Sekelompok mahasiswa dari Yogyakarta yang
mendedikasikan dirinya untuk gerakan tani
di Batang
Hilma Safitri
Peserta Program Pelatihan Penelitian
HAM dan Diversitas Kultural Yayasan
Interseksi-HIVOS 2008
Bekerja sebagai Peneliti pada AKATIGA,
Bandung.
“Jangan Pake Gula ya… Kang..”
Perjalananku yang terakhir
merupakan perjalanan yang berbeda dengan
perjalananku sebelumnya. Lokasi studiku
adalah gerakan tani di Kabupaten Batang,
yaitu organisasi yang bergerak di wilayah
pesisir pantai utara, namun aku kali ini
melakukan perjalanan ke Yogyakarta, kota
Gudeg yang sebetulnya harus ditempuh selama
kurang lebih 4-5 jam dari kota kabupaten
Batang. Mengapa?? Karena aku sangat ingin
mengunjungi seluruh personil aktivis
PEWARTA, organ mahasiswa yang selalu setia
membantu FPPB sejak awal berdiri tahun
1999-2000, yang memang ber’markas’ di kota
Yogya.
-
Tulisan Hilma
Sebelumnya
Perjalanan ke Yogya adalah perjalanan
favoritku – sebetulnya – karena rute yang
aku tempuh dari Bandung hingga Yogya adalah
rute yang sangat familiar dan merupakan
rute yang sangat menarik, karena melewati
banyaknya kota yang dilewati. Dimulai dari
wilayah-wilayah yang termasuk dalam wilayah
Pasundan, lalu memasuki wilayah Jawa. Aku
selalu berhenti untuk beristirahat sejenak,
dan biasanya aku selalu membersihkan muka,
kaki dan tangan serta memesan kopi di
warung yang ada agar pada perjalanan
selanjutnya aku tidak merasakan kantuk.
Biasanya aku berhenti di kota Ciamis – Jawa
Barat dan Gombong – Jawa Tengah.
Perjalananku kali ini bertepatan dengan
bulan Puasa, karenanya aku memilih memulai
perjalanan setelah berbuka puasa di
Bandung. Seperti kebiasaanku, aku berhenti
di kota Ciamis setelah aku menyetir selama
2,5 jam. Sebelum aku ke kamar mandi, aku
memesan kopi terlebih dahulu, dan aku
selalu mengatakan “.. Kang, pesan Coffe-Mix
dan jangan lupa, jangan ditambah gula
lagi…”. Mmm… potongan kalimat terakhir itu
sangat penting untuk selalu dikatakan dan
jangan pernah lupa, karena kebiasaan orang
Jawa adalah sangat gemar dengan rasa manis,
dan walaupun kemasan Coffe-Mix sudah siap
untuk diseduh dengan air panas tanpa harus
menambah apapun lagi, mereka selalu
menambahkan dengan gula, hasilnya adalah
rasanya….. alamakkkk…. Manis betulll, dan
menurutku, rasa kopinya sudah menyerupai
rasa Kolak.. Manisssss…. hehe… Menariknya,
pemberhentian pertama ini masih berada di
wilayah Jawa Barat, yang sebetulnya masih
termasuk kawasan Pasundan, tetapi jangan
salah lo… kulturnya serta kebiasaannya
sangat kental dengan kebiasaan orang Jawa,
yah.. paling tidak kebiasaan mereka yang
sangat gemar dengan rasa manis…
Akhirnya sampai juga ke tujuanku, ‘markas’
PEWARTA di daerah Condong Catur di kota
Yogya, sekitar jam 4 pagi, perjalanan yang
melelahkan, karena diakhir perjalanan, aku
menyempatkan diri untuk makan sahur supaya
tetap bisa melaksanakan ibadah puasa pada
hari itu. Setibanya disana, aku langsung
ditawari kamar untuk beristirahat sejenak,
dan beruntung sekali aku, karena ‘markas’
mereka adalah berupa rumah yang selain
dipergunakan sebagai kantor, juga terdapat
bagian belakang rumah yang menyerupai kamar
kos-kosan. Maka, aku disana benar-benar
merasa seperti di rumah sendiri, karena
tawaran sejenak yang mereka tawarkan tidak
terasa adalah selama 5 jam juga… uuuhhh…
nyamannya…..
