti di kota Ciamis – Jawa Barat dan Gombong – Jawa Tengah.
    [Baca selanjutnya...]

    Belajar Dari Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah

    Romiana Manurung
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.




    Tulisan Romiana Sebelumnya
  • Bingung Aku!

    Baca Juga Kronika Terkait
  • Jati Mulya di Bulan Puasa
  • Perjalananku ke Solo
  • Narasi Kecil Kota Bahagia
  • Observasi dan Wawancara
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang

  • Memahami apa yang dituliskan James C. Scott dalam ”Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah” adalah kesulitan tersendiri bagi saya. Setiap kata yang James tuliskan membutuhkan beberapa menit bagi saya untuk dapat mencernanya dan hasilnya saya harus mengulang kembali kata-kata itu sampai beberapa kali. Begitulah yang saya rasakan sampai kemudian saya dapat memahaminya tanpa perlu mengulangnya kembali. Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. Saya keluhkan ini kepadanya dan ia memberi saran agar saya membacanya dalam situasi yang tenang bukan saja ruang dan waktu tetapi juga fikiran dan konsentrasi saya.

    Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.

    Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. Ini mempermudah kita juga untuk berkonsentrasi pada hal lain. Sempat Dina meledek saya, katanya biasanya dalam melakukan penelitian terlebih dahulu dituliskan transkripnya baru analisisnya. Sementara saya terbalik, analisisnya sudah saya buat sebelum transkrip itu saya tuliskan.[Baca selanjutnya...]

    Jati Mulya di Bulan Puasa

    Ingwuri Handayani
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.




    “Hubungan harmonis antar-agama selama ini sesungguhnya semu. Kerukunan yang ada bersifat elitis, tidak menjangkau lapisan masyarakat bawah. Karena itu, situasi yang ada sesungguhnya bukan lah rukun, melainkan acuh tak acuh. Padahal masyarakat kita sebenarnya bagaikan kawah gunung berapi yang siap meledak”


    Seorang peserta dialog MADIA-KPSM di medan pada 15-17 Februari 2001[#]




    Tulisan Ingwuri Sebelumnya
  • Belajar Spradley di Jatimulya

    Baca Juga Kronika Terkait
  • Perjalananku ke Solo
  • Narasi Kecil Kota Bahagia
  • Observasi dan Wawancara
  • Bingung Aku!
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang


  • Siang begitu terik saat saya keluar dari kantor di Depok. Sungguh tidak mudah menaklukkan hati untuk mengajaknya keluar di saat puasa seperti ini. Apalagi, saya harus berganti-ganti angkot untuk sampai ke Jati Mulya. Tetapi, ini harus dilakukan. Sengaja saya memilih datang lagi di bulan berkah ini, untuk melihat gerak kultural masyarakat yang biasanya berbeda dari bulan di lain Ramadhan.

    Kedatangan kali ini, saya ingin mencatat monografi desa di Jati Mulya. Saya, sengaja datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak mengganggu aktivitas lurah dan perangkat desa di Jati Mulya, di samping, saya juga tidak ingin terlalu lama menunggu buka karena kalau berangkat pagi, siang hari akan berdampak pada kondisi fisik, terutama melawan haus.

    Waktu siang menjelang sore, juga memungkinkan untuk berbincang dengan perangkat, karena beberapa pekerjaan sudah terselesaikan di waktu sebelumnya. Sayang, saat saya sampai di sana, sekitar pukul 14.13, hanya ada tiga orang yang berada kantor desa Jati Mulya.

    [Baca selanjutnya...]

    Perjalananku ke Solo

    Rini Kusnadi
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.



    Tulisan Rini Sebelumnya
  • Perjalanan Wawancara ke Malang

    Baca Juga Kronika Terkait
  • Narasi Kecil Kota Bahagia
  • Observasi dan Wawancara
  • Bingung Aku!
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Belajar Spradley di Jatimulya

  • BUNGA DAN TEMBOK

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki tumbuh
    Engkau lebih suka membangun
    Rumah dan merampas tanah

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang tak kaukehendaki adanya
    Engkau lebih suka membangun
    Jalan raya dan pagar besi

