<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" 
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
    xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
    xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">
	<channel>
<title>INTERSEKSI.ORG: COMMUNITY BLOG AND NEWS</title><link>http://interseksi.org/index.php</link><description>Hot News&#x21;</description><dc:language>en</dc:language><dc:creator></dc:creator><dc:rights>Copyright 2007 The Interseksi Foundation</dc:rights><dc:date>2008-11-17T22:36:06+07:00</dc:date><admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.realmacsoftware.com/" />
<admin:errorReportsTo rdf:resource="mailto:" /><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase>
<lastBuildDate>Wed, 19 Nov 2008 22:44:36 +0700</lastBuildDate><item><title>Dari Diskusi tentang Isu-isu Perbatasan</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-11-17T22:36:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/memahami_perbatasan.php#unique-entry-id-189</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/memahami_perbatasan.php#unique-entry-id-189</guid><content:encoded><![CDATA[Jangankan anak-anak, negara yang mempunyai wacana teritorial, selama ini menganggap bahwa perbatasan hanya sekat yang keadaannya terisolir, ditancapi patok-patok, dijaga oleh tentara-tentara karena wilayah tersebut biasanya menjadi sarang kejahatan-kejahatan seperti penyelundupan dan perampokan.


Melalui studi tetang perbatasan, seperti yang didiskusikan dalam Disklusi Bulanan Interseksi tanggal 27 Oktober 2008, Dave Lumenta mencoba memperkenalkan pendekatan baru, untuk konteks kajian sosial di Indonesia tentu saja, dalam memahami dinamika wilayah perbatasan sebagai kontinuum sosial dari pada sekedar sekat. 

...Pengakuan yang terlihat dari negara terhadap eksistensi kelompok masyarakat yang bermukim di daerah ini adalah representasi rumah panjang dalam lembaran uang kertas bernilai nominal lima ratus rupiah (yang sekarang kemungkinan besar justru sudah tidak berlaku lagi), dan pada salah satu anjungan di Taman Mini Indonesia Indah. 

...Tetapi kenyataan yang ditemukan Lumenta justru sebaliknya: orang-orang nomaden Dayak Kenyah ini mampu memanfaatkan dua identitas kewarganegaraan ketika mobilitas tercipta begitu mudah di perbatasan, dan bahkan negara tak dapat membendungnya karena hubungan persaudaraan antar suku yang lebih cair. 

...Pada masa Orde Lama, saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia pemerintah Sukarno juga pernah berusaha memindahkan penduduk Apokayan ke pinggiran dengan tujuan agar tidak mudah dipengaruhi neokolim, tetapi kenyataannya keputusan itupun gagal. 

...Lumenta memaparkannya sebagai berikut: orang-orang Dayak Iban di Kalimantan Barat mempunyai dua kewarganegaraan karena mengurusnya sangat mudah, tinggal menyebut anggota rumah panjang mana, maka orang tersebut sudah bisa membuat kartu penduduk. ...  Alasan mereka sangat pragmatis: untuk bekerja di perusahaan kayu mereka bisa mejadi warga negara Malaysia, tetapi karena tanah mereka di Indonesia, mereka juga tetap ingin kembali ke Indonesia. 

...Lumenta melihat bahwa hubungan industrial dalam pekerjaan di wilayah perbatasan ini lebih cenderung berbasis pada etnis:  Orang China menempati top manager, lalu dibawahnya Dayak Iban sebagai mechanic, Dayak Kenyah sebagai logmen, dan yang menempati posisi paling bawah adalah orang-orang Toraja. ]]></content:encoded></item><item><title>Kita&#x2c; Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-11-15T11:50:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/orasi_kebudayaan_ayu_ratih.php#unique-entry-id-188</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/orasi_kebudayaan_ayu_ratih.php#unique-entry-id-188</guid><content:encoded><![CDATA[Di tengah kepedihan para ibu yang buah rahimnya dipenjarakan, hilang tak tentu rimbanya, atau diterjang peluru tajam karena berpikir merdeka, kita saling genggam tangan, coba satukan suara dan pikiran, lalu melangkah maju.   Ketika Jakarta, Solo, dan Palembang disambar api kiriman tangan-tangan yang tampak tak bertuan, ribuan kaum miskin hangus dalam perangkap, dan ratusan perempuan Tionghoa diperkosa, sejenak kita terpana. 

...Sepuluh tahun berlalu sejak 'reformasi total' terpekik, sejak ribuan ibu relakan uang pembeli susu anak-anaknya untuk nasi bungkus, sejak derap kaum muda menggetarkan jalan-jalan utama kota dengan 'bergerak dan bersatu, membangun Indonesia baru.' ...  Kita kuasai ruang-ruang terbuka dan penuhi mereka dengan impian dan harapan kita tentang Indonesia baru. ...  Kita bergeming walau yang dipertuan para serdadu kirimkan gerombolan berjubah putih, dan sambil kebaskan kelewang, mereka teriakkan kebesaran Tuhan. 

...Kita sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita. ...  Apakah terang tanah itu sudah demikian menyilaukan sehingga tak segera kita tetakkan patok-patok acuan kebersamaan kita? ...  Bahwa sebagai gugus-gugus gagasan &ndash; apakah itu demokrasi, kemanusiaan, keadilan, atau kesetaraan -- mereka mampu secara alamiah memikat dan mengikat kesetiaan orang per orang, kelompok, pun golongan yang berbeda-beda dalam mewujudkan Indonesia baru yang kita cita-citakan.
]]></content:encoded></item><item><title>Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra Dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-11-15T11:36:38+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pengukuhan_guru_besar.php#unique-entry-id-187</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pengukuhan_guru_besar.php#unique-entry-id-187</guid><content:encoded><![CDATA[Revolusi yang terjadi dalam sebuah paradigma antropologi budaya atau ilmu sosial-budaya tidak hanya menghasilkan sebuah paradigma baru yang melengkapi paradigma lama, tetapi juga melahirkan satu atau beberapa sub paradigma baru dalam paradigma lama. ...  Padahal, revolusi keilmuan dalam ilmu sosial-budaya bukanlah pergantian paradigma karena paradigma yang lama tidak ditinggalkan setelah paradigma baru lahir yang mengungkap aspek-aspek tertentu dari kenyataan yang sebelumnya terabaikan.


Hal tersebut disampaikan oleh Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA, Mphil, dalam pidato pengukuhan jabatan Guru Besar Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Senin (10/11) di ruang balai senat UGM.


Dalam pidatonya yang berjudul "Paradigma dan Revolusi Ilmu dalam Antropologi Budaya", Heddy Ahimsa menegaskan, munculnya paradigma baru sebenarnya tidak mematikan paradigma lama, bahkan memungkinkan para ilmuwan sosial budaya memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai gejala yang mereka pelajari.


...Dalam ilmu sosial budaya, menurut pria kelahiran Yogyakarta, 28 Mei 1954 ini, garis perbedaan paradigma satu dengan yang lain tidak tegas karena selalu ada kesamaan-kesamaan pada satu atau beberapa unsurnya. 

...Implikasi dari beberapa pandangan yang bersifat majemuk ini menurut suami Nany Phir Yani, menjadikan perspektif paradigma yang diikuti para ilmuwan tidak akan lagi berpikir terkotak-kotak berdasarkan disiplin atau obyek studi.


"Ini memungkinkan pengembangan ilmu pengetahuan yang lebih efektif dan efisien, dan dialog keilmuan di kalangan ilmuwan sosial-budaya akan lebih mudah terjalin," tambah bapak tiga anak ini.


Dengan demikian, para ilmuwan dari disiplin yang berbeda dapat melakukan penelitian bersama lewat paradigma tertentu sehingga akan terjadi proses pengembangan dan pembangunan paradigma baru yang lebih cepat. ]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi: Memahami Perbatasan sebagai Kontinuum Sosial</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-10-26T22:30:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/perbatasan_sebagai_kontinuum_sosial.php#unique-entry-id-186</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/perbatasan_sebagai_kontinuum_sosial.php#unique-entry-id-186</guid><content:encoded><![CDATA[Salah satu kekuatan Negara yang jarang dibahas adalah kemampuan Negara  dengan perangkat narasinya untuk menciptakan partisi2 imajiner, baik  yang bersifat spasial ('wilayah NKRI') atau pun yang bersifat temporal  (misalnya periodisasi sejarah).  Perbatasan dalam wacana negara selalu  diasosiasikan sebagai sebuah sekat yang dilihat dengan ajeg, kaku dan  otoritatif - sebuah sekat yang membedakan identitas, ruang dan  sejarah. 

...Kasus dari penelitian Dave Lumenta di Kalimantan Timur yang mencoba memahami  sejarah hubungan masyarakat suku Dayak Kenyah dengan proses  

(nation-)state making sejak zaman kolonial hingga sekarang,  menunjukkan bahwa sebuah pendekatan dan metodologi baru diperlukan  bagi analisa-analisa sosial dalam memahami dinamika wilayah  perbatasan.   Sebuah pendekatan baru menuntut kita untuk melihat wilayah  perbatasan sebagai sebuah kontinuum ketimbang sebagai 'sekat'.


Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-23 akan membahas tema problemtik tentang isu-isu perbatasan (border issues).   Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini tidak lain adalah Dave Lumenta sendiri. 

...Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Penulisan Laporan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>PELATIHAN</category><dc:date>2008-10-23T18:37:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_laporan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-184</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/dari_workshop_laporan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-184</guid><content:encoded><![CDATA[Workshop ini dimulai dari presentasi Ana Westy tentang universalisme HAM dalam kebijakan publik di daerah pada pemenuhan hak kesehatan masyarakat kota Banjar. 

...Dalam kalimat lain, Romi berusaha menyajikan sebuah potret tentang perjuangan KWRS Amplas, yang berawal dari usaha mempertahankan hidup dan lantas berubah menjadi kesadaran membangun solidaritas lewat pembentukan jaringan dalam berhadapan dengan pemerintah daerah yang lalai dan cenderung diskriminatif terhadap warga rumah susun Amplas. 

...Dari sana ia mencoba melihat sosok MUI sebagai sebuah lembaga yang pengaruhnya bukan hanya mengatasi Ormas-Ormas Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah, tapi bahkan bisa langsung mempengaruhi (kebijakan) negara tentang kehidupan beragama warganya, padahal, secara kelembagaan MUI bukanlah lembaga negara.   Melalui penelusurannya atas Fatwa MUI tentang Ahmadiyah, Subhi mencoba bergerak memahami sosok MUI saat ini sebagai bagian dari dinamik politik pasca otoritarianisme Orde Baru, ketika hampir semua lembaga yang ada melakukan rekonfigurasi sosial politik untuk memanfaatkan (atau menyesuaikan diri) dengan momentum perubahan kuasa.


...Para peserta pelatihan diajak untuk tidak berhenti hanya pada fakta apa yang ditemui di lapangan dan menuliskannya ke dalam laporan, seperti pekerjaan jurnalistik umumnya, melainkan bergerak lebih jauh dengan melakukan pemeriksaan kritis terhadap apa yang tampak dipermukaan.   Dalam kasus isu kesehatan di Banjar, misalnya, peneliti dianggap baru bisa menyajikan profile atau kisah sukses sebuah program kebijakan sebuah pemerintahan daerah tapi belum mampu menempatkan hal tersebut dalam perspektif yang lebih luas.   Bahwa, misalnya, kebijakan puskemas gratis memang baik, tapi hak warga atas kesehatan tidak sepatutnya dijadikan medium politik, dan bahwa pemenuhan hak atas kesehatan pada dasarnya menjadi kewajiban negara (pusat) sehingga kebijakan tersebut bisa berlaku bagi seluruh warga negara, dan tidak dihambat oleh soal-soal geo-administratif  sebuah pemerintah daerah.


...Masalah umum yang dihadapi masing-masing penulis adalah kecenderungan untuk berpanjang-panjang dengan latar belakang sehingga temuan lapangannya malah cenderung hanya dibahas sepintas lalu; tidak nyambungnya fakta yang disajikan secara tertulis dengan argumentasi yang ingin dibangunnya; ketidakmampuan mengkaitkan problem yang ditemuinya di lapangan dengan konteks persoalan yang lebih besar; penggunaan bahasa yang cenderung berwayuh-makna (ambigu) dan emosional; dan kesulitan dalam mensistematisasikan gagasan yang ditulisnya sehingga laporannya lebih mirip kumpulan fragmentif dari setumpuk data yang tidak saling dukung satu dengan lainnya.
]]></content:encoded></item><item><title>Pemuda dan Perdamaian</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-10-20T20:06:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pemuda_dan_perdamaian.php#unique-entry-id-183</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pemuda_dan_perdamaian.php#unique-entry-id-183</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika nyawa begitu mudah dipaksa lepas dari tubuh yang masih menginginkan kehidupan dan bahkan kebanyakan tubuh-tubuh yang tergolek kaku tersebut, atau terkapar luka-luka di jalanan, rumah sakit, adalah orang-orang yang masih berusia muda membuat kita menahan nafas kecewa, alangkah sayangnya kematian yang muda dengan cara yang sama sekali tak memberi kebaikan pada kehidupan diri sendiri dan orang lain.  


...Dalam diskusi yang bertajuk Pemuda dan Perdamaian: Penguatan Kesadaran Tentang Kesetaraan, Toleransi dan Perdamaian yang diselenggarakan oleh Jaringan Masyarakat Cinta Damai bekerja sama dengan UNDP dan Kementrian Koordinator Bidang Kesra, Rabu, 10 September 2008, Tomagola membahas tentang Pengelolaan konflik dan Pemudaan Perdamaian.&rdquo;   Kata &ldquo;Pemudaan&rdquo; digunakan tidak saja menunjuk pada pemuda sebagai subjek yang berperan dalam perdamaian maupun pertarungan, akan tetapi perdamaian menurut Tomagola harus terus direvitalisasi, dimudakan, agar konflik tidak berakhir dengan penyerangan. 


...Jika Tomagola melihat konflik, kekerasan dan perdamaian dilihat dari sudut pandang sosiologis, Asep Karsidi, pembicara dari kementrian koordinator Bidang Kesra, membahas suatu situasi bahwa konflik yang mengakibatkan kekerasan pasti berakhir pada pemiskinan baru dalam suatu masyarakat. 

...Setelah tahun 1997 sampai dengan 2007 gejala yang ada mulai berubah dari vertikal menjadi horizontal, yaitu kekerasan yang terjadi antara sesama warga masyarakat, antar etnis, antar agama dan lain-lain.  


...Menggarisbawahi apa yang dikatakan Karsidi tentang konflik yang terjadi secara horizontal sejak tahun 1997 hingga 2007, menurut sudut pandang UNDP yang disampaikan oleh Melina Nathan, ahli dalam unit Prevention and Recovery Conflict, di Indonesia konflik etnis, agama sebenarnya hanya merupakan lapisan permukaan dari konflik yang lebih dalam lagi. 

...Ia melihat bahwa konflik tersebut bermula dari kesalahapahaman dan jika kemudian berubah menjadi kekerasan yang memakan banyak korban, menurutnya, karena dalam masa ketegangan tersebut muncul pihak-pihak lain yang menunggangi kesalahpahaman. 

...Sejak itu ia dan timnya menggagas suatu pemberitaan di media yang lebih humanis tentang akibat-akibat yang ditinggalkan setelah adanya kekerasan, misalnya meliput kehidupan sehari-hari janda yang kehilangan suaminya dalam peristiwa tersebut. ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Penulisan Laporan</title><dc:creator></dc:creator><category>PELATIHAN</category><dc:date>2008-10-12T22:05:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/workshop_penulisan_laporan.php#unique-entry-id-182</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/workshop_penulisan_laporan.php#unique-entry-id-182</guid><content:encoded><![CDATA[Program Pelatihan Penelitian mengenai isu-isu Hak Asasi Manusia dan Diversitas Kultural Yayasan Interseksi dan Hivos, yang diiikuti oleh enam orang peneliti dari dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Medan sudah harus berakhir bulan Oktober 2008 ini.   Sejauh ini seluruh tahapan kegiatan telah berlangsung baik, dan semua peserta pelatihan sudah menulisakan pengalamannya masing-masing selama melakukan praktek penelitian dalam Jurnal Personal yang terbit di situs ini sejak akhir Agustus 2008 lalu.   Banyak cerita menarik yang bisa dibaca dari catatan pengalaman para peneliti tersebut, yang justru sangat jelas memperlihatkan bagaimana dinamik proses sebuah penelitian sosial berlangsung.   Dari catatan-catatan itu pula kita bisa melihat bagaimana para peneliti berusaha keras mengatasi keterbatasan dan tantangan, ketika kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang semula dibayangkan ketika mempersiapkan penelitian. 


