Dari Workshop Latihan Penulisan Laporan

pelatihan_2011

Berselang dua bulan sejak Workshop Persiapan Penelitian, para peserta pelatihan kembali mengikuti rangkaian Workshop Penulisan Laporan yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Mei 2011, di GG House Happy Valley, Gadog, Bogor. Dari delapan peserta, salah satu peserta dari Aceh, M. Syuib Hamid (Musyu), tidak dapat ikut karena belum menyelesaikan laporan penelitian pada tenggat waktu yang sudah ditentukan. Dalam sesi brainstorming, Direktur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman, memberi apresiasi kepada para peserta yang masih mempertahankan integritasnya, dan berani mempertanggungjawabkan secara ilmiah temuan-temuan dalam penelitian yang sudah dikerjakan. Bagi Interseksi, program pelatihan ini ditujukan kepada para peserta sendiri, para peneliti muda, dan merekalah yang berhak mendapatkan credit point dari karya penelitiannya. Usai istirahat dan makan siang, secara maraton ketujuh peserta mempresentasikan laporannya dengan dipandu oleh Nico Harjanto dari CSIS (Center for Strategic and International Studies). 

Peserta dari Makassar, Muhammad Idris mewakili LAPAR (Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat), mempresentasikan laporan penelitiannya berjudul “Upaya Semen Tonasa Menekan Konflik Pertambangan”. Membandingkan dengan kasus-kasus pertambangan seperti di Ombilin (Sumatera Barat) dan Pati (Semen Gresik), Idris menemukan tidak adanya konflik terbuka antara masyarakat dan PT Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep (Sulawesi Selatan). Penelitian Idris difokuskan di desa lokasi Semen Tonasa yaitu Desa Biring Ere, Kecamatan Bungoro, Pangkep, dengan luasan lahan yang dikuasai Semen Tonasa mencakup 90% dan sisanya adalah lahan garapan masyarakat. Mengandalkan pada pertanian yang semakin menyusut produktivitasnya, banyak warga yang berharap dapat bekerja di Semen Tonasa, dan itulah yang kerap menjadi tuntutan dalam beberapa kali unjuk rasa. Tidak ada aksi protes apapun terarah pada keberadaan Semen Tonasa, sebaliknya pihak Semen Tonasa gencar mengucurkan dana pinjaman modal serta pelatihan komputer dalam kerangka CSR (corporate social responsibility), serta membangun sejumlah fasilitas publik seperti sekolah dari SD sampai SMA dan GOR (gedung olahraga). Masyarakat juga menikmati akses jalan yang dibangun Semen Tonasa, juga penerangan listrik yang disambungkan dari pabrik ke rumah-rumah warga. Dari uraian yang disampaikan Idris, bagi Hikmat jangan-jangan apa-apa yang diberikan Semen Tonasa sedikit-banyak memberikan banyak manfaat kepada warga meskipun tidak ada upaya untuk menghapus kemiskinan, sehingga lebih besar risiko bagi warga untuk memrotes keberadaan Semen Tonasa. 

DSC_0104

Sementara itu, Azzah Nilawaty dari Lafadl Initiatives terpaksa mengubah tema penelitiannya setelah temuan awal di lapangan menunjukkan sudah tutupnya sekolah informal yang mau diteliti. Azzah memutuskan mengganti tema menjadi “Menelusuri Peranan Advokasi dalam Pendidikan Sekolah Dasar Pasca-Bencana Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo”. Sekolah dasar (SD) Renokenongo 1 yang menjadi fokus penelitian kehilangan masa lalunya sebagai sekolah favorit setelah gedung sekolahnya tenggelam oleh lumpur Lapindo, hanya menyisakan enam siswa kelas VI yang kini ditampung di ruang perpustakaan SD Negeri Glagaharum. Ironisnya, di mata para aktivis yang melakukan kegiatan advokasi lumpur Lapindo, pendidikan bukanlah prioritas, hanya menjadi urusan pribadi-pribadi. Bagi mereka, terlalu banyak urusan lain sehingga kekurangan tenaga untuk menangani isu pendidikan. Menurut Hikmat, “kasus kecil” lumpur Lapindo merefleksikan betapa persoalan anak dianggap tidak penting, padahal saat ini boleh dibilang pendidikan telah menjadi kebutuhan primer, tidak lagi sekunder. 