    Seumpama bunga
    Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

    Jika kami bunga
    Engkau adalah tembok
    Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
    Suatu saat kami akan tumbuh bersamad
    Engan keyakinan: engkau harus hancur!
    Dalam keyakinan kami
    Di mana pun – tirani harus tumbang!
    Solo, ’87 - ‘88

    Wiji Thukul




    Solo adalah kota yang aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. Dari Malang aku naik travel ke Solo. Bapak dan Ibu Utomolah yang berbaik hati mau memesankan travel langganan mereka untuk ke Solo. Aku kira perjalanan ke Solo dengan travel bisa lebih cepat dibandingkan jika menggunakan kereta api. Tetapi perkiraanku ternyata salah. Travel memang menjemputku di rumah Bapak Utomo jam Sembilan pagi, tapi setelah itu kami berputar-putar kota Solo untuk menjemput para penumpang yang lain. Hatiku sedikit kesal, karna perjalanan jadi begitu lama, tapi setelah aku pikir-pikir kembali aku senang juga karna bisa keliling kota Malang dengan gratis.[Baca selanjutnya...]

    Narasi Kota Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)

    Ana Westy
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.



    Baca Juga Kronika Terkait
  • Observasi dan Wawancara
  • Bingung Aku!
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang
  • Belajar Spradley di Jatimulya

  • Kota Banjar, dahulu tak pernah mengundang minat khusus pada diri saya. Namun ketika bekerja dan bersentuhan dengan isu governance, Kota Banjar langsung mencuri perhatian saya. Beberapa kali, saya pernah melewati kota ini ketika saya sedang kuliah kerja nyata (KKN) di salah satu desa di pantai selatan Jawa. Waktu itu saya heran, mengapa Kota ini terletak di tengah-tengah Kabupaten Ciamis.

    Kalau digambarkan, setelah keluar dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, kita langsung memasuki Kabupaten Ciamis. Kemudian sekitar 20 Km melewati daerah ini, Gerbang Kota Banjar telah terpampang di depan mata. Dan kira-kira 10 Km melewati Kota Banjar, kita akan wilayah memasuki Kabupaten Ciamis kembali. Cukup membingungkan.

    Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940, lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun 1941-1992. Dari Tahun 1992 – 20 Februari 2003 Banjar merupakan Kota Administratif dan dengan semangat otonomi daerah pada 21 Februari 2003, Banjar resmi menjadi kota.

    Memasuki wilayah Kota Banjar kita disambut oleh gerbang kota, kemudian sebuah jembatan panjang dengan Sungai Citanduy mengalir dibawahnya menanti untuk dilewati. Menyeberangi jembatan, jalan protokol yang cukup lengang ditingkahi dengan rutinitas terminal yang tak terlalu ramai adalah pemandangan berikutnya.

    Satu hal yang menarik, sepanjang jalan di Kota Banjar, yang terlihat hanyalah deretan ruko dan minimnya jumlah lalu-lintas kendaraan. Kurang dari 5 kendaraan yang sabar menunggu lampu merah berubah hijau di setiap perempatan. Jelas saja, penduduk Kota Banjar ini kurang dari 200.000 jiwa. Tak ada bangunan di Kota Banjar yang lebih dari tiga lantai karena belum ada kebutuhan untuk itu. Tapi ada warga juga yang mengatakan, supaya kebersihan dan keindahan kota tetap terjaga.

    [Baca selanjutnya...]

    Observasi dan Wawancara

    M Subhi Azhari
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.



    Baca Juga Kronika Terkait
  • Bingung Aku!
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang
  • Belajar Spradley di Jatimulya

  • Rumusan pertanyaan riset yang sudah di susun sudah lebih fokus setelah saya memperoleh beberapa data awal hasil riset pustaka dan juga hasil dari monitoring kasus di Ciputat beberapa hari sebelumnya. Karena itu pada tanggal 22 Agustus saya sudah mulai melakukan wawancara dengan narasumber. Narasumber pertama yang saya wawancara adalah Zafrullah Ahmad Pontoh, salah satu petingi JAI yang cukup memahami persoalan yang dihadapi Ahmadiyah. Selain itu, narasumber ini adalah orang yang cukup saya kenal secara pribadi karena sering terlibat bersama dalam berbagai aktifitas. Pertimbangan kedekatan secara personal ternyata sangat membantu saya dalam mengajukan berbagai pertanyaan dan ternyata mendapat respon yang sangat baik. Karena itu berbagai informasi yang ia berikan sudah memenuhi target yang ingin saya gali, meskipun beberapa pertanyaan harus diperkuat dengan data tertulis. Namun hal itu tidak menjadi masalah karena yang bersangkutan juga dengan senang hati membantu saya menyediakan data-data tersebut.

