Benturan Ijtihad di Bawah Bayang-Bayang Kritik Anti-Wall Street

 

2011-28-10 LIBERALISM VS FUNDAMENTALISM (5)
Sumber Foto: Wahid Institute

Fundamentalisme lahir dari upaya manusia mencari identitas, di tengah-tengah krisis yang menciptakan ketidakstabilan, demikian menurut Hisanori Kato, peneliti tentang Indonesia dari Jepang, dalam Diskusi BukuThe Clash of Ijtihad: Fundamentalist Versus Liberal Muslims (The Development of Islamic Thinking in Contemporary Indonesia), Jumat (28/10/2011) di Wahid Institute, Jakarta. Faktor ekonomi seperti kemiskinan bisa mendorong pencarian identitas, dan agama dapat dengan mudah berubah menjadi isme, memenuhi kebutuhan akan identitas. Hal serupa dinyatakan oleh Ahmad Suaedy, peneliti senior Wahid Institute dalam diskusi. Fundamentalisme cenderung subur di tempat-tempat di mana demokrasi sedang tumbuh, tetapi gagal memberikan janji keadilan dan lemahnya penegakan hukum.

Tetapi hal tersebut dipertanyakan oleh Franz Magnis-Suseno, tokoh Katolik dan budayawan dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Menurut Romo Magnis, fundamentalisme tidak selalu dihubungkan dengan kondisi ekonomi tertentu, tetapi bisa pula dihubungkan dengan kondisi budaya tertentu. Fundamentalisme merupakan ideologi yang tertutup, sulit untuk diajak berdiskusi, dan tidak menaruh respek terhadap keyakinan orang lain. Meskipun fundamentalisme tidak selalu identik dengan fanatisme dan kekerasan, tetapi atas nama agama seseorang bisa sangat mudah melakukan pembunuhan, mengeksploitasi kebencian.

Kritik Romo Magnis dibenarkan oleh Kato, bahwa fundamentalisme tidak selalu identik dengan militansi dan fanatisme. Seorang fundamentalis Islam adalah seorang muslim yang dengan bersemangat memelihara keaslian ajaran Islam sebagaimana dituliskan dalam Al-Qur’an. Pada saat melakukan penelitian, Kato mengunjungi Abu Bakar Ba’asyir di Solo. Dalam pertemuan tersebut, Kato bertanya apakah hukum potong tangan masih dibolehkan di tengah perubahan kondisi sosial saat ini. Analoginya, pada saat sekarang sudah ada senjata bom nuklir yang mampu meluluhlantakkan seisi dunia, jauh berbeda dibandingkan abad ke-7 yang baru mengenal senjata pisau. Ba’asyir bersikukuh bahwa kondisi sosial boleh berbeda, tetapi Islam akan tetap seperti apa adanya. Fundamentalisme cenderung untuk keras kepala, menolak perubahan.

Membandingkan dengan kondisi di Jepang, Kato melihat bahwa agama Buddha yang ada di Jepang sangat berbeda dengan agama Buddha di Tibet atau India. Dalam kasus fundamentalisme di Indonesia, sangat menarik membayangkan apakah Islam di Indonesia bisa tetap sama persis dengan Islam di Arab pada abad ke-7. Suaedy pernah melakukan penelitian tentang minoritas Muslim di Singapura dan Bali, dan dibandingkan dengan hasil penelitian John L. Esposito tentang minoritas Muslim di Eropa. Di Eropa, tuntutan Muslim agar syariah dijadikan hukum negara dilandasi oleh puritanisme yang dibawa dari negeri asalnya di Timur Tengah dan Asia Selatan. Ekspresi serupa tidak ditemukan pada minoritas Muslim di Asia Tenggara, di mana unsur-unsur syariah telah diakomodasi oleh Negara. Konstitusi Singapura melindungi Melayu dan Islam, mirip dengan situasi di Malaysia. 

Bagi Suaedy, masa depan Islam di Indonesia akan sangat berbeda dengan Islam di Timur Tengah dan Asia Selatan, apalagi di Eropa, juga dengan di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand. Di Indonesia, kelompok-kelompok Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah turut merumuskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pada saat partai politik absen. Tuntutan Syariat Islam yang mengemuka saat ini lebih merupakan ekspresi pasca-kolonial. Pada masa kolonial, hukum Islam hanya disimpan di bawah karpet, sehingga Islam hanya dirapalkan seperti mantra, menjadi imajinasi kebenaran pada akhir zaman. Kalau saja pada masa kolonial hukum Islam diterapkan, akan ada diskusi dan kritik terhadap hukum Islam. Pada tahun 2005, para pegawai negeri sipil (PNS) di Lombok Timur berdemonstrasi menolak peraturan daerah (Perda) tentang zakat karena itu berarti memotong gaji PNS, hingga akhirnya Perda itu pun dibatalkan. Bagaimana mungkin zakat yang merupakan bagian dari hukum Islam bisa dibatalkan atau direvisi karena didemo masyarakat?

