Decompression #10:

PERJALANAN SEPULUH TAHUN SEBUAH RUANG INISIATIF

“Gue pikir kalo RuangRupa bisa bertahan sampai 2 tahun aja, gue udah seneng…Jadi ke depan, kalo bisa bertahan sampe 10 tahun ya sukur aja, biar begini terus…” (Hafiz, Absolut Versus, 2002)

Di zaman yang serba terburu-buru ini, sepuluh tahun adalah waktu yang singkat. Teringat akan diskusi dengan beberapa orang teman mengenai berapa lama sebuah kolektif akan bertahan, “Sepuluh tahun, setelah itu jika mereka tidak terus memperbaharui isu-isu yang berkembang di dalamnya, kolektif itu akan menjadi basi,” tukasnya. Tahun 2010 dan Ruangrupa genap berusia sepuluh tahun. Sepuluh tahun untuk bersama-sama merekam masa terpenting dalam pergerakan seni kontemporer di tengah perkembangan sosial budaya, gonjang-ganjing politik di tanah air dan dunia. 

Dalam perayaan ulang tahunnya yang kesepuluh, ruangrupa memamerkan seluruh pergerakannya selama satu dekade terakhir dalam rangkaian kegiatan “Decompression #10: 10 Tahun ruangrupa”. Kegiatan ini melibatkan seniman, pelajar, masyarakat, praktisi, komunitas, dan berbagai organisasi seni, budaya dan sosial. Perhelatan akbar ini terdiri atas pameran (RURU & FRIENDS, RURU.ZIP, RURU.NET, Multimedia Arts in Indonesia, Jakarta 32°C), peluncuran buku dan film dokumenter (Initiative, Dokumenter Ruangrupa: Alternative Space and Network, Kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia), pemutaran film (tergabung dalam Fringe Program), seminar, acara musik (RRREC Fest) dan acara untuk anak-anak dan remaja (RURUKIDS). Acara ini diselenggarakan di tiga kota: Jakarta, Bandung dan Yogyakarta, selama sebulan penuh sejak tanggal 28 Desember 2010 hingga 27 Januari 2011. Pantas disebut akbar, bukan

Sangat beruntung saya dapat mengikuti beberapa kegiatannya, antara lain: opening ceremony, RRREC Fest, seminar “Budaya dan Masyarakat Digital, “Seni Rupa dan Aktivisme”, juga diskusi “Talking ‘Bout My Generation”. Begitu banyak pembicaraan mengenai seni media baru di dalamnya, keterlibatan publik di dalam sebuah karya seorang seniman dan kedekatan antara seniman-pengapresiasi yang tidak lagi seperti 10 tahun silam, ketika status seniman masih begitu eksklusif. Di pamerannya pun, banyak seniman yang memamerkan karya-karya interaktif. Pengunjung dapat membawa pulang benda-benda yang dibagikan secara gratis (stiker, kartupos, booklet atau zine), menggambari bidang-bidang yang disediakan, menyablon, bahkan memamerkan hasil coret-coretannya di ruang pamer yang sama. Setiap orang pasti bisa mencipta dan menjadi seniman di acara ini. Maka tidak heran di malam pembukaan pameran, satu karya bisa dikelilingi 5-7 orang. Saya belajar dari pengalaman dan dijadikan kebiasaan, yaitu “nonton yang nonton” atau bersosialisasi akan terasa lebih tepat, daripada menikmati karya pada saat malam pembukaan pameran.

