KERTAS KERJA:
Menarasikan Cyberspace
Sebuah Pemetaan Teoritis Awal
Hikmat Budiman
Narasi Internet dalam Ilmu Sosial
Secara sederhana, internet mungkin bisa dipahami pertama-tama sebagai sebuah cara atau metode untuk mentransmisikan bit-bit data atau informasi dari satu komputer ke komputer lain dari satu lokasi ke lokasi lain di seluruh dunia. Arsitektur internet menyediakan beberapa teknologi pengelolaan data digital sehingga informasi-informasi yang dikirim tersebut bisa dipecah menjadi beberapa paket, lantas dikirim melintasi jaringan antar komputer, dan akhirnya ditata ulang oleh komputer penerima. Semua jenis informasi pada prinsipnya akan diperlakukan sama dalam arti bahwa bit-bit tersebut akan dikirim dengan cara yang sama tidak peduli apakah itu merupakan representasi teks, audio, gambar, atau video.[1] Bolehjadi karena itu pula banyak orang yang menganggap internet sebagai teknologi bersifat netral.
Akan tetapi dalam kerangka pemahaman ilmu sosial, yang dipentingkan tentu saja bukan bagaimana bit-bit itu diproses, dipecah-pecah, dikirim, dan lantas ditata ulang untuk menjadi informasi yang lengkap, melainkan lebih pada bagaimana transmisi tadi juga memungkinkan terbentuknya relasi di antara bit-bit data elektronik yang diproses, sehingga bisa menghasilkan informasi yang bermakna. Kumpulan bit-bit data elektronik yang tidak bisa ditetapkan pola relasional di antara sesamanya, tidak akan menghasilkan makna apa pun, dan hanya akan tetap sebagai informasi mentah belaka. Merujuk argumen Hine, pola-pola yang dihasilkan oleh bit-bit informasi yang dikirim tersebut sebenarnya memang menghasilkan makna-makna tertentu, sejauh bisa diinterpretasikan oleh perangkat lunak yang dipakai untuk menggabungkan kembali pecahan paket-paket tadi dan, tentu saja, individu-individu pemakai internet yang menerimanya.[2] Dalam kalimat lain, makna adalah hasil-hasil tetapan interpretasi pemakai internet terhadap jutaan bahkan miliaran bit data elektronik yang tersebar luas dalam cyberspace, dan yang ditata oleh perangkat lunak komputer yang dipakainya.
Dalam kaitan dengan itulah, pemikir poststrukturalis Perancis, Jean Baudrillard, sudah cukup lama mengeluhkan kondisi masyarakat saat ini yang, menurunya, hidup dengan semakin banyak informasi setiap hari, tapi dengan makna yang justru semakin susut. Dalam nafas kritisisme yang sama, Neil Postman juga melihat kondisi sekarang ditandai secara mencolok oleh komodifikasi informasi. Orang sekarang, menurut Postman, terjebak mencari informasi sebagai komoditi tanpa jelas relasinya dengan kebutuhan hidup mereka yang sesungguhnya.[3] Agar tidak terjebak ke dalam perangkap daur ulang the old diatribes, argumen Postman mungkin harus mendapat sedikit perhatian, karena sifatnya yang spesifik sebagai kritik terhadap teknologi media yang lebih awal, yakni televisi, yang tentu saja berbeda dengan bentuk-bentuk teknologi media baru seperti internet atau bahkan alat-alat komunikasi-bergerak seperti telepon genggam mutakhir.[4] Meskipun demikian, ada satu hal yang masih cukup relevan hingga kini, yakni bahwa pernyataan-pernyataan seperti itu menggarisbawahi kecenderungan berkurangnya kemampuan individu-individu dalam menemukan relasi bermakna di antara informasi yang jumlahnya sudah terlampau banyak, sehingga upaya menetapkan makna bukan saja sulit melainkan bahkan hampir tidak mungkin. Ketika seseorang mendapat seratus surat elektronik atau lebih di dalam Mailbox aplikasi email-client-nya setiap hari, karena ia menjadi anggota beberapa mailing list sekaligus, atau ratusan pesan SMS (short message system) atau bahkan kiriman data digital melalui fasilitas multimedia system dalam telepon genggamnya, misalnya, makna apa yang bisa ditemukannya di antara timbunan informasi tersebut selain hanya setumpukan data yang menunggu diinterpretasikan.
Kegagalan atau ketidakmampuan menginterpretasikan, karena keterbatasan waktu atau sebab-sebab lain, berarti mengubah tumpukan data tersebut menjadi onggokan-onggokan sampah informasi. Zaman ini adalah zaman ketika dunia sedang mengalami apa yang belakangan ini sering disebut information overload. Salah satu implikasinya, gagasan Habermas tentang konsensus, misalnya, menjadi sangat problematis--ketika jumlah kanal dan frekwensi suara yang ada telah melebihi kesanggupan kita untuk mengelolanya menjadi basis bagi munculnya berbagai kesepakatan yang sehat atau konsensus yang rasional itu.
Postman mendedahkan kritiknya ketika internet belum luas dipakai secara komersial oleh masyarakat di luar laboratorium militer dan kampus-kampus universitas di Amerika Serikat. Sekarang kita hidup pada sebuah zaman yang, paling tidak dari sisi akses dan penyebaran informasi, telah melampaui asumsi-asumsi yang digunakan Postman di atas. Begitu besarnya perbedaan antara periode sejarah sebelum dan sesudah aplikasi komersial internet, Mark Poster, seorang sejarawan yang cukup kritis mempelajari perkembangan tadi, menyebut zaman internet sekarang sebagai the second media age.[5] Terminologi tersebut mengacu tidak saja pada perkembangan evolutif teknologi media dari satu zaman ke zaman berikutnya, melainkan juga mendenotasikan dimensi-dimensi kualitatif dari relasi antara manusia dengan informasi, media, dan dengan mesin (komputer). Zaman media kedua, dalam kalimat lain, juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah babakan historis baru yang memperlihatkan berbagai perubahan penting dalam konteks konfigurasi sosial masyarakatnya.
Pada konteks diskursus ilmu sosial, respon para teoritisi sosial juga memperlihatkan peta pemikiran yang cukup menarik untuk dilihat kembali. Pada zaman media pertama (the first media age), kembali merujuk Poster, debat tentang akibat-akibat politik dari introduksi teknologi sistem komunikasi model penyiaran (broadcasting) seperti radio, film, dan televisi, itu terbagi ke dalam dua kubu oposisional.[6] Pada kubu yang satu, tokoh-tokoh seperti Walter Benjamin, Hans Magnus Enzensberger, dan Marshal McLuhan, cenderung membagi bersama gagasan tentang potensi teknologi-teknologi tersebut untuk memajukan demokrasi. Pada kubu yang lain, teoritisi sekelas Theodore W. Adorno, Jürgen Habermas, dan Frederick Jameson, justru melihat teknologi yang sama sebagai ancaman bagi kebebasan manusia.
Polarisasi yang hampir sama kembali terjadi ketika ilmu sosial berhadapan dengan zaman media kedua. Seperti akan diuraikan lebih lanjut dalam sub-subseksi berikutnya nanti, debat tentang akibat politik dari sistem komunikasi dan informasi baru, internet, berlangsung antara kutub pendekatan utopian di satu pihak, dan pendekatan distopian dan dataveillance di pihak yang lain. Argumen-argumen Enzensberger, Benjamin, dan McLuhan tentu saja masih dipakai sebagai pijakan teoritis kelompok utopian, dalam arti bahwa kelompok pendekatan tersebut melihat teknologi internet sebagai wujud mutakhir sebuah medium pembebasan atau emansipatoris. Satu hal yang cukup menarik terjadi ketika tokoh seperti Habermas, yang sebenarnya justru begitu pesimistik melihat perkembangan media massa di abad 20, itu sering dirujuk sebagai sumber inspirasi konseptual untuk menetapkan sebuah model historis, yakni ruang publik di Eropa abad 17 dan 18, yang dianggap tepat merepresentasikan konsep dasar internet sebagai ruang sosial.
