|  

Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM 2009

Cisarua, 7-9 September 2009

(Dipersiapkan oleh Irine H. G dan Arkhemi Suci Lestari)


Tahun 2009 adalah tahun kedua program Pelatihan Penelitian yang diadakan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS, khusus untuk mereka yang menekuni isu-isu hak minoritas dan/atau diversitas cultural. Program ini bukan terutama menekankan pada metode pelatihan klasikal di dalam ruang-ruang kelas, melainkan lebih merupakan apa yang dalam ungkapan lama disebut learning by doing, belajar penelitian dengan cara melakukan penelitian. Pada prinsipnya, kami melihat bahwa orang tidak mungkin belajar penelitian hanya dengan menerima materi atau teori-teori di dalam kelas seperti bentuk-bentuk perkuliahan di universitas. Penelitian bukan materi yang harus dihafal diluar kepala, melainkan aktivitas yang hanya mungkin disempurnakan melalui praktek terus-menerus. Tapi itu tidak berarti para peserta pelatihan langsung berangkat ke lapangan tanpa pembekalan materi pemahan tentang penelitian sosial yang memadai. Untuk keperluan itulah kami melaksanakan Workshop persiapan penelitian tgl. 7-9 September 2009 yang lalu.

pelatihan_2009
Workshop diadakan di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 9 (sembilan) peneliti muda dari Jabodetabek, Yogyakarta dan Sulwesi Tenggara, 2 (dua) narasumber dari Yogyakarta, yaitu Dr Pujo Semedi dari Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada dan Batara Ibnu Reza, S.H., LLM dari IMPARSIAL Jakarta, serta 6 peserta dari Interseksi dan Akatiga. Dua peserta terjauh yag mengikuti pelatihan penelitian kali ini datang dari Kendari dan Yogyakarta. Workshop ini khusus ditujukan untuk membahas, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas rancangan penelitian yang telah diajukan oleh beberapa peserta pelatihan yang sudah terpilih.

Dalam pembukaan workshop pimpinan Interseksi menjelaskan latar belakang mengapa NTERSEKSI melakukan kegiatan pelatihan penelitian, dan membuka kesempatan bagi peneliti muda se Nusantara (walaupun baru bisa dilakukan untuk wilayah Jabodetabek). Melalui kegiatan ini INTERSEKSI mencoba untuk “membongkar” anggapan seolah-olah penelitian hanya bisa dilakukan oleh kalangan intelektual kampus ataupun yang bekerja sebagai peneliti seperti LIPI. Sebab pada dasarnya penelitian adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh semua orang.
pelatihan_2009_3
Di samping itu, gagasan pelatihan ini juga dipicu oleh kenyataan bahwa di lingkungan organisasi masyarakat sipil, misalnya, banyak sekali orang yang berminat melakukan riset, tapi kualitasnya hasilnya masih banyak yang belum memenuhi standar penelitian yang baik. Di lain pihak, upaya advokasi isu-isu penting berbasiskan HAM dan demokrasi banyak yang tidak didukung oleh analisa dan data yang akurat. Dalam konteks ini, Interseksi melihat bahwa banyak lembaga mempunyai dukungan dana yang besar tetapi tidak mempunyai dukungan data yang kuat.

Penelitian juga dipandang sebagai hal yang penting, terutama jika isu yang diteliti sangat membantu pada proses advokasi. Persoalannya adalah, hasil penelitian seperti apa? Ada kecenderungan bahwa aktivis NGO menggunkan bahasa yang hiperbolis atau mempuyai kelemahan dalam argumentasi untuk mengadvokasi isu. Penelitian akan membantu aktivis untuk sedikit berjarak dengan isu yang diteliti, dan lebih reflektif.

pelatihan_2009_4
Kebetulan Interseksi memiliki sedikit pengalaman melakukan beberapa penelitian dengan hasil yang mendapat apresiasi cukup baik dari berbagai kalangan. Pengalaman itulah yang ingin dibagi kepada para peserta pelatihan ini. Untuk kepentingan berbagi pengalaman dan pengetahuan itulah, dalam Workshop ini Interseksi juga menghadirkan beberapa peneliti yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian bersama, baik dalam penelitian tentang isu-isu Hak Minoritas dan Multikulturalisme maupun peserta pelatihan penelitian angkatan sebelumnya (tahun 2008).

Organisasi workshop terbagi ke dalam dua aktivitas utama: Pertama, pembekalan materi tentang penelitian sosial dan logika penulisan sosial oleh Dr. Pujo Semedi, dan diskusi tentang materi Hak Asasi Manusia oleh Bhatara Ibn Reza dari Imparsial; Kedua, pembahasan draft rancangan penelitian yang disusun oleh masing-masing peserta terpilih.