Begitu bangun, sekitar jam 10 pagi, aku
langsung mandi dan langsung menuju ke
ruangan tengah dimana mereka selalu
berkumpul. Sesuai harapanku, personil
PEWARTA yang masih lengkap berada di
‘markas’ tersebut langsung berkumpul dan
mulai perbincangan dengan hal-hal yang
santai. Kabarnya, mereka memang menunggu
kedatanganku dan menunda kepulangan mereka
ke kampungnya masing-masing untuk
bersama-sama keluarga merayakan Hari Raya
Idul Fitri. Mungkin ini keberuntungan
bagiku, karena sebelum aku berangkat ke
Yogya, aku selalu mengatakan kepada mereka
bahwa aku sangat ingin berkunjung ke
‘markas’ PEWARTA, hanya untuk sekedar
mampir dan main-main. Tetapi, aku merasa
bahwa mereka menangkap apa yang sebenarnya
aku ingin dapatkan dari mereka, mereka
langsung memulai dengan menceritakan
situasi terakhir gerak langkah mereka di
FPPB.
Setelah mereka menceritakan apa yang
terjadi, yang sebenarnya juga sudah sering
aku dengarkan ceritanya dari banyak pihak,
aku mulai mengarahkan pembicaraan kepada
hal-hal yang ingin aku dapatkan, yaitu
siapa sebenarnya mereka dan bagaimana
mereka bias menjadi partner utama FPPB dan
apa alasannya. Walaupun sebenarnya apa yang
mereka ceritakan diawal-awal perbincangan
akan sangat terkait dengan apa yang ingin
aku dapatkan. Sebelumnya, aku mencoba
menjelaskan kepada mereka maksud dan
kedatanganku yang sebenarnya, bahwa aku
pingin sekali mendapatkan cerita utuh
tentang PEWARTA, dengan maksud – paling
tidak – agar dapat menyelesaikan tugas
penelitianku, selain itu, aku juga ingin
merespon kritik mereka tentang draft
laporanku yang sama sekali tidak
menyinggung pihak-pihak yang sesungguhnya
sangat banyak yang berperan aktif dalam
gerak dan langkah FPPB. Penjelasanku ini
membuat mereka merespon dengan tanggapan
sebagai berikut: “… kami tau lah .. ga
perlu Hilma menjelaskan, karena kami tau
bahwa Hilma sedang berupaya memberikan
laporan studi yang berimbang dan pasti
tidak ingin laporan studinya kelak akan
menjadi hal yang kontraproduktif untuk
kemajuan gerakan FPPB…”. Wah aku senang
sekali mendengarnya, artinya diantara aku
dan mereka sudah terjalin satu asas
kepercayaan, dan hal ini merupakan hal
tersulit bagi seorang peneliti.
Ternyata oh Ternyata…
Diskusi berjalan sekitar 3-4 jam, dan
mereka pun tidak pernah keberatan aku tetap
mencatat dan merekam semua pembicaraan
mereka kedalam perekam digital yang aku
siapkan. Mereka mulai dengan cerita bahwa
PEWARTA sebenarnya lahir dari kelompok
gerakan mahasiswa di kampus, yang berasal
dari beberapa kampus dan menggabungkan diri
dengan wadah Solidaritas Mahasiswa untuk
Kedaulatan Rakyat (SMKR). Program utama
mereka adalah meningkatkan kapasitas
anggotanya agar memiliki kepekaan terhadap
kehidupan sosial rakyat khususnya di
pedesaan. Kegiatan turunannya adalah
mengirimkan seluruh anggotanya ke desa-desa
yang ada di Jawa Tengah yang salah satunya
adalah desa di Kabupaten Batang. Waktu itu
adalah tahun 1999. Pada saat penugasannya
ke kabupaten Batang, mereka belum melihat
ada gerakan petani yang radikal pada saat
itu, dalam arti tidak ada gerakan petani
yang terorganisir baik untuk melakukan
pendudukan tanah maupun untuk memperkuat
dirinya untuk perubahan kehidupannya.
Tetapi, mereka akui bahwa mereka menangkap
fenomena kasus sengketa tanah di kabupaten
Batang.
