FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

To Mompalivu Bure, Documentary film, historical encounter

To Mompalivu Bure: A Synopsis

ENGLISH

Logo Interseksi

To Mompalivu Bure is a documentary video based on an audio-visual research in Wana community in Morowali Nature Reservation Park, Central Sulawesi. It sketches out the dynamics of Wana People community--they call themselves as Ta' Tribe--who are facing challenges brought about through social, cultural and economic contacts with outside environment. Earlier contacts between Wana people and outside world came about mainly through trades. For their daily life, Wana society/ people depend heavily on forest commodities, most notably from collecting rattan and resin. The Wana people simply collect the goods manually and transport it to Marisa, where broker await and later sell the commodities in the nearest market at Kolonedale.

To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various parts of the country. It is a part of our efforts in facilitating renegotiation of the nation with its subaltern sub-nation nations. Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.


The movie shows the differences among Wana people when responding to challenges and changes that occur around them. As Wana people inhabit a vast area in the Nature reservation zone, the film captures only three locations where Wana community resides, namely in Marisa, Kayupoli and Taronggo, with Kayupoli as the remotest among the three. The Wana community who live in Kayupoli sells resin or rattan in Marisa, therefore Marisa can be considered their ‘economic frontier zone’. From Marisa the commodities are then transported and traded in the market in Kolonedale, a sub district town in the district of Morowali. Meanwhile, a story of Toronggo represents intense encounters between the Wana and the modern world, where various institutions, i.e. education facilities, health centers, and religious traits have existed thus play important roles in the daily life of the Wana.

Toronggo settlement also shows the multi dimensions of development project. To some, settlement program is regarded as pulling the Wana people out of their traditional roots. To some others, the program is seen as a window of opportunity for the Wana to experience change and ‘progress’.

The movie shows how Wana people faces or confront resettlement program, with outside ‘agents’ play different and yet significant roles in the process. Other than NGO s (Non Government Organizations) and religious bodies, intellectual and government roles are prominent in shaping the contemporary world of the Wana people. Investors are also play decisive factor which alters the life of the Wana, with oil palm plantation in Taronggo as an icon of their involvement in a wider market economy. As a result the dependency of Wana people with consumption goods which signify modern society is getting bigger.

Based on our previous research conducted in 2005, the movie also tries to illustrate the historical encounter of local community with modern Indonesia and modernity. They respond diversely to it, with each group who live in different locations pose different strategy to meet both external changes and those which resulted from their internal dynamics.

Since 2005 the Interseksi foundation, supported by the Tifa foundation, has conducted research in several local communities in various parts of Indonesian archipelago. The research is mainly aimed find solid ground for the arguments in advocating minority rights and in critically discussing the problematic multiculturalism in Indonesia. To Mompalivu Bure is a part of our efforts to highlight some problematic agenda of the state's development trajectories in dealing with local communities in various parts of the country. It is a part of our efforts in facilitating renegotiation of the nation with its subaltern sub-nation nations. Hopefully the movie will be of some use for the policy maker and people who are concerned with issues of minority rights, particularly those whose main concern is with local communities and local politics.

Jakarta, 10 April 2008

THE INTERSEKSI Foundation

VERSI BAHASA INDONESIA

Logo Interseksi

To Mompalivu Bure adalah sebuah video dokumenter yang didasarkan pada penelitian audio visual di komunitas Wana di lingkungan Cagar Alam Morowali, Sulawesi Tengah. Film ini bercerita tentang dinamika kehidupan Orang Wana--mereka sering menyebut dirinya sebagai Suku Tak--yang berlokasi di Morowali, Sulawesi Tengah. Dinamika yang terjadi pada awalnya didorong oleh adanya kontak-kontak perdagangan antara Orang Wana dengan dunia luar mereka. Berbagai komoditas dari lingkungan hutan cagar alam Morowali adalah sumber penghidupan bagi Orang Wana. Diantara yang paling penting dari komoditas-komoditas itu adalah damar dan rotan, yang dikumpulkan oleh Orang Wana dengan cara-cara sederhana sebelum mereka menjualnya ke pengepul. Para pengepul inilah yang menjual secara langsung berbagai komoditas tadi ke pasar yang paling dekat dengan lingkungan Orang Wana di Kolonedale.