DSC_0165
Peserta dari GANDI (Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi), Moch. Aly Taufiq dalam laporan penelitiannya berjudul “Survival Strategy Masyarakat Cina Benteng di tengah Himpitan Ekonomi dan Diskriminasi” menemukan kuatnya faktor budaya yang dipertahankan oleh warga Cina Benteng, khususnya yang berada di bantaran Sungai Cisadane, Kampung Tangga Asam, Kelurahan Mekarsari, Kota Tangerang. Keengganan untuk berpisah dari meja abu tempat persembahyangan yang menyimbolkan kekerabatan dan warisan nenek moyang disimpulkan oleh peneliti sebagai faktor yang mencegah berpindahnya warga Cina Benteng dari lokasi tempat tinggalnya. Menurut Nico, harus dicari penjelasan tentang reproduksi sosial dan kultural yang mengikat mereka sebagai komunitas, apakah ada forum-forum dan kegiatan budaya serta kepemimpinan sosialnya. Hikmat juga mempertanyakan faktor dari luar, sebab penjelasan internal tentang tidak adanya budaya merantau tidak bisa menjawab pertanyaan mengapa warga Cina Benteng merasa nyaman, seperti berada dalam comfort zone. Budaya bisa saja ditinggalkan jika ada faktor-faktor sosial ekonomi yang memaksa masyarakat untuk berubah.
DSC_0240
Paling unik, Basrie dari People’s Crisis Center (PCC) Aceh, dalam laporan penelitiannya berjudul “Distorsi Peran Panglima Uteun di Era Pemerintah Aceh setelah Dikeluarkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 1984” tidak bisa menjawab rumusan masalahnya sendiri karena setelah dicari ke mana-mana ternyata panglima uteun sudah tidak ada lagi. Basrie mengakui bahwa masyarakat Aceh seperti hidup dalam romantisme sejarah, mengagung-agungkan kebesaran masa Sultan Iskandar Muda. Hikmat menyarankan agar persoalan hilangnya panglima uteun dibandingkan dengan panglima laot yang masih bertahan, atau jangan-jangan panglima laot pun suatu saat akan bernasib sama.
IMG_5126
Peserta dari IRSAD (Institute for Religion and Sustainable Development) Padang, Mega Nofria mempresentasikan penelitiannya berjudul “Peran Perempuan Minangkabau dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga di tengah Budaya Matrilineal: Studi Kasus Pedagang Perempuan Pasar Raya Padang”. Faktor ekonomi menjadi pendorong terkuat mengapa perempuan Minangkabau berdagang di pasar, yaitu karena suami tidak bekerja, atau suami bekerja tetapi penghasilan tidak mencukupi kebutuhan keluarga, atau kondisi suami tidak memiliki pekerjaan tetap. Selain itu juga ada faktor-faktor non-ekonomi, yaitu kesetaraan gender, hobi, dan kesempatan kerja yang berkaitan dengan faktor keberadaan anak-anak. Sementara itu harta pusaka tak bisa dimanfaatkan karena terletak di kampung, atau telah dijual atas dasar kesepakatan bersama, atau faktor lingkungan yang mendorong dilepasnya harta pusaka. Menurut Hikmat, penulisan laporan Mega harus diperjelas metode penelitiannya, jika memang kualitatif jangan menampilkan angka-angka persentase, terkesan seperti survei, sebaiknya diganti dengan jumlah informan yang diwawancara. Tidak perlu mengejar banyak-banyak informan, bisa cukup satu atau dua orang, tetapi bercerita secara mendalam. Cerita mengenai pusaka yang harus dilepas karena migrasi ke kota pun bisa menjadi kisah yang menarik untuk diceritakan.
DSC_0303
Peneliti dari Interseksi, Indriani Widiastuti atau akrab dipanggil Dindie menyajikan laporan berjudul “Seni di Ruang Publik: Studi Kasus Aksi Toleransi terhadap Perbedaan melalui Gerakan Seni ‘Berbeda dan Merdeka 100%’”, dengan menampilkan sejumlah foto-foto mural dan media street art lainnya di sepanjang koridor jalan tol dalam kota Gatot Soebroto, Jakarta, dari tugu Pancoran hingga Plaza Semanggi. Meskipun mengusung pesan-pesan bermuatan berat yakni mempromosikan toleransi dan anti-kekerasan, tetapi “ideologi pertemanan” atau keinginan untuk “eksis”-lah yang membuat publikasi acara ini bisa bergerak luas. Apalagi ditunjang oleh keterlibatan para street artist senior seperti Respecta Gallery, Tembok Bomber dan Serrum.
IMG_5224
Terakhir, Firdaus dari PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Indonesia) Sumatera Barat memaparkan laporannya berjudul “Studi Perlawanan Pedagang Korban Bencana Gempa Terhadap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasar Raya Padang Pasca Bencana Gempa 30 September 2009”. Daus mencatat ada tiga faktor yang mendorong terjadinya protes para pedagang pasar, yaitu pembangunan kios darurat tanpa sosialisasi, jumlah kios darurat yang melebihi kapasitas untuk relokasi korban bencana, dan tertutupnya akses jalan ke Pasar Inpres II, III dan IV akibat pembangunan kios darurat. Pedagang melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kota (pemkot) dalam bentuk menggelar demonstrasi, melobi sejumlah instansi, dan memperlebar isu ke isu-isu lain selain bencana. Menurut Daus, sebab utama terus bereskalasinya perlawanan para pedagang adalah perbedaan perspektif antara pemkot dan pedagang. Pemkot menggunakan peraturan mengenai ketahanan gedung, sedang pedagang menggunakan peraturan mengenai bencana. Memang disinyalir ada kepentingan pemodal dalam kasus tersebut, tetapi penelitian ini tidak membahas sampai sejauh itu.
IMG_5257