Penugasan para mahasiswa itu adalah
menghabiskan waktu bersama dengan rakyat di
pedesaan, meleburkan diri dan berkegiatan
keseharian bersama – mereka menyebutnya
dengan kegiatan Live in – , dengan asumsi
bahwa dengan cara begitulah mahasiswa akan
mengetahui dan terlatih kepekaaannya
terhadap gejala-gejala social yang ada di
tengah-tengah rakyat. Di tengah-tengah
kegiatan tersebut, tiba-tiba mereka
dikejutkan dengan suatu peristiwa dimana
terdapat sejumlah rakyat yang harus
mengungsi ke rumah salah seorang pengacara
di kab. Batang, yaitu ke rumah Sdr. Handoko
Wibowo. Lokasi Live in mereka tidak sama
dengan lokasi dimana penduduk yang sedang
mengungsi itu tinggal, jadi pada saat itu
mereka sama sekali tidak mengetahui apa
yang sedang terjadi. Ternyata… mereka sejak
awal konsen utama mereka bukan untuk
persoalan agraria…
Dengan konsep di kepala masing-masing
personil yang sedang Live In ini, dimana
mereka harus melatih kepekaan dirinya
terhadap seluruh gejala yang ada di
masyarakat, maka mereka tidak tinggal diam
melihat fenomena pengungsian yang terjadi,
mereka mencari tahu apa penyebabnya dan
mengapa bisa terjadi. Mulailah mereka
jungkir balik dalam waktu yang singkat
untuk mempelajari apa yng sedang terjadi,
sampai akhirnya mereka mengetahui dengan
pasti bahwa ini adalah salah satu dampak
dari kasus tanah antara rakyat dengan
perkebunan PT Pagilaran. Mereka juga
kemudian mengetahui bahwa selama kasus ini
berlangsung, sudah ada kelompok-kelompok
pro rakyat lainnya yang membantu petani
disini, yaitu LBH Semarang.
Mereka melakukan pencarian informasi untuk
semua yang sedang terjadi tentunya dengan
kebersamaan mereka dari hari ke hari baik
dengan para pengungi maupun dengan rakyat
tani yang masih tinggal di wilayah
Pagilaran. Mereka pun mengatakan bahwa
dengan keterbatasan mereka pada saat itu,
mereka hanya bisa menemani mereka saja,
menjaga semangat hidup mereka dan
memberikan semangat perjuangan untuk
strategi yang akan ditempuh selanjutnya.
Tetapi, dari proses itulah mereka
mendapatkan informasi yang utuh tentang
gerakan rakyat yang sedang dibangun,
khususnya di Pagilaran.
Dari peristiwa ini, anggota SMKR, khususnya
mereka yang sedang Live In di Batang
mendapatkan kesempatannya untuk terus
bersama-sama dengan petani-petani yang
sedang berhadapan dengan kasus tanah.
Mereka pun kemudian mengetahui bahwa di
sekitar kediaman pengacara dimana pengungsi
melakukan pengungsian, terdapat satu kasus
sengketa tanah yang lain yang sampai
sekarang dikenal dengan sengketa kasus PT
Tratak, dan di sebelah utara kab. Batang
juga terdapat kasus lainnya yang sekarang
disebut kasus sengketa PT Segayung. Proses
‘mempelajari’ terus berjalan, hingga
akhirnya pada tahun 2000, FPPB
dideklarasikan sebagai wadah perjuangan
petani di Kabupaten Batang.
Sadar dengan posisi kelompok mahasiswa yang
tidak dapat menjadi anggota FPPB, maka
mereka pun memikirkan dan merumuskan secara
bersama-sama formulasi yang tepat dengan
pengurus FPPB tentang peran kelompok
mahasiswa ini. FPPB mengakui pentingnya
peran kelompok mahasiswa didalam gerakan
FPPB, paling tidak mereka merasakan
jaringan yang luas untuk melakukan
penguatan gerakan FPPB. Setelah itu,
kelompok mahasiswa ini berpikir bahwa
memang SMKR pun tidak bisa dipungkiri
sebagai organ mahasiswa yang memiliki
konsentrasi terhadap kedaulatan rakyat,
lingkupnya luas yaitu untuk rakyat secara
keseluruhan, termasuk petani. Karenanya,
SMKR pun melakukan pengekerucutan interest
gerakan mereka, dan agar menjadikan
strategi penguatan terhadap petani menjadi
lebih focus, maka mereka membentuk organ
lain yang khusus untuk penguatan organisasi
tani atau paling tidak yang konsentrasinya
khusus untuk kelompok rakyat tani, yaitu
PEWARTA – Persaudaraan Warga Tani. Jadi..