...Seperti aktivitas-aktivitas sejenis yang pernah dilakukan Interseksi selama ini, workshop penulisan sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengajari pesertanya menulis laporan, tapi justru untuk saling berbagi. ...  Aspek-aspek yang akan dibahas merentang panjang dari mulai substansi temuan lapangan, teknis penulisan, pilihan diksi sampai standar penulisan yang biasa dipakai dalam beberapa tradisi akademik. 

...<li>Kedua, secara bersama-sama berupaya meningkatkan ketajaman kemampuan analisa sosial atas substansi penelitian dan relasinya dengan isu-isu HAM di satu pihak dan problem diversitas kultural di pihak lain. 


<li>Ketiga, memeriksa relevansi sosial dari isu-isu yang dibahas dalam tulisan laporan dalam kaitannya dengan kebutuhan untuk memperkuat agenda-agenda advokasi HAM terutama dalam konteks diversitas kultural masyarakat Indonesia.</ul>
]]></content:encoded></item><item><title>PEWARTA (Persaudaraan Warga Tani)</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-10-08T21:16:11+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pewarta.php#unique-entry-id-179</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pewarta.php#unique-entry-id-179</guid><content:encoded><![CDATA[Lokasi studiku adalah gerakan tani di Kabupaten Batang, yaitu organisasi yang bergerak di wilayah pesisir pantai utara, namun aku kali ini melakukan perjalanan ke Yogyakarta, kota Gudeg yang sebetulnya harus ditempuh selama kurang lebih 4-5 jam dari kota kabupaten Batang. 

...Sebelumnya, aku mencoba menjelaskan kepada mereka maksud dan kedatanganku yang sebenarnya, bahwa aku pingin sekali mendapatkan cerita utuh tentang PEWARTA, dengan maksud &ndash; paling tidak &ndash; agar dapat menyelesaikan tugas penelitianku, selain itu, aku juga ingin merespon kritik mereka tentang draft laporanku yang sama sekali tidak menyinggung pihak-pihak yang sesungguhnya sangat banyak yang berperan aktif dalam gerak dan langkah FPPB. 

...Karenanya, SMKR pun melakukan pengekerucutan interest gerakan mereka, dan agar menjadikan strategi penguatan terhadap petani menjadi lebih focus, maka mereka membentuk organ lain yang khusus untuk penguatan organisasi tani atau paling tidak yang konsentrasinya khusus untuk kelompok rakyat tani, yaitu PEWARTA &ndash; Persaudaraan Warga Tani. 

...Kehadiran PEWARTA beserta visi dan misinya disambut baik oleh FPPB, dan hal ini menjadi situasi gayung bersambut, dimana FPPB yang memang sangat membutuhkan kehadiran kelompok seperti PEWARTA dan PEWARTA sendiri sedang dalam proses mengaktualisasikan dirinya sebagai kelompok yang dapat memberikan dukungan bagi kemajuan gerakan tani di Batang. 

...PEWARTA pun merumuskannya dengan didasarkan pada hal-hal yang paling dibutuhkan oleh FPPB, dan pada saat awal dijalankannya mandat ini, PEWARTA memandang pendidikan untuk mengetahui secara pasti posisi kasus yang dihadapi adalah prioritas utamanya, dilanjutkan dengan pendidikan keorganisasian, pendidikan kepemimpinan serta pendidikan yang dilakukan belakangan ini adalah pendidikan kader khusus yang diproyeksikan untuk duduk didalam posisi formal di pemerintahan. 

...Secara tidak disadari, mereka melakukan refleksi atas apa yang mereka lakukan selama ini, dan pada akhirnya mereka bersepakat untuk mendudukkan kembali semua persoalan didalam visi bersama mereka yaitu untuk kemajuan organisasi FPPB di Kabupaten Batang dan kemajuan seluruh petani di Indonesia. 

...Hal lain adalah aku mendapatkan cerita tentang FPPB dari pihak yang selama ini kurang didengar namanya dalam kancah perjuangan petani FPPB, dan menurutku, apa yang aku dapatkan akan sangat membantu didalam proses pengungkapan didalam konteks penulisan perjuangan petani bahwa perjuangan petani di Indonesia, dari 3 kasus yang sedang dan sudah dipelajari sangat terkait erat dengan pihak-pihak lain. 

...Begitulah, akhirnya perjalanan yang melelahkan ini, ditengah-tengah semangat membaraku untuk menjalankan ibadah puasa, bagiku, mendapatkan hasil yang lumayan buannnyyaaakkk&hellip; karena aku sudah dapat menerobos dan membongkar sisi lain perjuangan FPPB yang sebenarnya dan sejujurnya dari pihak yang sangat konsisten mendedikasikan dirinya untuk perjuangan FPPB &ndash; aktivis PEWARTA.]]></content:encoded></item><item><title>Pemilu dan Diskursus Politik Anti-Massa</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-10-08T09:58:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Pemilu_Politik_anti-Massa.php#unique-entry-id-178</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Pemilu_Politik_anti-Massa.php#unique-entry-id-178</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=right>&ldquo;In the past, durable democratic institutions emerged out of repeated, long-term struggle in which workers, peasants, and other ordinary people were much involved, even where the crucial maneuvers involved an elite&rsquo;s conspiring in small concessions to avoid large ones. 

...Di sejumlah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung, jumlah mereka yang memilih untuk tidak memilih &ndash;biasanya diseragamkan sebagai golput&mdash;ternyata sangat signifikan.   Kenyataan ini tentunya mengkhawatirkan partai-partai politik kontestan pemilu, sampai-sampai Megawati dan Jusuf Kalla harus melontarkan kritik yang gegabah terhadap mereka yang memilih untuk tidak memilih.   Sementara itu, kita juga melihat bagaimana partai-partai politik kini sangat giat merekrut artis atau figur publik dalam daftar calon legislatifnya.   Tidak kalah penting, konon saat ini semakin banyak aktivis LSM yang masuk ke partai politik, umumnya untuk masuk dalam daftar calon legislatif.


...Memiliki pemimpin di eksekutif atau legislatif yang terkenal di dunia akting atau tarik suara, tetapi tidak memiliki jejak dan kompetensi di bidang politik misalnya, tentulah bukan sesuatu yang patut dibanggakan.   Oleh karena itu perkembangan-perkembangan seperti ini sebenarnya menggugah kita untuk mempertanyakan kembali secara reflektif praktek politik yang selama ini berlangsung, termasuk dalam kaitannya dengan politik elektoral.   Cara terbaik untuk merefleksikannya adalah dengan membongkar kembali struktur kekuasaan yang terbentuk pada masa sebelumnya, dan kemudian memeriksa sejauh mana ia diwariskan pada masa sekarang.
]]></content:encoded></item><item><title>Belajar Dari Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-25T17:37:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Senjatanya_Orang_yang_kalah.php#unique-entry-id-175</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Senjatanya_Orang_yang_kalah.php#unique-entry-id-175</guid><content:encoded><![CDATA[Perubahan ini yang saya alami setelah diskusi saya dengan Dina dari Interseksi ketika ia datang ke Medan beberapa waktu lalu. 

...Setelah saya sadari, akar masalah sebenarnya adalah ketika informasi yang telah saya dapatkan tentang gerakan KWRS Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahannya selama ini hanya saya rekam di kepala dan membiarkannya mengendap begitu saja.

Dina memang berulangkali mengingatkan saya agar membuat transkrip, menurutnya kalau transkrip langsung dibuat kita akan segera tahu data apa lagi yang akan dibutuhkan dan selain itu juga akan sangat membantu dalam membuat analisis. 

...Dari pemahaman saya setelah membaca buku James, apa yang ia tuliskan tentang gerakan petani di Sedaka, memiliki pola yang hampir sama dengan apa yang dilakukan warga rusun Amplas.   Karakteristik orang Batak yang sering digambarkan sebagai orang yang keras, tidak mau kalah dan ahli berdebat (meski kadang tanpa disertai alasan) menjadi salah satu alat dalam melawan hegemoni yang dilancarkan PD. 

...Kata-kata itu saya cuplik dari pernyataan kepala lingkungan (kepling) lingkungan III, kelurahan Amplas yang menyatakan sikapnya ketika saya berkoordinasi senin lalu kepadanya lewat HP soal Badan Pusat Statistik (BPS) untuk survey tingkat kemiskinan. ...  Ketika saya katakan bahwa warga rusun sudah mengurus KTP, tetapi blankonya yang tidak ada, ia menjawab bahwa sekarang ini memang blanko tidak ada, tetapi dari dahulu jika diminta membuat KTP mereka tidak pernah mau, dan ketika ada masalah baru ramai-ramai mereka sibuk mengurus. 

...Scott dan Hegemoni-nya Antonio Gramsci (beberapa hari kemudian buku itu sudah saya terima) saya banyak belajar untuk kasus KWRS Amplas terutama belajar dari senjatanya orang-orang yang kalah.]]></content:encoded></item><item><title>Jati Mulya di Bulan Puasa</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-25T04:01:23+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Jati_Mulya_di_Bulan_Puasa.php#unique-entry-id-174</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Jati_Mulya_di_Bulan_Puasa.php#unique-entry-id-174</guid><content:encoded><![CDATA[Saya, sengaja datang tidak terlalu pagi, supaya saya tak mengganggu aktivitas lurah dan perangkat desa di Jati Mulya, di samping, saya juga tidak ingin terlalu lama menunggu buka karena kalau berangkat pagi, siang hari akan berdampak pada kondisi fisik, terutama melawan haus. 


...Satu orang tampak sedang merapikan berkas di agak belakang meja-meja yang lebih banyak kosong dan dua orang lainnya sedang mengisi blangko-blangko untuk entah, karena saya memang tidak melihat lebih dekat aktivitas dua staf itu.


...Tetapi, selama berbincang, saya juga meminta untuk mencatat struktur desa dan meminta nomor kontak Pak Jamun, yang menjadi Plt desa saat ini, menggantikan sementara pak HM Sulaeman, S.Sos yang sudah uzur, yang sayangnya tidak dikasih, dan diharap untuk bertemu langsung esok harinya saja. 


...Dan, saya melihat, sejak di depan al rumah sakit bersalin al-Multazam, orang-orang yang berkerumun di depan pertigaan yang tampak tak terlalu beda dengan hari di luar puasa, beberapa dari mereka terlihat merokok. 


...Waktu itu, hampir iqomah, seorang muadzin sudah maju ke depan, ketika dua orang itu masih bisik-bisik saya maju ke depan, setelah shalat selesai, dugaan saya tak meleset-meleset amat, ia yang bernama Harinto itu, 76 th itu, tiba-tiba mendekat, mengajak bercerita banyak hal, termasuk tanya tujuan ke situ.   Ada beberapa hal yang membuat saya memilih untuk tak mengumbar tujuan saya juga tiba-tiba tak berminat untuk mampir ke rumah bapak bercucu tiga belas dan sudah memiliki buyut tujuh itu.


...Ke raumha pak Syamsul, saya lebih banyak menggiring bicara soal lain karena saya merasa ada yang tak nyaman saya jug beranggapan tujuan saya belum selesai, maka, saya pun pamit, saya memang pengen ke tempat pak Syamsul terlalu saya melewatkan sosis bandeng kalau mampir ke Jati Mulya.

Eit, tetapi, tunggu, saya tadi sempat mengamati bagaimana orang-orang di dua pos tukang ojek dengan wajah-wajah yang memucat seperti menahan haus dan lapar, ada yang duduk-duduk dan ada yang tidur dan kayaknya, mungkin tidak banyak yang bisa dituliskan kepergian ke Bekasi ini tetapi belum usai saya dapat bersua dengan Mas Anton.
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Dwibulanan: HAM dan Demokrasi Lokal</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-09-21T18:18:01+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/ham_dan_demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-173</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/ham_dan_demokrasi_lokal.php#unique-entry-id-173</guid><content:encoded><![CDATA[Diskusi bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-22 akan membahas tema problemtik HAM dan Demokrasi Lokal di Indonesia.   Pembicara yang akan memantik diskusi kali ini adalah Samuel Gultom, MA, program officer HAM Yayasan Tifa, Jakarta. 

...<li>Hari/tgl: Senin, 22 September 2008


<li>Waktu: Jam 15.00 - selesai disambung buka puasa


<li>Tempat: Kantor Yayasan Interseksi


...&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com</ul>


Seperti biasa, karena keterbatasan tempat, diskusi ini hanya untuk jumlah peserta yang terbatas.   Silakan konfirmasikan kehadiran Anda melalui 021-7820 444 (Risna) atau email ke interseksi[at]gmail[dot]com
]]></content:encoded></item><item><title>Perjalananku ke Solo</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-18T18:16:41+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Perjalananku_ke_Solo.php#unique-entry-id-172</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Perjalananku_ke_Solo.php#unique-entry-id-172</guid><content:encoded><![CDATA[Solo adalah kota yang  aku kunjungi setelah kota Malang, tapi bedanya kali ini aku tidak lagi menggunakan kereta api untuk sampai ke Solo. 

...Aku juga tidak banyak berbicara kepada pak supir sepanjang dari kota  Malang menuju Solo  bukan karna angkuh tapi  karna aku lebih menikmati kesendirianku ketika itu.


...&ldquo;Sudah lama menungguku rin&rdquo; Tanya mbak pon. &ldquo;tidak mbak, baru sekitar lima belas menit.&rdquo; jawabku sambil membalas senyumnya. setelah itu mbak Pon langsung membawaku kerumahnya, tapi sebelum sampai kerumahnya Mbak Pon tiba-tiba berhenti untuk makan bakso di warung langganannya di pinggir jalan. &ldquo;kita berhenti sebentar rin, aku mau kamu cobain bakso yang paling enak di kota solo dan ini udah langgnanku dari dulu&rdquo; kata mbak pon. 

...Mbak Sipon banyak bercerita tentang keadaannya sekarang. &ldquo;sekarang dirumah lagi banyak jahitan seragam sekolah, aku udah berhari-hari lembur ngerjain pesenan itu. makanya aku cape banget sebetulnya sekarang, tapi karna kamu mau mau dateng jadinya aku bisa istirahat juga sekalian.&rdquo; kata mbak pon. 

...Mbak Sipon sebagai kepala keluarga, ibu nya mbak Sipon yang sudah berumur delapan puluh tahun tapi masih sanggup mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Wani putri pertama mbak Pon, Fajar putra bungsu Mbak Pon dan mbak Astin seorang pengacara yang selama ini sudah menjadi sahabat bagi mbak Pond an selalu mendampingi mbak Pon ketika mbak Pon menghadapi masalah apapun.

Keesokan paginya aku mulai menanyakan beberapa pertanyaan untuk penelitian yang sedang aku kerjakan, awalnya memang berjalan dengan lancar karna mbak Pon mau menjawab beberap pertanyaan yang aku ajukan tapi kemudian aku melihat beliau sangat tidak nyaman ketika menceritakan kembali apa yang dialaminya. 


Mbak Pon lebih sering termenung sambil mengepulkan asap rokok X Mild nya ketika mencoba menjawab pertanyaanku, sampai akhirnya beliau berkata &ldquo;Sebetulnya masih tidak mudah bagi saya untuk menceritakan peristiwa ini kembali meskipun peristiwa itu sudah berlangsung sepuluh tahun yang lalu, karna hal tersebut bagaikan membuka lagi luka lama saya.&rdquo;   Aku dapat mengerti dan menghargai sekali perasaan beliau, maka akhirnya aku berkata kepadanya &ldquo;Tidak apa jika mbak Pon tidak ingin melanjutkan ini kembali, saya tidak akan memaksakan mbak Pon untuk meneruskan ini.&rdquo; ]]></content:encoded></item><item><title>Narasi Kota Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS)</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-17T18:21:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Narasi_Kota_Kecil_Bahagia_dan_Sejahtera.php#unique-entry-id-171</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Narasi_Kota_Kecil_Bahagia_dan_Sejahtera.php#unique-entry-id-171</guid><content:encoded><![CDATA[Namun, rupanya Kota Banjar dahulu adalah temasuk salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis pada kurun waktu Tahun 1937-1940, lalu berubah menjadi kewedanaan pada Tahun 1941-1992. 

...Udara sejuk di kamar hotel mengundang saya untuk tidur siang, namun mengingat ada tugas yang harus saya lakukan saya bergegas keluar dari hotel dan menyewa sepeda motor untuk melakukan observasi. 

...Bila penyakit mereka tak kunjung sembuh atau bertambah parah, mereka berobat ke puskesmas yang ada di wilayah kecamatan yang juga gratis bagi seluruh penduduk atau rumah sakit daerah dengan kelas 3 yang gratis bagi penduduk miskin.