    Dalam pertemuan pertama ini wawancara dilakukan di markas JAI, Jl. Balikpapan Jakarta Pusat karena narasumber setiap hari beraktifitas di sini. Ditemani segelas teh hangat, wawancara berlangsung cair dan akrab sehingga tidak terasa 1,5 jam waktu berlalu. Dengan penuh antusian, ZA Pontoh menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan. Bahkan beberapa pertanyaan dijawab sangat panjang, terkadang keluar dari konteks pertanyaan. Namun hal itu saya anggap bagian penting dari metode agar yang bersangkutan lebih nyaman, karenanya saya biarkan saja.[Baca selanjutnya...]

    Bingung Aku!

    Romiana Manurung
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran, Medan, Sumatra Utara.



    Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Menuliskan jurnal harian yang kerap “ditagih” pak Hikmat melalui Dina, bagiku terasa berat sekali. Setiap kali aku selesai menulis, aku selalu tidak puas dengan hasil tulisanku, sehingga kuulang, kuulang dan kuulang. Akhirnya semua menumpuk tak satupun yang jelas.
    Baca Juga Kronika Terkait
  • Dokumen yang Menyelamatkanku
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang
  • Belajar Spradley di Jatimulya

  • Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data kelapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku.

    Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang tidak asing bagiku. Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP – KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. Karena memang selain melakukan penelitian, sejak awal aku sudah menjadi bagian yang ikut dalam advokasi kasus ini. Tapi lagi-lagi untuk menuliskannya menjadi sebuah laporan, cerita atau jurnal atau apalah aku kerap berucap “ampun”.

    Huh…!!!, kadang-kadang aku berfikir lebih baik aku mewawancarai mereka saja terus dan terus tapi jangan suruh aku menulisannya.hehe.
    [Baca selanjutnya...]

    Dokumen yang Menyelamatkanku dari Bahasa Jawa

    Hilma Safitri
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA, Bandung.




    Kedatangan ke FPPB, pertama kali hanya dengan bekal bahwa saya pernah berkenalan dengan Mas Handoko, yang kebetulan pernah saya undang untuk menjadi salah satu pengajar tamu pada Sekolah Politik Reforma Agraria angkatan I, diawal tahun 2007. Kedatanganku ke FPPB juga dalam rangka mengantar seorang teman – kandidat PhD dari Toronto University, Toronto Canada – meminta aku untuk menemani di awal studi lapangannya di tempat yang sama. Kedua faktor tersebut tidak menjadi sesuatu hal yang mengganjal, karena memang untuk persoalan mengkaji dan studi, FPPB termasuk baru aku datangi. Jika sebelumnya pernah ‘bertemu’ dengan teman-teman FPPB, tentunya bukan untuk konteks kajian atau studi. Bahkan, kedua factor tersebut menjadikan satu alasan bagi saya untuk dapat mempelajari (kembali) organisasi tani lain yang ada di Indonesia, selain Serikat Petani Pasundan (SPP) dan Serikat Tani Bengkulu (STAB). Demikianlah, dalam konteks mempelajari seluk beluk organisasi, bagi saya, FPPB adalah organisasi tani ketiga yang saya pelajari.
    Baca Juga Kronika Terkait
  • Ini Medan, Bung!
  • Pelayanan Kesehatan di Banjar
  • Dari Interim Meeting
  • Pertanyaan ke Observasi
  • Perjalanan Wawancara ke Malang
  • Belajar Spradley di Jatimulya

  • Walaupun ketiga organisasi yang sudah dan sedang saya pelajari adalah Organisasi Tani, masing-masing memiliki ciri khasnya masing-masing. Salah satunya adalah bagaimana mereka melakukan upaya pendokumentasian seluruh korespondensi surat-menyurat antara organisasi dengan jaringan atau dengan pihak-pihak terkait didalam penyelesaian kasus (seperti Kepolisian, departemen terkait, institusi pengadilan dsb.). FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB. Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.
    [Baca selanjutnya...]