Di lain pihak, alih-alih tetap bersandar pada pendekatan distopian, kajian-kajian kritis ilmu sosial tentang teknologi informasi sekarang banyak memanfaatkan penjelasan-penjelasan yang melihat teknologi dari dua sisi yang kontradiktif secara bersamaan. Pengkayaan teoritis bisa dilihat dari beberapa upaya teoritisi sosial mutakhir untuk melakukan reformulasi konsep-konsep tentang pengawasan, yang lebih mampu memberi eksplanasi kritis tentang fenomen kehidupan masyarakat kontemporer. David Lyon, misalnya, mencoba meletakkan konsep tentang pengawasan (surveillance) ke dalam perspektif yang lebih luas dari sekedar praktek-praktek totalitarianisme. Mengacu pada asal katanya dalam bahasa Perancis, Lyon menjelaskan bahwa pengawasan memang bisa memiliki konotasi kontrol satu pihak terhadap pihak lain, tapi ia juga bisa berarti perlindungan atau kepedulian. Dalam kedua arti tersebut, kita bisa melihat bahwa konsep pengawasan melibatkan unsur-unsur peluang dan hambatan, kepedulian dan kontrol.[7]
Debat Pendekatan Utopian Versus Pendekatan Distopian
Di antara ratusan bahkan ribuan narasi tentang internet yang telah dibuat orang di seluruh dunia, salah satu yang paling menarik adalah beberapa narasi tentang internet sebagai domain politik. Studi ini tentu saja tidak berpretensi menghadirkan peta lengkap dari seluruh lalu-lintas argumentasi yang dibangun oleh sekian banyak orang tentang internet sebagai domain politik. Kalau kajian ilmu sosial, dengan perumpamaan yang sedikit berbau kolinial memang, bisa diibaratkan seluruh rangkaian kepulauan Nusantara, maka narasi tentang internet sebagai domain politik adalah pulau Jawa, sedangkan studi kecil ini hanya akan mencoba mengambil gambar udara tentang Jakarta. Analogi ini penting untuk memberi tekanan bahwa meskipun peta teoritis yang akan ditelusuri sangat terbatas, tapi diharapkan bisa menjadi noktah-noktah awal yang jelas relasinya dengan konteks kajian yang jauh lebih besar, seperti Jakarta seringkali menjadi awal untuk menelusuri palau Jawa yang penting posisinya untuk menjelajahi Nusantara.
Dalam salah satu keping peta teori sosial tadi, secara garis besar, sejauh ini paling tidak ada dua kelompok pemikiran atau pendekatan ilmu sosial yang banyak dipakai untuk melihat media elektronik seperti internet dalam relasinya dengan kehidupan masyarakat. Yang pertama adalah pendekatan yang menitikberatkan kebebasan dan potensi emansipatoris teknologi media elektronik. Kontras tajam dengan yang pertama, pendekatan kedua justru lebih memfokuskan perhatiannya pada potensi internet sebagai medium pengawasan atau kontrol sosial. Pada domain politik, kalau yang pertama menekankan relasi langsung antara internet dan isu-isu demokrasi, yang kedua menghubungkan internet dengan totalitarianisme.
Berdasarkan perbedaan tersebut, kalau yang pertama secara tentatif, paling tidak untuk kebutuhan studi ini, bisa disebut perspektif demokrasi, yang kedua mungkin bisa disebut perspektif anti-demokrasi. Kalau perspektif demokrasi terutama melihat aspek-aspek positif pemanfaatan internet bagi kehidupan masyarakat kontemporer, persepktif anti-demokrasi sebaliknya melihat internet dari sisi bagaimana ia bisa menjadi ancaman bagi kebebasan masyarakat. Singkatnya, kalau yang pertama dicirikan oleh kecenderungan hiperoptimistik, yang kedua cenderung dicirikan oleh pesimisme yang juga berlebihan.
Saskia Sassen menggunakan ungkapan-ungkapan yang berbeda untuk menunjuk dua kutub pendekatan tersebut. Ia menggunakan ungkapan “pendekatan utopian” (utopian approach) untuk kelompok pemikiran yang cenderung melebih-lebihkan potensi internet dalam membawa perbaikan bagi kehidupan umat manusia, dan ungkapan “pendekatan distopian” (dystopian approach) untuk mereka yang cenderung hanya melihat sisi negatif dari perkembangan teknologi internet.[8] Untuk selanjutnya studi ini akan menggunakan pasangan ungkapan utopian dan distopian dalam merujuk dua pendekatan yang bertolak belakang satu dengan lainnya tersebut.
Pemikiran utopian cenderung menganggap internet sebagai sebuah medium pembebasan (a medium for liberation).[9] Bagi mereka karena arsitektur internet pada dasarnya bersifat anarkis, sensor dan berbagai bentuk kekangan lain tidak mungkin lagi diterapkan, sehingga internet identik dengan eliminasi kemungkinan munculnya kembali totalitarianisme.[10] Kelompok ini juga percaya bahwa internet bisa menjadi sebuah Agora global dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kotemporer.[11] Akan tetapi dalam garis pemikiran perspektif distopian, alih-alih membawa kebebasan bagi masyarakat pemakainya, internet pada dasarnya tidak lebih dari mekanisme baru dari bentuk-bentuk kontrol sosial yang sangat berbahaya, bahkan berpotensi melahirkan totalitarianisme. Dalam kaca mata Saskia Sassen[12], secara geografis, kalau perspektif utopian umumnya dianut oleh para ilmuwan sosial Amerika, perspektif distopian lebih banyak dipakai dalam kajian ilmuwan-ilmuwan sosial di Eropa yang justru jarang, untuk tidak menyebut tidak pernah sama sekali, menggunakan internet dalam kehidupannya.
Garis demarkasi yang dibuat Sassen itu tentu saja tidak sepenuhnya benar, karena polarisasi titik pandang teoritis antara kubu utopian dan distopian ternyata tidak banyak ditentukan oleh asal-usul geografis seseorang. Pada sub-sub bagian berikut akan diuraikan beberapa landasan pendekatan teoritis dari masing-masing perspektif, untuk mendapatkan peta teoritis yang lebih jelas tentang narasi internet dalam ilmu sosial.