Salah satu sisi yang hendak diperlihatkan oleh film ini adalah keragaman di antara Orang Wana dalam menanggapi kesempatan dan perubahan yang berlangsung di sekitar mereka. Ada tiga lokasi permukiman Orang Wana yang diangkat dalam film ini, yaitu Marisa, Kayupoli, dan Taronggo. Di antara ketiganya, Kayupoli adalah yang paling terpencil. Orang Wana yang tinggal di Kayupoli biasanya menjual damar atau rotan ke Marisa. Dapat dikatakan, Marisa adalah frontier zone bagi Orang Wana, sebelum mereka menjual komoditas-komoditas hasil hutan ke Kolonedale. Sementara itu, cerita mengenai Taronggo merupakan representasi dari perjumpaan Orang Wana dengan dunia modern dalam bentuk yang paling intensif. Di sini, institusi-institusi pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah telah berdiri dan berperan penting dalam dinamika kehidupan sehari-hari Orang Wana.

Lokasi permukiman Orang Wana di Taronggo, selain itu, adalah cotoh untuk melihat sebuah program pembangunan yang disebut “resettlement”. Bagi sebagian kalangan, program seperti ini dianggap akan mencerabut Orang Wana dari akar tradisinya. Bagi sebagian yang lain, program tersebut menyediakan kesempatan bagi Orang Wana untuk berkembang menghadapi perubahan. Film ini menunjukan bagaimana dilemma dari program “resettlement” tersebut dihadapi oleh Orang Wana. Peran yang dimainkan oleh orang luar terhadap proses ini cukup besar. Selain kalangan NGOs (non-government organisations) dan organisasi-organisasi keagamaan, peran kalangan akademisi dan tentu saja pemerintah adalah faktor-faktor yang ikut membentuk dunia Orang Wana. Satu lagi, kalangan pemodal adalah faktor lain yang turut serta mengubah banyak hal dalam dunia Orang Wana. Kehadiran perkebunan sawit di Taronggo, misalnya, telah membawa Orang Wana ke dalam aktifitas ekonomi pasar yang lebih luas. Dari sini, ketergantungan Orang Wana terhadap barang-barang konsumsi yang menjadi tanda masyarakat modern semakin besar.

Secara umum, film ini mencoba mendeskripsikan dinamik sebuah komunitas lokal menghadapi perubahan. Cara mereka menanggapi perubahan ternyata tidak seragam, masing-masing kelompok orang Wana yang tinggal di lokasi berbeda ternyata memiliki strategi yang berbeda ketika harus menghadapi perubahan, baik yang berasal dari luar maupun yang terjadi sebagai konsekuensi dari dinamika internal di dalam komunitas mereka.

Sejak tahun 2005 Yayasan Interseksi, dengan dukungan dari Yayasan Tifa, telah melakukan penelitian di beberapa komunitas lokal di berbagai tempat di kepulauan Indonesia. Penelitian tersebut terutama dimaksudkan untuk mencari landasan yang kuat bagi upaya-upaya advokasi hak-hak minoritas dan usaha mendiskusikan kembali secara kritis problem-problem multikulturalisme di Indonesia. To Mompalivu Bure adalah salah satu bagian dari upaya kami mendiskusikan beberapa agenda problematik dari arah pembangunan yang ditempuh negara terutama dalam kaitannya dengan komunitas-komunitas lokal. Ia adalah bagian dari upaya kami memfasilitasi proses renegosiasi antara bangsa Indonesia sebagai sebuah nation-state dengan bangsa-bangsa subaltern subnasional yang membentuknya. Mudah-mudahan film ini akan berguna bagi para pengambil kebijakan, dan bagi mereka yang menaruh perhatian pada isu-isu hak minoritas, terutama mereka yang perhatian utamanya tertuju pada komunitas lokal dan politik lokal.

Jakarta 10 April 2008

THE INTERSEKSI Foundation

GOODIES



poster backdrop_thumbnail
Click to see larger images