    Ini Medan, Bung!

    Dina Amalia Susamto
    Peneliti Yayasan Interseksi



    medan1
    Sejak pertama aku mendengar kabar dari Pak Hikmat, aku menggantikan beliau untuk berangkat ke Medan menjadi supervisor Romi, aku bahagia sekali. Ini tugas pertamaku ke daerah dan aku merasa beruntung mendapat kesempatan ke lapangan—suatu hal yang jarang dilakukan andai aku memilih bekerja di universitas.

    Sebelum ke Medan aku merasa sudah tidak enak badan. Aku juga terus berpikir, perjalanan nanti adalah perjalanan pertamaku menggunakan pesawat terbang, aku takut sebenarnya. Sebuah ketakutan yang wajar karena memori ini memang hanya diisi oleh peristiwa kecelakaan pesawat yang puluhan kali sudah terjadi dengan mengenaskan. Tapi aku tidak boleh menyerah, tidak boleh sakit, nanti tidak jadi ke Medan!

    Pesawat di Bandara berangkat pukul 11.00. Sekujur tubuhku dibalut dingin begitu diumumkan sebentar lagi take off. Berkali-kali aku merasa gelisah memeriksa seatbelt, mengencangkannya, sampai benar-benar kencang, hingga kurasakan perutku kejang dan mual entah oleh ikatan yang begitu kuat atau oleh deraan rasa cemas. Tapi kukira dua-duanya. Pesawat mulai naik, aku tidak takut ketinggian—aku terbiasa naik gunung—tapi dalam pesawat ini perasaanku melayang, jantungku berdetak sangat kencang dan aku hanya bisa berdoa. Aku harus percaya pada pilot yang mengendalikan pesawat, aku harus percaya pada Lion air yang kutumpangi—meskipun begitu buruk citra penerbangan Indonesia—dan terlebih lagi harus percaya, hanya Tuhan yang mempunyai nyawa. Yang harus terjadi terjadilah! Tapi aku memohon aku selamat tak kurang suatu apa sampai di Medan.

    [Baca selanjutnya...]

    Universalisme Pelayanan Kesehatan di Kota Banjar

    Ana Westy
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja sebagai Peneliti Kebijakan Kesehatan di Perkumpulan Inisiatif-Bandung.




    Kesehatan adalah Hak
    Pelayanan kesehatan dasar sebagai bagian dari hak asasi manusia dan hak dasar warga negara merupakan kewajiban negara yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Hal ini bahkan sudah menjadi keputusan politik dan hukum internasional, juga amanah konstitusi nasional. Pertanyaannya, sudahkah pemerintah melaksanakan kewajibannya tersebut. Jika selama ini belum, mengapa? Lalai? Korupsi? Salah-urus? Keliru-cara pandang? Sekedar kesalahan teknis, ataukah paradigmatis?

    Sebagai warga dunia, dimana pun berada, setiap orang berhak atas akses pada pelayanan kesehatan dan kontrol terhadap kebijakan-kebijakan kesehatan yang menyangkut kepentingan rakyat banyak (public goods and service). Hak ini telah dijamin dan menjadi kesepakatan global yang dituangkan dalam berbagai dokumen atau perjanjian internasional, mulai dari Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1948 sampai yang terakhir, misalnya, Penjelasan Umum (General Comments) No.14/2000 dari Kovenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang khusus mengatur kewajiban negara dalam penegakan hak-hak atas perawatan dan pelayanan kesehatan warganya. Di Indonesia, kovenan ini juga sudah diratifikasi melalui UU No. 11/2005. Oleh karena itu setiap kelalaian yang dilakukan negara merupakan pelanggaran hak-hak asasi manusia.
    [Baca selanjutnya...]

    Dari Pertanyaan ke Observasi Awal

    M Subhi Azhari
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada The Wahid Institute, Jakarta.