Ikhtisar Tiga Narasi Ilmu Sosial tentang Media Elektronik
sebagai Domain Politik
Utopian Distopian Isu Utama Kebebasan Kontrol Sosial, visual surveillance Teknologi Kekuasaan, Super-Panopticon Konteks Zaman Media Pertama dan Kedua/Networked Society Zaman Media Pertama Zaman Media Kedua/ Networked Society Pertanyaan Dasar Bagaimana media bisa difungsikan sebagai emansipator
masyarakat Bagaimana media difungsikan sebagai alat kontrol dan
sensor kekuasaan totaliter Bagaimana digitalisasi informasi personal yang
tersebar melalui medium elektonik seperti cyberspace telah menciptakan ruang
bagi beroperasinya teknologi kekuasaan Akibat Media, khususnya internet bisa dipakai untuk
mendorong proses demokratisasi Media massa elektronik bisa menjadi sarana efektif
untuk melakukan kontrol Totalitarianisme Cyberspace menjadi sebuah ruang seklusi yang berisi
representasi digital individu-individu pemakainya yang bisa dikontrol dan
dimanipulasi untuk kepentingan bisnis kapitalisme, dan kekuasaan politik. Argumen dasar Multiplikasi kanal-kanal informasi dalam internet
telah mengeliminasi kemungkinan kontrol totaliter kekuasaan negara terhadap
sumber-sumber informasi Saluran informasi satu arah dalam media elektronik
seperti radio dan televisi memungkinkannya menjadi corong propaganda atau
humas kekuasaan Database telah menjadi medium utama pembentukan
subjektivitas individu, dan digitalisasi database telah mengakibatkan
subjektivitas-subjektivitas tersebut mudah dipindah-pindahkan, dan
diperjualbelikan Medium Internet Televisi Sistem Database komputer/internet/ komunikasi-bergerak Basis Teoritis Gagasan normatif Habermas tentang ruang publik dalam
masyarakat borjuis Eropa Karya Distopian George Orwell tentang kehidupan di
Oceania, 1984 Interpretasi Foucault atas proposal abortif Jeremy
Bentham tentang penjara Panopticon Proponen Howard Rheingold, Marshal McLuhan George Orwell, Horkheimer, Adorno, Walter Benjamin Mark Poster, David Lyon, Gary T. Mark Model Penerapan Kontrol Sosial Bersifat eksternal, dilakukan oleh pihak lain dari
luar Bersifat eksternal, dipaksakan oleh pihak lain dari
luar. Kontrol bersifat ubiquitous, hadir di mana-mana,
eksternal dan internal Pendekatan Utopian
Dalam perspektif utopian, pertumbuhan internet merupakan salah
satu pencapaian teknologi yang bisa semakin membebaskan manusia dari
belenggu-belenggu tradisional dalam komunikasi dan penyebarluasan informasi.
Pada wilayah perbincangan politik, salah satu fokus perhatiannya adalah tentang
relasi linear antara teknologi internet dan politik demokrasi (liberal). Di
bidang ini, internet biasanya dilihat sebagai ruang publik (public sphere) yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang sosial
baru untuk berekspresi dan menyatakan pendapat secara bebas tanpa restriksi
politik dan ideologis. Internet, dengan demikian, bisa digunakan untuk mendorong
terciptanya apa yang oleh Habermas disebut komunikasi yang bebas dari dominasi.
Dalam subseksi-subseksi di bawah ini, saya akan mencoba melacak gagasan
teoritik awal tentang ruang publik, dan aplikasi konsep tersebut ke dalam
konteks kajian sosial tentang internet. Gagasan Konseptual tentang
Ruang Publik di Eropa
Gagasan tentang ruang publik pertama-tama perlu dilihat dalam
konteks yang spesifik masyarakat Barat terutama Eropa. Dalam sejarah peradaban
Barat, tempat-tempat seperti Agora di Yunani Kuno, town hall (balai kota) di New England, taman kota,
bahkan sudut-sudut jalan telah menjadi arena untuk melakukan debat-debat
terbuka tentang masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Tempat-tempat tersebut
menjadi ruang bagi proses social intercourse yang berjalan terus-menerus. Dari ribuan
pertemuan semacam itu, apa yang mendekati sebuah opini publik lambat laun mulai
terbentuk, dan menjadi kerangka melalui apa masyarakat memahami politik.
Mengacu pada argumen Mark Poster, meskipun ruang publik semacam itu tidak
pernah benar-benar melibatkan setiap orang, dan karena itu juga tidak
mendeterminasi hasil-hasil keputusan parlemen, tapi ia memberi kontribusi pada
pemeliharaan semangat berbeda pendapat (dissent) yang biasa ditemukan dalam sebuah sistem
demokrasi perwakilan yang sehat.[13] Ketika tempat-tempat fisikal tadi semakin langka, media massa
kemudian dianggap sebagai ruang publik baru yang bisa menjadi substitusinya.
Pada level akademik, gagasan tentang ruang publik yang dibentuk oleh media
massa di Eropa pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Prancis, Gabriel Tarde.
Dalam konsepsi Tarde, eksistensi “publik” hanya mungkin bila ada fungsi dari
teks atau bacaan yang dibagi bersama (shared text), diterbitkan secara regular, dan bisa diakses
oleh umum. Pemikiran Tarde menghasilkan model ruang publik yang bersifat linear
dalam tiga tingkat asumsi. Pertama, surat kabar diasumsikan merangsang atau
menghasilkan perbincangan (conversations). Pada tingkat berikutnya, perbincangan akan membentuk opini; dan
pada tingkat paling akhir opini memicu tindakan. [14] Dari gagasan Tarde tersebut ada empat komponen yang diasumsikan
telah membentuk ruang publik di Eropa: media berita, perbincangan, formasi
opini publik, dan partisipasi. Keempatnya merupakan satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan. Gagasan Habermas tentang Ruang Publik
Gagasan Habermas tentang ruang publik, terutama ditekankan pada
fungsinya sebagai bagian dari kehidupan sosial dalam apa warga negara bisa
saling bertukar pendapat menyangkut pelbagai persoalan yang menjadi kepentingan
bersama, sehingga apa yang mendekati atau menyerupai opini publik bisa
terbentuk. Dalam salah satu esainya, ia memberi batasan lebih definitif tentang
ruang publik yang dimaksudnya dengan kalimat-kalimat berikut: Dengan ‘ruang publik’ maksud
kami terutama adalah sebuah domain dari kehidupan sosial kita dalam apa hal
semacam opini publik bisa dibentuk. Akses pada ruang publik terbuka bagi
seluruh warga negara. Satu bagian dari ruang publik terbentuk dalam setiap
perbincangan dalam apa orang-orang pribadi datang bersama untuk membentuk
sebuah publik. Ketika publiknya besar, bentuk komunikasi ini mensyaratkan cara
tertentu untuk penyebarluasan dan mempengaruhi; saat ini koran-koran dan
terbitan berkala, radio dan televisi adalah media dari ruang publik. Kita
bicara tentang ruang publik politik ketika diskusi publik membahas hal-hal yang
berhubungan dengan praktek-praktek negara.[15] Diilhami oleh momen historis di Eropa pada abad 17 dan 18, ketika
kedai-kedai kopi (café) dan
salon menjadi pusat perdebatan antar sesama anggota masyarakat, Habermas
kemudian menempatkan model histrois tersebut menjadi tipe ideal bentuk-bentuk
partisipasi dalam ruang publik yang dianggapnya tengah mengalami kemunduran
pada abad 20. Ia sepenuhnya merasa yakin bahwa ruang publik adalah satu-satunya
ruang yang tidak bisa diintervensi oleh kekuasaan negara. Apa yang mengubah
sebuah tempat menjadi ruang publik sama sekali bukanlah bentuk fisiknya,
melainkan diskusi dan isu-isu yang didiskusikan dalam ruang tersebut. Dengan demikian,
meskipun model-model ruang publik yang dirujuk Habermas di Eropa merupakan
konsep spasial dan temporal tapi penekanan konsep “ruang” yang dia ajukan bukan
terutama menunjuk pada konteks spasial sebagai tempat (place) fisikal, melainkan lebih pada kemungkinan
debat publik oleh orang banyak. Ruang publik semacam ini muncul ketika orang
berkumpul dan secara bersama-sama mendiskusikan isu-isu politik. Debat publik dalam ruang publik, dianggap Habermas dibangun di
atas dasar diksusi-diskusi kritis dan rasional, menepiskan unsur-unsur personal
dan emosional, menggunakan bahasa yang tidak emotif, dan semua partisipan
berusaha mengatasi pandangan subjektifnya, mengesampingkan status, dan hanya
terfokus pada dan berkepentingan dengan upaya mencari kebenaran. Seluruh urusan
privat juga tidak bisa dibawa ke dalam diskusi publik, karena ruang publik
hanya tersedia bagi perbincangan atau wacana tentang masalah-masalah yang
menyangkut kepentingan bersama seluruh warga. Seperti Tarde, Habermas memberi
tekanan kuat pada peran kritis media massa dalam pembentukan ruang publik,
sambil membedakan secara ketat antara pers awal yang terutama menyoroti
kontroversi politik dan perkembangan media belakangan ini yang dilihatnya telah
melakukan komodifikasi berita. Tumbuhnya komunikasi massa dalam bentuk pers
yang kecil dan independen dianggapnya telah memicu lahirnya ruang-ruang publik
yang bisa melakukan kontrol pada kekuasaan pemerintah. Dalam sejarah, surat
kabar-surat kabar pada permulaan abad 17 memang pertama-tama diterbitkan
sebagai sebuah organ yang benar-benar kritis dari masyarakat yang sedang
terlibat dalam perdebatan kritis tentang isu-isu politik. Ketika itulah pers,
dalam bahasa Habermas, bisa menjadi pilar keempat demokrasi.[16] Akan tetapi ruang publik ideal tadi tidak pernah benar-benar
terwujud dalam kenyataan masyarakat saat ini. Proses komersialisasi media massa
dan perluasan intervensi negara telah membawa kita pada apa yang oleh Habermas
disebut sebagai satu bentuk “refeodalisasi” ruang publik. Ruang publik runtuh
menjadi sekedar sebuah dunia khayalan, tempat citra dan opini dikelola dan
mengalami komodifikasi untuk tujuan-tujuan komersial belaka.[17] Internet sebagai Ruang Publik:
Keterbukaan dan Emansipasi
Ruang-ruang publik di zaman Athena Kuno sebagian besar sekarang
sudah punah. Meskipun beberapa di antaranya masih ada, tapi tempat-tempat itu
saat ini sudah tidak lagi menjadi pusat perdebatan politik bagi warga negara.
