FOR KNOWLEDGE AND HUMANITY   |  

PDL (Pakaian Dinas Lapangan)


Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di komunitas Buda, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat



Di antara hal yang kuingat dalam Workshop Riset Desain I adalah omongan-omongan dari seorang yang menjadi pemateri utama acara yang diselenggarakan di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ia yang jauh datang dari Yogyakarta dengan bersemangat memberikan materi dan membagi pengalaman-pengalamannya. Ilmunya tak setipis buku pengantar, pengalamannya tak sependek cerita sinetron. Ia pembelajar (orang umum menyebutnya dosen) dari Universitas Gajah Mada. Ia yang namanya sudah kukenal sejak kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang, pada malam itu dikenalkan dan memperkenalkan dirinya dengan sebutan Pujo Semedi (tanpa gelar akademis, Dr.). Mas Pujo (pangilan yang lebih dia sukai), pada kesempatan pengantar diskusinya sangat membuka wacana dan informatif, pun dalam diskusi yang berjalan sangat mengalir itu. Bagi peserta workshop yang lain mungkin omongan-omongannya sebatas omongan, tapi bagiku sebagian omongannya adalah instruksi. Di antara instruksi yang aku dengar saat itu adalah masalah pakain di lapangan. "…pakailah celana yang banyak kantongnya, seperti celananya tentara berwarna hijau itu, " kata Mas Pujo di salah satu materi dan berbagi pengalamannya malam itu.

Terus terang, walau aku sudah kenal namanya, tapi aku tidak tahu performanya (berpakaian—salah satunya), sebelum mengikuti workshop yang digelar dalam tiga hari itu. Mendengar ucapannya itu, aku jadi teringat saat pertama kali melihatnya di ruang acara. Ia yang datang lebih dahulu di tempat acara itu, terlihat nyantai dan sepertinya tidak merasa ada hal yang perlu ditakutkan, saat duduk di depan jendela. Ia bersalaman dengan orang-orang yang telah dikenalnya, saat rombongan datang. Karena terlihat seperti peserta istimewa, aku duduk berhadapan dengannya, saat ia sudah selesai dengan sepiring nasi makan siangnya. Sembari memenuhi kebutuhan biologisku, makan siang, aku terus menyimak pembicaraan orang berperforma stylist di depanku. Tak lama berselang, lawan bicaranya memanggil namanya, Mas Pujo. Mendengar namanya disebut seseorang yang dari tadi menyambutnya dengan hangat, aku semakin melihat apa-apa saja yang dia kenakan saat itu. Bersandal seperti yang dipakai pendekar saat berkenala, bercelana seperti yang dipakai tentara saat di medan perang, berkaos seperti para pekerja kasar di tempat produksinya, dan menenteng topi seperti tukang kebun, serta bertas kain berwarna biru seperti murid sekolah tahun 1980-an. Performanya yang stylist itu benar-benar kuingat, apalagi dalam materi workshop ia membicarkan hal penting itu.

Memang benar omongan Mas Pujo tentang pakain di lapangan. Walau tidak semirip yang dia kenakan, tapi aku mengadopsi apa yang dia katakan dan dia kenakan dalam penelitian di Lombok Utara ini. Rasa-rasanya pakaian yang kukenakan sangat membantuku menjadi bagian dari masyarakat. Dalam beberapa kali kesempatan berinteraksi (dalam live-in) dengan masyarakat, baik wawancara, bersosialisasi, maupun mendatangi kantor instansi desa, masyarakat yang semula tidak mengenaliku sepertinya tidak memberikan perhatian khusus kepadaku. Sepertinya, aku dianggap sebagai warga setempat.

Aku di Lombok Utara berusaha memperhatikan lebih detail apa yang kulihat maupun apa yang kurasa harus tahu, temasuk pakaian sehari-hari warga. Dalam keseharian yang sering dilakukan warga, termasuk dalam menanggulangi kerusakan bencana 11 Januari 2009 maupun beraktivitas bersama warga, aku sering mencuri-curi perhatian: melihat pakaian sehari-hari kerja mereka.

