Belajar Menulis Laporan Penelitian

Tanggal 6 hingga 9 Januari 2014, Interseksi mengadakan kegiatan lokakarya Pelatihan Penulisan Laporan Penelitian. Lokakarya ini merupakan salah satu tahapan terakhir program Pelatihan Penelitian Kelas 2013 dengan tema umum “Demokrasi dan Kewarganegaraan”. Kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan hasil temuan lapangan yang sudah dikumpulkan oleh peserta pelatihan setelah selama dua bulan mengamati dinamika masyarakat yang mereka teliti di daerah penelitian masing-masing. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta dapat menuliskan laporan penelitian dengan kaidah-kaidah penulisan yang baik, serta pengembangan analisis yang cermat berdasarkan fakta lapangan yang telah dikumpulkan. Dari total 11 orang peserta, hanya 8 orang yang sanggup bertahan sampai tahap workshop penulisan laporan ini yakni Affandi, Vahrun, Zulham, Hamzah dan Edi dari Sulawesi; Zunni dari Kalimantan; Stephanie dan Laila dari Jakarta. Satu orang peserta dari Kalimantan, Gemma Abimanyu berhalangan datang karena sakit, sedangkan dua orang peserta dari Jakarta dianggap gagal.

IMG_0770

Matahari sudah berada tepat di atas kepala saat lokakarya dimulai. Saat itu, selain laptop dan berkas-berkas tulisan, di atas meja masing-masing peserta sudah ditemani secangkir kopi dan kudapan renyah. Dalam suasana yang santai namun serius tersebut, kegiatan lokakarya dimulai dengan review tahapan-tahapan program yang telah dilaksanakan mulai dari workshop pembekalan, praktik lapangan, supervisi, dan workshop penulisan laporan ini. Direktur Interseksi, Hikmat Budiman, memberikan apresiasi tinggi kepada semua peserta yang masih sanggup bertahan selama hampir 7 (tujuh) bulan sejak aktivitas pertama program pelatihan ini dimulai.

Presentasi laporan penelitian dimulai oleh Zulham Mahasin, peserta dari Gorontalo. Dalam beberapa slide Powerpoint, ia mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Kajian Proses Interaksi Sosial Masyarakat dalam Membangun Integrasi Sosial di Kawasan Transmigrasi” yang ia amati di kecamatan Wonosari, Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini mengambil Kecamatan Wonosari di kabupaten Gorontalo sebagai studi kasusnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji interaksi sosial masyarakat transmigran dan potensinya dalam upaya meningkatkan integrasi sosial, dengan penekanan pada upaya menggambarkan interaksi dan integrasi sosial yang terjadi di kalangan masyarakat berbeda etnik. Berdasarkan penelitiannya, integrasi sosial antar etnis dan agama di daerah tersebut berjalan dengan baik, yang terlihat dari pembauran antar suku dan agama dalam kehidupan sehari-hari bertetangga masyarakat yang didorong oleh tumbuhnya pola-pola pemukiman yang tidak tersegmentasi berdasarkan atribut tertentu, seperti suku dan agama. Ia bercerita tentang pengamatannya perihal fenomena saling bantu-membantu antar penduduk asli dan pendatang, yang digambarkan dengan saling berbagi hasil panen dan memberi sebagian panen berlebih pada orang yang miskin, saling berbagi metode cocok tanam antar suku, ataupun pemberian perlakuan khusus untuk tamu yang memiliki aturan Agama tertentu, seperti memisahkan peralatan makan dan memastikan makanan yang disuguhkan dalam perayaan masuk dalam kriteria yang diperbolehkan agama tetamu.

Dalam kehidupan sehari-hari, lanjut Zulham, masyarakat terbiasa menggunakan banyak bahasa daerah, sehingga mayoritas menguasai lebih dari satu bahasa daerah. Integrasi juga dapat dilihat dari adanya pernikahan antar etnis dan agama, dan penggunaan adat yang beragam. Dalam hal politik, integrasi terlihat dari hilangnya sentimen kedaerahan pada saat pemilihan kepala desa. Pada satu desa misalnya, seorang suku Minahasa beragama kristen dapat menjadi kepala desa di daerah dengan mayoritas suku Jawa Muslim. Faktor yang mendorong berjalan baiknya integrasi antar masyarakat berbeda etnis dan agama ini, menurut Zulham, di dorong oleh beberapa faktor, tokoh masyarakat sebagai panutan dan mediator, serta pemerintah terkait kewenangannya mengelola program transmigrasi.
Sebagaimana tradisi pelatihan penelitian interaksi sebelumnya, setelah paparan hasil penelitian, para peserta mengemukakan kritik dan saran mereka masing-masing terhadap hasil temuan dan analisis Zulham.