DIALOG FUNDAMENTALISME DENGAN ISLAM LIBERAL

Ketika Ulil Abshar-Abdalla mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL), Romo Magnis sempat bertanya-tanya, mengapa harus menggunakan kata “liberal”. Di internal Katolik, Romo selalu berusaha menghindari penggunaan kata liberal, karena bisa mengundang kemarahan dari pihak-pihak lain yang tidak setuju. “Saya sampai dituduh bukan Katolik lagi, sudah jadi Protestan,” Romo Magnis mengeluhkan adanya tudingan bahwa dirinya tergolong liberal. Liberalisme pernah berbentuk perjuangan untuk demokrasi dan kebebasan pada abad ke-19, tetapi juga liberalisme kultural pada abad ke-20 yang menghendaki liberalisasi seksualitas. Bagi Romo Magnis, diperlukan sikap terbuka dalam hal menghargai atau respek terhadap berbagai keyakinan yang ada tanpa meninggalkan dasar agama. Keyakinan bisa berupa agama, non-agama, bahkan anti-agama dan anti-Tuhan. Pandangan bahwa Islam saat ini menghadapi kepungan pernah dirasakan oleh Katolik pada abad ke-19, dikepung oleh ide-ide Revolusi Prancis. Butuh 150 tahun bagi Katolik untuk keluar dari kepungan dan membuka diri terhadap isu-isu hak asasi manusia (HAM), melalui Konsili Vatikan II, sekitar 50 tahun lalu.

Menulis dalam buku The Clash of Ijtihad tentang posisi perempuan dalam Islam, Siti Musdah Mulia mengapresiasi upaya Profesor Kato meneliti tentang Indonesia. Seperti Romo Magnis, Musdah pun sering dicap liberal, dianggap anggota JIL, “Padahal saya tidak pernah masuk JIL.” Tetapi kalau dirinya dianggap pemikir muslim liberal, dalam arti tidak terikat pada mazhab tertentu, Musdah mengakui demikian. Pernah Musdah marah kepada mahasiswanya, “Kalau hanya mengambil rujukan dari abad ke-7, lalu apa gunanya kita hidup pada zaman sekarang. Semuanya tinggal menghapal saja, membuang-buang waktu, tidak perlu melakukan ijtihad.” Yang diperlukan adalah membaca ulang Al-Qur’an, tidak mesti berarti “mengedit Al-Qur’an”. Beberapa minggu yang lalu Musdah pernah ditanya tentang pandangan Islam mengenai lanjut usia (lansia). Dicari-cari di Al-Qur’an, tidak ditemukan satu pun tentang lansia, barangkali karena dulu tidak ada masalah dengan lansia. Tetapi Indonesia pada tahun 2060 akan menghadapi ledakan jumlah penduduk lansia. Ada lembaga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang berhasil menghimpun dana hingga 217 miliar rupiah, tetapi tidak ada pos untuk lansia karena dianggap tidak termasuk kriteria penerima zakat.

Salah satu penulis di buku The Clash of Ijtihad, Soffa Ihsan, menganggap buku tersebut komprehensif, dari tema-tema yang “bersih” sampai tema-tema yang “kumuh” dan marjinal seperti isu homoseksualitas dalam Islam. Isu homoseksualitas banyak ditentang, dikritik sana-sini, tetapi menurut Soffa itu merupakan bagian dari proses pencarian dalam Islam, bagian dari kontestasi pemikiran. Menilai pertentangan antara fundamentalisme dengan liberalisme, Soffa melihat bahwa perkembangan pemikiran di Indonesia sangat ditentukan oleh atmosfer politik. Keterbukaan ruang politik memberi kesempatan bagi ekspresi berbagai pemikiran. Soffa mempertanyakan apakah tidak mungkin terjadinya konvergensi antara fundamentalisme dengan liberalisme, misalnya bersama-sama mengolah proyek bersama.

Bagi Kato, tanpa adanya pertemuan dan diskusi antara kubu fundamentalis dengan kubu liberal, yang terjadi hanya deadlock. Menurut Suaedy, dalam suatu kesempatan Fauzan Anshari dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pernah berusaha mempertemukan Gus Dur dengan Ba’asyir di depan publik. Tetapi masalahnya, siapa yang menarik keuntungan dan siapa yang dirugikan secara politis dari pertemuan semacam itu. Bisa saja Gus Dur dianggap melegitimasi Ba’asyir yang pro-kekerasan, atau dianggap Gus Dur bermaksud menjinakkan Ba’asyir. Tanpa perlu bertemu secara fisik, Gus Dur sudah melakukan dialog yang luar biasa dengan kalangan fundamentalis ketika Gus Dur berteriak paling kencang menentang rencana kepolisian mengawasi pesantren-pesantren termasuk pesantren milik Ba’asyir. 