...Kebijakan yang pro rakyat yang digulirkan oleh Herman Sutrisno seperti Pendidikan dan Kesehatan Gratis serta yang paling fantastis adalah ADD (Alokasi Dana Desa) sebesar 1 Milyar untuk 24 desa/kelurahan setiap tahunnya adalah terobosan yang dilakukan beliau selama menjadi walikota. 

...Nah, ketika pemerintah daerah sudah pro rakyat, kebanyakan orang berpendapat peran masyarakat sipil dalam setiap aspek pembangunan sudah tak diperlukan lagi. 

...Saya menemui ada banyak forum warga atau forum masyarakat seperti Forum Masyarakat Peduli Kesehatan (FMPK) untuk isu kesehatan, Forum Peduli Banjar Sehat (FPBS) untuk isu kebersihan dan tata ruang kota, LSM Gempur, Forum Sarjana Pendamping untuk pengalokasian ADD, serta Forum Desa Siaga dan Kader Desa Siaga untuk isu pemberdayaan perempuan dan anak. 


...Sekelumit pengalaman penelitian saya di Kota Banjar ini benar-benar menggugah saya untuk bersemangat dalam melakukan advokasi sehingga suatu hari kondisi Kabupaten Bandung bisa seperti Kota Banjar. 

...Ketika warga terlibat dalam perencanaan... ketika banyak forum warga dan kelompok masyarakat yang mengawasi pembangunan, ketika rakyat mendapat jaminan kesehatan dan pendidikan, dan ketika pengentasan kemiskinan dimulai dari desa.   ]]></content:encoded></item><item><title>Bingung Aku&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-15T19:36:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Bingung_Aku.php#unique-entry-id-169</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Bingung_Aku.php#unique-entry-id-169</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika Dina bertanya padaku tentang hasil wawancaraku, aku bisa memberikan informasi yang banyak (menurut Dina) sehingga aku tidak perlu lagi sebenarnya mencari data kelapangan karena hampir semua data yang dibutuhkan sudah ada di tanganku. 

Gerakan Kelompok Warga Rumah Susun (KWRS) Amplas dalam mempertahankan hak-hak perumahan, yang menjadi subjek penelitianku, memang  tidak asing bagiku.   Baik hubungan dengan warga di rusun secara kelembagaan (YPRP &ndash; KWRS), secara pribadi (beberapa kali mereka curhat tentang masalah rumah tangganya) ataupun perkembangan kasusnya aku sudah mulai hapal. 

...Padahal saat workshop Agustus lalu kami sudah diwanti-wanti agar jangan menulis dengan &ldquo;marah&rdquo; dan saat itu aku yakin bahwa aku bisa melakukannya, tapi dugaanku salah, nyatanya aku masih belum bisa melakukannya seobjektif mungkin.

...Kelompok pertama adalah warga yang berjuang mempertahankan rumah susun yang tergabung dalam KWRS Amplas dan kelompok kedua yaitu kelompok warga yang pro pada kebijakan yang dibuat oleh PD. 

...Pembangunan sehingga sadar akan hak-haknya dan ikut sama-sama berjuang sehingga konflik yang selama ini terbangun bisa terkikis habis. 

...Disini aku mulai bingung apakah informasi tentang strategi tersebut perlu aku sher ke kawan-kawan KWRS, yang tentu saja jika itu kusampaikan dapat membantu mempermudah gerakan mereka dalam menyusun strategi tandingan ini jika melihat kebutuhanku sebagai pendamping, tapi kalau itu kulakukan menurutku (sebagai peneliti) tidak etis. 

...Semua itu tidak lain karena hanya kurekam dalam kepalaku, kubiarkan menumpuk dan kalaupun sudah kutuliskan lalu kusembunyikan dan kunikmati sendiri. ]]></content:encoded></item><item><title>Observasi dan Wawancara</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-16T18:21:37+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Observasi_dan_Wawancara.php#unique-entry-id-164</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Observasi_dan_Wawancara.php#unique-entry-id-164</guid><content:encoded><![CDATA[Rumusan pertanyaan riset yang sudah di susun sudah lebih fokus setelah saya memperoleh beberapa data awal hasil riset pustaka dan juga hasil dari monitoring kasus di Ciputat beberapa hari sebelumnya. ...  Karena itu berbagai informasi yang ia berikan sudah memenuhi target yang ingin saya gali, meskipun beberapa pertanyaan harus diperkuat dengan data tertulis. 

...Secara kebetulan, wawancara ini saya lakukan ketika yang bersangkutan baru saja kembali dari keliling beberapa daerah di Sulawesi dalam rangka sosialisasi SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah.   Karena itu sebelum pertanyaan saya ajukan, saya minta dia bercerita mengenai hasil perjalanannya ke Selawesi tersebut, apa yang di lakukan dan bagaimana hasil kegiatan keliling tersebut.   Satu hal yang menarik, tidak semua masyarakat di grass root melihat SKB sebagai acuan hukum yang mengikat, sebagian malah menganggapnya sebagai himbauan Pemerintah Pusat yang tidak wajib diikuti Pemerintah Daerah. 

...Beberapa pertanyaan yang saya ajukan antara lain: Apa yang JAI alami pasca keluarnya fatwa MUI tahun 2005? 

...Contoh kongkrit, selama satu minggu terakhir (sejak tanggal 25 Agustus-4 September) belum ada aktifitas penelitian lain yang dilakukan karena harus berbagi dengan beberapa kegiatan lain.   Meskipun pada dasarnya, beberapa aktifitas diluar penelitian secara tidak langsung terkait dengan substansi penelitian, namun kendala ini saya coba atasi dengan pengayaan literatur dan data kepustakaan. ]]></content:encoded></item><item><title>Dokumen yang Menyelamatkanku dari Bahasa Jawa</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-12T18:03:51+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dokumen_yang_Menyelamatkanku_dari_Bahasa_Jawa.php#unique-entry-id-163</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dokumen_yang_Menyelamatkanku_dari_Bahasa_Jawa.php#unique-entry-id-163</guid><content:encoded><![CDATA[FPPB termasuk organisasi yang baik didalam memperlakukan berkas-berkas surat menyurat, mereka melakukan filing yang baik, sehingga bagi siapapun yang akan mengaksesnya dengan mudah kemudian mengerti apa yang sedang terjadi di FPPB.   Saya termasuk salah satu yang betul-betul mendapatkan manfaat dari upaya baik mereka, karena saya kemudian mengandalkan dokumen-dokumen tersebut sebagai awalan diskusi dengan seluruh personil FPPB.


...Di tengah-tengah sedang berpikir keras untuk mengingat kata demi kata dalam Bahasa Jawa, ketika saya memasuki ruangan computer &ndash; begitu mereka menyebut salah satu ruangan di rumah tua yang dijadikan sekretariat FPPB &ndash; saya sangat gembira karena saya melihat barisan map yang bertuliskan nama kasus yang ada di FPPB atau nama OTL anggota FPPB. 

...Selain itu, saya juga berhasil merekonstruksi berbagai perubahan dari waktu ke waktu, sehingga saya dapat memahami dengan baik bagaimana FPPB dikatakan telah &lsquo;berhasil&rsquo; membangun strategi perjuangan sehingga dapat mendudukan kadernya menjadi kepala desa, hal ini pula yang kemudian FPPB sangat identik dengan semboyan &ldquo;Dari Gerakan Sosial Menuju Gerakan Politik&rdquo;.


Kembali ke soal bagaimana proses dokumentasi yang baik, setidaknya telah membantu saya di awal proses penelitian lapangan ini &ndash; khususnya dalam persoalan bahasa - tetapi dalam konteks penelitian yang lebih luas, dokumen yang sifatnya official seperti dokumen yang ada di FPPB dapat dijadikan data yang valid. ...  Salah satunya adalah tidak tergambar sama sekali didalam dokumen yang saya pelajari, bahwa banyak pihak-pihak diluar organisasi tani yang membantu atau menjadi motor gerakan FPPB.   Hal ini hanya bias didapatkan dengan cara melihat langsung kerja keseharian mereka, atau melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui siapa-siapa saja pihak yang terlibat di masa lalu dan tidak terlibat lagi di masa sekarang, dan mengapa.   Tentunya banyak hal yang tidak terinci didalam dokumen, dan harus ditanyakan langsung, misalnya tentang strategi yang sedang berjalan, kenapa strategi bias berubah-ubah setiap saat, dan saat kapan strategi bias berubah dan untuk tujuan apa, dan terakhir yang selalu ingin saya tanyakan, apakah perubahan strategi yang dilakukan setiap saat akan mempengaruhi target besar perjuangan?]]></content:encoded></item><item><title>Ini Medan&#x2c; Bung&#x21;</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-09T02:41:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Ini_Medan_Bung.php#unique-entry-id-155</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Ini_Medan_Bung.php#unique-entry-id-155</guid><content:encoded><![CDATA[Aku pikir dari pada aku tidur di hotel sendirian, sepi, tidak tahu tempat, lebih baik aku menginap di Romi dengan harapan aku bisa tahu bagaimana bahasa Batak sehari-hari. 

...Rumah petak di rusun itu hanya berukuran 2-x4 yang terbagi dalam ruang depan tempat kami&mdash;para tamu&mdash;duduk, dua kamar tidur yang tampakny tak berjendela dan tak berfentilasi, secuil dapur dan mungkin dibelakang ada secuil lagi wc. 

...Mereka menceritakan tentang aksi yang terakhir yang dilakukan KWRS Amplas, kisah menginap di DPR, bagaimana diejek oleh warga rusun lain yang tidak sepaham dengan mereka dll. ...  Bu Napit juga bercerita tentang kasus pemadaman listrik dan bagaimana mereka memikirkan nasib anak-anak yang terganggu belajarnya, sehingga memutuskan untuk mulai melakukan aksi. 

...Ketika aku dan pemuda itu asyik mengobrol, Romi sedang  bicara dengan Namboru, tetangga bu Napit, sehingga tak ada pilihan lain bagi Bu Napit selain mendengar aku dan pemuda itu bicara. ...  Aku kembali bertanya pada Bu Napit seputar pengalamannnya sebagai pemimpin aksi, dan beliau menjawab dengan antusias, berkali-kali memuji pemuda yang duduk di hadapannya, kalau tidak karena mahasiswa ini, teman-teman YRPP, kami tak bisa jalan, kata beliau.

...Tetapi kami tidak memutuskan makan di terminal Amplas, sehingga kami menahan diri lagi makan siang sampai di kantor YRPP jam 16.00. 

...Ketika pesawat akhirnya take off, aku hanya berharap selamat sampai di Jakarta, sampai di kos dan besok bertemu teman-teman lagi. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Interim Meeting Peneliti HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-09-07T04:08:27+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Interim_Meeting.php#unique-entry-id-150</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Interim_Meeting.php#unique-entry-id-150</guid><content:encoded><![CDATA[Untuk mendiskusikan temuan awal dan hambatan-hambatan yang ditemui pada proses praktek penelitian lapangan, Interseksi mengundang semua peserta pelatihan yang melakukan praktek di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah untuk mengikuti sebuah interim meeting di kantor Interseksi di Lenteng Agung, tanggal 24 Agustus 2008.  


Dari pembicaraan di forum pertemuan ini, tampaklah bahwa para peneliti menemukan banyak hal baru di lapangan, baik yang berkaitan dengan topik yang diangkat menjadi tema penelitian, sampai pada hubungan antara para peneliti dengan subyek yang diteliti serta beberapa hal yang muncul di luar dugaan atau,&rsquo;tidak terencana sebagaimana dalam riset desain&rsquo;. 

...Hilma melakukan riset mengenai dinamika lokal gerakan tani khususnya di Kabupaten Batang, Jawa Tengah,  sebagai salah satu gambaran mikro bagaimana sebenarnya agenda-agenda pembangunan negara neoliberalisme sedang berjalan di Indonesia. 

...Dengan melakukan refleksi terhadap pembacan literatur dan obsevrasi lapangan, riset Hilma ini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai gerakan petani Batang sebagai suatu gerakan dengan karakter khas di Indonesia (asia) oleh sebab itu, masih harus dicari referensi mengenai gerakan serupa dalam konteks Asia.


...Selain itu, Subhi juga menemukan hal yang penting, melalui kajian literarur laporan terhadap proses penanganan penyerangan terhadap Ahmadiyah Indonesia, bahwa selain SKB didasari oleh fatwa MUI yang dijadikan dasar penyerangan,  tidak ada referensi lain yang menunjukkan pendapat suatu organisasi lain. 

...Dari percakapan dengan beberapa narasumber kunci Westy menemukan bahwa service minimallah yang akan didapatkan oleh masyarakat melalui pelayanan kesehatan gratis, sementara kebutuhan riil yang ada di masyarakat tidak hanya apa yang tersedia dalam pelayanan kesehatan itu. 

...Poin menarik lain yang ditemukand ri kajian literatur dan dokuemn yang dilakukan esty untuk isu riset ini adalah adanya berita di Kompas bahwa &lsquo;demokrasi mati di banjar&rsquo;, dilihat dari ketiadaan &lsquo;rival&rsquo; walikota Banjar sekarang (Herman) dalam pencalonan bupati sekarang. ...  Temuan westy di lapangan mengenai bagaimana Walikota Banjar mendorong transparansi anggaran pembangunan daerah, dan dialah otak dari kebijakan akses pelayanan kesehatan untuk masyarakat; diharapkan sekaligus dapat memberikan pandangan alternatif bahwa demokrasi prosedural tidak selamanya berjalan beriringan dengan tujuan kesejahteraan yang lebih diperlukan oleh masyarakat.
]]></content:encoded></item><item><title>Universalisme Pelayanan Kesehatan di Kota Banjar</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-08T17:48:33+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Universalisme_Pelayanan_Kesehatan_di_Kota_Banjar.php#unique-entry-id-148</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Universalisme_Pelayanan_Kesehatan_di_Kota_Banjar.php#unique-entry-id-148</guid><content:encoded><![CDATA[Hak ini telah dijamin dan menjadi kesepakatan global yang dituangkan dalam berbagai dokumen atau perjanjian internasional, mulai dari Deklarasi Umum Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1948 sampai yang terakhir, misalnya, Penjelasan Umum (General Comments) No.14/2000 dari Kovenan Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang khusus mengatur kewajiban negara dalam penegakan hak-hak atas perawatan dan pelayanan kesehatan warganya. 

...Selama puluhan tahun di Indonesia, retorika &rdquo;kewajiban bersama semua pihak &rdquo; itu sering dijadikan alasan oleh para pejabat pemerintah yang korup untuk mengelak dari mandat politik dan kewajiban hukum internasional mereka.


Hanya saja, jika kita berbicara tentang HAM, maka persepsi orang saat ini adalah hak-hak mendasar dari manusia seperti hak untuk hidup, memenuhi kebutuhan dasar (makanan, pakaian, dan perumahan) mengutarakan pendapat, dan sampai kepada hak untuk bebas dari rasa takut. 

...Kemudian timbul pertanyaan tentang penghilangan nyawa, kecacatan, dan penyitaan harta benda seseorang bukan karena faktor &rdquo;kekerasan&rdquo; intervensi fisik seperti diatas, tetapi kehilangan akibat keterpaksaan orang karena sistem atau kebijakan dalam bidang kesehatan yang tidak memihak mereka. 

...Ketika 48 tahun lalu, 10 Desember tahun 1948, PBB mengadopsikan "Universal Declaration of Human Rights" sebagai dokumen PBB disana ada keyakinan yang besar bahwa hak asasi manusia itu adalah sesuatu yang universal sifatnya, tidak tergantung pada dan tidak terikat oleh ras, jenis kelamin, agama, dan lain-lain. 

...Prinsip moral hak asasi yang berubah itu menuntut bahwa seorang tidak bisa memperlakukan setiap orang sama, bukan dengan alasan bahwa setiap orang itu tidak sama dalam kemanusiaannya, tetapi hubungan sosial membuatnya berbeda dan harus diperlakukan beda. 

...Tak mau dipusingkan dengan polemik siapa yang kaya dan siapa yang miskin atau siapa yang rentan dan siapa yang hampir miskin, Pemerintah Kota Banjar menerapkan kebijakan puskesmas bebas biaya ini bagi seluruh penduduk.


Selain itu pemahaman bahwa kesehatan merupakan hak warga negara tampak melalui aturan yang menyatakan bahwa setiap penduduk yang memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) Kota Banjar dapat memperoleh pelayanan puskesmas bebas biaya. ]]></content:encoded></item><item><title>Minoritas dan Diversitas: Cerita dari Kaliurang</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-09-03T23:04:39+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Minoritas_dan_Diversitas.php#unique-entry-id-147</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Minoritas_dan_Diversitas.php#unique-entry-id-147</guid><content:encoded><![CDATA[Diveritas menarik wacana tentang kebangsaan modern pada sebuah dilema tanpa putus: tarik-tolak antara dorongan meleburkan diri ke dalam bangsa dan kenyataan bahwa peleburan semacam itu dalam prakteknya lebih sering merupakan praktek perampasan oleh negara seperti yang terjadi dalam kasus hak-hak masyarakat adat.    