IMG_0776

Kritik utama yang diberikan adalah pada substansi temuannya yang masih sangat umum. Hikmat misalnya, menyarankan kepada Zulham untuk memilih topik yang ingin diperdalam. Salah satu fokus yang menarik untuk diperdalam disarankan oleh Amin yang merekomendasaikan pendalaman terhadap fenomena pembauran pemukiman. Dalam hal terkait penggunaan istilah dalam menyebut subyek penelitian, Zulham dikritik karena menggunakan istilah responden dalam penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan juga dikritik karena dianggap terlalu banyak dan tidak mencerminkan kualitas temuan yang dihasilkan. Terkait dengan data sekunder tentang pola pemukiman yang sulit dicari, “proxy” terhadap data tersebut juga dapat dilakukan, misalnya dengan mewawancarai pelaku dari generasi pertama yang tinggal di daerah tersebut.

Saat itu, tepat pukul 5 sore presentasi dan diskusi pertama berakhir, dan lima belas menit kemudian, giliran Hamzah yang mempresentasikan hasil temuan lapangannya. Dalam penelitian terkait fenomena pendidikan anak dari perempuan pelaku Pappasar Suwu (perempuan yang berjualan di pasar pagi hari), Hamzah menemukan bahwa keterlibatan perempuan sebagai pelaku ekonomi membuat mereka kehilangan waktu mengurusi pendidikan anak. Mereka juga lebih cenderung mendorong anaknya membantu berjualan, atau bagi perempuan, menikah cepat. Dalam mendukung argumentasi yang ia bangun, dalam slideshow-nya, ia menampilkan tabel tentang tingkat putus sekolah anak dari keluarga pappasar suwu. Data ini ia perdalam dengan menambahkan beberapa profil dan kegiatan perempuan pappasar suwu di daerah yang ia teliti.

IMG_0772Kritik utama yang dikemukakan terkait hasil penelitiannya adalah bahwa hasil temuan lapangan tersebut masih bersifat umum. Hamzah, sebagaimana yang dikemukakan Hikmat, tidak menjelaskan bagaimana proporsi antara pelaku Pappasar Suwu dengan jumlah penduduk desa serta kecenderungan putus sekolah dibandingkan dengan penduduk yang tidak melakukan aktivitas tersebut. Selain itu, latar belakang perempuan pelaku pappasar suwu juga tidak dijelaskan. Zulham menanggapi lebih jauh bahwa apa yang dikemukakan Hamzah lebih bertendensi mengarah ke kuantitatif karena penjabaran data statistik yang mendominasi hasil temuan, yang kemudian juga ditanggapi oleh Hikmat dengan kritiknya terhadap penggunaan kata “hubungan” dalam judul penelitian yang di buat. Hamzah, lanjut Hikmat, juga masih belum bisa membedakan terminologi yang digunakan dalam metode pengumpulan data, seperti penggunaan kata sampel dan survei. Karena metode kualitatif yang dipilih, terminologi tersebut kurang tepat digunakan. Rekomendasi utama yang dikemukakan terkait laporan Hamzah adalah menyarankannya untuk lebih fokus pada upaya menceritakan fenomena yang terjadi di kehidupan keseharian keluarga Pappasar Suwu, dan menggambarkan dinamika yang terjadi di dalam keluarga untuk mengelaborasi lebih jauh keterkaitan kegiatan Pappasar Suwu dengan pendidikan anak di keluarga tersebut.

Satu setengah jam Hamzah mempresentasikan hasil temuan dan mendiskusikannya. Setelah diselingi dengan makan malam, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi Vahrun tentang konflik horizontal antar masyarakat di daerah pertambangan emas di kecamatan Balaesang Tanjung, kabupaten Donggala.

IMG_0787Dalam proposal studinya, ia memposisikan konflik antar kelompok masyarakat sebagai akibat dari adanya kebijakan pemberian izin usaha pertambangan. Ia menceritakan bahwa masyarakat terbelah menjadi dua, kubu pro dan kubu kontra terhadap hadirnya kegiatan pertambangan. Kritik terhadap hasil penelitian Vahrun adalah bahwa meski diniatkan sebagai studi kebijakan, informasi yang ia kumpulkan ternyata lebih cenderung terkait dengan tanggapan masyarakat terhadap aktivitas pertambangan, bukan kebijakannya. Vahrun juga belum menjabarkan tentang pemetaan masyarakat yang pro dan kontra serta sampai dimana konflik antar masyarakat tersebut terjadi. Berdasarkan diskusi, rekomendasi perbaikan laporan Vahrun adalah pada perubahan judul dan penekanan analisis pada pola dan latar belakang pihak pro dan kontra, serta bagaimana peran advokasi lembaga Bantaya pada kasus yang ia teliti.