ternyata… PEWARTA itu terbentuk – bisa
dikatakan – karena kebutuhan akan penguatan
FPPB khususnya dan untuk petani umumnya…
Kehadiran PEWARTA beserta visi dan misinya
disambut baik oleh FPPB, dan hal ini
menjadi situasi gayung bersambut, dimana
FPPB yang memang sangat membutuhkan
kehadiran kelompok seperti PEWARTA dan
PEWARTA sendiri sedang dalam proses
mengaktualisasikan dirinya sebagai kelompok
yang dapat memberikan dukungan bagi
kemajuan gerakan tani di Batang. Selain
juga bagi PEWARTA sendiri, sejak masih
bernama SMKR, memang mendedikasikan dirinya
untuk kepentingan rakyat. Ternyata.. untuk
kasus ini, sama sekali tidak ada upaya
saling mendominasi, yang ada adalah saling
memiliki satu sama lain…
Proses terus berjalan, dengan proses saling
belajar satu sama lain, baik FPPB dan
PEWARTA berupaya mendudukkan dirinya
didalam posisinya masing-masing. PEWARTA
kemudian menyatakan dirinya sebagai
Supporting System gerakan FPPB, dengan
pertimbangan utamanya adalah petani adalah
salah satu kelompok rakyat yang harus
berdaulat, dan mereka yang mampu
mengidentifikasi dirinya sebagai bukan
petani, sehingga memutuskan untuk menjadi
kelompok pendukung saja. Didalam
menjalankan keputusan dan komitmennya, maka
PEWARTA berupaya untuk mendiskusikan
bersama-sama dengan FPPB, apa saja yang
seharusnya dikerjakan oleh PEWARTA.
Sebagaimana halnya organisasi yang baru
saja berdiri, FPPB pun berupaya untuk dapat
menggali terus potensi dirinya dan berupaya
untuk merumuskan secara bersama apa yang
menjadi kebutuhan gerakan yang sedang
dibangun. Hingga kemudian terformulasi
kebutuhan akan peningkatan kapasitas
organisasi dengan strategi melakukan
berbagai macam pendidikan bagi pengurus
organisasi dan anggotanya. Tugas tanggung
jawab ini dibebankan kepada PEWARTA, untuk
merumuskan strategi pendidikan sekaligus
mencarikan sumber-sumber untuk pemenuhan
kebutuhan agar agenda pendidikan dapat
terlaksana. Kebutuhan-kebutuhan tersebut
adalah kebutuhan akan sumberdaya materi dan
substansi pendidikan, sumberdaya orang
(narasumber, fasilitator dan organisasi
pelaksananya) serta sumberdaya logistic.
Ternyata.. disinilah salah satu pilar utama
terjadinya sinergisitas gerakan antara FPPB
dan PEWARTA…
Sejauh ini, semasa lahirnya PEWARTA,
didalam konteks pembangunan organisasi FPPB
yang lebih kuat, panduan pelaksanaan
peningkatan kapasitas organisasi merupakan
kewajiban yang paling utama yang harus
dilakukan oleh PEWARTA. PEWARTA pun
merumuskannya dengan didasarkan pada
hal-hal yang paling dibutuhkan oleh FPPB,
dan pada saat awal dijalankannya mandat
ini, PEWARTA memandang pendidikan untuk
mengetahui secara pasti posisi kasus yang
dihadapi adalah prioritas utamanya,
dilanjutkan dengan pendidikan
keorganisasian, pendidikan kepemimpinan
serta pendidikan yang dilakukan belakangan
ini adalah pendidikan kader khusus yang
diproyeksikan untuk duduk didalam posisi
formal di pemerintahan. Prinsipnya adalah
membangun keswadayaan, tetapi walau
bagaimanapun terdapat masa transisi dimana
keswadayaan tidak dapat dijalankan
seutuhnya.
PEWARTA pun dengan lincah melakukan
upaya-upaya pencarian dukungan dari
pihak-pihak lain, dan upaya-upaya tersebut
membuahkan hasil. Maka sejak saat itu,
selain PEWARTA dapat menghidupi kehidupan
organisasinya juga berkat dukungan yang ada
dapat melaksanakan agenda pendidikan serta
dapat membantu operasional organisasi FPPB.