Irisan antara kubu fundamentalis dengan kelompok-kelompok yang bisa dianggap liberal juga terjadi pada isu-isu anti-kapitalisme. Pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terhadap kebobrokan kapitalisme hampir sama dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang mengkritik degradasi lingkungan oleh kapitalisme. Begitu pula dalam isu kemerdekaan Palestina, meskipun masing-masing mempunyai pendekatan yang berbeda. Human Rights Working Group (HRWG) yang liberal pernah bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, yang bisa digolongkan kelompok Islamis, menerbitkan Laporan Goldstone tentang pelanggaran HAM di Palestina yang merupakan laporan Tim Pencari Fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (TPF-PBB) dalam konflik Gaza. Tetapi barangkali memang sulit mengadakan dialog antara kubu fundamentalis dengan kubu liberal, mengingat adanya faktor represi yang dihadapi kelompok-kelompok fundamentalis, sehingga berkembang anggapan bahwa Islam terancam oleh dominasi Barat dan Yahudi melalui tangan-tangan kelompok liberal seperti JIL.

ISLAM DAN MODERNISME

Uniknya, menurut salah seorang penanggap dalam diskusi, kaum fundamentalis tidak serta-merta anti-modernitas. Para ulama fundamentalis sering bepergian dengan pesawat Garuda, dan gedung-gedung pesantren dilengkapi pendingin udara (AC). Membandingkan dengan pengalaman Jepang, dalam kasus Restorasi Meiji, apakah para shogun yang mempunyai karisma bisa disejajarkan dengan ulama di Indonesia. Menurut Kato, Shinto pernah menjadi agama nasional Jepang pada akhir abad ke-19. Restorasi Meiji merupakan sebuah krisis identitas di masyarakat Jepang. Kato menyoroti isu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara, khususnya keluarnya fatwa haram PLTN oleh ulama setempat. Ada pula ulama yang menganggap kalau PLTN pindah ke tempat lain, fatwanya menjadi boleh. Tetapi jumlahnya hanya sedikit, mayoritas menolak PLTN.

Menurut Kato, kita memerlukan neo-modernisme, yaitu modernisme yang pro kepada manusia. Peradaban Barat dinilai Kato tidak baik untuk masa depan umat manusia. Modernisme Barat menempatkan manusia berada di atas alam (nature), berorientasi kepada produksi massal dan konsumsi massal, menghendaki segala sesuatu yang serba-cepat. Hal serupa diamini Masdar F. Mas’udi dengan melihat gerakan anti-Wall Street yang merupakan kritik dari dalam peradaban Barat. Kapitalisme sebagai puncak dari evolusi peradaban manusia saat ini sedang dipertanyakan di seluruh dunia. Masdar mempertanyakan bagaimana peran agama menghadapi kapitalisme, dan hubungan antara agama dengan kekuasaan Negara dianggap sebagai isu panas di masa mendatang. Dalam pandangan agama, Negara adalah bayangan Tuhan di muka bumi, institusi yang bisa membunuh orang, tetapi bisa pula menyejahterakan umat manusia. Negara membutuhkan kendali moral dan spiritual yang disediakan oleh agama. Persoalannya, agama yang mengklaim dirinya paling otoritatif pun mempunyai masalah dalam dirinya. Menurut Masdar, para pejuang Syariat Islam saat ini sangat terobsesi untuk memotong tangan dan memenggal kepala para pelaku kriminal. Masalahnya, apakah dengan itu keadaan akan menjadi lebih baik. Masdar menawarkan sesuatu yang melampaui (beyond), sebuah perenialisme atau titik temu semua agama.

Kategorisasi antara fundamentalisme dan liberalisme pun dipersoalkan oleh Suaedy, yang merasa tidak nyaman dimasukkan dalam kubu liberal, seolah-olah dirinya pendukung Wall Street atau kapitalisme. Suaedy menawarkan kategori ketiga, yaitu “liberation”, posisi yang mirip dengan liberation theology (Teologi Pembebasan) yang berorientasi kepada keadilan. “Artinya bergabung dengan barisan anti-Wall Street,” tutur Suaedy mengomentari maraknya gerakan yang terinspirasi oleh Occupy Wall Street. Tetapi liberation itu sendiri mensyaratkan adanya kebebasan berpikir seperti diusung oleh kelompok liberal. Menurut Muhammad Subhi dari Wahid Institute, fundamentalisme dan liberalisme masing-masing tidaklah homogen, bahkan barangkali lebih mirip gradasi di antara dua kutub yang bertentangan.

Buku The Clash of Ijtihad menampilkan interpretasi berbagai pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Selain hasil penelitian Kato, tulisan-tulisan dalam buku ini juga berasal dari pemikir-pemikir liberal seperti Luthfi Assyaukanie dan Siti Musdah Mulia, tetapi juga pemikir-pemikir fundamentalis seperti Ismail Yusanto dan Zulkifliemansyah, dari isu sekularisme, nasionalisme, syariah, hingga tentang persoalan perempuan dan homoseksualitas dalam Islam.

Pernah bekerja sebagai Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>