Pemutaran Film, Diskusi Publik, kritik film dokumenter
Laporan Peluncuran dan Diskusi Film To Mompalivu Bure
April 22, 2008/ 20:06 | Filed in: REPORT
LAPORAN





Meskipun jelas bahwa film ini banyak didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya, yang dimuat dalam buku Hak Minoritas. Dilema Multikulturalisme di Indonesia terbitan Yayasan Interseksi, tapi film ini berhasil tampil sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri. Ia bukan hanya pendamping bagi narasi tekstual dalam buku tadi, melainkan menjadi teks yang berbicara dengan pesannya sendiri.
Lebih lanjut, Suma Riella Rusdiarti menilai film “To Mompalivu Bure” telah berhasil menghadirkan narasi visual yang menarik. Gambar-gambar mengenai setting geografis Orang Wana ditampilkan dengan menawan, disertai dukungan narasi audio yang berusaha mengantar imajinasi penonton kepada kondisi rill yang mungkin dirasakan seorang yang baru pertama kali berkunjung ke sana. Akan tetapi, narasi audio atau teks yang tidak tepat akan membuat sebuah film gagal mendekatkan imajinasi penonton terhadap hal-hal yang tidak mungkin terrepresentasikan dalam gambar. Problem ini serinmenghinggapi jenis film dokumenter seperti film “To Mompalivu Bure” ini. Berbeda dengan jenis film lainnya, fungsi narasi audio atau teks dalam jenis film dokumenter menjadi begitu penting karena lewat inilah pesan yang hendak disampaikan sebuah film akan berhasil ditangkap atau tidak oleh penonton.
Kritik Reilla pada To Mompalivu Bure adalah tentang adanya kecenderungan terlalu banyaknya pesan yang ingin disampaikan. Alih-alih memilih fokus pada satu tema tertentu secara tajam, film ini terkesan hanya menampilkan banyak fragmen yang kurang dalam penggarapannya. Reilla memberi contoh sebuah film dokumenter lain tentang komunitas ToWana, Indo Pino, yang dibuat oleh pasangan Martina dan Gerard dari Prancis, yang secara terfokus mampu menampilkan isu tentang metode pengobatan tradisional orang Wana dan pertanyaan yang muncul ketika tokoh waliya yang biasa mengobati orang itu terserang sakit.
Pembicara selanjutnya adalah Jabbar Lahadji dari Sahabat Morowali, sebuah LSM yang telah sejak lama beraktifitas dalam isu-isu yang menyangkut Orang Wana. Menurut Jabbar, secara keseluruhan film To Mompalivu Bure ini telah berhasil merekam dinamika kehidupanOrang Wana dalam mempertahankan eksistensi hidup mereka. Meski demikian, Jabbar menekankan bahwa Orang Wana bukan hanya mereka yang berhasil ditampilkan dalam film “To Mompalivu Bure” itu. Di luar itu, masih banyak cerita megenai kehidupan Orang Wana yang belum diketehui oleh dunia luar. Orang-orang Wana yang tinggal di gunung, demikian kata Jabbar, relatif belum tersentuh pengaruh ‘kehidupan modern’.
Yang sangat disayangkan adalah kondisi tempat pemutaran film dan diskusi tersebut. Seting ruangannya bisa dibilang tidak cocok untuk pemutaran film: sebuah ruangan berdinding kaca, dan ditutup dengan kain berwarna putih sehingga seluruh cahaya matahari dari luar masuk ke dalam ruangan. Akibatnya, film yang ditampilkan dalam layar melalui proyektor langsung terkena cahaya matahari dari luar ruangan, dan mengakibatkan tampilan di layar sangat kabur.
Masalah lain, aliran listrik yang mendadak terputus. Pemilik tempat ternyata tidak memiliki generator cadangan yang cukup untuk kondisi seperti itu. Akibatnya, selain ruangan terasa sangat panas, pemutaran film juga berkali-kali terputus oleh mati-hidupnya listrik dari generator cadangan. Baru menjelang sore hari listrik menyala kembali. Meskipun demikian, ternyata masih cukup banyak peserta yang tetap bertahan dalam kondisi seperti itu. Acara berlangsung sampai sekitar pukul 17 sore.
LINKS TERKAIT
- Liputan pada KompasTV
- To Mompalivu Bure: A Synopsis
- Public Discussion and Fim Screening
- Diskusi Preview Film Dokumenter tentang Komunitas Wana
- Dari Workshop Hasil Riset Audio-visual tentang Komunitas Wana
- Workshop Hasil Riset Audio-visual tentang Komunitas Wana
- Masyarakat Wana dan Kearifan Lingkungan
- Dari Workshop Pra-riset Audio-visual tentang Komunitas Wana
- Penelitian Audio-visual tentang Komunitas Wana