Setelah semua peserta mempresentasikan laporannya hingga pertengahan hari kedua, acara diisi dengan materi “Standar Bahasa Indonesia dalam Penulisan Akademik” yang dibawakan oleh Ngarto Februana, saat ini menjabat sebagai redaktur Koran Tempo, staf ahli riset Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) dan penulis Indonesian Financial Review, sisipan pada Majalah Tempo. Ngarto juga sebelumnya berkecimpung sebagai redaktur bahasa di Majalah D&R dan Tabloid Detak serta mengajar tentang bahasa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Untuk mengkomunikasikan gagasan dalam ragam ilmiah, Ngarto menyebutkan enam hal yang harus dipenuhi dalam sebuah tulisan, yaitu jelas, ringkas, utuh, runtut, bertenaga, dan menggunakan kaidah bahasa. Jelas artinya menggunakan struktur kalimat yang efektif, memilih kata yang beracuan konkret, tidak absrak, dan menghindari jargon yang tidak umum. Ringkas artinya meniadakan pengulangan yang tidak perlu (redundancy) atau kata-kata yang mubazir, serta meringkas baik kata-kata, frasa maupun kalimat. Kalimat yang utuh berarti lengkap, yaitu mengandung setidaknya satu subjek dan satu predikat. Paragraf yang utuh berisi kalimat-kalimat yang bekerja sama dengan kompak, mengandung kualitas kesatuan topik, pengembangan ide dan kepaduan pikiran. Runtut artinya berurutan dalam menuliskan ruang, waktu, ukuran dan kepentingan. Bertenaga artinya menggunakan variasi dan repetisi yang efektif, membuat penekanan, dan menggunakan pilihan kata-kata atau istilah yang kuat.

IMG_5152
Dalam sesi terakhir, para peserta memperbaiki laporannya dan mempresentasikannya kembali. Taufiq masih harus turun kembali ke lapangan karena masih minim data yang diperlukan untuk menjawab tema penelitiannya mengenai strategi sintasan (survival) masyarakat Cina Benteng. Kembali ke lapangan pun bukan berarti mengkonfirmasikan dugaan-dugaan seputar faktor-faktor sintasan, tidak pula mewawancarai banyak orang. Untuk itu dibutuhkan intimitas (kedekatan) dengan informan, tetapi jangan sampai terjebak pada simpati berlebihan, cukup berhenti pada empati. Basrie mengubah penelitiannya menjadi meneliti faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya eksistensi panglima uteun dalam tatanan adat Aceh saat ini. Jika dibandingkan dengan panglima laot yang masih eksis, kajian tentang panglima uteun hampir tidak ada sama sekali. Penelitian Basrie bisa menjadi kajian lengkap tentang panglima uteun, termasuk kajian tentang peninggalan-peninggalan budayanya seperti mantra-mantra, mitos atau kisah mistik tentang kesaktian panglima uteun, dan senjata tradisional yang digunakan. Sementara untuk lainnya relatif hanya perlu memperbaiki cara penulisan dan kerangka tulisan, karena praktis sudah banyak data yang ditemukan berkaitan dengan tema penelitian. Beberapa catatan misalnya Azzah yang masih kurang menjelaskan tentang apa saja yang dikerjakan oleh LSM-LSM yang melakukan kegiatan advokasi bencana lumpur Lapindo, dan Mega yang langsung menukik pada kesimpulan dalam setiap bagian penulisan. Tidak lupa, Hikmat mengingatkan pentingnya peta lokasi pada setiap laporan penelitian. Dan, mengutip penjelasan Ngarto pada sesi sebelumnya, masing-masing harus berani untuk menjadi editor bagi tulisannya sendiri, kritis dan mengambil jarak dengan tulisan ketika melakukan self-editing. “Prinsipnya, daripada nanti dibuang oleh editor, lebih baik dibuang dulu sendiri,” demikian Hikmat menekankan.
Setelah workshop, peserta mempunyai waktu hingga 5 Juni 2011 untuk menyempurnakan laporannya, sebelum memasuki proses penyuntingan oleh Yayasan Interseksi. Karya yang terpilih akan dipublikasikan dalam bentuk buku, dan tidak menutup kemungkinan semua dipublikasikan jika memang berkualitas.
Pernah bekerja sebagai Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>