Debat-debat politik kini banyak yang telah berpindah ke dalam ruang-ruang media
masssa seperti surat kabar, radio, dan televisi. Tapi seperti argumen Habermas
di atas, media massa kontemporer bukanlah ruang-ruang publik ideal bagi
perdebatan politik yang berkualitas dan rasional. Komodifikasi berita,
komersialisasi media, dan kecenderungan media massa untuk menyeleksi opini
hanya dari tokoh-tokoh penting tertentu telah mengakibatkan apa yang disebut
Habermas sebagai bentuk refeodalisasi ruang publik. Sebaliknya, bentuk-bentuk komunikasi yang dimediasikan melalui
komputer (computer mediated communications/CMC) dalam
internet dianggap telah meniadakan jarak antara audience dengan produsen berita, sehingga sumber-sumber
informasi independen, seperti lembaga penerbitan pers kecil dan independen di
Eropa abad 17, menemukan bentuk barunya dalam aksi-aksi komunikasi yang bebas
restriksi dalam internet. Kekuatan emansipatoris internet dipercaya terletak
pada kesanggupannya untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam melakukan
komunikasi. Internet kemudian dipercaya akan bisa menghidupkan kembali,
merevitalisasi ruang publik sedemikian rupa sehingga opini publik yang
melibatkan proses perdebatan luas di antara warga negara bisa tetap dipelihara
untuk meningkatkan kualitas demokrasi perwakilan. Pada level teoritis, posisi internet persis mengisi apa yang oleh
teoritisi Kiri-Baru German, Hans Magnus Enzensberger, disebut sebagai media
emansipatoris. Diilhami oleh karya penyair terkemuka berhaluan komunis, Bertolt
Brecht, tentang teori radio, Enzensberger mengembangkan teori tentang kekuatan
media elektronik dalam memobilisasi massa. Bagi Enzensberg, istilah “media
komunikasi” adalah terminologi yang salah tempat kalau dipakai untuk merujuk
pada bentuk-bentuk media massa modern, karena media seperti film dan TV sama
sekali tidak memfasilitasi komunikasi melainkan justru mencegahnya karena
keduanya telah mereduksi feedback
ke tingkat terendah. Mengikuti garis pemikiran Brecht, Enzensberger kemudian
melontarkan gagasan bahwa media harus dipakai untuk komunikasi dua arah (two-way
communication). Penggunaan
media yang bersifat represif akan digantikan oleh penggunaan yang lebih
emansipatoris ketika transmisi berita tidak terpusat pada satu agen tertentu,
melainkan menyebar pada banyak sumber yang independen.[18] Secara skematik, gagasan Enzensberger tentang dua bentuk
penggunaan media adalah seperti di bawah ini. Skema Teori
Media Enzensberger (Enzensberger, 1970: 173) Repressive Media Use Emancipatory Media Use Centrally controlled program Decentralized program One transmitter, many
receivers Every receiver a potential
transmitter Immobilization of isolated
individuals Mobilization of the masses Passive consumer behaviour Interaction of participants,
feedback Depolitization process Political learning process Production by specialists Collective production Control by owners or
bureucrats Social control through
self-organization Berbeda dengan jenis-jenis media massa yang pernah ada sebelumnya
seperti radio, TV, film, atau media cetak, internet memang bertolak belakang
dengan seluruh karakteristik yang dikategorikan oleh Enzensberger sebagai repressive
media use. Internet, dalam
kalimat lain, dipercaya bisa dipakai mewujudkan potensi media massa sebagai
penguat demokratisasi, terutama gagasan yang secara luas dikenal dengan cyberdemocracy.[19] Seorang ilmuwan politik, Ithiel de Sola Pool,
misalnya, bahkan menganggap internet dan bentuk-bentuk media yang mengalami
digitalisasi lainnya sebagai “teknologi-teknologi kebebasan” (technologies
of freedom).[20] Persoalannya kemudian adalah, kalau setiap orang demikian bebas
mengemukakan ide atau opininya, dan menyebarluaskannya kepada orang lain di
seluruh dunia, bagaimana sebuah diskursus yang rasional dan berkualitas bisa
diputuskan. Sejauh ini, hampir tidak ada mekanisme yang jelas tentang bagaimana
mengatur lalulintas informasi dan gagasan dalam internet, sehingga juga tidak
mudah menentukan apakah opini-opini itu kemudian bisa berkembang menjadi sebuah
opini publik yang memiliki kekuatan politik. Jika setiap orang menjadi penentu
keputusan atas pikiran-pikirannya sendiri, kapan demokrasi berakhir dan anarki
dimulai, paling tidak pada tingkat gagasan, menjadi tidak jelas lagi
batasan-batasannya. Pendekatan Distopian
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pendekatan distopian
senantiasa menempatkan setiap bentuk inovasi teknologi komunikasi dan informasi
dalam konteks kemungkinan munculnya teknologi kontrol sosial yang lebih
pervasif. George Orwell menyebut novelnya, 1984, itu sebagai sebuah distopia, yang berarti
negasi atas utopia tentang kebebasan umat manusia yang dimungkinkan
oleh perkembangan sain dan teknologi. Sebaliknya, ia justru melihat masa depan
peradaban manusia akan ditandai oleh datangnya satu zaman ketika sebuah kontrol
terpusat dan menyeluruh dilakukan melalui teknologi media massa. Dalam 1984, semua penduduk kota memang memiliki televisi
pribadi di rumahnya masing-masing, tapi mereka tidak bisa memilih saluran
siaran yang diinginkannya. Mereka bahkan tidak pernah tahu kapan persisnya
sebuah siaran televisi yang dilihatnya berubah menjadi bentuk pengawasan yang
dilakukan oleh Bung Besar (the Big Brother). Kontras tajam dengan seluruh opitimisme tentang perkembangannya,
dalam pemikiran Orwellian ini internet tidak lebih dari layar-layar monitor
yang bisa berfungsi mengawasi seluruh pemakainya, seperti telescreen mengawasi seluruh penduduk Oceania. Kalau
diterapkan pada konteks media elektronik terbaru, internet, ketika seorang
individu menggunakan komputer personal di dalam ruang pribadinya untuk
melakukan koneksi internet, ketika itu pula pada dasarnya ia sedang memasang
sebuah layar monitor yang terus-menerus akan mengawasi dan mencatat seluruh
aktivitasnya. Media elektronik, termasuk internet, dalam kalimat lain, bisa
berubah menjadi praktek totalitarianisme. Sebuah kutipan panjang dari novel klasik Orwell berikut ini
mungkin bisa menjadi ilustrasi tentang totalitarianisme yang mengontrol seluruh
bentuk media untuk kepentingan kekuasaan. …Dan Departemen
Perekaman, sebenarnya hanya merupakan cabang tunggal dari Kementrian Kebenaran,
yang pekerjaan utamanya adalah bukan untuk merekonstruksi masa lalu tapi untuk
