Komitmen Jokowi dalam Dunia Penelitian

Dalam sebuah seminar yang digagas bersama LIPI, Akatiga, dan Seknas Jokowi, presiden terpilih  Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi  menepati janjinya untuk datang menemui komunitas peneliti dan akademisi. Tepat Pukul 15.00 WIB, Jokowi dan protokoler yang mendampinginya memasuki ruang auditorium LIPI dan memberikan kuliah umum dalam seminar bertajuk “Menyambut Penguatan Lembaga Penelitian dan Pengembangan dalam Kebijakan Pemerintah dan Pembangunan Nasional”. Ketika Jokowi memasuki ruangan, para peserta berdiri dan sibuk untuk mengabadikan gambar Jokowi melalui kamera telepon seluler mereka. Setelah Jokowi bersalaman dengan petinggi LIPI dan pembicara yang duduk di bangku depan, pembawa acara mengajak peserta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum memulai acara diskusi. Selesai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, Jokowi bersama Kepala LIPI, Lukman Hakim, menempati kursi pembicara yang telah disediakan.

Dalam pembukanya, Jokowi mengatakan bahwa ia baru mengetahui kalau LIPI merupakan lembaga yang berada langsung di bawah presiden. Hal itu  baruia ketahui  ketika pihak dari LIPI mendatanginya. Menurutnya, kalau memang belum tahu yah tidak apa-apa karena memang saya belum tahu.Selanjutnya, ia mengutarakan mengenai rencana pembentukkan kabinet pada masa pemerintahannya. Nantinya Kementerian Tinggi Riset dan Teknologi akan dijadikan dalam satu kementerian. Alasannya adalah karena kedepannya diharapkan riset yang berhubungan dengan teknologi, sosial dan pertanian bisa diaplikasikan dan dirasakan langsung hasilnya oleh masyakarat.Jadi secara nyata riset dilihat oleh masyarakat sebagai sesuatu yang bermanfaat.

jokowi antara

Sumber: Antara

Jokowi mengatakan bahwa metode riset apapun nantinya akan diberikan anggaran yang besar. Peserta yang mendengar bahwa penelitian akan diberikan anggaran yang besar langsung memberikan tepuk tangan yang meriah kepadanya. Jokowi melanjutkan pernyataannya bahwa besarnya berapa ia juga belum mengetahui. Hadirin kemudian tertawa mendengar kelanjutan pernyataan Jokowi tersebut.Menurut Jokowi, anggaran yang besar belum tentu mendapatkan manfaat yang besar. Ia  mengutarakan bahwa riset-riset beberapa tahun kebelakang tidak terkonsolidasi secara baik. Anggaran tersedia di setiap kementerian, tetapi outputnya belum kelihatan.Padahal kita punya lembaga-lembaga penelitian seperti LIPI, Batan, BPP dan Lapan. Di semua kementerian dilakukan berbagai macam riset, tetapi fokusnya mau kemana, dipakai untuk apa, siapa yang memanfaatkan masih belum ditindaklanjuti dengan baik.

Riset-riset sosial yang sangat diperlukan ternyata belum dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga atau dunia usaha yang sebetulnya memerlukan output dari penelitian tersebut.Ia memberikan contoh tentang pertanian. Berdasarkan pengamatannya dan pembicaraan dengan petani di beberapa tempat, ternyata pada satu hektar lahan hanya menghasilkan 4-6 ton beras, sementara di negara lain satu hektar bisa mencapai 10-12 ton. Menurutnya, varietas padi yang ada di Indonesia kurang diperbaharui.Jadi, petani menggunakan bibit yang itu-itu saja.Ia kemudian menceritakan pengalamamnya sewaktu kecil di sawah.Pada saat itu, ia melihat sawah petani dibajak oleh sapi atau kerbau. Ternyata ketika dua minggu yang lalu ia kembali ke sawah, masih terdapat petani yang menggunakan sapi atau kerbau untuk membajak sawah mereka. Itu artinya tidak ada kemajuan yang dilakukan oleh petani kita dalam pengelolaan sawah.Dari situasi tersebut dapat dilihat bahwa belum ada pendampingan untuk petani kita.Kondisi itu juga menunjukkan kalau selama ini kita tidak menangani lapangan dengan baik.Petani seperti dibiarkan dan tidak ada yang memikirkan nasib mereka.Inilah yang menjadi pekerjaan kedepannya, dimana LIPI atau Kementerian Pertanian berperan dalam menanganimasalah tersebut.  Jokowi menginginkan nanti  pada masa pemerintahannya, setiap dua tahun terjadi perubahan dalam pengelolaan lahan yang dilakukan oleh petani, misalnya, petani tidak lagi menggunakan kerbau untuk membajak sawah, tetapi sudah mennggunakan teknologi canggih untuk mengelola lahanya.

