Harimau Minahasa di Festival Filem Dokumenter Yogyakarta 2015

Setelah penayangan perdana di Arkipel-Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival, Agustus lalu, filem Harimau Minahasa kembali diputar secara umum dalam kompetisi Festival Filem Dokumenter Yogyakarta (FFD) yang diselenggarakan pada 7-12 Desember 2015. Beberapa lokasi pemutaran filem bertempat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Auditorium Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta. Festival yang sudah memasuki usia ke-14 tersebut mencatat bahwa ada 133 filem yang mendaftar dari seluruh kota di Indonesia, baik kategori filem panjang maupun filem pendek. Harimau Minahasa terpilih sebagai finalis kategori dokumenter panjang yang diputar pada tanggal 10 dan 11 Desember 2015.

DSCN4545

Saya sendiri diundang sebagai perwakilan filem untuk menghadiri festival tersebut, khususnya untuk mengisi tanya jawab yang digelar seusai pemutaran filem. Pemutaran pertama berlangsung di Gedung Societet, TBY. Pemutaran yang dihadiri oleh kurang lebih 20 orang penonton ini dimulai dengan tepat waktu dan berjalan lancar. Di akhir pemutaran diadakan sesi tanya jawab dengan penonton.

Filem Harimau Minahasa berkisah tentang Budiono, pemuda perantau dari Jember yang bekerja di perkebunan pala di Minahasa Utara. Ateng, begitu ia biasa dipanggil oleh orang-orang di sekitarnya, bisa diterima oleh warga untuk bekerja dan tinggal di sebuah perkebunan milik bosnya. Yang paling ditunggu dalam filem ini adalah adegan ketika Ateng mengalami kerasukan oleh leluhurnya sendiri, Sang Kakek. Dialog yang tak terjembatani akibat perbedaan bahasa menjadi sebuah identitas asal yang menyertai diri Ateng di manapun ia berada.

DSCN4521

Filem Harimau Minahasa merupakan realisasi dari saya dan Andang Kelana dan merupakan produksi dari Interseksi Foundation. Filem yang memakan waktu pengambilan gambar selama kurang lebih seminggu di Desa Treman, Minahasa Utara merupakan bagian dari program Interseksi yaitu penelitian tentang kota-kota di Sulawesi, yang hasil akhirnya berupa buku. Kembali ke festival, setelah saya memberikan sedikit pengantar, moderator memberi kesempatan bagi penonton untuk mengajukan beberapa pertanyaan terkait tentang proses pembuatan filem ini. Pada pemutaran pertama, tidak terlalu banyak pertanyaan yang muncul, tetapi lebih banyak tanggapan yang menyatakan bahwa filem ini telah menghadirkan estetika yang tak biasa jika dibandingkan dengan filem dokumenter umumnya. “Jadi filem ini menyuguhkan estetika yang berbeda walau filem ini adalah filem ‘pesanan’.” ujar seorang penonton yang memberi tanggapan.

DSCN4571

Pemutaran kedua, 11 Desember 2015, seharusnya berlangsung di Ruang Amphiteater (ruang outdoor), tetapi karena sepanjang sore turun hujan di kawasan TBY, penayangan filem dipindahkan ke ruang seminar. Tak diduga, pemutaran kedua lebih banyak menarik perhatian penonton ketimbang penayangan pertama. Kurang lebih 30 penonton menyaksikan pemutaran filem yang masuk dalam program kompetisi ini. Ternyata hujan tak meredakan niat penonton untuk menyaksikan Harimau Minahasa. Sama seperti penayangan sebelumnya, pemutaran kali ini juga diakhiri dengan tanya jawab. Saya pun menyampaikan pengantar yang sama seperti pada pemutaran pertama. Dalam pemutaran kedua ini, pertanyaan yang muncul lebih banyak dibandingkan dengan pemutaran pertama. Walau hampir serupa dengan penayangan yang pertama, yaitu, bagaimana mengemas dokumenter seperti ini (terlihat sebagai filem bukan informasi) dan bagaimana proses produksinya. Dalam pengamatan saya, tanggapan ini cukup baik untuk melihat respon dari penonton di Yogyakarta.

DSCN4667

Pada festival tahun ini, Filem Tanah Mama karya Asrida Elisabeth berhasil meraih penghargaan terbaik dalam kategori filem panjang, FFD 2015. Penutupan festival yang berlangsung di gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, juga memberikan penghargaan kepada filem dokumenter pendek terbaik dan dokumenter pelajar terbaik. Sedikit tanggapan dari saya, FFD yang memasuki di usia ke-14 ini seharusnya sudah bisa menjembatani persoalan mendasar tentang bagaimana filem dokumenter dilihat sebagai filem, bukan hanya sebatas persoalan informasi. Keumuman mata yang terbiasa melihat sebuah tayangan produk televisi seakan tidak terjembatani di festival ini. Dalam amatan saya, publik yang menyaksikan festival masih beranggapan bahwa dokumenter masih sebatas informasi. Dalam artian sempit bagaimana tayangan yang sering muncul di televisi dipindahkan ke ruang bioskop. Selain itu, publik masih mengedepankan isu atau narasi dan melupakan estetikanya sebagai medium filem (gambar dan suara). Program pendukung, seperti perspektif, yang diinisiasi sebagai usaha melihat perkembangan dokumenter yang sudah semakin maju, ternyata masih belum cukup bagi publik Yogyakarta untuk mengubah pandangan dalam melihat dokumenter sebagai suatu filem.

Peserta Program pelatihan Cross-Culture Video Making Project For Peace: Crossing Boundaries 2010, Yayasan Interseksi