...Salah seorang peserta lain, sejak Sessi perkenalan bahkan sudah merasa sebagai orang asing dalam pertemuan tersebut karena ia merasa tidak mengenal sebagian besar peserta lain.  </h4>


...Tahun 1945, Sukarno dan puluhan tokoh lainnya sepakat membenum Pancasila menjadi sebuah platform layer di atas apa segenap perbedaan akan diselenggarakan dengan patokan yang teguh: bhinneka tunggal ika, mengatasi perbedaan adalah tekad untuk berpadu dalam satu kebangsaan yang sama, Indonesia. 


...Dimulai dengan presentasi singkat masing-masing peserta tentang pemahaman atas isu yang diperjuangkannya dan pengalaman spesifik selama perjuangkan tersebut dilakukan masing-masing pihak, forum secara sistematik diarahkan untuk mencari peluang-peluang bagi berlangsungnya sinergi antar aktor-aktor yang hadir.   Salah satu hal penting yang kemudian disadari oleh para peserta pertemuan adalah kenyataan bahwa meskipun bekerja pada lahan isu yang relatif konvergen, aktor-aktor ini cenderung saling merasa asing satu dengan lainnya.   Yando Zakaria, misalnya, memberi contoh tentang bagaimana Interseksi melakukan beberapa penelitian tentang komunitas-komunitas lokal di Indonesia tapi tidak pernah satu kali pun merujuk pada publikasi-publikasi AMAN. ...  Salah seorang peserta lain, sejak Sessi perkenalan bahkan sudah merasa sebagai orang asing dalam pertemuan tersebut karena ia merasa tidak mengenal sebagian besar peserta lain. 


...Maka di luar beberapa kesepakatan tentang agenda bersama dan kerangka logis pengelolaan kebhinekaan yang berhasil dirumuskan dalam pertemuan dua hari tersebut, manfaat terbesar forum ini, paling tidak menurut saya, adalah mendorong sebagian peserta, kalau bukan seluruhnya, untuk saling faham tentang kapasitas dan keterbatasan masing-masing. ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Pertanyaan ke Observasi Awal</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-09-03T22:42:40+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Pertanyaan_ke_Observasi_Awal.php#unique-entry-id-146</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Pertanyaan_ke_Observasi_Awal.php#unique-entry-id-146</guid><content:encoded><![CDATA[Ketiga kelompok pertanyaan tersebut menggambarkan setiap perspektif dari informasi yang ingin digali dalam riset ini yakni kelompok pertanyaan untuk pemerintah/negara, kelompok pertanyaan untuk pengamat dan praktisi HAM serta yang terakhir kelompok pertanyaan untuk korban.


Pengelompokan seperti ini sengaja saya gunakan dengan harapan akan memenuhi tujuan dari riset ini yakni mengetahui bagaimana persepsi pemerintah/negara terhadap MUI sebagai organisasi keagamaan yang memiliki peranan sangat besar dalam lahirnya keputusan pemerintah (SKB) terhadap Ahmadiyah. 

...Karena itu, sejak tanggal 13-19 Agustus 2009 saya mulai melakukan penelusuran berbagai sumber kepustakaan serta literatur-literatur terkiat fatwa MUI, berbagai kebijakan pemerintah terkait Ahmadiyah dan berbagai kasus kekerasan terhadap Ahmadiyah khususnya antara tahun 2005-2008. 


...Dalam penelusuran ini saya memperoleh data yang cukup banyak terutama riset-riset dan analisa dari berbagai kalangan mengenai fatwa MUI tentang Ahmadiyah. ...  Meskipun buku ini lebih tepat dikatakan sebagai kumpulan analisa, namun sebagai data awal saya menangkap nuansa perdebatan yang sangat kental dan polemik di masyarakat yang sangat luas menyambut keluarnya 11 fatwa MUI tahun 2005, termasuk salah satu yang paling krusial, fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah.


...Riset yang dilakukan di Bogor dan Kuningan ini sangat membantu saya dalam membangun fondasi riset ini, terutama dalam melihat sentralitas peran MUI dalam berbagai kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap Ahmadiyah. 

...Meskipun disini tidak ada satu perpustakaan yang dikelola secara rapi dan sistematis, namun disini terdapat berbagai data dan dokumentasi yang saya butuhkan terutama data-data kekerasan yang dialami warga JAI dan bukti-bukti penggunaan fatwa MUI sebagai legitimasi pelaku kekerasan.

...Proses membuat janji dengan para narasumber ini menjadi satu persoalan tersediri karena banyak agenda yang akhirnya harus tertunda karena beberapa narasumber tidak bisa diwawancara pada hari yang sudah direncanakan. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan tentang Perjalanan Wawancara ke Malang</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-08-31T08:33:05+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_tentang_Perjalanan_Wawancara_ke_Malang.php#unique-entry-id-145</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_tentang_Perjalanan_Wawancara_ke_Malang.php#unique-entry-id-145</guid><content:encoded><![CDATA[Sesekali aku bertanya tentang alamat yang akan aku tuju, yaitu jalan Lahor tempat bapak dan ibu Utomo tinggal, dan beliau menjawab &ldquo;wah, itu bisa pake becak kok mbak kalau mau ke sana, paling mahal cuma lima ribu aja. 

...Tengah malam ketika aku mulai mengantuk, aku di kagetkan dengan suara para pedagang yang masuk ke dalam kereta api untuk menjajakan dagangannya, padahal kereta api yang kunaiki seharusnya tidak boleh ada pedagang yang masuk untuk berjualan ke dalam. 

...Aku hanya diberikan alamat rumah oleh pak Utomo, tapi beliau tidak mengatakan akan menjemputku sesampainya aku di stasiun Malang. ...  Bapak tersebut langsung membawakan tas yang aku pegang ke becaknya di depan stasiun, tapi sebelum sampai di becaknya ternyata pak Utomo sudah menungguku di depan stasiun. 

...Lagipula tidak apalah karena kita juga kan tidak ada pekerjaan apa-apa dan mereka sudah saya anggap sebagai cucu sendiri, sebentar lagi mereka juga datang mbak.&rdquo; jawab ibu Utomo.


...Bapak dan ibu beserta ketiga anak tersebut langsung tertawa mendengar komentar ku, &ldquo;ini sebetulnya memang cucu kami kok mbak, kamu ditipu sama bapak dan ibu,&rdquo;  jawab ibu Utomo. 

...Selama proses wawancara, bapak dan ibu terlihat sedikit lebih tegang dibandingkan dengan ketika mengobrol secara informal di dapur atau sambil menonton televisi atau ketika aku ikut minum kopi bersama bapak di dapur sambil merokok. 


...Keesokan harinya, sebelum aku berangkat ke Solo untuk bertemu dengan keluarga Wiji Thukul, salah satu aktivis yang dihilangkan juga secara paksa di tahun 1997 menjelang 1998, Ibu Utomo memperlihatkan surat-surat dari Bimo yang dikirimkan sebelum Bimo Hilang. ]]></content:encoded></item><item><title>Belajar Spradley di Jatimulya</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2008-08-31T08:28:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Belajar_Spradley_di_Jatimulya.php#unique-entry-id-144</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Belajar_Spradley_di_Jatimulya.php#unique-entry-id-144</guid><content:encoded><![CDATA[Saya, masuk ke Jati Mulya pertama kali untuk melakukan wawancara guna memverifikasi dari apa yang saya temukan dari dunia maya atas penutupan gereja di Jati Mulya, kecamatan Tambun Selatan kabupaten Bekasi sebagai bagian dari pemantauan atas kasus-kasus diskriminasi dan intoleransi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat.


...Karena, dalam amatan saya, apa yang terjadi di Jati Mulya, tampaknya mewakili tipikal beberapa penutupan gereja di tempat lain, terutama di Bekasi yang setidaknya, memiliki kesamaan dalam hal, adanya beberapa gereja dalam satu kawasan yang kemudian ditutup oleh warga. 


...Hutajulu, Pendeta Gekindo Getsemane, salah satu dari tiga gereja yang ditutup di Jati Mulya, untuk penelitian ini, saat datang ke Jati Mulya, saya sengaja turun di Jalan Melati Raya, jalan ke arah Gereja Gekindo Getsemane dan Gereja HKBP Getsemane berada. 


...Untunglah saya bisa berbincang dengan Ibu Yeti, adik pendeta yang aktiv di lembaga al Kitab, dan selalu mengawal Pendeta Hutajulu saat melakukan kebaktian di jalan selama delapan minggu akibat gereja ditutup dan disegel tahun 2005 lalu. 


...Tetapi, dari apa yang ia tangkap, di masjid at Taubah, yang berada di belakang rumah tinggalnya, hampir ia tak mendengar suara keras.


...Mulanya, saya ingin jum&rsquo;atan di masjid al-Muttaqin, di tempat yang sebelumnya, saya melihat selebaran-selebaran FPI dan majalah suara Muhammadiyah di dalam masjid itu. 

...Tetapi, tak salah juga sebetulnya saya jum&rsquo;atan di masjid al Taubah, karena saya bisa menangkap gerak kultural masjid yang memiliki tradisi seperti lazimnya orang-orang NU. 

...Meski, dalam wawancara itu, ia juga acap bertanya soal isu, dari apa yang ia dengar dari orang-orang, bahwa di kampung itu tidak ada orang Kristen. ]]></content:encoded></item><item><title>Siaran Pers Yayasan Pembela Rakyat Pinggiran</title><dc:creator></dc:creator><category>CLIPPINGS</category><dc:date>2008-08-22T19:51:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Yayasan_Pembela_Rakyat_Pinggiran.php#unique-entry-id-143</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Yayasan_Pembela_Rakyat_Pinggiran.php#unique-entry-id-143</guid><content:encoded><![CDATA[43 KK rakyat miskin kota yang terdiri dari balita, anak-anak, dan orang dewasa, serta manula, laki-laki dan perempuan, harus menjalani hidup dalam kegelapan ditengah Kota Medan. 

...Pembangunan dan PLN Cabang Medan telah mencabut hak rakyat miskin kota yang tergabung dalam KWRS Amplas atas hak atas standard hidup yang layak (rights to an adequate standard of living) dan hak untuk hidup bermartabat (rights to life dignity).   Hal ini terjadi dikarenakan dampak ikutan yang diikutinya sangat dasyhat, tidak adanya akses terhadap listrik menghilangkan juga akses terhadap fasilitas air bersih, akses terhadap informasi, anak-anak tidak dapat belajar dimalam hari, perempuan kesulitan melakukan pekerjaannya, dimalam hari hidup dalam kegelapan, serta masalah ekonomi baru, sebab warga harus membeli minyak lampu yang sangat mahal buat mereka untuk penerangan dimalam hari. 

...Akhirnya warga mendapatkan kekerasan berlapis-lapis, telah dimiskinkan oleh sistem pembangunan yang tidak adil, juga harus menanggungkan beban tambahan karena  Negara tidak melakukan upaya yang cukup dalam memenuhi hak-hak warga atas standard hidup layak, melakukan pembiaran terhadap kondisi diatas yang harusnya bisa dicegah, disamping itu, juga melakukan upaya teror dan intimidasi berupa langkah kriminalisasi kepada 2 orang pimpinan KWRS Amplas melalui penerbitan surat P2TL oleh PLN Cabang Medan senilai hampir 12 juta. 

...Upaya-upaya KWRS Amplas untuk mendorong pemerintah memenuhi hak atas fasilitas listrik sebagai bagian dari hak atas standard hidup yang layak dan hak untuk hidup bermartabat masih menjadi mimpi kosong rakyat miskin kota. 

...Pembangunan dan PLN Cabang Medan yang tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam penyelesaian akses atas fasilitas listrik di Rumah Susun Amplas. 


...Mendesak Gubernur Sumatera Utara untuk melakukan langkah-langkah yang cukup dalam melindungi dan memenuhi hak-hak rakyat miskin kota KWRS Amplas atas penerangan listrik sebagai bagian dalam hak-hak atas standard hidup yang layak dan hak untuk hidup bermartabat. 


...Pembangunan Kota Medan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan, baik terror maupun intimidasi kepada KWRS Amplas dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai warga Kota Medan.  
]]></content:encoded></item><item><title>Cerita Pendek Agustus</title><dc:creator></dc:creator><category>SHORT STORY</category><dc:date>2008-08-23T13:02:49+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Hari_Merdeka_Bagi_Kasih.php#unique-entry-id-142</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Hari_Merdeka_Bagi_Kasih.php#unique-entry-id-142</guid><content:encoded><![CDATA[Sejak memasuki bulan Agustus, sepanjang jalan di gang menuju rumah bilik kami, warna merah putih berkibar-kibar, bergelantung, bahkan rumah-rumah gubuk di sekitarku dicat merah putih. 

...Aku tergeragap, bagaimana anak kecil ini bisa tahu apa yang ada dalam pikiranku.

...&ldquo;Kamu lihat baik-baik wajah laki-laki itu, kelak kalau lahir adik baru, kamu tau siapa bapaknya.&rdquo;

...Laila bilang rumah-rumah di kompleks ini tak seberapa besar, bentuknya kebanyakan sama, tetapi mereka banyak juga yang mempunyai mobil. 

...Tujuh tahun lalu dalam bulan-bulan awal membesarkan Kasih, saat perasaanku didera begitu takut adikku yang kurus itu akan mati, aku berkali-kali mengamati laki-laki itu. ...  Sampai sekarng aku masih hidup di jalanan, dan tidak memaknai apa yang kulakukan dulu itu sebagai sesuatu yang bodoh. ...  Aku rasa ibuku tak sekejam itu, sampai usia itu aku masih sadar, aku dan adik-adikku masih selalu bersama.   Meskipun aku sering berpikir, benarkah salah satu adikku, yang lahir beberapa tahun di atas Jonah, anak laki-laki bernama Rio, diangkat anak oleh keluarga kaya yang sangat menginginkan anak? ]]></content:encoded></item><item><title>Dari Diskusi KeIndonesiaan dan Modernitas</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-17T10:35:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Dari_Diskusi_KeIndonesiaan_dan_Modernitas.php#unique-entry-id-140</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Dari_Diskusi_KeIndonesiaan_dan_Modernitas.php#unique-entry-id-140</guid><content:encoded><![CDATA[Walaupun secara organisasional tidak formal berhubungan, demikian sentralnya peran para seniman dan budayawan Lekra dalam politik PKI, sebagian kalangan bahkan meyakini bahwa PKI tidak akan sampai besar tanpa Lekra.  

...Sukarno dan sederet panjang para pendiri republik ini mungkin melihat Indonesia lebih sebagai sebuah panggilan untuk melawan bukan hanya kuasa kolonialisme dan imperialisme tapi juga selubung mitos yang membuat banyak orang merasa nyaman dengan masa silam, tenteram dalam buaian satuan-satuan komunal. 

...Dalam penelitian yang dilakukan oleh ISSI terhadap para seniman dan budayawan sebelum dekade 60an, baik yang tergabung dalam Lekra,  PNI atau Masyumi sebagai  bagian dari eksplorasi pada periode   dekade 20an sampai 60an,  nampak ada perubahan tentang keIndonesiaan dan modernitas setelah kemerdekaan itu tercapai. 

...Walaupun secara organisasional tidak formal berhubungan, demikian sentralnya peran para seniman dan budayawan Lekra dalam politik PKI, sebagian kalangan bahkan meyakini bahwa PKI tidak akan sampai besar tanpa Lekra.  

...Ratih kemudian melontarkan pertanyaan kepada peserta diskusi, ketika berhadapan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap belum modern,  sebagai intelektual yang sepakat dengan keharusan melakukan proses modernisasi, apa yang harus dilakukan. 

...Di sisi lain, peserta diskusi juga menyoroti tabiat politik beberapa pemerintahan daerah yang belakangan sangat gencar mempromosikan lokalitas daerahnya masing-masing, pada dasarnya adalah upaya membelokkan perhatian dari ketidaksanggupan mereka memerangi korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kepada pemujaan simbol-simbol kultural tradisional.


...Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, apakah penekanan pada perayaan keragaman (celebriting diversity) seperti yang sering dipakai oleh beberapa kelompok advokasi harus berhenti pada dirinya sendiri, dan tidak mengindahkan konteks di dalam apa perayaan itu dilakukan. 

...Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto, yang juga hadir dalam diskusi kali ini sepakat bahwa ada agenda neoliberalisme yang saat ini bekerja seperti strategi kekuatan kolonial di masa lampau, ketika perusahaan swasta (seperti VOC) mempunyai kekuatan yang hampir tidak terbatas sementara peran negara terus-menerus dipersempit. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Workshop Pelatihan Penelitian HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-13T19:14:00+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Pelatihan_Penelitian_HAM.php#unique-entry-id-139</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Workshop_Pelatihan_Penelitian_HAM.php#unique-entry-id-139</guid><content:encoded><![CDATA[Workshop pelatihan penelitian HAM dan Diversifikasi Kultural yang diadakan oleh Yayasan INTERSEKSI, bekerjasama dengan HIVOS, 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, kawasan Cisarua, Puncak, kabupaten Bogor, diikuti oleh 6 (enam) peneliti muda dari Jabodetabek dan Medan, 3 (tiga) narasumber dari Jakarta dan 3 peserta dari Interseksi dan Yayasan TIFA.   Ide untuk melakukan penelitian oleh para aktivis HAM ini berawal dari keinginan para peneliti Interseksi untuk memberikan dukungan bagi para aktivis HAM dengan dasar-dasar penelitian sosial yang kuat sehingga bisa membangun argumentasi yang kukuh untuk menopang kerja-kerja advokasinya.  

...Problem lain yang juga umum ditemui di kalangan aktivis advokasi adalah faktor kedekatan atau bahkan ikatan/problem emosional dengan subjek penelitiannya, yang menyulitkan mereka membuat sebuah jarak-kritis untuk menghasilkan sebuah kajian yang bisa dipercaya. 

...Beberapa isu yang diangkat sebagai topik penelitian di antaranya mencakup persoalan jaminan kesehatan masyarakat sebagai hak masyarakat di Banjar, Jawa Barat, hak perumahan yang layak di Amplas Medan, hak kebebasan beragama dan keyakinan di Bekasi dan Jakarta, serta hak terhadap akses pertanahan di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 


...Secara substantif keenam peneliti sangat memahami lekuk-liku dari isu atau topik-topik yang diangkat ke dalam kertas kerja penelitian sebagai dasar bagi suatu advokasi. ...  Selain itu, melalui f&oacute;rum diskusi yang intens di antara para peneliti dan para nara sumber,  kemampuan para peneliti untuk mengorganisasikan wawasan mereka serta merumuskan masalah utama yang hendak diteliti menjadi semakin tajam dan terfokus.  

...Para peserta workshop semakin memahami betapa selama ini mereka sangat kaya akan data lapangan, apalagi dengan adanya tambahan alat analisa berupa wawasan baru, atau 'bagasi' yang diperoleh dari pendalaman materi tengan HAM dan sejarah sosial. ...  Pada prakteknya, 'eksperimentasi' ini--mengaitkan isu yang hendak diadvokasi ke dalam 'ruang' yang lebih luas-- akan membantu peneliti untuk memahami isu/masalah/topik penelitian dalam suatu konteks spesifik, serta melihat relasi isu dengan latar budaya, sosial, politik dan ekonomi subjek yang dikaji.  ]]></content:encoded></item><item><title>Resolusi Konperensi Warisan Otoritarianisme II </title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-08-11T18:02:54+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Resolusi_Konperensi_Warisan_Otoritarianisme.php#unique-entry-id-138</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Resolusi_Konperensi_Warisan_Otoritarianisme.php#unique-entry-id-138</guid><content:encoded><![CDATA[Para pemegang kuasa justru mengutamakan pengerukan sumber daya alam, memberi kemudahan pada sektor manufaktur ringan dan pasar uang yang hanya mengembalikan sedikit hasil kepada orang banyak dalam bentuk upah dan pajak. 

...Di Indonesia jumlah orang yang bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari Rp 20.000 per hari sudah melebihi separuh, dan masuk ke dalam jajaran penduduk miskin dunia. 

...Undang-undang baru di bidang penanaman modal asing, kehutanan, pertambangan dan juga ketenagakerjaan membuat tata dan kelola ekonomi menjadi sandera dari perusahaan raksasa multinasional, lembaga keuangan internasional dan segelintir komprador yang turut menikmati ketimpangan ini. 

...Ketika Bank Dunia memberi jutaan dolar kepada DPR untuk menyusun undang-undang sumber daya air, kita tahu bahwa undang-undang itu tidak akan mewakili kepentingan rakyat banyak. 

...Demokrasi yang terpusat pada pemilihan umum atau electoral democracy hanya memberi kesempatan pada kekuatan neoliberal dan predatoris untuk bergantian menguasai lembaga-lembaga negara di pusat maupun daerah. 

...Negara juga harus mengambil keputusan politik untuk mengakhiri ketergantungan pada pembiayaan luar negeri, mengupayakan pengurangan utang luar negeri, dan memegang kendali penuh dalam kebijakan fiskal dan moneter. 

...Kenyataan bahwa Universitas Indonesia menjadi tuan rumah bagi konperensi ini yang diselenggarakan bersama kalangan ornop, gerakan sosial dan intelektual, menjadi bukti bahwa aliansi seperti itu bukan hanya mungkin, tapi sudah terjadi.

Kombinasi dari berbagai bentuk perjuangan di berbagai tingkat dan kalangan harus dipikirkan secara sungguh-sungguh, dan konperensi ini baru membuka jalan dengan mempertemukan berbagai kalangan dalam satu forum yang menghasilkan kesepakatan bersama. ]]></content:encoded></item><item><title>Islam Politik dan Formasi Otoritas Haba&#x2019;ib Dari Kwitang Hingga FPI</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-08-10T17:58:43+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Islam_Politik_dan_Formasi_Otoritas_Habib.php#unique-entry-id-137</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Islam_Politik_dan_Formasi_Otoritas_Habib.php#unique-entry-id-137</guid><content:encoded><![CDATA[Alatas, membuka presentasinya dengan sebuah kutipan dari Gunawan Muhamad yang menulis tentang seorang Jawa yang menggurui dua orang klan dari Arab yaitu Baasyir dan Shihab, bahwa bangsa ini merupakan bangsa yaKeberadaan Habaib telah menarik perhatian banyak pihak dari masa kolonial hingga sekarang. 

...Masih behubungan dengan situasi di Hadramuth dan keterkaitannya dengan para klan ini di Nusantara, penanya kedua menggunakan istilah rivalitas yang diimport dari Hadramuth ke Indonesia, tantang persoalan siapa yang dominan diantara klan-klan tersebut, dan bagaimana dengan klan Al-aidit yang nampaknya tidak mempunyai akses seperti klan Alatas misalnya dalam hal pendidikan.   Penanya kedua juga mempertanyakan tantang FPI yang bahasannya hanya sekilas, apakah yang menyebabkan Habib Riziq nampaknya berbeda dengan para Hbaib yang lain, dalam cara pandang terhadap agama dan politik, apakah ini berkaitan dengan perbedaan ratib dalam liturgi yang dibawakan oleh habib Riziq?

...Simbisosis mutualisme ini dilihat dari sudut pandang para Habaib yang dinyatakan Alatas untuk terus melakukan rekonfigurasi yang adaptif sebagai suatu usaha mempertahankan status quo-nya, sehingga apakah kerangka etnisitas yang berusaha dihilangkan dan diganti kerangka al-alawyah sebagai kuturunan nabi, keduanya tidak mengalami apa yang disebut Alatas sendiri para Habaib yang inklusif, anti kekerasan dan  berbeda dengan FPI.  

FPI yang dalam analisis hanya disebut sekilas mengeluarkan Habib Riziq dari tradisi habaib Al-alawiyah yang lain dengan alasan dibesarkan di Arab Saudi dan tidak menggunakan tradisi seperti Habaib yang lain tetapi menggunakan otoritas Habib.   Meskipun Harun, salah satu penanya, mengatakan bahwa anggap saja Habib Riziq merupakan salah satu habib yang nyleneh, seperti juga Habib Munsyir yang tidak menggunkan metode jaringan kyai-kyai kampung, tetapi persoalan lain adalah penanda genealogis yang membedakan dengan non-alawiyah ini sulit untuk benar-benar lebur dengan masyarakat lokal. ...  Pernyataan Alatas yang akhirnya mengatakan sulit untuk menjadi 2 entitas sekaligus, tidak seperti orang Jawa atau Sumatara yang pada saat yang sama bisa menjadi orang Indonesia: sedangkan orang arab atau China akan sulit,  karena  menurut Alatas mereka akan selalu ditempatkan pada narasi histori nasional sebagai keturunan imigran, lalu dijadikan kelompok etnis.   Alatas menyebutkan contoh, kalau Amrozi yang meledakkan bom Bali, ia hanya akan dipandang sebagai Amrozi tetapi jika Habib Riziq atau keturunan migran lain akan dipandang lebih dalam lagi latar belakang etnisitasnya, seperti yang dilakukan oleh Gunawan Muhamad dalam menggurui dua klan di atas.  ]]></content:encoded></item><item><title>Workshop Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural</title><dc:creator></dc:creator><category>PELATIHAN</category><dc:date>2008-08-04T19:38:34+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Workshop_pelatihan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-136</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Workshop_pelatihan_penelitian_HAM.php#unique-entry-id-136</guid><content:encoded><![CDATA[12 Agustus sampai 7 September 2008, para peserta terpilih Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural Interseksi-Hivos akan melaksanakan praktek penelitian lapangan di wilayah penelitiannya masing-masing.   Sebelum mereka diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta akan mengikuti workshop persiapan penelitian sejak tanggal 7-9 Agustus 2008 di Wisma Aryanti, Cisarua, Bogor, Jawa Barat.   Melalui workshop ini, selain pembekalan metodis dan kerangka konseptual tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural, seluruh peserta akan diajak untuk secara kooperatif memperbaiki draft rancangan penelitian yang telah dibuatnya. 


Kepada masing-masing peserta akan diberi waktu khusus untuk mempresentasikan rancangan penelitiannya masing-masing, dan kemudian mendiskusikan dan membahasnya secara kritis dengan bantuan para fasilitator, pemberi materi, dan para peserta workshop lainnya.   Dengan cara ini diharapkan agar draft yang mereka buat bisa dikembangkan menjadi sebuah desain penelitian yang bisa langsung dipakai dalam praktek penelitian lapangan. 

...Informasi lebih lengkap tentang Program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural silakan browsing di halaman ini.<br /><br />


...Cara termudah untuk sampai di kantor Interseksi adalah dengan naik kereta api jurusan Jakarta-Bogor, kemudian turun di statsiun Tanjung Barat. 

...Beberapa papan penunjuk jalan akan cukup membantu Anda menemukan lokasi Wisma ini yang lebih kurang berjarak 1,5 km dari jalan raya Cisarua.
]]></content:encoded></item><item><title>Peserta Terpilih Pelatihan Penelitian HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>PELATIHAN</category><dc:date>2008-08-03T02:05:40+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/peserta_terpilih_pelatihan_ham_interseksi_hivos.php#unique-entry-id-135</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/peserta_terpilih_pelatihan_ham_interseksi_hivos.php#unique-entry-id-135</guid><content:encoded><![CDATA[30 Juli 2008 yang lalu, kami telah menerima sejumlah lamaran lengkap dengan draft rancangan penelitian dari beberapa peneliti di lembaganya masing-masing untuk menjadi peserta dalam program Pelatihan Penelitian tentang HAM dan Diversitas Kultural yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi bekerjasama dengan HIVOS.   Sayangnya, untuk tahun 2008 ini program ini hanya bisa diikuti oleh 6 (enam) orang peserta.   Karena itu, berdasarkan pada kualitas draft rancangan penelitian dan feasibilitasnya, kami memutuskan nama-nama yang tercantum di bawah ini sebagai peserta terpilih yang berhak mengikuti program Pelatihan Penelitian HAM dan Diversitas Kultural.   Selanjutnya, mereka yang terpilih ini wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program pelatihan penelitian dari awal sampai akhir (mulai dari workshop persiapan, praktek penelitian lapangan, penulisan laporan, workshop penulisan laporan, perbaikan laporan dan tahap editing laporan).   Berikut adalah nama-nama peneliti yang terpilih berikut usulan topik penelitian masing-masing:


...<td>Kajian Atas Pemenuhan Hak Reparasi bagi korban HAM Berat di Indonesia, studi kasus di Jakarta</td>


...<td>Perjuangan Hak-Hak Perumahan Rakyat Miskin Kota, studi kasus pada organisasi rakyat KWRS Amplas, Medan-SUMUT</td>


...<td>Prakarsa Pemerintah Daerah Dalam pemenuhan Hak Warga , Studi tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Sinjai</td>
]]></content:encoded></item><item><title>Nyong Ambon Pung Gaya</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2008-07-19T19:19:14+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/gaya_nyong_ambon.php#unique-entry-id-134</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/gaya_nyong_ambon.php#unique-entry-id-134</guid><content:encoded><![CDATA[Anak muda akan segera tahu, jika si A sebagai pelaku sesuatu, maka pendengar kabar atau saksi mata akan mengetahui, si A anak muda dari wilayah mana, siapa saudara yang dikenalnya, dan dimana ia sering duduk-duduk2.


...Kemampuan menjalankan gaya secara bergengsi pada sebagian anak muda Ambon, dianggap bagian dari transfer gaya kaum kolonial yang diadaptasi kembali dan terus diartikulasikan hingga ketika pasca konlik tahun 2002.   Pencuatan gaya dikalangan anak muda, disinyalir karena dua hal, yakni anak muda yang memasuki masa usia transisi dan perlu menyampaikan ekspresi tubuh dengan mencolok, serta bentuk tingginya kesensitifan terhadap rasa keterasingan diri ketika berada di tengah modernitas sebuah kota (Ewen, 47-54: 1988).


...Munculnya Jong Java (Pemuda Jawa), Indonesia Muda (Pemuda Indonesia), Jong Islamietenbond (Liga Pemuda Islam), Jong Minahasa (Pemuda Minahasa), dan lainnya mengindikasikan pemuda identik dengan orientasi yang peduli dengan konstruksi Negara Bangsa.   Setiap individu pemuda diharuskan mempunyai loyalitas kepatuhan terhadap negara sekaligus pelaku utama perubahan dan mempunyai berbagai potensi yang masih tertanam (Ryter, 47, 58: 1998).   Salah satu karakter pemuda Indonesia seperti yang digambarkan Anderson tidak merujuk pada jenjang usia tertentu, dan memang pemuda di Indonesia dalam rentangan rejim tidak terbatas pada waktu tertentu (timeless) (Anderson 3: 1999)


...Kata remaja juga mengacu kepada anak muda kelas menengah dengan pilihan-pilihan konsumsi yang telah selesai mengurusi permasalahan tubuh secara primer, seperti masalah gizi, kesehatan hingga pendidikan.   Konsep remaja ataupun anak muda mempunyai satu kesamaan, yakni sangat peduli dengan selera (taste) dan tingkat konsumtifitas yang tinggi (Ryter, 58: 1998; Siegel, 203-4: 1986; Shiraishi, 1997: 149). ]]></content:encoded></item><item><title>Pelatihan Penelitian Aktivis HAM</title><dc:creator></dc:creator><category>PELATIHAN</category><dc:date>2008-07-13T23:51:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/pelatihan_penelitian_aktivis_ham.php#unique-entry-id-133</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/pelatihan_penelitian_aktivis_ham.php#unique-entry-id-133</guid><content:encoded><![CDATA[Yayasan Interseksi, bekerjasama dengan Hivos, akan menyelenggarakan program Pelatihan Penelitian Aktivis HAM tahun 2008.   Program ini ditujukan bagi para peneliti/aktivis muda yang menekuni isu-isu hak asasi manusia dan persoalan-persoalan diversitas kultural dalam relasinya dengan bangunan sosial tentang kebangsaan Indonesia.   Untuk tahap pertama, pelatihan akan diadakan bagi peserta yang berdomisili di wilayah Jabotadebek dan kota Medan, Sumatra Utara. 


...Selama workshop semua peserta pelatihan akan diberi pembekalan metodis, sejarah sosial, dan filosofis tentang isu-isu HAM dan diversitas kultural.   Di samping itu, selama workshop peserta juga akan dibantu menyempurnakan rancangan penelitiannya masing-masing.


...Setelah mengikuti workshop persiapan penelitian, seluruh peserta diwajibkan melakukan praktek penelitian lapangan di wilayahnya masing-masing.


...Setelah melakukan penelitian lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti sebuah workshop penulisan laporan penelitian.   Workshop ini bertujuan untuk menyempurnakan draft laporan penelitian yang sudah ditulis oleh masing-masing peserta agar memenuhi standar penulisan ilmiah sekaligus mudah dipahami oleh pembaca pada umumnya.
]]></content:encoded></item><item><title>Diskusi Bulanan: KeIndonesiaan dan Modernitas</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-07-20T08:54:03+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/keindonesiaan_dan_modernitas.php#unique-entry-id-132</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/keindonesiaan_dan_modernitas.php#unique-entry-id-132</guid><content:encoded><![CDATA[Di balik orang ramai membicarakan kebangkitan kembali Indonesia belakangan ini, kita seperti melihat frustasi hari ini yang bercampur begitu saja dengan sekepalan harapan untuk hari nanti.   Dalam pusaran labirin keputusasaan itu, kita seperti sedang melihat satu larik saja cahaya yang memberi kita keyakinan bahwa di ujung sana masih ada terang, yang sumbernya justru dari masa lalu yang belum terlampau jauh betul. 

...Tapi, dari masa ke masa selalu muncul pandangan-pandangan yang mencoba menarik jauh mundur Indonesia ke jaman pra-Indonesia demi kepentingan politik persatuan.   Berhadapan dengan pandangan mistis ini adalah dua kecenderungan yang pernah beradu pendapat dalam "polemik kebudayaan" antara mereka yang mencoba merumuskan keindonesiaan dengan melacak unsur-unsur kebudayaan yang menghidupi dan dihidupi masyarakat kebanyakan dengan yang melihat 'barat' sebagai acuan kemajuan sehingga diperlukan percepatan untuk mengejar ketinggalan berabad-abad. 


Perdebatan yang sampai hari ini belum selesai sering disederhanakan sebagai pertentangan antara 'barat-timur' atau 'tradisi-modernitas', sementara sisi-sisi yang lebih kompleks dari perdebatan ini, misalnya perlawanan terhadap feodalisme, kebimbangan dalam menyikapi kolonialisme, atau keengganan untuk mempersoalkan struktur kelas, jarang disentuh. ...  Seperti apa itu gagasan tentang 'kerakyatan' ramai diperbincangkan, terutama di kalangan seniman dan intelektual kiri, sejak 1950an, tapi sebelum ia berkembang lebih luas sudah terlibas oleh tragedi 1965 bersama dengan penumpasan para pekerja kebudayaan yang menyumbangkan pikiran dan karya bagi terumuskannya konsep 'kerakyatan'. 


...25 Juli 2008 kami mengundang Gung Ayu Ratih, peneliti pada Institut Sejarah Sosial Indonesia, untuk jadi pembicara dalam Diskusi Bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-21.   Seperti biasa, diskusi akan dilaksanakan di kantor Yayasan Interseksi, dan dimulai pada jam 15.00 waktu Jakarta Selatan sampai selesai. ]]></content:encoded></item><item><title>Kronologi Peristiwa Monas 1 Juni 2008</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-06-02T23:27:50+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tragedi_Monas_1_Juni_2008.php#unique-entry-id-129</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tragedi_Monas_1_Juni_2008.php#unique-entry-id-129</guid><content:encoded><![CDATA[Tidak banyak yang masih ingat bahwa pada tanggal yang sama lebih dari setengah abad yang lalu, beberapa pendiri negeri ini telah menetapkan sebuah landasan penting bagi pengelolaan diversitas bangsa-bangsa yang membentuk satuan yang sampai hari ini disebut Indonesia. ...  Tapi 1 Juni 2008 akan menjadi hari yang tidak mudah hilang dari ingatan bagi mereka yang masih peduli pada apa yang hari-hari belakangan ini tampak lengas: prinsip bahwa Indonesia diperuntukkan bagi semua warganya, bukan satu kelompok tertentu.   Peristiwa Monas 1 Juni 2008 memberi kita satu lagi bukti bahwa sebagian kelompok kecil orang Indonesia tidak pernah benar-benar serius menghargai cita-cita luhur para pendiri negeri ini. 

...Ratusan orang berseragam Front Pembela Islam (FPI) menyerang puluhan massa dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang tengah mempersiapkan aksi damai di pelataran Monumen Nasional (Monas), Minggu (01/06/2008). 

...Syafii Anwar, kepala berdarah, Hamid Taher gegar otak ringan dan tangan kiri patah, Joanes sobek di kepala dengan tujuh jahitan, Bernard sobek di kepala dengan delapan jahitan, Omink gegar otak, Sunandar memar di badan dan mata kemasukan pasir.<br /><br />


...Berikut kronologi peristiwa Aksi 63 tahun Pancasila dengan tema &ldquo;Satu Indonesia untuk Semua&rdquo; Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) Pelataran Monas, 1 Juni 2008.<br /><br />


...Massa AKKBB yang lain berdatangan ke dalam Pelataran Monas, berkumpul di satu titik untuk konsolidasi.<br /><br />


...Massa AKKBB yang berada di belakang Stasiun Gambir berjalan menuju ke dalam Monas untuk merapatkan barisan dengan massa yang lain, untuk memberi kesempatan kepada massa PDIP membubarkan diri dari tempat parkir di belakang Stasiun. ]]></content:encoded></item><item><title>Laporan Diskusi Bulanan tentang Gerakan Sosial Pasca Suharto</title><dc:creator></dc:creator><category>REPORT</category><dc:date>2008-05-31T13:10:13+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Pasca_Suharto.php#unique-entry-id-128</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Laporan_Diskusi_Bulanan_tentang_Gerakan_Sosial_Pasca_Suharto.php#unique-entry-id-128</guid><content:encoded><![CDATA[Banyak perubahan berlangsung pada beberapa sektor kehidupan masyarakat pasca Suharto, tapi selebihnya adalah pembenaran terhadap konstata lama "plus &ccedil;a change, plus c'est la m&ecirc;me chose", semakin banyak berubah semakin tetap sama saja.

...Meskipun memiliki tujuan yang persis sama, yakni menolak kebijakan negara dalam konteks harga bahan bakar minya, tapi beberapa kelompok yang datang ke depan istana negara hari itu terlihat sebagai kelompok-kelompok yang tidak pernah membagi bersama sebuah platform gerakan sosial yang sama.   Kisah tersebut kemudian dilengkapi dengan cerita singkat tentang keterlibatan personal Sapei dalam beberapa formasi organisasi rakyat di beberapa wilayah di Indonesia, yang memberinya bekal landasan pengalaman sangat kuat untuk membangun argumen tentang keharusan melakukan refleksi atas kondisi gerakan sosial kontemporer di Indonesia tadi.

...Dapat dilihat misalnya bagaimana kondisi kirisis politik-ekonomi yang semakin parah, krisis energi, harga-harga bahan pokok yang semakin tinggi, minyak langka dimana-mana, praktik korupsi semakin menjadi-jadi tidak hanya oleh elit pusat tetapi juga elit daerah, defisit anggarana negara yang semakin bengkak, dan konflik elit politikpun semakin menjadi-jadi.   Menurut Sape&rsquo;i keadaan yang begitu sulit pada seluruh aspek kehidupan pasca tumbangnya rezim Soeharto diatas, adalah suatu hal yang tidak dapat hindari keberadaanya bahwa rakyat Indonesia membutuhkan suatu perubahan untuk keluar dari semua problem di atas. 

...Yang lebih penting adalah, pertama bagaimana mengembalikan gerakan sosial ke dalam rel kehidupan politik yang sesungguhnya dan bagaimana meningkatkan kapasitas berpolitik dari rakyat atau kelompok rakyat yang selama ini dipinggirkan.


...Hal penting lain yang diperlukan oleh suatu organisasi rakyat adalah memiliki platform organisasi yang jelas (memiliki agenda perubahan sosial), memiliki basis massa yang kuat, memiliki protokol yang jelas dalam membangun relasi dan jaringan kerja politik. ...  Harus memiliki sistem kaderisasi dan kepemimpinan yang sistematik, karena tanpa hal ini suatu organisasi rakyat hanya akan menguap begitu saja, dan yang terakhir adalah organisasi rakyat harus mengembangkan dirinya betul-betul sebagai organisasi rakyat.      ]]></content:encoded></item><item><title>Lowongan Kerja di Yayasan Interseksi</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2008-05-31T17:26:24+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Lowongan_Kerja_di_Yayasan_Interseksi.php#unique-entry-id-127</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Lowongan_Kerja_di_Yayasan_Interseksi.php#unique-entry-id-127</guid><content:encoded><![CDATA[Yayasan Interseksi membutuhkan dua orang peneliti muda lulusan S1 atau S2 ilmu-ilmu sosial.   Satu orang untuk kebutuhan (temporer) penelitian lapangan, dan satu orang sebagai staf regular.   Pelamar untuk kedua posisi tersebut harus memiliki minat dan pengalaman penelitian dan pengelolaan program kegiatan, memiliki kemampuan menulis laporan penelitian, dan bersedia ditugaskan ke luar kota dalam waktu minimal satu bulan penuh.   Angka Indeks Prestasi Akademik, dan kemampuan menulis artikel di surat kabar  tidak akan banyak menjadi bahan pertimbangan.   Diutamakan mereka yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris lisan dan tulisan untuk staf regular.  

...15 Juni 2008 ke <a href="mailto:&#111;&#102;&#102;&#105;&#99;&#101;&#64;&#105;&#110;&#116;&#101;&#114;&#115;&#101;&#107;&#115;&#105;&#46;&#111;&#114;&#103;" rel="external">office [at] interseksi [dot] org</a> atau ke <a href="mailto:&#105;&#110;&#116;&#101;&#114;&#115;&#101;&#107;&#115;&#105;&#64;&#103;&#109;&#97;&#105;&#108;&#46;&#99;&#111;&#109;" rel="external">interseksi [at] gmail [dot] com</a>.   Cantumkan kode TEMP untuk staf temporer dan REG untuk staf regular pada subjek email Anda.


...Cantumkan kode TEMP atau REG sesuai jenis pekerjaan yang Anda pilih pada pojok kiri-atas amplop lamaran.]]></content:encoded></item><item><title>Tradisi Akademik Malang Kadak</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-03-13T22:16:45+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tradisi_Akademik_Malang_Kadak.php#unique-entry-id-126</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tradisi_Akademik_Malang_Kadak.php#unique-entry-id-126</guid><content:encoded><![CDATA[Kegiatan ini didahului dengan pembekalan/ briefing oleh orang-orang di Jawa Timur yang dianggap sebagai pakar kebudayaan, dan peneliti kajian sejarah dan nilai tradisional, seperti Dr. 

...Kalau tidak hati-hati dan senantiasa otokritik, bentuk-bentuk acara seperti jelajah budaya ini akan menimbulkan persamaan dalam memandang antara kebudayaan Tengger dengan artefak sejarah, yang berarti harus dimuseumisasi, karena alasan-alsan eksotis, unik, dan menyejarah. ...  Jika ide atau gagasan untuk melakukan pelestarian adat itu dilakukan oleh Tengger sendiri patut kiranya kita dukung, namun sebaliknya jika ide itu dating dari luar, terutama orang-orang diperkotaan, maka perlu kiranya untuk melakukan rincian atas motif mereka.


...Dengan membangun relasi sebagai sahabat, maka para peserta Jelajah Budaya tidak cenderung berpandangan wong Tengger sebagai obyek kajian, sehingga yang muncul hanya pikiran eksotika.


...Hal ini akan berakibat serius jika imajinasi para guru dan wartawan yang mengikuti Jelajah Budaya tersebut membentuk realitas atas tengger di audien mereka masing-masing (guru kepada muridnya dan wartawan kepada pembacanya). 

...Pembentukan kategori agama tradisional atas agama yang berkembang di Tengger telah melemparkan masyarakat tengger dalam barisan dunia antah berantah, yang tentu saja dianggap aneh bagi para peneliti kota, patut untuk diteliti dan dilihat sebagai sesuatu yang unik.


Memang harus kita akui bahwa hampir semua peneliti yang berjibaku di Tengger mungkin saja tidak seratus persen mampu menggambarkan tekstur kebudayaan tengger, namun dari kegigihan peneliti dapat kita katakan karyanya sangat serius. 

...Tradisi akademik kita yang begitu buruk ini harus segera di akhiri, kita harus berani terbuka dan jujur untuk mengatakana secara gambalang bahwa ada yang berbeda antara studi budaya dengan wisata. ]]></content:encoded></item><item><title>Catatanku Sebagai Evaluator Penelitian di Sumatera Utara </title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-11-21T19:45:50+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatanku_Sebagai_Evaluator_Penelitian_di_Sumatera_Utara%20.php#unique-entry-id-125</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatanku_Sebagai_Evaluator_Penelitian_di_Sumatera_Utara%20.php#unique-entry-id-125</guid><content:encoded><![CDATA[Rencanaku ke Medan mengevaluasi proses penelitian Uzair memang aku rencanakan sesuai dengan Jadwal acara pernikahan putri Bapak Maruli Sirait &ndash;salah satu tokoh Parmalim di Sumatera utara yang katanya akan dilakukan hari  hari senin, 9 Oktober 2006.   Saya sengaja menyesuaikan jadwal ini biar kelak di lapangan kita bisa lebih akrab dengan Parmalim, terutama Uzair yang hanya menghabiskan waktu selama satu bulan.   Tentu jadwal penelitian yang terlalu pendek,  pasti akan sulit mendapatkan momen yang tepat untuk mengenalkan ke banyak orang mengenai rencana penelitian ini, dan apalagi menghubungi mereka dengan cara yang cepat dan sebisa mungkin bisa akrab dengan komunitas yang kita teliti.  

...Meskipun saat ini masih bulan ramadlan, aku tidak puasa, meskipun sudah merencanakannya. ...  Uzair juga tidak puasa, katanya dia tidak sempat sahur dan seringkali kalau tidak sahur dia merasa lapar di terik matahari Medan.   Suasana di Medan nampak tidak jauh beda dengan bulan sebelumnya.   Meskipun bulan ramadhan, orang-orang di Medan tidak canggung merokok, minum dan makan-makan di warung dalam suasana terbuka. ...  Yang puasa dihormati, meskipun penghormatan itu berlangsung dalam suasana yang tidak berlebihan. ]]></content:encoded></item><item><title>Sekilas tentang Komunitas Tolotang</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-22T23:34:08+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Sekilas_tentang_Komunitas_Tolotang.php#unique-entry-id-124</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Sekilas_tentang_Komunitas_Tolotang.php#unique-entry-id-124</guid><content:encoded><![CDATA[Saat saya telah tinggal selama beberapa hari bersama komunitas Tolotang, saya merasakan betapa komunitas ini mengalami sejenis trauma atas pengalaman sosial mereka di masa lalu.   Dari berbagai percakapan dan bacaan saya atas sejumlah literatur, saya menemukan bahwa sejarah komunitas ini adalah sejarah tekanan dan intimidasi. ...  Tidak mengherankan jika kemudian komunitas ini seolah tampak membatasi diri dan tertutup dalam hal-ihwal sistem kepercayaan mereka. 

...Waktu itu saya diajak induk semang saya ke sebuah acara mapacci (salah satu acara dari rangkaian acara perkawinan orang Tolotang) di tempat itu saya ngobrol dengan sejumlah orang, termasuk dengan induk semang saya.   Satu hal yang mengagetkan saya adalah ketika terlontar pertanyaan pada saya tentang apakah Interseksi dan Desantara (saya juga dikenal sebagai eksponen komunitas Desantara karena ia punya majalah Desantara edisi 14/2005 yang nama saya tertera di dalamnya) punya niat tulus untuk membantu komunitas-komunitas lokal atau justru punya proyek terselubung islamisasi, sebab, ujarnya lagi, orang-orangnya adalah orang islam. ...  Saya tahu orang ini sebenarnya telah beberapa kali bergaul dengan Desantara dan mengikuti sejumlah acaranya. ...  Pertama, perasaan traumatis akibat tekanan di masa lalu belum sepenuhnya hilang, dan ini membentuk sikap untuk mewaspadai apapun tindakan orang di luar komunitas mereka, terutama dari kelompok islam. ...  Ketiga, menyangkut urusan kepercayaan tolotang, komunitas ini sangat membatasi diri dalam berurusan dengan to laing (demikian sebutan mereka untuk orang yang bukan Tolotang). ]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Amparita</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-22T23:32:29+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Amparita.php#unique-entry-id-123</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Amparita.php#unique-entry-id-123</guid><content:encoded><![CDATA[Di awal persiapan penelitian, saya membayangkan komunitas tolotang towani berada di wilayah terpencil yang jauh dari sentuhan modernitas ditambah dengan sikap hidup yang cenderung menolak kehidupan modern.   Namun kesan semacam itu berubah setelah saya mendapat informasi yang cukup memadai tentang keberadaan komunitas ini.   Sejumlah buku dan percakapan dengan beberapa orang di makasar menginformasikan bahwa pusat komunitas ini ada di sebuah desa yang menjadi kota kecamatan di wilayah kabupaten Sidenreng Rappang sulawesi selatan.   Sebuah ibu kota kecamatan tentu merupakan wilayah yang paling dekat dengan modernitas, paling tidak di kawasan kecamatan tersebut. 