    Proses penelitian ini persis dimulai pada tanggal 11 Agustus 2008, ketika saya memulai menyusun daftar pertanyaan untuk para narasumber. Daftar pertanyaan ini sesungguhnya adalah panduan umum yang tentu tidak akan saya ikuti secara rigid di lapangan mengingat segala informasi bisa dikembangkan sesuai dengan konteks yang dibutuhkan. Begitupula dalam menyusun daftar pertanyaan ini, saya membaginya kedalam 3 kelompok pertanyaan yang disesuaikan dengan bidang dan kompetensi setiap narasumber. Ketiga kelompok pertanyaan tersebut menggambarkan setiap perspektif dari informasi yang ingin digali dalam riset ini yakni kelompok pertanyaan untuk pemerintah/negara, kelompok pertanyaan untuk pengamat dan praktisi HAM serta yang terakhir kelompok pertanyaan untuk korban.

    Pengelompokan seperti ini sengaja saya gunakan dengan harapan akan memenuhi tujuan dari riset ini yakni mengetahui bagaimana persepsi pemerintah/negara terhadap MUI sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peranan sangat besar dalam lahirnya keputusan pemerintah (SKB) terhadap Ahmadiyah. Juga ketidakmampuan pemerintah menangkap gejala meningkatnya kekerasan pasca keluarnya fatwa MUI tentang Ahmadiyah. Karena dugaan sementara saya, pemerintah selama ini telah salah mempersepsikan MUI sebagai satu-satunya lembaga fatwa yang harus diikuti. Kesalahan persepsi itu telah menimbulkan pemihakan pemerintah dalam persoalan tafsir agama hanya kepada MUI. Padahal banyak lembaga keagamaan yang juga memiliki kompetensi mengeluarkan fatwa, namun tidak mendapat respon yang sebanding dari pemerintah ketimbang fatwa yang dikeluarkan MUI.[Baca selanjutnya...]

    Catatan tentang Perjalanan Wawancara ke Malang

    Rini Kusnadi
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI), Jakarta.




    Tanggal 20 Agustus 2008 jam 17:30 sore hari, aku tiba di stasiun Gambir. Aku langusung menunggu kereta Gajayana yang akan membawaku ke Malang ke tempat Bapak dan Ibu Utomo. Beliau adalah orang tua dari Bimo Petrus, salah satu aktivis yang dihilangkan secara paksa pada tahun 1997/1998. Ini adalah kali pertama aku pergi dengan kereta api. Ada sedikit perasaan takut dan khawatir kala itu, tapi aku yakin aku akan baik-baik saja selama perjalanan. Ketika kereta tiba aku langsung masuk ke dalam gerbong pertama. Sebelumya aku bertanya-bertanya dulu dengan menunjukan tiketku kepada orang lain dimana aku duduk, ternyata aku ada di gerbong pertama dan tempat dudukku nomor 9C. Begitu menemukan tempat duduk, aku langsung duduk dan merapikan barangku dengan menaruhnya di bagasi atas.

    Kereta api Gajayana akhirnya berjalan setelah berhenti selama lima menit di stasiun. Aku mulai menikmati perjalanan ini meskipun memiliki sedikit perasaan takut dan khawatir. Terkadang aku ngobrol dengan seorang ibu-ibu yang berusia sekitar enam puluhan yang duduk di sebelahku. Beliau ingin kembali ke Malang setelah mengunjungi anaknya yang bekerja di Jakarta selama tiga minggu. Sesekali aku bertanya tentang alamat yang akan aku tuju, yaitu jalan Lahor tempat bapak dan ibu Utomo tinggal, dan beliau menjawab “wah, itu bisa pake becak kok mbak kalau mau ke sana, paling mahal cuma lima ribu aja. Kalau naek angkot cuma dua ribu lima ratus. Tapi memang lebih enak pake becak, dan tukang becak juga semua tau kok jalan Lahor.” Setelah itu, tidak banyak percakapan terjadi karena aku lebih menikmati perjalanan dengan melihat ke luar jendela.[Baca selanjutnya...]

    Belajar Spradley di Jatimulya

    Ingwuri Handayani
    Peserta Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi-HIVOS 2008
    Bekerja pada Desantara, Institute for Cultural Studies, Depok, Jawa Barat.




    “Semua itu harus ditulis. Apapun... jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit.
    Yang penting tulis, tulis, tulis. Suatu saat pasti berguna.”
    Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, Lentera Dipantara, Jakarta, 2004



    Tiba-tiba, saya jadi merasa begitu kecil setelah membaca tulisan James P. Spradley soal etnografi. Semula, saya membayangkan bahwa, dengan membuka mata, memasang telinga dan berkeliling di kompleks perumahan Jati Mulya serta melakukan wawancara, akan mendapatkan temuan seperti para peneliti lainnya. Tetapi, ternyata, setelah saya membaca tulisan Spradley itu, betapa masih banyak hal yang harus dilakukan selain tiga hal di atas.

