Mencari Asisten Peneliti, Menemukan Sugeng
March 04, 2009/ 11:49 | Filed in: CHRONICLES
Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara
Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari 2009. Aku duduk di situ karena itulah tempat yang tidak disukai banyak orang. Para penumpang biasanya memilih bangku depan atau tengah. Berbagai alasan mereka miliki untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang sering terlontar adalah masalah keamanan. Alasan mereka memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam angkutan umum memang banyak dilakukan di barisan belakang. Dalam perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak ngobrol. Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga hari pertama.
Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat membuat aku tenggelam di dalamnya, yang penuh ketidaknyamanan. Memasuki pintu tol Serang Timur, Banten, suasana bus yang kuinginkan baru kudapatkan: ketenangan dalam ketegangan. Hampir sejam perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok Utara. Paling tidak ada tiga kontak person yang kumiliki, sebagai alternatif asisten peneliti. Pertama, kontak person yang diberikan oleh M. Khoiron, Direktur Eksekutif Desantara. Kedua, kontak person dari Erasmus, aktivis AMAN, dan ketiga, kontak person dari Mas Ashar, teman kuliah istriku.
Hampir satu tahun tidak terlibat dalam aktivitas penelitian komunitas membuatku seperti melakukan penelitian yang pertama kali. Keraguan pada banyak hal menjadi kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di lapangan sangat penting kurasakan. Apalagi meneliti di tempat yang belum kukenal betul dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih kuat. Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu singkat dapat mengenal daerah dan masyarakat setempat tanpa partner di lapangan. Idealitas tentang asisten peneliti tergambar dalam bayanganku: kenal lokasi dan kenal masyarakat dengan bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku tentang asisten peneliti malah memunculkan ketakutan. Aku pun segera menghentikan bayangan tentang asisten peneliti, sekaligus mempersiapkan untuk turun dari bus. Tapi aku sempat berpikir (mengutip sebuah kalimat dalam novel Pram--mungkin), mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.
Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam perjalanan ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena konversi waktu sejam lebih awal. Aku berpikir baik-baik saja dalam kekecewaan ini sampai check-in hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu. [Baca selanjutnya......]
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara
Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5 Januari 2009. Aku duduk di situ karena itulah tempat yang tidak disukai banyak orang. Para penumpang biasanya memilih bangku depan atau tengah. Berbagai alasan mereka miliki untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang sering terlontar adalah masalah keamanan. Alasan mereka memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam angkutan umum memang banyak dilakukan di barisan belakang. Dalam perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak ngobrol. Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga hari pertama.
Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat membuat aku tenggelam di dalamnya, yang penuh ketidaknyamanan. Memasuki pintu tol Serang Timur, Banten, suasana bus yang kuinginkan baru kudapatkan: ketenangan dalam ketegangan. Hampir sejam perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok Utara. Paling tidak ada tiga kontak person yang kumiliki, sebagai alternatif asisten peneliti. Pertama, kontak person yang diberikan oleh M. Khoiron, Direktur Eksekutif Desantara. Kedua, kontak person dari Erasmus, aktivis AMAN, dan ketiga, kontak person dari Mas Ashar, teman kuliah istriku.
Hampir satu tahun tidak terlibat dalam aktivitas penelitian komunitas membuatku seperti melakukan penelitian yang pertama kali. Keraguan pada banyak hal menjadi kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di lapangan sangat penting kurasakan. Apalagi meneliti di tempat yang belum kukenal betul dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih kuat. Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu singkat dapat mengenal daerah dan masyarakat setempat tanpa partner di lapangan. Idealitas tentang asisten peneliti tergambar dalam bayanganku: kenal lokasi dan kenal masyarakat dengan bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku tentang asisten peneliti malah memunculkan ketakutan. Aku pun segera menghentikan bayangan tentang asisten peneliti, sekaligus mempersiapkan untuk turun dari bus. Tapi aku sempat berpikir (mengutip sebuah kalimat dalam novel Pram--mungkin), mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.
Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam perjalanan ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena konversi waktu sejam lebih awal. Aku berpikir baik-baik saja dalam kekecewaan ini sampai check-in hotel di Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu. [Baca selanjutnya......]