Masyarakat Perkotaan dan Budaya Kosmopolitan di Tiga Kota Asia Tenggara Era Kolonial

Pasted Graphic
Sumber foto: Rujak Center for Urban StudiesDalam sejarah Asia Tenggara, kota-kota pelabuhan merupakan pusat-pusat perdagangan bahari yang menjadi ruang hidup bersama bagi beragam kelompok etnik. Bagaimana perkembangan masyarakat perkotaan tersebut? Apakah kelompok-kelompok etnik itu saling berinteraksi, ataukah hidup terpisah seperti yang disebut cendekiawan kolonial sebagai “masyarakat plural”? Bagaimana pengaruh yang terjadi selama masa kolonialisme? Rujak Center for Urban Studies mengadakan diskusi di Goethe Haus, Jakarta (20/12/2011), memperbincangkan evolusi tata kota pada masa kolonial dengan fokus pada ruang bersama bagi kelompok-kelompok etnik yang turut menyumbang bagi lahirnya ranah publik baru, dalam ruang publik, perkumpulan, melalui media cetak, sekolah-sekolah, dan berbagi pengalaman budaya modern dan populer. 

Berbicara dalam diskusi, Dr. Su Lin Lewis, profesor asisten tamu di Departemen Studi Asia Selatan dan Tenggara Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, lebih banyak memfokuskan pada kota Yangon (Myanmar), Bangkok (Thailand) dan Penang (Malaysia), dengan sedikit merujuk ke Singapura, Batavia atau Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Menurut Lewis, sejarah kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara sudah sangat panjang. Globalisasi merupakan fenomena yang sudah berlangsung lama dalam sejarah perdagangan di Samudera Hindia, hingga masuknya pedagang-pedagang Barat dengan bendera perusahaan dagang Hindia Timur, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris). 

MUNCULNYA KOTA-KOTA PELABUHAN DI ASIA TENGGARA

Ketiga kota dibangun pada waktu yang hampir bersamaan. Yangon, atau sering juga disebut Rangoon, didirikan pada 1755 oleh Raja Alaungpaya. Bangkok pada 1776, dibangun setelah ibukota lama Ayutthaya dihancurkan oleh serangan Birma (sekarang Myanmar). Penang pada 1786 disewakan oleh Kesultanan Kedah kepada EIC dengan imbalan perlindungan militer dari serangan tentara Siam (sekarang Thailand) dan Birma. Pembangunan kota Penang menjadi model bagi Singapura, ketika Raffles membagi-bagi masyarakat yang terpisah antara kulit putih, Cina dan Melayu.

Seratus tahun kemudian, kota-kota tersebut jatuh di bawah pengaruh kolonial. Yangon diduduki oleh Inggris pada 1852, dan ditata ulang berdasarkan pola yang dibuat oleh dokter bedah militer, William Montgomery. Pada 1922, kota Yangon sudah tertata dengan baik. Di Bangkok, para pedagang asing mendapat hak eksklusif berdagang di dalam kota melalui Traktat Browning (1855). 

Pembukaan Terusan Suez pada 1869 mengurangi jarak tempuh kapal-kapal dari Eropa ke Asia Tenggara, juga meningkatkan migrasi terutama orang-orang Cina dan India. Kota-kota di seluruh dunia mengalami perubahan dalam bidang sanitasi, pembangunan jalan dan sekolah-sekolah. Berbagai moda transportasi dikembangkan, dari becak tarik (rickshaw) yang pertama kali diciptakan di Jepang pada 1860-an, gerobak sapi (bullock cart) yang diimpor dari India, hingga kehadiran trem listrik yang bisa mengangkut banyak orang, yang berarti pula mempertemukan orang-orang dari beragam kelompok etnik. 

Berbeda dengan kota lama Ayutthaya yang berbasiskan kanal-kanal, kota baru Bangkok menganggap transportasi air sebagai sumber penyakit. Pada 1910, Bangkok membangun jalan raya baru yang menghubungkan kompleks istana kerajaan, tempat hunian para bangsawan, dengan kawasan komersial yang banyak dihuni kelas menengah dan pengusaha Cina. Kota-kota menjadi sangat terbuka bagi berbagai bangsa. Di Yangon, pusat-pusat hiburan dan prostitusi bermunculan. Pasar-pasar dibanjiri barang-barang dari mana-mana, sampai dari Timur Tengah pun masuk. Taman-taman dibangun untuk menampung keinginan kelas menengah, seperti Kebun Raya (Botanical Garden) di Singapura, Garden City of East di Yangon, dan Lumpini Park di Bangkok. Bangunan-bangunan gaya kolonial bercampur dengan arsitektur lokal. Balaikota Yangon yang dibangun pada 1925 mengkombinasikan antara gaya art deco Manchester dan Victoria dengan elemen-elemen tradisional Birma.

KOTA KAUM MUDA DAN KOSMOPOLITANISME “GADIS MODERN”

Media-media massa dicetak dalam berbagai bahasa, menyediakan cara baru bagi banyak orang untuk bersuara. Sekolah-sekolah dibangun, yang terpisah-pisah berdasarkan etnik, sekolah khusus Cina, sekolah Melayu, dan sekolah untuk orang-orang Inggris. Budaya populer merebak, dengan munculnya bioskop, mode busana (fashion) dan musik jazz. Menurut Lewis, lanskap kota Yangon dan Penang pada 1920-an dan 1930-an diambil alih oleh kaum muda, yang dengan mengenakan busana model baru serta merayakan kebebasan, berkumpul di pantai-pantai dan bulevar, di kafe-kafe dan bioskop. Mereka memadukan musik luar dengan musik lokal, menghasilkan nada-nada yang baru, hibrida, bentuk modern dari ekspresi budaya mereka yang otentik. 