Sebagian besar warga Lombok Utara masih berprofesi di bidang pertanian. Dengan melihat pakaian sehari-hari mereka berarti melihat pakaian kerja (pakaian dinas lapangan [PDL]), seperti juga pakaian yang kukenakan mapun pakaian buruh di bidang lain. PDL yang mereka kenakan diperoleh tidak perlu memerlukan sebuah tender yang besar, seperti PDL-nya tentara maupun buruh lainnya. PDL mereka diperoleh tidak perlu melihat iklan maupun brosur yang ditawarkan oleh marketing berkelas. PDL warga yang sering saya lihat adalah celana bahan dengan t-shirt (kaos) yang tak sama. Dari kaos yang mereka kenakan paling tidak ada tiga cara memperolehnya, yakni: membeli, mendapatkan dengan gratis, dan hadiah. Kaos yang dibeli berupa kaos seragam sebuah klub sepakbola, yang biasanya klub sepakbola dari mancanegara. Misalnya Manchester United, Chelsea (Liga Inggris), Juventus, AC Milan (Liga Italia). Selain kaos klub sepakbola, kaos yang didapat dari membeli berupa kaos yang bercorak merk produk terkenal, misalnya; levi's, dan lain-lain. Sedangkan kaos yang diperoleh dari gratis biasanya berupa kaos partai maupun kaos kandidat dalam Pilkada. Dan, kaos yang diperoleh dari hadiah biasanya berupa kaos merek produk tertentu, misalnya mereka sabun, rokok, dan lain-lain.

Pakaian keseharian warga, yang saya temui, sudah jarang yang mengenakan pakian adat. Pakaian adat dalam sebulan live in di Lombok Utara hanya kutemui di dua tempat, pertama di Bayan Timur dan kedua di Kampung Baru. Di Bayan Timur pemakai pakaian adat yang aku lihat adalah pemangku, penjaga rumah adat. Di Kampung Baru yang aku lihat menggunakan pakaian adat adalah pemangku dan mantan pemangku, saat mewancarai mereka. Pakaian keseharian warga yang sudah jarang menggunakan pakaian adat ini sempat membuat kecewa para tamu (turis mancanegara) yang didatangkan oleh sebuah LSM lokal (Perekat Ombara). Kekecewaan yang dirasakan tamu karena mereka membayangkan desa adat (Bentek) masih kuat menjaga tradisi, termasuk dalam hal berpakian. Kekecewaan mereka sebenarnya bisa terobati jika mereka tidak hanya melihat sesaat (dari luar saja) Desa Bentek atau desa lain di Lombok Utara. Pakaian memang dapat mencerminkan siapa penggunanya. Namun kesan luar dengan melihat cara berpakian (tradisional) dengan dihubungkan dengan kuatnya masyarakat dalam menjaga adat rasa-rasanya kurang tepat.

Pakaian adat warga Lombok Utara biasa aku temui pada saat acara nyongkolan, prosesi iring-iringan pengantin dari jalan utama kampung menuju ke tempat pelaminan. Baik laki-laki maupun perempuan, tua-muda maupun anakanak-anak, saudara maupun tetangga mengenakan pakaian adat. Banyak-sedikitnya peserta nyongkolan yang biasanya diiringi musik tradisional (gendang beleg maupun kecimol). Kata sebuah sumber, banyak-sedikitnya peserta mencerminkan bagaimana kehidupan sosial yang mempunyai hajatan. Jika peserta iring-iringan pengantin, baik perkawinan maupun khitanan, banyak maka dapat dikatakan penyelenggara hajatan orang berpengaruh atau dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan baik, dan sebaliknya. Dari sini dapat dikakan, pakaian adat masyarakat bisa dikategorikan menjadi dua: pakaian adat sehari-hari dan bepergian.

Menurut informasi yang kudapatkan, Gendang Beleq berasal dari bahasa Sasak yang artinya gendang besar. Dinas Pariwisata setempat kesenian tradisi ini dijadikan sebagai daya tariki wisatawan, dan bahkan beberapa waktu yang lalu festival gendang beleq sering diselenggarakan. Dalam upacara nyongkolan perkawinan, posisi pengantin perempuan beserta rombongannya berada di depan diikuti rombongan pengantin laki-laki, dan penabuh gendang beleq berada di barisan paling belakang diiukti penari laki-laki berpakaian adat didimoniasi berwarna hitam. Posisi ini tak jauh beda dengan pengantin khitan, tentunya tidak ada mempelai perempuannya. Pakaian adat didominasi warna hitam yang mengiringi penabuh kesenian gendang beleq ini juga tak jauh beda dengan pakaian yang dikenakan oleh penari kesenian kecimol, yang lahir lebih belakangan dan mendapat campuran dari alat-alat musik modern.