menyediakan berbagai surat kabar, film, buku-buku teks, acara-acara telescreen, drama, novel—dengan segala bentuk yang bisa
dibayangkan dari informasi, instruksi, atau hiburan, mulai dari sebuah patung
sampai sebuah slogan, dan mulai dari buku ejaan anak-anak sampai sebuah kamus Newspeak. Dan Kementerian ini bukan hanya harus
menyediakan berbagai macam kebutuhan bagi Partai, tapi juga untuk mengulang
seluruh operasi pada tingkat yang lebih rendah untuk keuntungan kaum
proletariat. Ada sebuah departemen terpisah yang khusus menangani
kesusasteraan, musik, drama, dan hiburan secara umum bagi kaum proletarian. Di
situ diproduksi koran-koran sampah, hampir tidak berisi apa pun selain
olahraga, kejahatan, dan astrologi, novelet murahan yang sensasional, film
yang sarat dengan sex, dan lagu-lagu sentimental yang seluruhnya dikarang oleh
peralatan mekanis dalam sebuah bentuk khusus kaleidoskop yang dikenal sebagai
sebuah versificator. Bahkan ada sebuah subbagian—yang dalam bahas Newspeak disebut Pornosec—yang terlibat dalam memproduksi pronografi
jenis terendah, yang dikirim dalam paket-paket tertutup rapat dan yang tidak
satu pun anggota Partai, selain mereka yang bekerja di situ, yang diijinkan
untuk melihatnya. [21] Dua orang tokoh terpenting Aliran Frankfurt, Thedore Adorno dan
Max Horkheimer dalam karya bersamanya yang paling mashur, Dialectic of
Enlightenment, menghubungkan
pertumbuhan media massa elektronik dengan apa yang disebutnya industri budaya (culture
industry), dan potensi
totalitarianisme model fasisme di zaman Hitler. Bagi Adorno dan Horkheimer,
kebutuhan masyarakat (konsumen) yang mungkin menolak adanya kontrol terpusat,
itu telah dilampau dengan berlangsungnya kontrol atas kesadaran individu.
Perkembangan dari telepon ke teknologi radio telah dengan tegas membedakan
peran-peran. Telepon dianggap Adorno dan Hokheimer masih memberi tempat bagi
pelanggannya untuk menjadi subjek, dan bersifat liberal. Sementara radio mengubah
semua partisipan menjadi pendengar, dan secara otoritatif menjadikan mereka
sebagai sasaran bagi program-program penyiaran yang pada dasarnya persis sama
satu dengan lainnya.[22] Radio, yang dianggap Adorno dan Horkheimer sebagai pendatang baru
budaya massa, memiliki kecenderungan menjadi praktek lain dari fasisme.
Kenyataan bahwa radio sama sekali tidak memungut bayaran apa pun dari
pemirsanya, itu telah membentuk ilusi tentang radio sebagai sebuah otoritas
yang tidak bias, tidak mewakili kepentingan tertentu. Ini menurut Adorno dan
Horkheimer menjadikan fasisme menemukan lahan subur pertumbuhannya. Karena itu
tidaklah mengherankan jika radio kemudian menjadi corong sang Führer Hitler.
Apa yang sering disebut kharisma metafisik dalam kajian sosiologi agama, dalam
konteks sang Führer akhirnya berbelok menjadi tidak lebih dari kehadiran tanpa
henti dan di mana-mana (omnipresence) pidato-pidatonya di radio, seperti sebuah parodi demonik dari
kehadiran tuhan atau dewa. Dua filsuf aliran teori kritis masyarakat ini sampai
pada kesimpulan bahwa tendensi internal radio adalah menjadikan kata-kata
seorang pembicara sekelas Führer, sabda-sabda yang keliru, itu menjadi absolut
tanpa bisa dibantah.[23]
Pendekatan Relasi Kuasa (Dataveillance)
Kelemahan utama perspektif utopian adalah karena ia tidak pernah
berusaha memeriksa bentuk-bentuk relasi sosial, termasuk reproduksi relasi
kuasa yang beroperasi di balik klaim-klaim internet sebagai teknologi
emansipatoris dalam konteks politik, sehingga karena itu ia juga berpotensi
meniadakan sikap kritis masyarakat terhadap bentuk-bentuk invensi teknologi
baru. Sebaliknya, karena terlampau memusatkan perhatian pada kemungkinan
negatif akibat pemanfaatan internet oleh masyarakat, perspektif distopian
selalu gagal melihat kemungkinan lain di luar malapetaka yang akan muncul
akibat aplikasi sebuah produk teknologi dalam masyarakat. Bahaya dari
pemikiran seperti itu adalah berlangsungya stagnasi sosial karena setiap
invensi diletakkan pada garis ekstrem sebagai bahaya yang mengancam. Mempertimbangkan kelemahan-kelemahan fundamental dalam dua
pendekatan dominan tadi, satu pendekatan lain mulai dikembangkan oleh beberapa
ilmuwan sosial yang, secara tentatif, bisa disebut pendekatan Dataveillance. Berbeda dengan dua pendekatan sebelumnya,
pendekatan ini melihat internet bukan semata-mata sebagai pembawa kebebasan
atau penebar malapetaka, melainkan lebih sebagai sebuah objek kajian yang
memang memiliki kontribusi bagi perbaikan kehidupan masyarakat di satu sisi,
tapi tanpa mengabaikan potensi-potensi terburuk yang telah dan mungkin akan
muncul sebagai salah satu konsekwensinya di sisi yang lain. Penyikapan
teoritisnya terhadap internet, dengan demikian, bukan semata-mata menerima atau
menolaknya tanpa sikap kritis. Secara spesifik, pendekatan dataveillance mencoba melakukan kritik terhadap
gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh kelompok utopian, sambil pada saat yang
sama juga melakukan perbaikan atas beberapa kelemahan model pemikiran Orwellian
disesuaikan dengan konteks zaman yang sudah berubah. Meninggalkan gagasan muram
Orwellian, pendekatan ini kemudian menarik garis teoritisnya pada telaah
cemerlang pemikir poststrukturalis Prancis, Michel Foucault tentang aplikasi
teknik pengawasan model struktur penjara Panopticon yang digagas oleh Jeremy
Bentham sebagai ruang-ruang tempat relasi kuasa beroperasi secara langsung. Teknologi Kekuasaan
Dalam karya klasiknya, Panopticon; Or The Inspector House yang terbit tahun 1787, Jeremy Bentham
membuat sebuah proposal tentang sebuah model yang bisa dipakai untuk membangun sistem penjara dengan seluruh lingkungannya yang
secara total bisa dikontrol.[24] Model tersebut ia sebut struktur Panopticon.
Dalam Panopticon satu orang pengawas di menara bisa mengawasi aktivitas banyak
orang dalam tahanan. Yang dikembangkannya adalah sebuah model pengawasan
melalui apa segelintir kecil orang (para sipir atau pengawas, dan atasanya)
secara konstan mengawasi banyak orang (the few watch the many). Para tahanan tahu bahwa mereka selalu berada
dalam pengawasan, tapi tidak satu pun dari mereka tahu kapan pengawasan
dilakukan. Ini tentu saja mirip dengan ide Orwell tentang mekanisme pengawasan
melalui medium telescreen.