Presentasi Vahrun selesai sesaat setelah hujan mulai mengguyur Bogor, dan dengan semakin larutnya malam, suhu di ruangan saat itu terasa semakin dingin. Secangkir kopi hangat menemani peserta yang telah siap menyimak presentasi terakhir di hari itu, hasil penelitian Affandi.

Dalam presentasinya, Fandi menceritakan hasil temuannya yang berupaya melihat efektivitas pelaksanaan program deradikalisasi di kota Poso, Sulawesi Tengah. Fandi menemukan… Kritik utama terhadap hasil temuannya adalah terkait bahasan yang sangat melebar, yang menyebabkan analisisnya tidak fokus. Saran utama terhadap hasil penelitiannya adalah bahwa ia harus terlebih dahulu mencari batasan deradikalisasi yang dimaksud, apakah sebagai sebuah program atau konsep dan bagaimana analisis yang akan ia tawarkan bila memilih salah satunya. Apabila sebuah program, analisis yang digunakan adalah evaluasi terkait aktivitas program, dan tentu saja, dengan banyaknya program yang terkait dengan upaya deradikalisasi, peneliti harus memilih salah satu program. Durasi dan indikator keberhasilan program juga penting untuk diperhatikan.

Workshop hari kedua dimulai pada pukul 09.00wib. Kegiatan hari kedua ini dimulai dengan presentasi Laila tentang respons kelompok islam revivalis di Yogyakarta terkait predikat kota tersebut sebagai The City of Tolerance. Dalam presentasinya, ia menjelaskan berbagai pendapat dari kelompok-kelompok yang ia definisikan sebagai revivalis dalam menanggapi predikat Jogjakarta sebagai the City of tolerance tersebut. Kritik-kritik yang dikemukakan oleh hadirin berupaya untuk mengkonfirmasi tujuan utama dari penelitian tersebut. Aji, sebagai pakar Antropologi, melihat apa yang dikemukakan Laila lebih bertendensi pada hal-hal terkait autoetnografi. Ia melihat bahwa Laila berupaya ingin menceritakan pengalaman-pengalaman yang ia alami, namun lebih cenderung mencari justifikasi terhadap jawaban yang sebenarnya ia telah tahu.

Di sisi lain, Amin, mengungkapkan bahwa tidak ada satu insight apapun dari studi yang dikemukakan oleh Laila, dan apa gunanya menggambarkan satu kelompok sebagai revivalis atau tidak. Terkait autoetnografi, perlu dipahami bahwa banyak jebakan yang merintangi peneliti dan membiaskan hasil penelitian, karena umumnya hanya semacam pembelaan diri berdasarkan apa yang dialami oleh peneliti. Untuk mengatasi klise ini, peneliti juga perlu melakukan otokritik, refleksi terhadap apa yang ia pahami. Kritik lain juga datang dari Batara yang berupaya mengkonfirmasi apakah yang direson oleh kelompok revivalis adalah predikat “The City of Tollerance” atau hal lain. Karena revivalis muncul sebelum ada predikat ini, maka sulit untuk memahami hal tersebut sebagai respon.

IMG_0799

Selain itu, kritik juga mengarah pada cakupan wilayah penelitian, apakah hanya kota Jogja atau Provinsi. Pustaka-pustaka yang digunakan juga masih sangat minim dan tidak ada ulasan kritis terhadap apa yang ia baca. Hikmat kemudian mengulas kembali diskusi dengan catatan yang lebih mendalam, bahwa diskusi mengenai toleransi harus mengandaikan batas, dan dengan demikian konsep toleransi yang dikemukakan harus diperjelas berdasarkan hasil bacaan kita agar kontribusi penelitian terhadap bangunan pengetahuan menjadi lebih mendalam.

Dua jam waktu yang dibutuhkan Laila mempresentasikan hasil temuan dan mendiskusikannya. Setelah masing-masing peserta menuangkan kopi di tiap cangkir yang mereka gunakan, kegiatan dilanjutkan dengan materi dari Dr. Semiarto Aji dari departemen Antropologi UI, membahas metode penulisan laporan penelitian. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa pada saat kita melakukan penelitian, kita sudah harus bisa membayangkan hasilnya akan seperti apa, dan bagaimana mengemasnya. Untuk menyusun laporan, ada langkah-langkah yang harus dilakukan: atur dan klasifikasi informasi atau data yang kita peroleh, kemudian buat outline. Setelah outline dibuat, berdasarkan kerangka tersebut, kita menuliskan draf pertama laporan kita. Draf ini kemudian kembali diperiksa dan direvisi apabila ada informasi-informasi yang belum tercakup didalamnya.