Jokowi kemudian membandingkan varietas padi yang ada di Amerika dengan di Indonesia. Menurutnya, tinggi varietas padi yang ada di Amerika bisa mencapai 2,5 meter, sedangkan di Indonesia sekitar 90 cm. Untuk mengetahui lebih detail mengenai perbedaan itu, diperlukan sebuah penelitian menyangkut hal tersebut. Jokowi bertanya kepada Lukman mengenai berapa total biaya anggaran penelitian yang ideal? Lukman mengatakan bahwa saat ini biaya yang dialokasikan untuk penelitian dari pemerintah adalah 0.08 % per total Gross Domestic Product (GDP), yang artinya sekitar 10 triliyun rupiah.Menurut Lukman, anggaran penelitian yang ideal adalah 1% per total GDP, yaitu sekitar 80 triliyun rupiah. Jokowi menanggapi penjelasan dari Lukman dengan mengatakan bahwa ia tidak berjanji akan memberikan biaya 80 triliyun untuk anggaran penelitian, tetapi dia mengupayakan agar anggaran tersebut bisa naik dari angka sebelumnya.

20140916_112449Jokowi bercerita bahwa saat ini hampir setiap kementerian membuat penelitian sendiri-sendiri dan tujuannya hanya untuk mereka saja, bukan untuk kepentingan rakyat.Menurutnya penelitian tersebut menjadi sangat parsial dan hasilnya pun belum kelihatan.Jokowi mencontohkan mengenai produki mobil SMK. Awalnya ia tertarik dengan mobil yang dibuat oleh murid-murid di sekolah menengah kejuruan(SMK) di Solo, tetapi mobil tersebut belum lulus untuk uji emisi. Jokowi bersikeras untuk membeli dan menggunakan mobil itu sebagai mobil dinasnya.Jokowi mengatakan bahwa jangan salahkan saya jika saya terkenal karena menggunakan mobil SMK.Karena posisinya dalam konteks tersebut adalah sebagai brand ambassador saja.Ia hanya mengapresiasi karya dari murid SMK yang bisa menciptakan mobil tersebut.Jokowi menambahkan bahwa hal-hal seperti itu lah yang harus digarap.Artinya setiap kepala daerah harus memperhatikan hasil-hasil dari sebuah penelitian.Ia juga berharap bahwa setiap tahun hasil riset yang telah dilakukan dapat diperbaharui. Menurutnya, masih banyak hal yang belum digali dari indonesia, salah satu contohnya adalah mengenai kemaritiman Indonesia.

Dalam bidang pertanian, Jokowi menargetkanagar Indonesia bisa melakukan swasembada pangan dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Ia juga mengharapkan agar lembaga penelitian ikut membantu melaksanakan keinginannya itu dengan cara menghasilkan benih-benih padi yang bisa memproduksi beras sekitar 8-12 ton pada satu hektar tanah. Jokowi juga berencana pada tahun ke empat dia menjabat sebagai presiden, akan dibuat hilirisasi produk-produk pertanian, misalnya, buah-buahan. Bagi buah-buahan yang mudah membusuk seperti semangka, nantinya akan dibuat ekstraknya. Tujuannya adalah agar buah tersebut bisa dikonsumsi pada waktu kapan pun. Apabila inovasi tersebut berhasil, ekstrak buah-buahan akan dijadikan sebagai komoditas ekspor nantinya.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>