Dengan kenyataan ini, baik PEWARTA dan FPPB
sudah menunjukkan saling membutuhkan satu
sama lain, karena mereka kemudian dapat
saling menjaga hubungan dan relasi yang
hasilnya adalah kerja-kerja organisasi yang
lebih efektif. Ternyata… FPPB dan PEWARTA
sebenarnya sudah menjadi satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan…
Namun, kabar-kabar yang beredar belakangan
ini – paling tidak bagi PEWARTA –
mengindikasikan hal yang bertentangan
dengan cerita diatas. Dikabarkan bahwa
PEWARTA berlaku berlaku sebaliknya dan
fungsinya di FPPB tidak sestrategis yang
diceritakan, yaitu hanya sebagai ‘pembantu’
administratif organisasi saja. PEWARTA
menyikapi kabar tersebut dengan diam dan
tetap bijaksana, karena bagi mereka proses
meluruskan kabar yang sedang menyebar akan
memakan waktu dan akan lebih baik jika
waktu yang ada dipergunakan untuk
memikirkan startegi agar FPPB tidak
memiliki pemikiran yang sama. Sikap diam
mereka juga merupakan sikap yang
menunjukkan konsistensi mereka terhadap
visi perjuangan mereka sebagai organ
mahasiswa yang berada diluar tubuh FPPB,
sebagai organ yang hanya sebagai system
pendukung gerakan FPPB. Mereka menyadari,
jika memang perjuangannya selama ini salah,
saat inilah melakukan refleksi bersama dan
di masa yang akan datang tidak akan
melakukan kesalahan yang sama.
Didalam sikap yang tidak berontak atau
reaktif, mereka tercerahkan dengan opini
lain yang kebetulan datangnya dari para
pengurus FPPB sendiri. Secara tidak
disadari, mereka melakukan refleksi atas
apa yang mereka lakukan selama ini, dan
pada akhirnya mereka bersepakat untuk
mendudukkan kembali semua persoalan didalam
visi bersama mereka yaitu untuk kemajuan
organisasi FPPB di Kabupaten Batang dan
kemajuan seluruh petani di Indonesia.
Walaupun seluruh kondisi belum terpulihkan
seperti sebelumnya, PEWARTA sudah cukup
mensyukuri bahwa pengurus dan anggota FPPB
dapat mengerti situasi yang sedang terjadi
dan meminta untuk bersama-sama menata
langkah kedepannya baik untuk kemajuan FPPB
sendiri maupun untuk meluruskan
permasalahan yang ada. Ternyata.. sebagian
pengurus FPPB dapat melakukan pengamatan
secara menyeluruh terhadap apa yang sedang
mereka hadapi pada suatu waktu dan tidak
hanya bergantung dari sumber informasi yang
sangat kuat mempengaruhi kuatnya organisasi
FPPB…
Akhirnya, didalam melengkapi penelitianku
tentang apa yang dilakukan oleh FPPB
bersama-sama dengan organ-organ
pendukungnya selama ini, paling tidak aku
mendapatkan beberapa hal. Hal-hal yang aku
dapatkan tentunya sesuatu yang belum aku
dapatkan pada pengumpulan informasi yang
sudah dilakukan sebelumnya, atau paling
tidak aku sudah mendapatkannya dan belum
mendapatkan konfirmasi dari pihak yang
terkait dalam hal ini aktivis PEWARTA. Hal
lain adalah aku mendapatkan cerita tentang
FPPB dari pihak yang selama ini kurang
didengar namanya dalam kancah perjuangan
petani FPPB, dan menurutku, apa yang aku
dapatkan akan sangat membantu didalam
proses pengungkapan didalam konteks
penulisan perjuangan petani bahwa
perjuangan petani di Indonesia, dari 3
kasus yang sedang dan sudah dipelajari
sangat terkait erat dengan pihak-pihak
lain. Pihak-pihak tersebut akan senantiasa
merupakan pilihan kritis dari petani itu
sendiri dan bukan merupakan proses
intervensi dari pihak-pihak diluar petani
tersebut. Namun, didalam prosesnya, tidak
dipungkiri bahwa kecenderungan dominasi
akan selalu ada, tetapi hal ini haruslah
dipandang secara kritis bahwa mereka
bukanlah sedang dalam rangka membangun
dominasi atas kelompok lainnya, hal ini
merupakan proses cara pandang orang luar
terhadap gerakan yang sedang dibangun.
Begitulah, akhirnya perjalanan yang
melelahkan ini, ditengah-tengah semangat
membaraku untuk menjalankan ibadah puasa,
bagiku, mendapatkan hasil yang lumayan
buannnyyaaakkk… karena aku sudah dapat
menerobos dan membongkar sisi lain
perjuangan FPPB yang sebenarnya dan
sejujurnya dari pihak yang sangat konsisten
mendedikasikan dirinya untuk perjuangan
FPPB – aktivis PEWARTA.
Bandung, 8 Oktober 2008