Wacana populer di media-media lokal saat itu berpusat pada kaum muda sebagai pelopor masa depan, merangsang munculnya fenomena “gadis modern” (the Modern Girl) seperti ditampilkan di iklan-iklan dan film-film. Kaum muda, termasuk perempuan, makin banyak memenuhi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, membaca pengetahuan yang luas satu sama lain. Perbandingan antara pengalaman kaum muda di Yangon dan Penang dalam berbagi semangat modernitas kosmopolitan juga menyorot pada ketegangan dalam imajinasi politik mengenai kekuasaan imperialisme dan bangsa, khususnya bagi mereka yang mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah berbahasa Inggris. 

Tumbuh dalam kesadaran hidup di masyarakat yang multi-etnik, kaum muda Penang mendamaikan gagasan ideal kosmopolitanisme imperialis dengan nasionalisme kaum diaspora yang terhubung dengan bagian-bagian lain dunia. Di Yangon, permusuhan terhadap penguasa kolonial dan kuatnya ikatan nasionalisme-etnik menghasilkan pemecah-belahan komunal dan gender, tetapi juga melahirkan solidaritas baru kaum muda. Krisis global pada 1929 mendorong aksi-aksi protes dalam bentuk boikot dan arak-arakan massa ke pusat-pusat kekuasaan kolonial. 

KOTA-KOTA PASCA-KOLONIAL

Usai berakhirnya era kolonial, kota-kota mengklaim kembali diversitas masyarakatnya. Yangon menyatakan dirinya sebagai kota bagi beragam keyakinan. Yangon juga membangun museum film, merunut kembali pada sejarah perkembangan dunia perfilman Myanmar. Menyajikan gambar-gambar tiga kelompok masyarakat di Bangkok, kuil pengobatan Cina, masjid Haroon dan museum Siam, Lewis menunjukkan bagaimana Bangkok menyatakan dirinya terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat. 

Menyoroti Penang, Lewis merujuk pada kebangkitan kembali kota tersebut pada 1970-an dengan pemberlakuan kawasan ekonomi perdagangan bebas (free trade zone). Perusahaan-perusahaan baru bermunculan, diikuti dengan kehadiran buruh migran serta kuatnya masyarakat sipil yang progresif memberi keunikan pada kota Penang yang berbeda dengan kota-kota lain di Malaysia yang nyaris semua dikuasai Barisan Nasional. Penang menjadi basis bagi lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti asosiasi konsumen (berdiri pada 1969), gerakan HAM Aliran (1977), Third World Network atau TWN (1984), Penang Heritage Trust (1986), dan World Alliance for Breastfeeding Actions (1991). Belakangan juga hadir LSM yang melakukan edukasi tentang warisan budaya kepada anak-anak, Arts-ED (1999). Sejak 2006, dibuka pasar bulanan yang hanya dibuka di hari Minggu terakhir tiap bulan, Little Penang Street Market, yang menghadirkan kreativitas seni dan kerajinan lokal. Pada 2008, sisi dalam George Town, ibukota Penang, terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Spanduk yang terpasang di aula utama Museum dan Galeri Seni Negara Penang bertuliskan “They came to Penang from all over the world”, hendak menegaskan bahwa kota tersebut adalah percampuran budaya yang unik yang membentuk masyarakat kota Penang.

Kota-kota lain, Bangkok membuka Pusat Kreatif dan Desain Thailand sebagai ajang bagi desainer dan usaha kecil menengah (UKM) untuk meningkatkan keunggulan daya saing. Myanmar saat ini sedang membuka diri terhadap dunia dan demokratisasi, masih tanda tanya bagaimana upaya komunitas lokal untuk melestarikan bangunan-bangunan lama di kota Yangon. Jakarta sedang berjuang untuk merehabilitasi Taman Fatahillah di Kota Tua, hanya sayangnya tidak ada orang-orang yang bertempat tinggal dan beraktivitas ekonomi sehari-hari di seputar kawasan tersebut. Sangat tertarik dengan kasus Penang, Lewis melihat kuncinya pada kekuatan masyarakat sipil yang peduli terhadap kotanya. Jakarta menikmati kebebasan pers yang jauh lebih terbuka daripada Malaysia. Penang sedikit berbeda dengan bagian lain Malaysia dalam hal keterbukaan, nyaris terlepas dari Malaysia seperti Singapura. Dengan nada berseloroh, Marco Kusumawijaya, pendiri Rujak, mengajak untuk melancarkan gerakanOccupy (pendudukan) Kota Tua, alih-alih bursa efek Jakarta.

Diskusi yang diisi oleh Lewis sangat kaya dengan gambar-gambar visual dan rekaman musik-musik jazz hibrida yang pernah dinikmati kaum muda Birma. Lewis berargumen bahwa dengan memandang sejarah Asia Tenggara melalui kacamata kosmopolitanisme atau multi-etnisitas pada kota-kota pelabuhan, kita akan sampai pada pemahaman yang lebih inklusif akan kekayaan budaya dan sejarahnya yang saling terhubung. Peninggalannya kini menjadi warisan berharga bagi masyarakat sipil dan budaya publik di era pasca-kolonial dan kontemporer.

Pernah bekerja sebagai Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>