Dalam mengatur data, Aji memberikan tips di mana kita terlebih dahulu harus melihat seluruh koleksi data, memilahnya sesuai dengan tujuan penelitian, dan melakukan klasifikasi atau kategorisasi data. Klasifikasi dan kategorisasi ini merupakan inti dari analisis. Setelah itu, masuk pada tahap penyusunan Outline. Outline ini, dijelaskan oleh Aji, merupakan langkah taksonomi yang dimulai dengan ide utama, dan memecah ide tersebut menjadi lebih spesifik untuk membuat detailnya, setelah itu, susun secara sistematis menurut kepentingan atau besar-kecilnya ide tersebut. Dalam menulis draf, sebagai kelanjutan dari proses membuat outline. Kita harus ‘setia’ pada outline tersebut. Langkah ke empat adalah melakukan revisi terhadap apa yang telah kita tulis. Proses ini dilakukan berulang kali sampai ide utama yang ingin dijelaskan masuk dalam tulisan. Langkah terakhir adalah memformat laporan, seperti penentuan margin, spasi dan jarak antar paragraf, font, huruf kapital, nomor halaman, memoles kembali grafik, tabel dan gambar agar menarik untuk dibaca.

IMG_0777

Setelah makan siang, presentasi kemudian dilanjutkan kembali. Meski tengah hari, udara masih tetap dingin akibat hujan yang terus mengguyur semenjak presentasi Laila sebelumnya. Kali ini, giliran Fanni (Stephanie), peserta perempuan satu-satunya yang unjuk hasil temuan lapangan. Fanni mendeskripsikan penelitiannya terkait komunitas pintu gerbang di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang. Ia mendeskripsikan fenomena interaksi yang terjalin antara penduduk kampung Dadap, yang permukimannya dikelilingi oleh perumahan elit, dengan warga perumahan tersebut. Kritik dari temuan yang disampaikan Fanni adalah tidak adanya fokus, dan judul yang masih problematis karena berkesan membandingkan dua pemukiman tersebut. Hasil penelitian yang disampaikan oleh Fanni hanya merupakan jawaban-jawaban historis, tentang bagaimana kampung tersebut ada di dalam kompleks pemukiman dan lainnya, dan yang ditekankan dalam penelitian ini seharusnya mencari jawaban atas pertanyaan ‘mengapa,’ agar analisisnya menjadi lebih dalam.

Selesainya presentasi Fanni mengantarkan peserta terakhir asal Sulawesi, Edi, mempresentasikan hasil temuannya tentang konsolidasi dinasti Yasin Limpo. Dalam presentasinya, ia menjelaskan diagram kinship Yasin Limpo yang dia susun berdasarkan temuan penelitian. Dari diagram tersebut, ia berhasil merangkai bagaimana pola-pola hubungan kekerabatan antar penguasa daerah yang masih berhubungan dengan Yasin Limpo. Hubugan ini ternyata tidak hanya terbatas pada jabatan publik di Sulawesi Selatan saja, namun juga di tingkat nasional. Dalam merajut dinastinya, keluarga Yasin Limpo menggunakan tiga hal: kedudukan, dengan memanfaatkan status Yasin Limpo sebagai orang militer dan menggunakan jaringan partai Golkar sebagai kendaraan politiknya; kepercayaan, melalui pembagian jabatan; dan kekayaan melalui penguasaan beberapa industri strategis di Sulawesi Selatan. Kritik terhadap hasil temuan Edi adalah pada penulisan kalimat yang ia gunakan dalam laporan serta penggunaan tanda baca yang tepat. Dalam hal substansi, perlu diperdalam tentang apa yang melatarbelakangi Yasin Limpo kuat, bagaimana perjalanan awalnya membangun dinasti tersebut dan siapa yang memberikannya kesempatan sebelum ia tampil dalam kancah politik.

IMG_0813

Sesi presentasi lokakarya saat itu di tutup oleh presentasi dari Zuni. Penelitian yang ia lakukan secara umum hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Vahrun tentang pro-kontra masyarakat sekitar tambang terhadap pelaksanaan pertambangan, yang membedakan adalah bahwa penelitian ini juga berupaya menjelaskan adanya konflik antara ahli waris pemilik tanah yang dijadikan lokasi tambang dengan perusahaan. Lokasi penelitian Zunni adalah dusun Seburuan, Kalimantan Barat yang merupakan lokasi pertambangan batu bara. Kritik dari apa yang dipresentasikan Zuni adalah fokusnya, dan upaya untuk menarik analisis pada konsep-konsep tentang gerakan sosial. Setelah presentasi akhir tersebut, sesi hari itu di tutup pada pukul 11.00wib.

Terinspirasi dari saran Aji pada sesi materi hari sebelumnya, pada hari ketiga, yang merupakan hari terakhir workshop, digunakan untuk presentasi outline rencana penulisan laporan. Masing-masing peserta mempresentasikan outline rencana tulisannya dimana peserta lain memberikan kritik terhadap outline tersebut. Kegiatan ini selesai pada pukul 14.00wib. Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, lokakarya penulisan laporan penelitian selesai dilaksanakan.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>