Decompression #10, lebih seperti perjumpaan dan nostalgia dengan teman-teman lama atau idola lama dan di saat yang sama dipertemukan dengan teman-teman dan wawasan baru. Ruangrupa berhasil menghadirkan perasaan itu di seluruh rangkaian acaranya, persis seperti kutipan tulisan Ronny Agustinus (Absolut Versus, 2002, hlm.41) berikut:

“Ruangrupa mencoba menggarap , sebagai sekelompok individu yang punya narasi kecilnya sendiri-sendiri , dalam himpitan ruang yang begini lebar namun sesak, tanpa perlu dikategorikan secara sempit sebagai ini atau itu, keinsyafan sepenuhnya bahwa cita idiil kebudayaan pada mulanya adalah angan-angan, gerak hidup seni berpangkal ingatan, yang kecil, yang personal, remeh, sahaja, kadang terabai, yang tanpanya hidup justru jadi tak punya arti”

Saya dan RuangRupa

Kembali ke tahun 2004, saya ingat berjalan kaki di tengah teriknya matahari pukul tiga sore menuju sebuah rumah, yang saya dengar dari teman main saya ‘sarangnya’ Dewan Jenderal (sekumpulan seniman yang rela masuk penjara, kemudian berkarya dari sana, sampai sekarang saya tidak pernah mengecek kebenarannya) atau tempat berkumpulnya anggota band yang sering pentas di Monday Mayhem (acara musik yang rutin diadakan setiap hari Senin di PARC cafe, Jakarta Selatan). Saat itu misi saya hanya satu, yaitu menyerahkan proposal kegiatan seni kampus, amanat dari teman-teman. Mereka sudah terlanjur mencap saya dekat dengan ruangrupa, baik secara geografis, hobi maupun pertemanan. Pada kenyataannya, jarak antara rumah-ruangrupa memang dekat (ruang rupa masa itu masih di Tebet Barat), namun secara hubungan pertemanan tidak dekat sama sekali. Sambil melintas di jembatan saya berpikir, siapa yang harus saya temui nanti.

Hari itu untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Indra Ameng dan Ade Darmawan, yang menolak proposal pendanaan saya secara halus, “Kalau publikasi mungkin kita bisa bantu sebarin di sini ya.” Lima tahun kemudian, 2011, saya baru mengerti mengapa Ade menolak proposal itu :

“Misalnya pernah datang ke RuangRupa dua orang pelukis membawa proposal pengajuan rencana pameran lengkap dengan rincian dananya sekaligus. Hafiz menolaknya dengan tegas waktu itu (memangnya RuangRupa ini galeri, funding, departemen atau apaan?), dengan penjelasan bahwa RuangRupa adalah organisasi -artist initiative istilahnya-…” (Ronny Agustinus, 2002, hlm. 22)

Tahun 2010 adalah masa saya kembali akrab dengan ruangrupa. Saya terlibat di beberapa kegiatan yang diselenggarkan oleh ruangrupa (bazaar, Art on Poskart, proyek animasi UNESCO tentang perlindungan orang utan ). Saya semakin mengerti bahwa terdapat kemiripan tujuan antara program yang diselenggarakan oleh ruangrupa dengan Yayasan Interseksi, antara lain memungkinkan individu-individu atau kelompok untuk bertemu, bertukar pengalaman, berdebat, menimba ilmu dan menghasilkan karya. Mungkin hal ini yang acap kali luput dari pandangan banyak orang ketika memandang ruangrupa layaknya tempat nongkrong paling hip abad ini. 

Setelah sepuluh tahun kerja keras menghadapi pasang surut dan ketidakpastian, saat ini adalah saat di mana ruangrupa bisa bernafas lega dan menikmati hasil. Semoga ruangrupa terus memiliki ingatan akan hal-hal yang membuat ia hidup, tentang orang-orang di sekitarnya dan cerita tentang kota yang terangkum dalam tumpukan arsip yang mereka punya. Karena hal itulah, kini ruangrupa dapat membongkar arsip dan data untuk menemukan bahasan baru, yang relevan dengan konteks terkini dan tidak menjadi basi. Seperti arti kata decompress, 1: melepaskan atau mengurangi tekanan fisik pada sesuatu ,2: (komputer) mengembalikan data yang sudah dikecilkan ke ukurannya semula.

Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>