Kondisi mental (mental state)
“diawasi tanpa bisa melihat si pengawas” seperti itulah yang ingin dicapai Bentham
melalui proposalnya itu. Jika diterapkan pada level masyarakat yang lebih luas,
implikasi sosial gagasan struktur Panopticon ini bisa berlangsung dalam skala
luas. Ia bisa dipakai untuk menciptakan mekanisme pengawasan atau kontrol
sosial yang bersifat total oleh sebuah agensi, seperti negara terhadap seluruh
warganya tanpa harus mendirikan bangunan fisik penjara-penjara seperti itu. Interpretasi Foucault atas gagasan Bentham memberi penekanan pada
efek kekuasaan yang dilihatnya berlaku otomatis dalam sistem Panopticon.
Arsitektur sistem Panopticon dilihat Foucault sebagai praktek seklusi,
memisahkan para tahanan, seperti rumah sakit memisahkan para pasien, atau
sekolah memisahkan murid, dan pabrik mengisolasi para buruh, dalam sebuah
lokasi yang secara total bisa dikontrol, dan relasi kuasa beroperasi secara
langsung. Caranya adalah dengan menciptakan sebuah kondisi kesadaran pada diri
tahanan, dan menempatkan mereka pada lokasi yang selalu bisa dilihat (permanent
visibility) dari menara
pengawas. Bentham, menurut Foucault, telah meletakkan prinsip bahwa
kekuasaan harus terlihat atau tampak tapi tidak bisa diverifikasi (visible
and unverifiable). Kuasa harus
tampak dalam arti bahwa tahanan akan secara konstan melihat di depan matanya
sisi bangunan tinggi menara pusat pengawasan dari mana mereka diintai. Kuasa
harus tidak bisa diverifikasi dalam arti bahwa tahanan harus tidak pernah tahu
kapan persisnya ia sedang diawasi pada satu saat tertentu. Kondisi mental yang
dihasilkannya mengakibatkan setiap tahanan selalu menimpakan beban pada diri
mereka sendiri: beban bahwa mereka diawasi setiap saat oleh sebuah kekuasaan
yang tidak tampak bagi mereka.[25] Kekuasaan menjadi sebuah tatapan tak berwajah (faceless gaze) yang akan terus mengawasi seluruh tingkah laku
mereka. Identitas kolektif dihapuskan, dan digantikan oleh satu kumpulan
identitas dari individu-individu yang terpisah, sehingga dalam kaca mata para
penjaga atau pengawas di menara, yang ada bukan identitas kolektif melainkan,
dalam bahasa Foucault, “sebuah multiplisitas yang bisa dihitung dan diarahkan”.[26] Mereka yang berada dalam tahanan model Panopticon pada dasarnya
telah berubah menjadi agen penindasan bagi dirinya sendiri. Para tahanan,
dengan kalimat lain, mengalami sebuah situasi yang dilukiskan Foucault sebagai
penindasan-diri (self oppressed).
Salah satu dogma yang berlaku di kalangan mereka yang mengalami situasi mental
seperti itu adalah bahwa individu-individu mutlak memerlukan perlindungan, dan
mereka hanya bebas sejauh tidak melanggar aturan. Itulah yang dimaksud Foucault
dengan proses normalisasi. Bagi Foucault, Panopticon bisa dilihat sebagai
sebuah susunan arsitektur yang memungkinkan relasi kuasa dilihat sebagai
sesuatu yang mandiri terlepas dari siapa yang menggunakan kekuasaan tersebut. Membaca proposal Bentham, Foucault sampai pada kesimpulan bahwa
Panopticon adalah sebuah bentuk arsitektur yang efisien, sinambung (continuous) fleksibel, dan komprehensif untuk melakukan
pendisiplinan. Efisien karena ia hanya bergantung pada caya dan pengaturan
posisi para tahanan. Sinambung atau konstan karena mereka yang diawasi tidak
menyadari kapan menara pengawas berisi pengawas dan, karenanya, dipaksa
bertingkah laku seolah-olah pengawas hadir setiap saat, dan pengawasan berjalan
terus-menerus. Fleksibel karena metode tersebut bersifat multi-guna (bisa
dipakai di sebuah penjara, rumah sakit, atau tempat kerja), dan siapa saja bisa
mengambil peran sebagai pengawas atau yang diawasi. Komprehensif karena bukan
hanya mereka yang diawasi yang diatur, dimonitor dan dikontrol melalui
pengawasan, melainkan juga si pengawasnya sendiri. Aktivitas pada menara
pengawas bisa mengelabui tingkah laku setiap orang yang terlibat. Tentang kemungkinan aplikasi dalam konteks yang lebih luas,
Foucault melihat bahwa Panopticon adalah juga sebuah laboratorium. Ia bisa
dipakai sebagai sebuah mesin untuk melakukan percobaan mengubah atau
memperbaiki tingkah laku individu. Panopticon bahkan juga bisa digunakan untuk
membuat uji coba pedagogis, terutama untuk melihat kemungkinan yang akan
terjadi dari sistem pendidikan yang terpisah (secluded education) dalam panti-panti. Dalam bagian lain Foucault
menulis: …Ia adalah sebuah
tipe lokasi dari tubuh-tubuh dalam ruang, dari distribusi individu-individu
dalam relasinya satu dengan yang lain, dari organisasi hierarkis, dari
disposisi pusat-pusat dan kanal-kanal kekuasaan, dari definisi tentang
instrumen-instrumen dan moda-moda intervensi kekuasaan, yang bisa
diimplementasikan di rumah sakit-rumah sakit, bengkel kerja, sekolah,
penjara-penjara. Kapan pun seseorang berurusan dengan sebuah multiplisitas
individu-individu kepada siapa sebuah tugas atau sebuah bentuk tingkah laku
partikular harus diimposisikan, skema panoptic bisa dipakai. [27] Menjadi jelas bahwa model Panopticon digunakan Foucault untuk
memeriksa relasi-relasi kuasa yang beroperasi dalam hampir seluruh bentuk
institusi masyarakat modern. Baginya bentuk fisik bangunan tidak terlampau
penting, karena yang utama adalah bagaimana kekuasaan menyebar luas dalam relasi-relasi
sosial secara subtil, sehingga tidaklah mengherankan bahwa penjara-penjara
sekarang makin mirip dengan pabrik, sekolah, barak militer, rumah sakit, yang
semuanya juga memang mirip penjara.[28] Internet sebagai
Super-Panopticon
Kalau mekanisme pengawasan total diberlakukan dalam kehidupan di
luar penjara atau struktur-struktur fisik tempat relasi kuasa beroperasi
seperti sekolah, pabrik, rumah sakit, barak militer dan lain-lain, problemnya
kemudian adalah medium apa yang bisa dipakai untuk itu. Sebagian teoritisi
sosial seperti Mark Poster, David Lyon, dan Gary T. Mark melihat bahwa untuk
konteks masyarakat jaringan elektronik saat ini, model kontrol sosial telah
bergeser dari metode-metode klasik Orwellian menjadi dataveillance, karena kekuasaan diterapkan tidak pada tubuh
biologis para tahanan, pasien, atau prajurit, melainkan pada
representasi-representasi digitalnya dalam sistem database. Dengan demikian, internet dilihat sebagai
teknologi yang bisa mewujudkan metode pengawasan skema panoptic dalam masyarakat
yang sudah sangat bergantung pada sistem pencacahan data untuk berbagai
kebutuhan hidupnya. Kalau pengawasan di Oceania dalam novel Orwell terutama dilakukan
melalui medium televisi, pengawasan di era dataveillance ditopang oleh teknologi komputer. David Lyon
mendefinisikan pengawasan adalah segala bentuk pengumpulan dan pengolahan data
personal, baik yang bisa diidentifikasi maupun yang tidak, untuk maksud
mempengaruhi atau mengatur mereka yang datanya telah berhasil dikumpulkan. Saat