Melihat pakaian masyarakat berarti melihat pula pengaruh dunia luar dalam budayanya. Seperti sejarah pakaian pada umumnya, pada awalnya masyarakat berpakaian dengan menggunakan bahan-bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Mungkin hal ini sekarang masih dapat kita temui di suku-suku pedalaman. Pun masyarakat Lombok, sebelum dikenalkannya kain oleh kolonial masyarakat mengenakan pakaian berasal dari bahan-bahan alami di sekitarnya. Kain berbahan kapas mulai masuk ke nusantara pada abad ke-17, yang didatangkan dari Cina dan India. Dari sini, mungkin dapat diperkirakan, kain mulai masuk ke Lombok pada abad ke-18. Masuknya kain di Lombok membawa bentuk lain pakaian masyarakat setempat, apalagi teknologi tenun sudah mereka kenal. Gencarnya produsen tekstil memproduksi dan memasarkan hasil produksinya seperti sekarang ini menjadikan pakaian sehari-hari warga Lombok tidak jauh berbeda dengan warga penduduk lain. Saat salah seoarang mengenakan kaus replika kostum klub sepakbola Manchester United seolah sama dengan suporter Manchester di Inggris.

Sebuah buku hasil pinjaman seorang guru sejarah sebuah Sekolah Menengah Ketrampilan (SMK) di Tanjung berjudul Pakaian Tradisional Daerah Nusa Tenggara Barat (Syaraswati:1998) menjelaskan secara singkat pakaian adat Suku Sasak yang tinggal di Bayan, Lombok Utara. Buku setebal 61 halaman yang diterbitkan Dirjen Kebudayaan bagian Proyek Pembinaan Permuseuman tersebut menjelaskan dalam dua halamannya tentang pakaian adat sehari-hari masyarakat sebagai berikut (Syaraswati 1998: 10-11):
a. Pakaian adat sehari-hari untuk laki-laki tua
Seorang lelaki tua di rumah/di kebun biasaya hanya memakai selewak (kain panjang) yang terbuat dari kain tenunan lokal atau kain ulung cina. Kelengakapannya terdiri dari gegandek sebagai tempat sirih pinang dan pangkot (peraut)
b. Pakaian adat sehari-hari untuk perempuan tua
Seorang perempuan tua biasanya mengenakan kain (sinjang) yang terbuat dari kain batik atau kain ulung, dan bebet (sabuk anteng), yang berfungsi untuk mengeratkan lekata kain di tubuh serta baju dari kain cita kembang.
c. Pakaian adat sehari-hari untuk laki-laki dewasa
Seorang laki-laki dewasa dalam kesehariaannya biasa mengenakan: kain (sabuk) yang terbuat dari kain batik atau kain ulung, baju yang terbuat dari kain putih kasar atau kain hitam hasil tenunan lokal.
d. Pakaian adat sehari-hari untuk perempuan dewasa
Seorang perempuan dewasa biasanya mengenakan kain (sinjang) yang dibuat dari kain batik. Sinjang terdiri dari dua bagian, luar dan dalam.

Memang pakaian sudah bertambah fungsinya, menjadi bagian simbol, identitas budaya (pakaian adat), menjadi status sosial (kelas), menjadi ciri profesi yang digeluti seseorang (seragam kerja/pakaian dinas lapangan). Bahkan pakaian sudah dianggap sebagai penanda yang jelas dari sebuah golongan tertentu. Misalnya, suporter sepakbola atau simpatisan partai pemilu. Tak jarang dalam fungsi demikian, pakaian bisa menjadi penanda pelaku dan korban kekerasan. Bukankah kerusuhan antarsuporter sepakbola sebagai tanda dari lawan atau kawan yang harus diintimidasi dilempari, dipukuli, digebuki, bahkan di bunuh adalah yang berseragam berbeda dengan seragamnya.

Pakaian bukan hanya pakaian semata. Ia sering menjadi tanda untuk mengingat, tapi itu tidak semuanya benar. Pada pertemuan pertamaku dengan Mas Sugeng, asisten peneliti, aku tanpa berpretensi aneh-aneh mengirimkan pesan singkat tentang ciri-ciriku: Kaos hitam, rambut dikucir, menenteng ransel. Pakaian yang kukenakan ini rupanya telah meruntuhkan imaji mas sugeng tentang sosok seorang peneliti, yang berdasi, berpakaian rapi...

Ah, pakaian...lama-lama nanti juga menjadi gombal, sampah, polusi. Pakaian dinas lapangan itu kini sudah tidak kukenakan lagi, karena aku mau mandi dan tidur..telanjang lah aku.