Pujo Semedi memberi tekanan akan pentingnya pengamatan (observasi) dalam sebuah proses penelitian dengan metode kualitatif. Dalam banyak kasus, pengamatan ini bahkan kadang lebih penting daripada wawancara formal berbekal panduan wawancara. Sebab jika seorang peneliti berhasil menempatkan dirinya dalam konteks kehidupan masyarakat tempatan, seringkali orang akan memberikan informasi yang dibutuhkan bahkan tanpa harus ditanya. Aktivitasnya lebih merupakan obrolan informal daripada sebuah wawancara formal. Pujo Semedi sendiri membagikan pengalaman penelitiannya di wilayah perkebunan teh di Jolotigo, Jawa Tengah. Ia menceritakan dengan lugas bahwa peneliti berbeda dengan para pendongeng, sebab peneliti mempunyai kewajiban untuk menceritakan kembali hal pertemuan dengan subyek dan isu yang ditelitinya sesuai dengan fakta yang ada. Pujo menjelaskan bahwa siapapun bisa menulis, namun sebuah tulisan yang baik akan dimulai dengan:

Pertama, dongeng kita ini (bahasa Pujo Semedi untuk penelitian) dibuat untuk menjawab pertanyaan tertentu. Kedua, sudah pasti, sebelum merumuskan pertanyaan penelitian, peneliti wajib membaca literatur yang relevan. Tanpa itu, rumusan pertanyaan penelitian hanya akan mengandalkan common sense belaka. Pujo Semedi memberikan contoh melalui tulisan sepanjang 1500-an kata yang “disarikan” dari riset dia mengenai perkebunan teh Jolotigo. Dengan judul “struggle for Dignity” , yang menceritakan strategi perempuan pemetik teh perkebunan Jolotigo untuk mempertahankan harga dirinya. Pujo memulai penelitiannya dengan pertanyaan mengapa perempuan buruh perkebunan teh senang berdandan padahal mereka menghabiskan waktunya sejak pagi buta hingga sore hari di perkebunan. Pertanyaan ini dipandu oleh serangkaian hasil pembacaannya terhadap kondisi gender dalam proses produksi di perkebunan teh itu, selain dari pengamatannya terhadap perilaku sehari hari atau relasi antara para peghuni perkebunan.

Kedua, data sangat penting dalam penelitian tak lain disebabkan oleh kedudukannya sebagai informasi faktual yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan. Dalam penelitian digunakan informasi faktual yaitu informasi yang benar, dan secara ontologis benar pernah terjadi.

Ketiga, penelitian dilakukan berdasarkan logika tertentu. Logika inilah yang sejak awal “dipandu”oleh pertanyaan penelitian. Pujo Semedi menekankan bahwa untuk menulis, bukan teori apa yang akan dipakai yang harus dibingungkan, melainkan pertanyaan penelitian yang harus tajam.

Batara Ibnu Reza dari Imparsial, Jakarta, mengulas aspek-aspek yang mendukung eksplorasi mengenai HAM dan sekaligus memberikan masukan pada masing-masing peserta yang sebagian telah mempresentasikan makalahnya setelah sesi pembicara pertama. Masukan Batara sangat penting, dan peserta mengikuti diskusi dengan antusias sebab tidak terbayangkan oleh mereka bahwa cakupan isu mengenai HAM saling terkait satu dengan lainnya, dengan peran negara menjadi sentral ketika ada persoalan ketimpangan pengaturan dan distribusi hak-hak ini.

Pada Sessi presentasi draft rancangan penelitian, semua peserta mendapat kritik tajam dari sesama peserta workshop. Pada Sessi inilah semua kesalahan umum yang terjadi pada para peneliti pemula dibahas satu persatu, dengan langsung merujuk pada draft rancangan masing-masing peneliti. Diksusi yang intensif baik antara peserta dengan tim fasilitator Interseksi maupun antar sesama peserta menyebabkan acara berlangsung sampai larut malam menjelang sahur puasa. Setelah Sessi presentasi pertama, seluruh peserta pelatihan diberi waktu untuk memperbaiki draft rancangan penelitiannya berdasarkan masukan dan kritik yang telah mereka terima, dan kemudian diwajibkan melakukan presentasi kembali pada keesokan harinya.

Setelah tahapan workshop ini, peserta pelatihan mempunyai waktu dua minggu mulai 10 September hingga 24 September 2009 untuk merapikan proposal penelitian yang akan digunakan sebagai acuan penelitian lapangan selama sebulan.