ini, menurut Lyon, perangkat terpenting untuk melakukan pengawasan terletak di
dalam kekuatan komputer, yang memungkinkan data yang terkumpul itu disimpan,
dihitung, diakses kembali, diolah, dipasarkan dan disebarluaskan. Bahkan kalau
pun datanya jauh lebih rumit dari sekedar angka-angka atau nama, seperti
kode-kode DNA (Deoxyribonucleic Acid), atau citra-citra fotografis, teknologi-teknologi yang
memungkinkan berlangsungnya pengawasan tetap melibatkan komputer. Lyon sampai
pada konklusi bahwa “pertumbuhan massif aplikasi komputer dan peningkatan
teknislah yang menyebabkan teknologi informasi dan komunikasi demikian sentral
perannya dalam pengawasan”.[29] Mark Poster memulai telaahnya dengan fokus pada penggunaan sistem database untuk menyimpan informasi personal tentang
individu. Sistem database
bagi Poster adalah salah satu kekuatan utama dalam pembentukan subjek di zaman
informasi saat ini. Sistem-sistem tersebut diperlakukan Poster sebagai wacana (discourse), karena dianggap mempengaruhi proses
pembentukan subjek. Database
adalah satu bentuk penulisan jejak-jejak simbolik. Dalam bentuk elektronik dan
digitalnya, database sangat mudah dipindah-pindahkan dalam ruang, bisa
dilestarikan tanpa batas dalam waktu. Ia bukan milik seorang pun bukan pula
milik setiap orang, tapi bisa menjadi milik seseorang, institusi sosial,
korporasi, negara, militer, rumah sakit, perpustakaan, atau universitas yang
menguasainya sebagai hak milik.[30] Di dalam database, yang ada bukan subjek individu yang “real”,
melainkan representasinya dalam bentuk data personal. Untuk konteks negara maju
seperti Amerika Serikat, penggunaan sistem database hampir mencakup seluruh bidang kehidupan
masyarakatnya, sehingga sistem database bukan hanya meyangkut soal bagaimana negara atau
instansi-instansi lain bisa memberikan layanan yang baik kepada masyarakat,
melainkan juga bagaimana sebuah mekanisme kontrol sosial baru baru bisa
diterapkan. Pertanyaan yang kemudian diajukan Poster adalah, apa yang terjadi
dengan informasi-informasi tersebut ketika semuanya sudah dikonversikan menjadi
data digital dalam komputer. Menjadi digital pertama-tama dan terutama adalah
mentransformasikan benda-benda material menjadi bit-bit informasi yang
dihasilkan secara elektronik. Individu bukan lagi sebuah tubuh fisik-biologis,
melainkan seperangkat titik-titik data atau sebuah representasi digital,
diri-digital (digital self)
yang bisa diidentifikasi dengan bahasa elektronik. Digitalisasi informasi memang memudahkan pengelolaan data, tapi
itu juga berarti memudahkan kontrol dan manipulasi atas subjek-subjek. Sekali
suatu materi telah menjadi data digital, ia bisa disimpan atau ditransfer pada
tingkat bilangan atau digit. Artinya, siapa saja yang bisa mengontrol bahasa
elektronik tersebut, ia juga akan mengontrol produksi realitas, paling tidak
dalam ruang digitial.[31] Karena itu Poster melihat bahwa digitalisasi
informasi justru memudahkan orang dengan kepentingan kapitalis untuk
mendistribusikan informasi-informasi tertentu kepada orang atau pihak lain. Internet bukan lain adalah jaring-jaring interkoneksi antar database digital berukuran sangat besar. Bagi Poster,
koneksi ke dalam jaringan internet tidak lain adalah proses yang menjadikan
tubuh kita terikat kuat ke dalam struktur database sebagai satu informasi di tengah informasi
yang lain (informatically tied-down). Ketika seseorang melakukan transaksi ekonomi menggunakan kartu
kredit melalui internet, misalnya, ia pada dasarnya sedang mengikatkan dirinya
pada struktur pengawasan elektronik dalam sistem database digital. Teknologi kekuasaan yang beroperasi melalui internet, itu
menyerupai gagasan Jeremy Bentham tentang sistem struktur penjara Panopticon.
Tapi yang diawasi bukan tubuh biologis seperti dalam penjara Panopticon,
melainkan representasi digitalnya. Poster memberi nama struktur pengawasan ini Superpanopticon,
sebuah sistem pengawasan yang
tanpa dinding, jendela, menara, atau pengawas.[32] Poster
menurunkan argumennya tersebut dalam kalimat-kalimat berikut: …Database,
menurut saya, beroperasi sebagai sebuah super-panopticon. Seperti penjara,
database bekerja secara terus-menerus, sistematis dan tersembunyi, mengumpulkan
informasi tentang individu-individu dan menyusunnya menjadi profile-profile.
Tidak seperti panopticon, para “tahanan” tidak perlu dikurung dalam arsitektur
apa pun; mereka hanya perlu menjalankan kehidupan rutin sehari-harinya.
Super-panopticon dengan demikian lebih tidak terang-terangan daripada
pendahulunya, tapi ia tidak kurang efisiennya dalam melakukan tugas
normalisasi…Komputer dengan mudah mempertukarkan berbagai database, informasi
dalam satu komputer bisa diakses oleh yang lain. Dengan sangat cepat, informasi
dari database-database tersebut melintasi dunia dalam cyberspace. Database-database “mengawasi” kita tanpa mata
dari penjaga penjara mana pun, dan mereka melakukannya jauh lebih akurat dan
menyeluruh dari manusia mana pun.[33] Sistem database,
dengan demikian, tidak jauh berbeda dari prakek seklusi (seclusion) dalam penjara: semua informasi pemakai
internet dimasukkan ke dalam sebuah arsitektur sistem konversi digital yang
tertutup (bagi mereka yang tidak menggunakan internet), dan sepenuhnya bisa
diawasi. Teknologi kekuasaan dalam super-panopticon melakukan dua hal kepada
para pemakai internet. Pertama, ia mengimposisikan norma, mendisiplinkan
subjek-subjek untuk berpartisipasi dengan mengisi formulir, mencantumkan nomor
asuransi sosial, atau menggunakan kartu kredit. Kedua, ia membentuk sebuah
diri-diri tambahan (complementary selves) untuk subjek-subjek tersebut, dengan nama yang sama tapi yang
secara digital telah dihilangkan ambiguitasnya, karena kepribadiannya dibuat
secara artifisial dari data yang telah dicocokkan.[34] Sekali kita terjebak ke dalam jaringan database di internet, menurut Poster, tidak ada lagi
tempat berlindung untuk bisa bebas dari pengawasan atau untuk melakukan
resistensi. Orang bisa bebas bepergian ke mana saja dalam lautan informasi,
tapi tidak pernah bisa keluar dari jaring-jaring database yang mengurungnya. Meskipun sampai saat ini
belum ada satu pun organisasi mampu secara total melakukan pengawasan a la
sistem struktur Panopticon terhadap seluruh aliran informasi dalam internet,
tapi apa yang bisa dibaca dari usulan Poster adalah terdapatnya potensi
teknologis dalam internet untuk menjadi sebuah medium kontrol sosial, yang
bertolak belakang dengan impian internet sebagai pendorong demokratisasi
emansipatoris.
Dataveillance
[1] Lihat Christine Hine, Virtual Ethnography. London: Sage, 2000: 2.
[2] ibid.
[3] Neil Postman, Technopoly. The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books, 1992: 61-3.
[4] Tentang kecenderungan penggunaan kriteria-kriteria, termasuk bermacam-macam model kritik sosial lama, untuk memeriksa perkembangan teknologi media yang baru, itu, antara lain, dipersoalkan secara cukup meyakinkan oleh Steven Best dan Douglas Kellner dalam The Postmodern Advanture. Science, Technology, and Cultural Studies at the Third Millenium. New York and London: The Gilford Press, 2001: 153-58.
[5] Mark Poster, The Second Media Age. Cambridge: Polity Press, 1995a.
[6] Mark Poster, ibid, 1995a: 2-3.
[7] David Lyon, Surveillance Society. Monitoring Everyday Life. Buckingham, dan Philadelphia: Open University Press, 2001: 3.
[8] Saskia Sassen, Op.cit., 1999: 49–52.
[9] Karya akademis yang secara komprehensif membahas perspektif utopian ini, antara lain, adalah tesis untuk jurnalisme yang ditulis oleh Anita Thornton, Does Internet Create Democracy?. Sidney: University of Technology, 1996. Melalui penelusuran teoritis yang cukup baik, Thronton mencoba mempertahankan argumen bahwa internet memang bisa memajukan demokrasi. Antusiasme sebagian masyarakat atau komunitas pemakai internet atas kebebasan yang dimungkinkan oleh teknologi internet bisa dilihat pada naskah Deklarasi Kemerdekaan Cyberspace (A Declaration of the Independence of Cyberspace) yang ditulis oleh John Perry Barlow pada <http://www.eff.org/~barlow/Declaration-Final.html>.
[10] Lihat Jürgen Rudolph, “Cyberspace and Its Influence in Southeast and East Asia—A Preliminary Appraisal, dalam Occasional Papers and Documents, Political Liberalisation through the Internet, kumpulan Kertas Kerja untuk seminar tentang “Policial Liberalisation Through the Internet: Trends, Practices and Concerns of the Media”. Seminar diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, tgl 26-27 Maret 1996, diorganisir oleh Asian Institute for Development Communication bekerja sama dengan Friedrich Naumann Foundation.
[11] Frase Agora global adalah sebuah metafora yang diambil dari bahasa Yunani, dan sering digunakan untuk mendepiksikan berlangsungnya interaksi dan komunikasi dalam internet. Di zaman Athena Kuno, Agora adalah pusat dari aktivitas sehari-hari warga kota. Dengan luas lahan bisa mencapai 100m X 200m, Agora adalah tempat berlangsungnya seluruh bentuk perdagangan warga kota, termasuk bukan hanya barang-barang yang biasa diperdagangkan di pasar, melainkan juga kios-kios pemangkas rambut, penjual parfum, kedai minuman dan tempat pelacuran. Adat warga kota Athena mengharuskan kaum wanita terhormat dan orang muda tidak datang ke Agora sampai setelah tengah hari, meskipun kenyataannya perempuan dari kelas yang lebih rendah sering datang ke sana bahkan sejak pagi hari untuk menjual roti dan makanan lainnya. Para penjual roti ini biasanya dianggap cerewet dan vulgar sehingga, dalam konteks internet sebagai sebuah Agora global, mereka cenderung disamakan dengan para “penjual roti” virtual yang sering memakai teknik-teknik marketing yang intrusif di internet seperti dalam bentuk spaming dan pelacakan pemakai internet (user tracking). Istilah “penjual roti” virtual tentu saja merujuk pada beberapa pihak yang sering menyalahgunakan internet untuk kepentingannya sendiri yang justru sangat mengganggu kepentingan para pemakai internet umumnya. Keterangan tentang hal ini sepenuhnya mengacu pada informasi yang saya peroleh dari <http://sammelpunkt.philo.at:8080/archive/00000023/01/HTML_Version/ text/node68.html>.
[12] Saskia Sassen, “Op.Cit., 1999: 51.
[13] Mark Poster, “The Net as A Public Sphere?”, dalam Wired, Issue 3.11- November, 1995c. <http://www.wired.com /wired/archive/3.11/poster.if_pr.html>. 11 Januari 2003.
[14] Christopher D. Hunter, “The Internet and the Public Sphere: Revitalization or Decay?”, <http://www.asc.upenn. edu/usr/chunter/public_sphere.html>. 5 Desember 2002.
[15] Lihat Jürgen Habermas, “The Public Sphere”, dalam C. Mukerji dan M. Schudson (eds), Rethinking Popular Culture. Berkeley: University of California Press, 1991: 398.
[16] Jürgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Terjemahan oleh T. Burger dan F Lawrence. Cambridge: Polity Press, 1989: 60.
[17] ibid, 1989: 195-96.
[18] Hans Magnus Enzensberger (1970: 173), dikutip dari artikel “The Internet as Public Sphere” yang dimuat dalam situs: <http://www.cultsock.ndirect.co.uk/MUHome/cshtml/media/internet4.html>. 11 Februari 2003.
[19] Howard Rheingold, seorang Amerika yang dikenal sebagai promotor demokrasi melalui internet mengungkapkan kemungkinan partisipatoris tersebut, antara lain, dalam kalimat-kalimat berikut: “…Pembalikan demokratis adalah bahwa semakin banyak orang hari ini memiliki lebih banyak hal untuk bercerita tentang bagaimana dunia mereka diarahkan daripada waktu lainnya dalam sejarah. Secara struktural, internet telah mengubah arsitektur sedikit-ke-banyak zaman penyiaran, dalam apa sejumlah kecil orang bisa mempengaruhi dan membentuk persepsi dan kepercayaan seluruh bangsa-bangsa. Dalam linkungan banyak-ke-banyak di internet, setiap meja adalah sebuah media cetak, sebuah stasiun penyiaran, dan sebuah tempat untuk berkumpul. Media massa akan tetap ada, begitu pula jurnalisme. Tapi institusi-institusi ini tidak akan lagi memonopoli perhatian dan akses pada perhatian orang lain”.). Lihat Howard Rheingold, “Community Development In The Cybersociety of the Future”, <http://www.partnerships.org.uk/bol/howard.htm>. 19 Desember 2002.
[20] Dikutip oleh Hans J. Kleinsteuber (1996) dalam Jürgen Rudolph, Op.cit, 1996.
[21] Periksa George Orwell, 1984. New York: Signet Classic, 1981: 39. Untuk penjelasan analistis tentang konsep Newspeak yang dipakai Orwel, lihat tulisan Erich Fromm, “The Principles of Newspeak” yang dijadikan Appendix dalam novel Orwell ini pada hlm., 246-267.
[22] Theodore Adorno dan Max Horkheimer, Dialectic of Enlightenment. London dan New York: Verso, 1972: 121-22.
[23] ibid., 1972: 159.
[24] Tentang Bentham saya mengacu pada karyanya, The Panopticon Writings, yang disunting oleh Miran Bozovic (ed). London: Verso, 1995: 29-95. Naskah lengkapnya terdapat pada alamat situs <http://cartome.org/panopticon2.htm>. 5 Oktober 2002.
[25] Michel Foucault, Discipline & Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books, 1995: 201-02.
[26] ibid, 1995: 201.
[27] Lihat, ibid, 1995: 204.
[28] ibid, 1995: 228.
[29] David Lyon, Surveillance Society. Monitoring Everyday Life. Buckingham and Philadelphia: Open University Press, 2001: 2.
[30] Mark Poster, The Second Media Age. Cambridge: Polity Press, 1995a: 85.
[31] Nikhilesh Dholakia, dan Detlev Zwick, “Privacy and Consumer Agency in the Information Age: Between Prying Profilers and Preening Webcams” The Journal of Research for Consumer, Issue 1, (2001): 5.
[32] Mark Poster, The Mode of Information. Chicago: The University of Chicago Press, 1990: 93.
[33] Mark Poster, Op.cit., 1995a: 69.
[34] David Lyon, The Electronic Eye: The Rise of Surveillance Society. Minneapolis: University of Minnesota Press, 1994: 69-70.