    Karena, demikian Spradley, etnografi harus bisa memahami kandungan dari kode-kode bahasa yang disampaikan, bisa menafsiri dari perilaku bahkan hanya dengan menunjukkan gesture tertentu pun, bisa memahami maksud yang ingin diungkap. Memahami semua itu, tentu hanya bisa didapat jika kita intens dengan komunitas dan terutama, immerse. Sementara, apa yang saya lakukan selama ini, masih terlalu jauh dari apa yang disebut dengan metode etnografi a la Spreadly ini.
    [Baca selanjutnya...]

    Catatanku Sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara

    Posted by M. Nurkhoiron. Program Director, the Interseksi Foundation


    Sabtu, 7 Oktober 2006

    Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait –salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari hari senin, 9 Oktober 2006. Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan. Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek, pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.

    ***


    Aku datang di Medan siang, sekitar Jam 11.00. Uzair menjemput saya di bandar Udara Polonia. Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. Karena di pesawat tiba-tiba badanku lemas, dan kepalaku nyaris pusing. Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan. Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya. Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. Tidak ada rasa canggung, dan semuanya berjalan biasa-biasa saja . Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. Biasanya warung-warung muslim tetap dibuka, tapi sedikit ditutupi, agar kelihatan tidak mencolok. Baca selanjutnya >>


    Sekilas tentang Komunitas Tolotang

    Posted by: Heru Prasetia
    Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas Yayasan Interseksi

    Saat saya telah tinggal selama beberapa hari bersama komunitas Tolotang, saya merasakan betapa komunitas ini mengalami sejenis trauma atas pengalaman sosial mereka di masa lalu. Dari berbagai percakapan dan bacaan saya atas sejumlah literatur, saya menemukan bahwa sejarah komunitas ini adalah sejarah tekanan dan intimidasi. Komunitas ini seolah dibentuk oleh intimidasi itu sendiri. Tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini seolah tampak membatasi diri dan tertutup dalam hal-ihwal sistem kepercayaan mereka. Ada satu ilustrasi yang barangkali bisa melukiskan betapa ada sikap waspada tersebut mendarah daging di komunitas ini. Begini:

    Waktu itu saya diajak induk semang saya ke sebuah acara mapacci (salah satu acara dari rangkaian acara perkawinan orang Tolotang) di tempat itu saya ngobrol dengan sejumlah orang, termasuk dengan induk semang saya. Satu hal yang mengagetkan saya adalah ketika terlontar pertanyaan pada saya tentang apakah Interseksi dan Desantara (saya juga dikenal sebagai eksponen komunitas Desantara karena ia punya majalah Desantara edisi 14/2005 yang nama saya tertera di dalamnya) punya niat tulus untuk membantu komunitas-komunitas lokal atau justru punya proyek terselubung islamisasi, sebab, ujarnya lagi, orang-orangnya adalah orang islam. Saya tertegun. Saya tahu orang ini sebenarnya telah beberapa kali bergaul dengan Desantara dan mengikuti sejumlah acaranya. Tidak perlu saya jelaskan apa jawaban saya ketika itu. Tapi yang jelas, pertanyaan tersebut paling tidak menunjukan beberapa hal. Pertama, perasaan traumatis akibat tekanan di masa lalu belum sepenuhnya hilang, dan ini membentuk sikap untuk mewaspadai apapun tindakan orang di luar komunitas mereka, terutama dari kelompok islam. Kedua, ia kurang memahami pluralitas dalam islam sendiri. Ketiga, menyangkut urusan kepercayaan tolotang, komunitas ini sangat membatasi diri dalam berurusan dengan to laing (demikian sebutan mereka untuk orang yang bukan Tolotang). Baca Selanjutnya>>

    Catatan dari Amparita

    Posted by: Heru Prasetia
    Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas Yayasan Interseksi


    Di awal persiapan penelitian, saya membayangkan komunitas tolotang towani berada di wilayah terpencil yang jauh dari sentuhan modernitas ditambah dengan sikap hidup yang cenderung menolak kehidupan modern. Namun kesan semacam itu berubah setelah saya mendapat informasi yang cukup memadai tentang keberadaan komunitas ini. Sejumlah buku dan percakapan dengan beberapa orang di makasar menginformasikan bahwa pusat komunitas ini ada di sebuah desa yang menjadi kota kecamatan di wilayah kabupaten Sidenreng Rappang sulawesi selatan. Sebuah ibu kota kecamatan tentu merupakan wilayah yang paling dekat dengan modernitas, paling tidak di kawasan kecamatan tersebut. Kesan ini semakin tertegaskan ketika saya menginjakkan kaki di Amparita.

