Manusia sebagai Pusat Alam Semesta

Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR)-LIPI mengadakan public lecture series yang bertajuk “Area Studies: History, Concept, and Method” sebagai bagian dari program Global Village tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI. Pada Kamis, 13 Oktober 2016, telah diselenggarakan kuliah umum yang keenam, dengan menghadirkan Dr. Itty Abraham dari National University of Singapore (NUS). Dalam kesempatan tersebut, Ia menyampaikan topik mengenai perkembangan studi kawasan di era antroposcene, yaitu era di mana aktivitas manusia memiliki pengaruh dominan terhadap lingkungan.

Dr. Fadjar I. Thufail, selaku moderator, memulai diskusi dengan pemaparan latar belakang dari penyelenggaraan program public lecture series. Selanjutnya, Abraham memulai paparannya dengan memberikan refleksi tentang bagaimana seharusnya studi kawasan diejawantahkan? Refleksi ini ia dapatkan dari pengalamannya selama ini. Sebelum beraktivitas di Singapura, Ia sudah berpengalaman di berbagai kampus dan lembaga penelitian, di antaranya, assistant professor di University of Texas, research fellow di Asia Center di Washington, dan yang paling lama Ia geluti adalah ketika menjadi program director di Social Science Research Council di New York dengan spesialisasi South Asia Studies, South East Asia Studies dan Global Security and Cooperation. Dari pengalaman selama lebih dari 13 tahun tersebut, Ia mendapatkan berbagai pengalaman dari beragam penelitian yang sudah dilakukan. Ia menemukan bahwa segala penelitian yang Ia lakukan merupakan bagian dari studi kawasan. Salah satunya adalah pengalaman ketika Ia menulis desertasi untuk program Ph.D yang dilakukan di India dan Brazil.

dsc_7769

Dalam penelitian tersebut, Ia sangat memahami tentang kondisi di India, tetapi Ia sama sekali tidak memahami tentang apa yang terjadi di Brazil. Tetapi, Ia menemukan bahwa masyarakat yang ada di Brazil dan India memiliki karakteristik yang sama. Dari sana, Ia mendapatkan bahwa telah ada jarak intelektual antara ilmuwan dari belahan utara (Eropa dan Amerika Utara) dengan ilmuwan dari belahan selatan (Asia, Amerika Selatan, dan Afrika). Selain itu, iya juga menemukan bahwa studi kawasan memiliki hubungan yang saling berpengaruh dengan studi-studi empiris.

Menurut Abraham, studi kawasan seharusnya tidak lagi bergantung dengan teori-teori yang dilahirkan oleh ilmuwan dari belahan utara. Yang dibutuhkan saat ini adalah adanya global scholarship, di mana pengetahuan bisa dilahirkan dari berbagai belahan dunia. Setiap orang atau lembaga yang sudah melakukan penelitian secara intensif dan empirik terhadap suatu wilayah bisa melahirkan sebuah teori baru tanpa perlu mempertimbangkan teori-teori yang sudah mapan. Misalnya, studi tentang kawasan Asia Selatan dapat melahirkan teori baru tentang wilayah tersebut tanpa bergantung kepada teori-teori lama. Hal ini bertujuan untuk menghindari diskrepansi antara temuan empirik dengan teori yang digunakannya. Selain itu, hal ini juga dapat menghindari kesan bahwa seorang peneliti hanya cenderung menghubungkan secara paksa hasil penelitiannya dengan teori yang ia gunakan.

Sebenarnya, upaya untuk menggali gagasan baru tentang suatu wilayah sudah dilakukan sejak masa lalu. Namun, perbedaannya adalah kajian-kajian tersebut masih dilakukan oleh orang yang berasal dari belahan dunia bagian utara. Misalnya, Clifford Geertz yang melakukan penelitian di Indonesia dan menghasilkan teori baru, khususnya tentang masyarakat Jawa. Apa yang dilakukan oleh Geertz, yakni melakukan penelitian di Indonesia dan menghasilkan gagasan baru, seharusnya bisa dilakukan oleh para ilmuwan di Indonesia. Begitu pula mereka yang berasal dari belahan dunia yang lain, seharusnya bisa melakukan studi kawasan dan memproduksi gagasan baru di dan tentang wilayahnya.

Selanjutnya, Abraham menyampaikan mengenai tema-tema yang menjadi perhatian utama ilmu sosial. Ia menyampaikan tentang tiga tema utama tentang apa yang dipikirkan oleh para pihak, termasuk ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat sipil, di era saat ini. Ketiga tema tersebut adalah planetary theme, global theme, dan universal theme. Tema-tema tersebut yang saat ini paling banyak didiskusikan terkait dengan bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di masa kini dan upaya-upaya menghindari resiko lebih lanjut di masa depan.

Pertama, planetary theme yang berkonsentrasi pada pembahasan-pembahasan terkait dengan lingkungan. Kajian-kajian yang dilakukan membahas tentang perubahan iklim dan perubahan lingkungan. Misalnya masalah seperti pemanasan global, tidak hanya bisa diselesaikan oleh pihak tertentu (negara-negara di Amerika Utara dan Eropa), tetapi juga menjadi tanggung jawab bagi negara-negara lain. Pembahasan-pembahasan ini bertujuan untuk menciptakan sekaligus mempertahankan pembangunan berkelanjutan.

