Sahabat Jenaka Itu Sudah Pergi


berduka


Gus Dur telah meninggalkan kita selamanya, rabu 30 desember 2009. Bumi berduka, langit kelam dan udara basah oleh hujan. Konon, detik ketika Bhisma menghembuskan nafasnya yang penghabisan, dewa-dewa mematung khidmat, dan para bidadari serempak turun dari swarga loka menaburkan kesturi. Gus Dur bukan Bhisma yang memilih menampik tahta dan kesenangan, dan bisa memilih sendiri waktu kematiannya. Gus Dur adalah hidup yang gembira untuk melawan duka yang ditimpakan oleh hidup yang bengis. Ia telah menghabiskan seluruh umurnya untuk mengajari kita menyongsong hidup selalu dengan harapan dan keriangan. Bahkan ketika pintu demokrasi dikunci, dan politik dikonversi menjadi ketaklidan. Ia memberi contoh tentang keberanian menggusur yang jumud, membongkar yang mapan. Meskipun periang dan mampu membuat banyak orang meledak dalam kegembiraan, ia tidak ngotot minta disukai semua orang. Ia bisa menerima dicintai tapi juga bisa ikhlas dibenci. Karena itu kematiannya membekaskan nganga besar di hati jutaan manusia.

Gus Dur memang pantas dikenang. Kami berduka sepenuh-penuhnya tentu saja, tapi kami akan terus menghadapi hidup dengan gembira, dan berani seperti yang telah kau ajarkan.

Selamat jalan sahabat!

©THE INTERSEKSI FOUNDATION 2007. Contact Us