    Amparita terletak sekitar 8 kilometer dari Pangkajene, Ibu Kota kabupaten Sidenreng Rappang. Dari Makasar jaraknya sekitar 231 kilometer. Jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum. Angkutan umum dari Makasar ke Pangkajene atau ke Amparita menggunakan kendaraan sejenis panther atau kijang dengan penumpang sebanyak 7 orang. Angkutan yang langsung menuju Amparita lebih jarang dijumpai ketimbang yang menuju Pangkajene. Saya sendiri naik jurusan Pangkajene dengan ongkos 30 ribu rupiah, kemudian naik angkot (masyarakat sulsel menyebutnya pete-pete) menuju Amparita dengan ongkos 3 ribu rupiah. Baca selanjutnya>>

    Lima Hari Pertama di Cianjur

    Technorati Profile
    Posted by: Amir Mudzakkir
    Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme, Yayasan Interseksi.

    Hari Pertama, Sabtu, 9 September 2006
    Saya berangkat dari rumah di Pancoran Jakarta Selatan sekitar jam 8 pagi, jalan kaki sebentar, kemudian naik mikrolet 34, turun di Kalibata, kemudian naik Kopaja 57, turun di Terminal Kp. Rambutan. Setelah menunggu-nunggu dan bertanya ini itu tentang bis yang ke jurusan Cianjur, akhirnya saya putuskan untuk naik bis “Doa Ibu” jurusan Tasik. Kata seorang tukang warung, bis itu nanti akan lewat cianjur. Ongkosnya murah, demikian tukasnya. Saya segera bergegas, tanya lagi kondektur bis yang juga mengiyakan bahwa bis ini nanti akan lewat Cianjur. Kemudian saya naik dan duduk di bangku jajaran kedua. Bis itu ber-AC, sehingga pada awalnya saya merasa nyaman, tapi segera saja perasaan itu berubah setelah puluhan tukang asong menjajakan berbagai macam barang dan makanan ke atas bis. Saya jengkel tapi harus bagaimana lagi, sebab itulah fakta paling riil tentang Indonesia. Setelah menunggu beberapa saat, bis itu akhirnya berangkat. Penumpang hanya beberapa orang saja, tidak sesak. Plong rasanya. Baca selanjutnya>>


    Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi

    Technorati Profile
    (Bagian Satu)
    Posted by: Paring Waluyo Utomo
    Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme Yayasan Interseksi



    Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. Terima kasih atas beberapa pertimbangan yang disampaikan kepada saya. Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. Kedua desa ini saling bersebelahan. Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik. Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat “orang Tengger” yang telah menganut Islam. Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah “desa Islam” yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.

    Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto. Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.[1] Baca selanjutnya>>


    A Note from A Terra Incognita

    Technorati Profile
    Posted by M. Uzair Fauzan
    Member of Interseksi's Researc Team on Minority Rights and Multiculturalism

    First Day in Medan

    I almost failed to fly to Medan this morning. For Mandala airline, I was “blamed” for not confirming my flight a day before departure. For me, the rule is too bureaucratic. As long as I know, this is the only airline that obliges their passenger to give report about their plan of departure (though in fact they already issued the ticket, like me, which I guess can be interpreted as a kind of confirmation about departure plan). After waiting for the last minute, they finally allowed me to come aboard. And the adventure into a foreign land had just begun. Baca selanjutnya>>


    Secuil Catatan dari Gunung Bromo

    Technorati Profile
    Posted by: Paring Waluyo Utomo


    Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. Ritual ini dilakukan di Desa Wonokerso. Letaknya di atas gunung. Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad. Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun. Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya. Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat'an. Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini. Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti. Baca selanjutnya>>