KeIndonesiaan, modernitas
Dari Diskusi KeIndonesiaan dan Modernitas
August 17, 2008/ 10:35 | Filed in: REPORT

Tanggal 25 Juli 2008 yang lalu, Interseksi mengadakan diskusi terbatas bulanan dengan tema keIndonesiaan dan Modernitas dengan pembicara Agung Ayu Ratih dari Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI). Sambil mengenang Hari Kemerdekaan Indonesia ke-63 yang baru saja lewat, kami rangkumkan untuk Anda beberapa nukilan dari pemikiran Ayu Ratih dan beberapa peserta dalam diskusi tersebut.
Ayu Ratih memulai perbincangannya dengan sekilas cerita tentang latar belakang mengapa ia tertarik menekuni tema tentang keIndonesiaan dan modernitas. Sebagai orang yang lahir dari latar belakang keluarga yang berasal dari campuran berbagai etnik bahkan ras, ia sering mendapat pertanyaan tentang siapa dirinya sesungguhnya; apakah dia orang Bali, orang Jawa atau siapa? Terhadap pertanyaan seperti itu Ratih biasanya menjawab "bukan, saya orang Indonesia". Ini mungkin memberi kita sedikit gambaran tentang tarik tolak identitas yang hampir umum dialami oleh orang dengan latarbelakang keluarga seperti Ratih.
"Menjadi Indonesia", dengan demikian, sebagiannya adalah proses bagaimana seseorang menetapkan pilihan yang paling masuk akal di antara pilihan-pilihan asosiasi berlandaskan puak, etnik, ras. Indonesia bukanlah sebuah identitas yang sudah langsung jadi dan asli. Ke dalamnya ia melibatkan momen-momen pengingkaran masa lalu dan sebuah utopia tentang masa depan. Sukarno dan sederet panjang para pendiri republik ini mungkin melihat Indonesia lebih sebagai sebuah panggilan untuk melawan bukan hanya kuasa kolonialisme dan imperialisme tapi juga selubung mitos yang membuat banyak orang merasa nyaman dengan masa silam, tenteram dalam buaian satuan-satuan komunal. Revolusi Indonesia selalu diibaratkan Sukarno sebagai sebuah gelombang yang menggelora, menabrak banyak hal, bukan lautan teduh yang tenang tapi membosankan.
[Baca selanjutnya...]
Diskusi Bulanan: KeIndonesiaan dan Modernitas
July 20, 2008/ 08:54 | Filed in: MONTHLY DISCUSSION

"Di Timur matari mulai bercahya, bangun dan berdiri kawan semua. Marilah mengatur barisan kita. Pemuda-pemudi Indonesia".
Wage Rudolf Supratman
Wage Rudolf Supratman
Di balik orang ramai membicarakan kebangkitan kembali Indonesia belakangan ini, kita seperti melihat frustasi hari ini yang bercampur begitu saja dengan sekepalan harapan untuk hari nanti. Dalam pusaran labirin keputusasaan itu, kita seperti sedang melihat satu larik saja cahaya yang memberi kita keyakinan bahwa di ujung sana masih ada terang, yang sumbernya justru dari masa lalu yang belum terlampau jauh betul. Indonesia kita bayangkan seperti sebuah sosok yang tidak lagi bediri tegak, terhampar oleh berton-ton persoalan. Karena itu ada ajakan untuk bangkit kembali, untuk mengatur barisan, agar kita melangkah lebih tegap, padu-padan sehaluan.
Indonesia adalah sebuah konsep modern. Ia sebenarnya tak punya jejak-jejak pra sejarah. Tapi, dari masa ke masa selalu muncul pandangan-pandangan yang mencoba menarik jauh mundur Indonesia ke jaman pra-Indonesia demi kepentingan politik persatuan. Berhadapan dengan pandangan mistis ini adalah dua kecenderungan yang pernah beradu pendapat dalam "polemik kebudayaan" antara mereka yang mencoba merumuskan keindonesiaan dengan melacak unsur-unsur kebudayaan yang menghidupi dan dihidupi masyarakat kebanyakan dengan yang melihat 'barat' sebagai acuan kemajuan sehingga diperlukan percepatan untuk mengejar ketinggalan berabad-abad.
Perdebatan yang sampai hari ini belum selesai sering disederhanakan sebagai pertentangan antara 'barat-timur' atau 'tradisi-modernitas', sementara sisi-sisi yang lebih kompleks dari perdebatan ini, misalnya perlawanan terhadap feodalisme, kebimbangan dalam menyikapi kolonialisme, atau keengganan untuk mempersoalkan struktur kelas, jarang disentuh. Padahal, dari kompleksitas inilah lahir satu konsep yang boleh dikatakan 'organik' Indonesia, yaitu 'kerakyatan' meskipun kata 'rakyat' itu sendiri berasal dari Arab. Seperti apa itu gagasan tentang 'kerakyatan' ramai diperbincangkan, terutama di kalangan seniman dan intelektual kiri, sejak 1950an, tapi sebelum ia berkembang lebih luas sudah terlibas oleh tragedi 1965 bersama dengan penumpasan para pekerja kebudayaan yang menyumbangkan pikiran dan karya bagi terumuskannya konsep 'kerakyatan'.
Untuk mendiskusikan hal tersebut secara lebih kritis, hari Jum'at tgl. 25 Juli 2008 kami mengundang Gung Ayu Ratih, peneliti pada Institut Sejarah Sosial Indonesia, untuk jadi pembicara dalam Diskusi Bulanan Yayasan Interseksi putaran ke-21. Seperti biasa, diskusi akan dilaksanakan di kantor Yayasan Interseksi, dan dimulai pada jam 15.00 waktu Jakarta Selatan sampai selesai. Keterbatasan ruang menyebabkan diskusi bulanan Interseksi hanya bisa diikuti oleh jumlah peserta yang sangat terbatas. Karena itu, pastikan kehadiran Anda melalui 021-7820444 (pada jam kerja), atau melalui surat elektronik pada interseksi[at]gmail[dot]com.