...Amparita terletak sekitar 8 kilometer dari Pangkajene, Ibu Kota kabupaten Sidenreng Rappang. ...  Jarak sejauh ini bisa ditempuh dalam waktu 4,5 jam dengan menggunakan kendaraan umum.   Angkutan umum dari Makasar ke Pangkajene atau ke Amparita menggunakan kendaraan sejenis panther atau kijang dengan penumpang sebanyak 7 orang. ...  Saya sendiri naik jurusan Pangkajene dengan ongkos 30 ribu rupiah, kemudian naik angkot (masyarakat sulsel menyebutnya pete-pete) menuju Amparita dengan ongkos 3 ribu rupiah. ]]></content:encoded></item><item><title>Turut Berduka Cita</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-03-11T14:55:06+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-122</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Turut_Berduka_Cita.php#unique-entry-id-122</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=center></div>


Seluruh warga komunitas Interseksi menyampaikan turut berduka dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya guru, bapak, dan tauladan kami Prof. ...  Koesnadi Hardjasoemantri pada kecelakaan pesawat Garuda  tgl.   7 Maret 2007.   Kami percaya beliau akan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.   Semoga keluarga dan kerabat yang ditinggalkan diberi ketabahan, keikhlasan dan kekuatan.   Kami murid-muridnya akan tetap mengingat dan meneruskan semangat, kejujuran, dan kerendahan hati dan kesederhanaan yang telah dicontohkan almarhum di masa hidupnya. 


Selamat jalan Pak Kus!]]></content:encoded></item><item><title>Lima Hari Pertama di Cianjur</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-10-04T21:05:20+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Lima_Hari_Pertama_di_Cianjur.php#unique-entry-id-121</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Lima_Hari_Pertama_di_Cianjur.php#unique-entry-id-121</guid><content:encoded><![CDATA[Saya berangkat dari rumah di Pancoran Jakarta Selatan sekitar jam 8 pagi, jalan kaki sebentar, kemudian naik mikrolet 34, turun di Kalibata, kemudian naik Kopaja 57, turun di Terminal Kp. ...  Setelah menunggu-nunggu dan bertanya ini itu tentang bis yang ke jurusan Cianjur, akhirnya saya putuskan untuk naik bis &ldquo;Doa Ibu&rdquo; jurusan Tasik.   Kata seorang tukang warung, bis itu nanti akan lewat cianjur. ...  Saya segera bergegas, tanya lagi kondektur bis yang juga mengiyakan bahwa bis ini nanti akan lewat Cianjur.   Kemudian saya naik dan duduk di bangku jajaran kedua.   Bis itu ber-AC, sehingga pada awalnya saya merasa nyaman, tapi segera saja perasaan itu berubah setelah puluhan tukang asong menjajakan berbagai macam barang dan makanan ke atas bis.   Saya jengkel tapi harus bagaimana lagi, sebab itulah fakta paling riil tentang Indonesia.   Setelah menunggu beberapa saat, bis itu akhirnya berangkat. ]]></content:encoded></item><item><title>A Note from A Terra Incognita</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-20T07:49:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/A_Note_from_%20A_Terra_Incognita.php#unique-entry-id-120</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/A_Note_from_%20A_Terra_Incognita.php#unique-entry-id-120</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Member of Interseksi's Researc Team on Minority Rights and Multiculturalism


...I almost failed to fly to Medan this morning.   For Mandala airline, I was &ldquo;blamed&rdquo; for not confirming my flight a day before departure.   For me, the rule is too bureaucratic.   As long as I know, this is the only airline that obliges their passenger to give report about their plan of departure (though in fact they already issued the ticket, like me, which I guess can be interpreted as a kind of confirmation about departure plan).   After waiting for the last minute, they finally allowed me to come aboard.   And the adventure into a foreign land had just begun. ]]></content:encoded></item><item><title>Secuil Catatan dari Gunung Bromo</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-13T16:13:53+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Secuil_Catatan_dari_Gunung_Bromo.php#unique-entry-id-119</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Secuil_Catatan_dari_Gunung_Bromo.php#unique-entry-id-119</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. ...  Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad.   Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun.   Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya.   Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat'an.   Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini.   Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger, bukan sekedar hubungan peneliti dan yang diteliti.  ]]></content:encoded></item><item><title>Tampilan Baru Situs Interseksi</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-09-04T20:55:10+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Tampilan_Baru_Situs_Interseksi.php#unique-entry-id-118</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Tampilan_Baru_Situs_Interseksi.php#unique-entry-id-118</guid><content:encoded><![CDATA[Mengandalkan pengelolaan situs internet kepada pihak ketiga, apalagi kepada para profesional pengembang web site, selain membutuhkan biaya cukup besar,  kadang memang menyulitkan kita melakukan perubahan-perubahan sesuai keinginan kita. 

...Di samping didorong oleh keinginan menyajikan informasi dalam tampilan yang nyaman di mata, suksesi cepat bermacam-macam tampilan situs ini mungkin sekaligus juga merupakan testamen bahwa secara teknis hal tersebut memang tidak terlalu sulit. 

...Ada beberapa pembaca yang menanyakan hal tersebut, mencari penjelasan mengapa situs ini tidak bisa sepenuhnya kompatibel dengan browser IE-nya Microsoft.   Penjelasan teknisnya bisa berlarut-larut, tapi secara singkat kami ingin menyampaikan bahwa problem tersebut sama sekali bukan sesuatu yang disengaja dari awal.   Kami harus jujur mengatakan bahwa kami memang sudah tidak pernah lagi menggunakan IE, tapi kami berusaha untuk sebisa mungkin memenuhi standar validasi dari beberapa konsorsium internasional tentang XHTML dan CSS. 

...Kami sadar ada banyak jawaban teknologis yang bisa mengatasi problem semacam ini, tapi kami juga sepenuhnya menyadari bahwa IE (versi 6 paling tidak) memang cenderung tidak menghormati standar-standar web tadi. ...  Sampai IE versi 7 (yang sekarang masih dalam versi Beta) kelak resmi diterbitkan Microsoft dan makin banyak dipakai orang, situs ini tampaknya akan tetap tidak terlalu bersahabat dengan para pengguna IE 6 atau sebelumnya.   Alibi kami sebenarnya sederhana saja: daripada menuntut kami yang hanya memiliki sumberdaya terbatas menghabiskan energi dan waktu untuk mengatasi problem (yang kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan) teknologi IE, bukankah lebih baik kita menuntut Microsoft yang mahakuasa dan mahakaya itu membuat software yang lebih baik daripada yang selama ini diproduksinya?
]]></content:encoded></item><item><title>Catatan dari Workshop Jaringan Yayasan Desantara</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-06-11T03:25:31+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Workshop_Jaringan.php#unique-entry-id-117</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Catatan_dari_Workshop_Jaringan.php#unique-entry-id-117</guid><content:encoded><![CDATA[Pembentukan jaringan antar sesama lembaga swadaya masyarakat, atau organisasi nonpemerintah, atau apa pun sebutan yang seturut maknanya, itu tentu saja bukan hal istimewa. 

...Pertama, membentuk sebuah jaringan yang tidak meletakkan komunitas masyarakat yang dibelanya sebagai pusat orientasi melainkan justru menjadi bagian integral dari jaringan itu sendiri.   Yang berada di pusat perhatian bukan komunitas lokalnya sebagai sebuah entitas fisik, melainkan problem ketimpangan relasi atau proses pembedaan (distiction) yang bisa menimpa siapa saja.   Dengan demikian, antara Yayasan Tantular di Malang dengan komunitas-komunitas seniman Ludruk, atau antara Yayasan Sahabat Morowali  di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah dengan komunitas masyarakat Wana di kawasan Cagar Alam Morowali, misalnya, ditempatkan pada status yang sama dalam jaringan.   Konsekwensinya, bukan hanya LSM anggota jaringan yang memiliki obligasi moral untuk membela komunitas lokal, tapi komunitas lokal pun bisa terlibat membantu komunitas-komunitas lain secara bersama-sama.   Secara konseptual, komunitas lokal juga bisa berperan besar dalam membantu kerja-kerja LSM yang menjadi anggota jaringan. 

...Kedua, semua peserta workshop sepakat memperluas medan kritisismenya dengan penekanan bahwa komunitas-komunitas lokal memang harus dibela tapi bukan berarti bahwa mereka tidak pernah salah.   Posisi ini diharapkan bisa mendihindarkan jaringan ini dari jebakan romantisasi kultural yang substansinya nyaris identik dengan proyek-proyek kekuasaan negara untuk melestarikan mereka.
]]></content:encoded></item><item><title>Mengatur Siasat di Tengah Purifikasi</title><dc:creator></dc:creator><category>CHRONICLES</category><dc:date>2006-09-28T12:43:03+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Mengatur_Siasat_di_Tengah_Purifikasi.php#unique-entry-id-116</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Mengatur_Siasat_di_Tengah_Purifikasi.php#unique-entry-id-116</guid><content:encoded><![CDATA[<a href="http://technorati.com/claim/4ue78ksuj9" rel="me">Technorati Profile</a>


...Saya telah membaca kiriman e-mail dari kawan-kawan. ...  Saat ini saya fokus di dua desa di Tengger yang masuk dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, yakni Desa Wonokerto dan Desa Ngadas. ...  Keduanya saya jadikan situs penelitian, karena keduanya memiliki karakteristik yang menarik.   Di Desa Ngadas inilah koordinator Dukun Tengger tinggal, sementara di Desa Wonokerto terdapat &ldquo;orang Tengger&rdquo; yang telah menganut Islam.   Saat ini Islam memang telah menjamah sebagian desa Tengger, namun Wonokerto adalah &ldquo;desa Islam&rdquo; yang letaknya paling tinggi dan berbatasan langsung dengan desa-desa Tengger di dataran atas.


Karena orang-orang di Wonokerto ini memeluk Islam, maka Desa Ngadirejo yang berada di bawah Wonokerto dinyatakan sebagai Desa Putus oleh orang-orang Tengger di atas Wonokerto.   Menurut orang-orang Tengger di desa-desa atas, gara-gara Wonokerto memeluk Islam inilah desa Ngadirejo dan desa Ngadas tidak dapat melaksanakan Upacara Karo.<a name="call1" href="#ref1">[1]</a>  Baca selanjutnya>>]]></content:encoded></item><item><title>Literasi&#x2c; Properti&#x2c; Jatidiri</title><dc:creator></dc:creator><category>ESSAY</category><dc:date>2006-05-22T13:15:35+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Literasi_Properti_Jatidiri.php#unique-entry-id-115</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Literasi_Properti_Jatidiri.php#unique-entry-id-115</guid><content:encoded><![CDATA[Tapi soal pengkelasan tenaga kerja dalam konteks ini tidak harus semata mengacu pada model formasi sosial sebuah masyarakat, melainkan terutama pada aspek-aspek yang menentukan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi mungkin, bukan slogan kosong setiap rezim pemerintah yang baru berkuasa. ...  Apa yang bisa diharapkan dari sebuah sistem pendidikan yang sebagian cukup besar bangunan fisik sekolah dasarnya lebih menyerupai "kandang ayam", seperti pernah diungkapkan dalam puisi seorang profesor ahli pendidikan kita?


Sofie Dewayani, penulis cerita untuk anak-anak dan remaja yang kini tengah menempuh program master di sebuah universitas di Amerika, melukiskan kondisi di atas dalam kalimat-kalimat berikut:


...Sekolahnya yang menyendiri di pinggiran sawah di pelosok kota kecil Krian terasa gerah, bukan karena jalan batu di depannya berdebu, namun karena anak-anak duduk berdesakan, tiga-empat orang, berbagi satu bangku, satu buku, dan juga keringat yang bau. 

...Menulis dan membaca pasti bukan sekedar sebuah jenis keterampilan baru, karena ia juga telah menjadi sebuah nilai, norma yang dengan mengingkarinya berarti kita telah melakukan kesalahan fatal. ...  Harapan untuk bisa melecut punggung budak jajahan agar setapak lebih maju, segunung beban yang tidak jelas benar relevansinya bagi hidup sejumlah orang selain bahwa ia telah menjadi sebuah proyek negara. 

...Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini dibagi-bagikan dengan kemasan &lsquo;kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.&rsquo; 

...Bukan hanya karena kalimat-kalimatnya demikian fasih membunyikan isi pikirannya, tapi juga karena tulisannya kembali menegaskan satu soal fundamental dalam politik kita: pendidikan yang tidak pernah jelas relevansinya bagi hidup orang yang menempuhnya. ]]></content:encoded></item><item><title>Mengenang Pram dalam Blogosphere</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-05-02T04:15:19+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Mengenang_Pram_dalam_Blogosphere.php#unique-entry-id-114</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Mengenang_Pram_dalam_Blogosphere.php#unique-entry-id-114</guid><content:encoded><![CDATA[Pram ternyata bukan hanya sebuah nama yang menjulang tinggi jauh di cakrawala, melainkan juga sosok pribadi yang sangat mudah diakrabi.   Ia bukan seniman yang bersinggasana di awan dan dari sana menorehkan karya-karyanya, melainkan orang kebanyakan yang sehari-harinya, sekurang-kurangnya pada sisa umur di hari tuanya, begitu peduli bahkan pada soal membakar sampah. 

...Cerita lengkap tentang kenangannya pada sosok Pram memperlihatkan bahwa ternyata ia, seperti warga Interseksi yang lain, juga pernah menaruh perhatian cukup besar pada perdebatan gagasan-gagasan kebudayaan di Indonesia.   Ia membaca silang gagasan antara kelompok yang menamakan dirinya Manikebuis (Manifesto Kebudayaan) dengan kelompok LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bahkan sebelum ia membaca karya-karya Pram. 


...Seperti Philips, kebetulan ia juga sempat mengenal Pram sebagai sosok pribadi di rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. 

...Dalam salah satu kunjungan ke rumahnya, saya sempat membuka-buka sebuah buku tamu yang ada di ruang tamu rumahnya. ...  Ini adalah sebuah pelajaran sangat penting bagi saya: bahwa hubungan personal tidak patut diputus bahkan dengan orang yang secara politik dan ideologis bermusuhan.<br>


Kami yakin masih banyak orang yang, dalam caranya sendiri, menanamkan Pram dalam keping kenangannya agar kepergiannya tidak menguap begitu saja dari sisi personal masing-masing orang. ]]></content:encoded></item><item><title>Pramoedya Ananta Toer</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-05-01T22:50:52+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Pramoedya_Ananta_Toer.php#unique-entry-id-113</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Pramoedya_Ananta_Toer.php#unique-entry-id-113</guid><content:encoded><![CDATA[Di majalah Prisma yang terbit rutin di tahun 1970-an dan 1980-an kita bisa baca tulisan-tulisan dari Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Mochtar Pabottingi, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid dan banyak tokoh lain saat mereka berusia sekitar akhir 20-an atau pertengahan 30-an.


Tulisan panjang mengenai polemik Manikebu itu saya temukan di dalam rubrik Selingan majalah Tempo edisi lama, yang saya beli di Cikapundung.   Bagi seorang mahasiswa seperti saya, yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru, membaca polemik Manikebu sangat memberi inspirasi dan membuka mata betapa keringnya rezim Orde Baru yang mengharamkan pertarungan ide-ide. 

...Mungkin semangat perlawanan itu yang menjadi alasan Kejaksaan Agung di masa Orde Baru melarang peredaran empat buku novel tetralogi: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.


Melalui tetralogi, Pram berkisah mengenai semangat perlawanan kaum muda melawan kolonialisme di bumi Nusantara, lewat tokoh Minke, seorang pemuda Jawa berpandangan maju di zamannya, dan juga melalui tokoh Mas Marco dan Tjokro. 

...Sementara Mas Marco dan Tjokro, dalam novel Pram itu, tampak merujuk pada Marco dan Tjokroaminoto dan organisasi Sarekat Islam, yang merupakan dua tokoh dan organisasi penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia yang menghancurkan kolonialisme Belanda.


...Jauh sebelum wawancara Pram itu, suatu hari di Palasari seorang penjual buku berbisik pada saya yang masih duduk di semester-semester awal kuliah: &ldquo;Dik, mau nggak nih ada buku yang barusan dilarang Kejaksaan&rdquo;. 

...Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri.
]]></content:encoded></item><item><title>Multiculturalism and Development Policies in Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>NEWS</category><dc:date>2006-04-28T16:08:42+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Multiculturalism_and_Development_Policies_in_Indonesia.php#unique-entry-id-112</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Multiculturalism_and_Development_Policies_in_Indonesia.php#unique-entry-id-112</guid><content:encoded><![CDATA[Pada tgl.   22 April 2006, Lafadl Institute, sebuah LSM di Yogyakarta, bekerjasama dengan Yayasan Desantara Institute for Cultural Studies, dan Yayasan Interseksi mengadakan sebuah diskusi kecil dengan topik multikulturalisme dan kebijakan pembangunan di Indonesia.   Diselenggarakan di kantor Lafadl, diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah intelektual muda Yogyakarta yang memiliki perhatian pada kebudayaan dan isu-isu politik.   Heru Prasetia menurunkan laporannya untuk kita>>


On April 22nd, 2006, Lafadl Institute, a Yogyakarta-based NGO, in cooperation with Desantara Institute for Cultural Studies, and the Interseksi Foundation organized a small discussion on the topic of multiculturalism and the development Policies in Indonesia.   Covened in Lafadl's office building, the discussion was attended by a number of young Yogyanese intellectuals who have concern with culture and political issues.    Report on the discussion is written for us here by Heru Prasetia>>]]></content:encoded></item><item><title>Protes Petani Pati</title><dc:creator></dc:creator><category>CAMPAIGN</category><dc:date>2006-03-13T15:55:48+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Protes_Petani_Pati.php#unique-entry-id-111</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Protes_Petani_Pati.php#unique-entry-id-111</guid><content:encoded><![CDATA[Di tengah alun-alun itu juga dipasang panggung besar untuk memberi tempat bagi peserta yang ingin melakukan orasi. ...  Jauh sebelum aacara dimuali panitia dari SPP (Serikat Petani Pati) telah mengontak Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk disertakan tampil menghibur gratis petani peserta aksi. 

...Diantara petani peserta aksi itu, petani Sukolilo terlihat paling besar jumlahnya, dan mereka tampak paling bersemangat.   Secara bergelombang mereka memadati alun-alun Pati, merembet dari arah selatan,  tidak kurang dari empat puluh truk.  ...  Ngardi,  lurah dari desa Baturejo, kecamatan Sukolilo, sehari sebelum acara dimulai bahkan sudah berkeliling ke seluruh desanya.   Sambil membawa mobil pribadinya, ia  berkeliling melakukan woro-woro agar seluruh warganya terlibat aktif dengan aksi ini.  


...Di dalam kondisi desa yang semula dianggap &ldquo;adem ayem&rdquo;, tiba-tiba menggelegar suara penderitaan, dan ajakan untuk melakukan aksi bersama. ...  Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah saya untuk terus mencari pengetahuan sejauh mungkin mengenai dinamika petani yang kini bergolak. ]]></content:encoded></item><item><title>Surat dari Seorang Pembaca</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-03-17T11:10:32+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Surat_dari_Seorang_Pembaca.php#unique-entry-id-110</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Surat_dari_Seorang_Pembaca.php#unique-entry-id-110</guid><content:encoded><![CDATA[Bagi saya, buku Hak Minoritas adalah yang terbaik yang pernah saya baca mengenai masyarakat alam di negara ini.   Membesarkan hati mengetahui bahwa para penulisnya, meskipun masih muda, sudah terbuka pikirannya tentang masalah mereka dan lebih berani mengedepankan ancaman terhadap mereka, yaitu agama-agama modern yang tentu saja bertentangan dengan keyakinan yang mereka alami.   Bukannya saya tidak menyadari bahwa mereka semua sedang dalam proses dimusnahkan, namun sangat disayangkan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki yang hanya ada di unida mereka akan turut lenyap.   Dari yang katanya penegak hukum, pembuat hukum, para pembela rakyat, penguasa, pengusaha bahkan ke presiden kita rata-rata buta ekologi, apalagi ekologi dalamnya.   Belum apa-apa seseorang sudah lemas membayangkan bahwa untuk membela masyarakat alam (holistik dan adat) dia harus berhadapan dengan hampir seluruh lapisan masyarakat kota dan kampung yang sudah modern.<br><br>


...Bila Pak Hikmat ada diskusi lagi dengan teman-teman, tentu saya juga ingin hadir, tapi saya tidak memakai email. 

...Mewakili para penulisnya, saya juga ingin menyampaikan penghargaan tinggi atas apresiasi Ibu terhadap apa yang sudah kami kerjakan. ...  Masalah Hak-hak komunitas minoritas di Indonesia, terutama saudara-saudara kita yang biasa disebut komunitas lokal, itu memang merupakan salah satu fokus perhatian kami di Yayasan Interseksi. ]]></content:encoded></item><item><title>Kekerasan Kembali Menghantam Kita di Ujung Tahun</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-12-16T16:48:26+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Kekerasan_Kembali_Menghantam_Kita_di_Ujung_Tahun.php#unique-entry-id-109</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Kekerasan_Kembali_Menghantam_Kita_di_Ujung_Tahun.php#unique-entry-id-109</guid><content:encoded><![CDATA[Seorang wartawan di sebuah surat kabar yang sangat dihormati di Indonesia, karena dianggap merupakan salah satu cagar kekuatan moral dan intelektual bangsa, itu disergap oleh beberapa orang anggota SATPAM, disekap, dan diinterogasi hanya karena ia menyebarluaskan protesnya terhadap elit-elit pimpinan Kompas. 


Pemecatan tentu saja merupakan bagian dari konflik dalam hubungan industrial yang biasa terjadi di perusahaan mana pun.   Kita bisa mempercayakan solusi untuk masalah tersebut pada perundingan-perundingan yang   lazim ditempuh untuk menyelesaikan kasus seperti itu. 


...Kalau apa yang dituturkan Wisudo dalam kronologi peristiwa penangkapan dan pemecatannya itu benar adanya, Kompas telah melakukan sebuah tindak kekerasan yang benar-benar menyakitkan secara harfiah, dan sangat mencemaskan secara politik karena itu berarti selalu ada upaya pengerahan kekuatan koersif untuk membungkam. ...  Kita masih harus menunggu apakah yang terjadi adalah benar sebuah praktek kekerasan atau sebuah justa semata--satu bentuk kekerasan yang lain sebenarnya. 

...Sampai beberapa bulan yang lalu, hampir setiap pekan kita mendengar kabar tentang tindakan dan ancaman kekerasan oleh beberapa kelompok massa kepada kelompok lainnya. 

...Bisa dibayangkan berapa jarak epistemologis yang dilompati logika mereka untuk sampai pada kesimpulan bahwa orang yang mendiskusikan Marxisme identik dengan pewarta komunisme.   Lebih sewindu Orde Baru runtuh, tapi tabiat busuknya terus beranak pinak di hati dan pikiran sebagian warga kita, seperti gelembung-gelembung nafsu angkara Rahwana terus menelikung kesadaran masyarakat dan para pemimpin dalam alam Ramayana. ]]></content:encoded></item><item><title>Interseksi Pindah Kantor Baru</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2006-12-24T17:18:41+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Interseksi_Pindah_Kantor_Baru.php#unique-entry-id-108</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Interseksi_Pindah_Kantor_Baru.php#unique-entry-id-108</guid><content:encoded><![CDATA[Tapi karena kami masih harus membenahi banyak hal, seperti biasa orang pindah alamat, dalam beberapa hari ke depan pasti masih banyak hal yang belum berlangsung normal seperti biasa. 

...Tapi seperti kita tahu, di Jakarta bukan hal mudah untuk menemukan lokasi yang cukup bagus dengan harga sewa yang terjangkau oleh lembaga kecil seperti Interseksi. ...  Kami bisa menemukan sebuah rumah di jalan raya Depok-Pasar Minggu, masih di daerah Jakarta Selatan, dengan halaman yang cukup luas dan teduh, dan ditumbuhi pohon-pohon besar dan  rindang. 

...Di rumah yang cukup besar itu kami tidak sendirian, karena ada kantor lain yang menempati ruang lebih kecil di sebelah ruang yang dipakai untuk kantor Interseksi. 

...Karena tempatnya cukup nyaman, ada kemungkinan Agenda Diskusi Bulanan kami, yang selama ini diadakan di Bukafe, itu nanti akan dilakukan secara bergantian dengan ruang di kantor baru ini. ...  Sebab tidak berapa jauh dari lokasi kantor kami yang baru, ada beberapa perguruan tinggi terkenal di Jakarta: UI, Universitas Panca Sila, IISIP, Universitas Guna Dharma, dll. 

...Tapi itu lebih karena jatuh tempo sewa di kantor lama memang persis di akhir bulan desember tahun ini.   Kalau pun kebetulan seperti ini ada gunanya, kami hanya berharap agar di tahun yang baru nanti teman-teman warga komunitas Interseksi (sekarang sudah meluas karena ditambah komunitas peserta diskusi bulanan di Bukafe) bisa mendapat semangat baru untuk lebih keras bekerja. 
]]></content:encoded></item><item><title>Selamat untuk Pak Achmad Fedyani Syaifuddin</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-01-25T21:48:56+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Selamat_untuk_Pak_%20Achmad_Fedyani_Syaifuddin.php#unique-entry-id-107</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Selamat_untuk_Pak_%20Achmad_Fedyani_Syaifuddin.php#unique-entry-id-107</guid><content:encoded><![CDATA[Harian Kompas memberitakan bahwa pada hari Rabu (21 Januari 2007), Dr.   Fedyani Syaifuddin telah dikukuhkan sebagai Guru Besa FISIP UI.   Orasinya berjudul Kemiskinan di Indonesia: Realitas di Balik Angka. 


...Achmad Fedyani Saifudin bukan nama asing bagi Yayasan Interseksi, terutama setelah beliau menulis review tentang buku Hak Minoritas.   Dilema Mulitikulturalisme di Indonesia yang kami terbitkan akhir tahun 2005 yang lalu, dan setelah beliau menjadi salah seorang pembicara dalam diskusi bulanan kami pada tgl. 

...Seluruh warga Interseksi menyampaikan selamat atas pengukuhan tersebut, dan berharap agar Dr.   Syaifuddin senantiasa sukses dan semakin produktif berkarya dan mendidik bangsa.   Meskipun pasti akan makin bertambah kesibukan hariannya, tapi mudah-mudahan juga beliau masih berkenan kalau suatu saat diundang lagi ke forum diskusi bulanan Interseksi.]]></content:encoded></item><item><title>Banjir Jakarta dan A Tower of Bable</title><dc:creator></dc:creator><category>COMMUNITY BLOG</category><dc:date>2007-02-08T14:53:49+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Banjir_Jakarta_dan_A_Tower_of_Bable.php#unique-entry-id-106</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Banjir_Jakarta_dan_A_Tower_of_Bable.php#unique-entry-id-106</guid><content:encoded><![CDATA[Paling tidak masih jauh lebih banyak orang baik hadir setiap hari di tengah-tengah kehidupan kita yang nyata, daripada apa yang kita dapat dari gambaran tentang buruknya reputasi pejabat-pejabat publik kita. 

...Persisnya, itu adalah ucapan Aburizal Bakrie, orang yang jabatannya mengalami demosi dari Menko Perekonomian (ketika menepis keberatan orang terhadap kenaikan LPG) menjadi Menko Kesra saat ini.  


Dari pernyataan itu kita bisa melihat betapa tidak nyambungnya antara apa yang sedang dialami oleh rakyat dengan pemahaman seorang Menko Kesra, yang tugasnya justru untuk mengurusi kesejahteraan rakyat.   Bagi rakyat yang sedang menderita akibat banjir tahun ini, keluhan mereka seperti terus-menerus membentur tembok keras, karena begitu susahnya seorang pejabat seperti Ical memahami apa yang disuarakan mereka.   Indonesia jadi seperti apa yang dalam Genesis dilukiskan sebagai a tower of bable,  antara rakyat dan pemerintahnya seperti bicara dalam bahasanya sendiri-sendiri sehingga tidak pernah bisa saling memahami.   Kalau negara kita bayangkan sebagai sebuah penyelenggaran politik untuk mencapai kesejahteraan, seperti menara yang dibangun untuk mencapai syurga dalam kisah biblikal, pernyataan Ical tadi merefleksikan kenyataan bahwa penyelenggaraan politik itu justru bisa melahirkan frustasi karena antara bahasa yang dipakai oleh rakyat dan pemerintah tidak berada pada semesta pemaknaan yang sama.    Duo monolog seperti itu hanya mungkin terjadi akibat dua kemungkinan: atau rakyat yang keliru memilih pemimpin atau si pemimpin yang kian hari kian bebal seperti tembok.   Waktu rakyat Amerika kecewa pada Clinton akibat skandal seksualnya dengan Monica Lewinsky mereka berkesimpulan bahwa "Clinton memang presiden kita, tapi ia jelas bukanlah pemimpin kita". ]]></content:encoded></item><item><title>Batas Akhir Penyerahan Makalah Forum Interseksi 2008</title><dc:creator></dc:creator><category>FORUM INTERSEKSI</category><dc:date>2008-05-23T21:06:59+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Batas_Akhir_Penyerahan_Makalah_Forum_Interseksi_2008.php#unique-entry-id-103</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Batas_Akhir_Penyerahan_Makalah_Forum_Interseksi_2008.php#unique-entry-id-103</guid><content:encoded><![CDATA[Setelah mengalami penundaan dari rencana semula tgl.   15-17 Maret 2008, Forum Interseksi 2008 positif akan dilaksanakan pada tgl. ...  Sebagai konsekwensi dari penundaan tersebut, tgl. batas akhir penyerahan makalah juga mengalami pengunduran dari semula tgl. ...  Semua calon peserta yang telah menyerahkan abstrak makalahnya diharapkan dapat mengirimkan makalah lengkapnya sebelum atau selambat-lambatnya pada tgl. 

...Panitia juga masih membuka kesempatan kepada Anda yang tertarik mengikuti Forum Interseksi 2008 tapi belum menyerahkan abstrak makalah untuk langsung menyerahkan makalah lengkap pada tanggal tersebut di atas.   Keputusan tentang calon peserta yang makalahnya lolos seleksi untuk jadi peserta Forum Interseksi akan diumumkan pada tgl. ...  Karena itu, semakin cepat Anda mengirimkan makalah, semakin besar kemungkinan panitia bisa memeriksa makalah Anda secara lebih teliti. 


Untuk informasi lebih lengkap tentang Forum Interseksi 2008, silakan browsing di halaman Forum Interseksi 2008.
]]></content:encoded></item><item><title>Siaran Pers Front Pembebasan Nasional Menentang Kenaikan Harga BBM</title><dc:creator></dc:creator><category>PRESS RELEASE</category><dc:date>2008-05-20T23:59:55+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Front_Pembebasan_Nasional_Menentang_Kenaikan_Harga_BBM.php#unique-entry-id-102</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Siaran_Pers_Front_Pembebasan_Nasional_Menentang_Kenaikan_Harga_BBM.php#unique-entry-id-102</guid><content:encoded><![CDATA[<div align=center></div>


Dalam beberapa hari ke depan, rakyat Indonesia kembali harus menanggung beban penderitaan yang sangat berat.   Sejak berkuasa tahun 2004 yang lalu, pemerintahan SBY-JK untuk ketiga kalinya kembali akan menaikan harga BBM dengan alasan yang itu-itu juga.   Beberapa lembaga masyarakat sipil di Indonesia yang teragabung dalam Front Pembebasan Nasional (FBN), seperti seluruh rakyat miskin Indonesia, menolak tegas kebijakan tersebut.   Berikut adalah siaran persnya yang diterima Interseksi.org.   Naskah lengkapnya bisa dilihat di sini (PDF) dan di sini (HTML).]]></content:encoded></item><item><title>Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial di Indonesia</title><dc:creator></dc:creator><category>MONTHLY DISCUSSION</category><dc:date>2008-05-22T11:39:18+07:00</dc:date><link>http://interseksi.org/news/files/Refleksi_Atas_Agenda_dan_Strategi_Politik_Gerakan_Sosial_di_Indonesia.php#unique-entry-id-101</link><guid isPermaLink="true">http://interseksi.org/news/files/Refleksi_Atas_Agenda_dan_Strategi_Politik_Gerakan_Sosial_di_Indonesia.php#unique-entry-id-101</guid><content:encoded><![CDATA[<li>Tema: Refleksi Atas Agenda dan Strategi Politik Gerakan Sosial


<li>Pembicara: Sapei Rusin (Ketua Badan Pelaksana Perkumpulan Pergerakan, Bandung)


...&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Email: office [at] interseksi [dot] org; interseksi [at] gmail [dot] com</ul>


...Gerakan sosial (social movement) adalah salah satu terminologi yang paling banyak dibicarakan dalam khasanah teori-teori sosial modern.   Tapi tidak banyak yang sadar bahwa konteks dan karakter gerakan sosial di Indonesia telah, sedang dan terus akan berubah.   Selain perubahan konteks dan karakter gerakan, penting untuk dikaji bagaimana massa  rakyat menghadapi pagelaran kuasa, dan bagaimana (sebagian) eksponen utama dan pendukung gerakan-gerakan rakyat tersebut menafsirkannya, menghadapi kesempatan politik yang tersedia dan merumuskan tantangan-tantangan utama y