Kedua, global theme yang fokus pada pembahasan-pembahasan terkait dengan hubungan antarmanusia secara global. Tema ini muncul di permukaan akibat perkembangan teknologi, khususnya telepon dan internet yang menyebabkan dimensi waktu menjadi relatif. Orang dari Argentina, misalnya, akan dengan mudah menghubungi orang yang berada di Cina dengan memanfaatkan jaringan internet. DI sini, perbedaan waktu tidak berpengaruh secara signifikan karena jaringan internet telah membantu mempercepat komunikasi antara kedua orang tersebut yang berada di dua belahan dunia yang berbeda.

Ketiga, universal theme yang berpengaruh terhadap perubahan cara berpikir setiap individu. Kondisi ini lahir setelah berkembang dan mapannya kapitalisme di dunia. Perubahan cara berpikir ini semakin tak terbendung ketika kapitalisme telah berubah wujud menjadi kapitalisme global. Tidak hanya sampai di situ, kapitalisme global kemudian berubah menjadi fenomena global. Salah satu akibatnya adalah perkembangan pengetahuan yang dipengaruhi oleh tempat, politik, narasi masa lalu, dan kekuasaan. Contoh nyatanya adalah bagaimana studi-studi post-colonial masih didominasi oleh negara maju. Ada sebuah ungkapan terkait kondisi ini yang berbunyi ”aku (negara maju) lebih pintar daripada kalian (negara dunia ketiga)”. Kondisi ini perlu dikritisi, karena jika dibiarkan berkembang justru akan mempertegas kontradiksi dari perkembangan kajian post-colonial.

Selanjutnya, Abraham menjelaskan berbagai contoh kontemporer tentang bagaimana manusia, yang berada di pusat dari hubungan ekologis, memiliki pengaruh terhadap lingkungan. Pemahaman ini muncul untuk memberi batasan-batasan baru tentang studi kawasan. Hal ini diperlukan untuk menunjukkan bahwa manusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam. Selain itu, ini penting untuk memperkuat pemahaman tentang manusia dan alam itu sendiri.

Contoh pertama untuk memahami penjelasan di atas adalah cerita tentang Himalayan Snow Leopard. Hewan ini termasuk dalam kategori yang terancam punah. Habitatnya, sesuai dengan namanya, berada di pusat dari Eurasia, yaitu pegunungan Himalaya. Habitatnya semakin menyempit karena berbagai aktivitas manusia. Di sini lah letak dari perbedaan cara hidup antara manusia dan non-manusia. Salah satu dari mereka dipaksa untuk menyusuaikan diri dengan yang lain.

Untuk kasus di atas, hewan tersebut dipaksa untuk hidup di habitat manusia, karena ekosistemnya rusak dan habitatnya menyempit akibat aktivitas manusia. Salah satu contohnya adalah, mereka saat ini sudah tidak lagi dapat berburu makanan karena jumlah hewan yang layak untuk dijadikan mangsa semakin sedikit dan terdesak. Akibatnya, mereka akhirnya memilih untuk mencari sumber makanan dari sisa aktivitas manusia, dengan kata lain, mereka memakan sampah yang diproduksi manusia. Kasus serupa mungkin saja terjadi di belahan dunia yang lainnya. Contoh sederhananya adalah hewan ternak yang mulai kehilangan lahan untuk mencari rumput sehingga memiliki peluang yang sama untuk memakan sampah manusia.

Contoh kedua adalah dibangunnya sea wall di beberapa pantai di belahan dunia. Pada awalnya, tujuan dari dibangunnya sea wall ini adalah untuk meminimalisir akibat yang mungkin ditimbulkan oleh bencana tsunami. Selain itu, tembok ini juga dibangun untuk menghindari terjadinya erosi dan banjir rob. Namun, dampak yang ditimbulkan dari pembangunan tembok ini justru bertolakbelakng dengan tujuan pembangunannya. Misalnya, pembangunan tembok ini justru mempercepat erosi di tepi pantai. Akibatnya, pantai tersebut semakin curam sehingga mengganggu ekosistem laut di sekitarnya.

Peristiwa banjir di sekitar Sungai Kosi di India pada 2008 menjadi contoh lain tentang bagaimana pembangunan tanggul sungai—yang memiliki fungsi yang mirip dengan tembok laut –memiliki dampak negatif terhadap manusia dan alam. Abraham menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan kolonial Inggris, dibangunlah sebuah tanggul yang lebih tinggi dari permukaan sungai guna menghindari banjir dan erosi. Beberapa tahun setelahnya, banjir masih mengancam wilayah di sekitar sungai tersebut. Namun, pemerintahan India justru meneruskan upaya yang sama dengan pemerintah kolonial Inggris. Akibatnya, permukaan sungai semakin tinggi dan, seiring berjalannya waktu, lereng-lereng di sekitarnya mengalami erosi. Akibatnya, bencana banjir besar terjadi pada 2008 yang memberikan kerugian bagi kurang lebh 2,3 juta orang di sekitarnya.

Contoh-contoh tersebut menjadi penjelas bahwa saat ini perkembangan ilmu sosial dan studi kawasan semakin mengarah pada tiga tema kunci yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu planetary theme, global theme, dan universal theme.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation