Seni dan Teknologi

Jika kita berbicara masalah “Seni”, pikiran kita langsung tertuju pada sesuatu yang terkait dengan hiasan atau hiburan. Karena dua karakter itu sudah demikian melekat pada seni itu sendiri. Berkaitan dengan karakter tersebut, seni biasanya hanya digunakan sebagai sarana keindahan, keserasian, kenyamanan, kepuasan batin, apalagi jika kita dapat menikmatinya dengan bersantai sembari melupakan segala permasalahan hidup. Dengan menikmati seni, memang seakan-akan saat itu kita terlepas dari segala masalah yang dapat mengusik pikiran.

Seni bukan hanya sekedar untuk hiasan dan hiburan, lebih dari itu tak jarang terdapat makna tersembunyi dan mendalam dari sekedar keindahan bentuk tampilan karya seni secara fisik atau peragaan yang, katakanlah, hanya dapat dinikmati oleh mata telanjang. Selain itu, seni juga dapat digunakan seseorang untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu, entah politik, berkaitan dengan budaya, atau bahkan keepentingan bisnis. Seni juga dapat dijadikan media alternatif untuk mengkampanyekan kepentingan-kepentingan untuk perubahan sosial.

Sering kita mendengar seni musik dengan lirik-lirik keresahan dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa, seni tari dengan pesan religiusnya, atau seni lukis yang mengkampanyekan perdamain atau menjaga keseimbangan alam, dan masih banyak seni-seni yang lain dengan segala ekspresinya.

Pada hari Kamis, 13 Januari 2011, saya mengikuti diskusi bertajuk “Seni, Teknologi dan Aktivisme”, acara ini merupakan rangkaian acara satu bulan penuh yang diadakan oleh Ruangrupa untuk memperingati 10tahun eksistensinya di jagat kota metropolitan ini.

Menjadi menarik karena salah satu pembicaranya adalah salah satu Seniman sekaligus pemerhati lingkungan dari Bandung, Tisna Sanjaya. Selain melukis, dalam kesehariannya, pria berambut gondrong ini juga aktif mengasuh sekaligus sebagai pengisi acara di sebuah televisi lokal. Tisna sering memerankan diri sebagai tokoh legendaris tatar sunda, Si Kabayan. “Dalam adegan film, Kabayan sering bertengkar dengan mertuanya, namun saya ingin mengubah image itu, saya ingin menjadi seorang Kabayan yang care dengan lingkungan sekitar dan keseimbangan alam” ujarnya dengan nada humor.

Globalisasi seakan enggan bersahabat dengan alam sekitar. Pertumbuhan penduduk di Bandung dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan tajam. Dengan citranya sebagai “Paris Van Java”, sebagai kota pusat mode di Indonesia, menjadikan Bandung mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas dan sering kedatangan tamu bukan hanya dari kota-kota terdekatnya, namun juga dari ibu kota, dari luar jawa bahkan tidak sedikit turis asing berkunjung. 

Melihat potensi pasar yang begitu besar, menjadikan para pemodal besar dengan antusias menggandeng pemerintah setempat untuk berlomba-lomba membangun unit-unti produksi baru. Pembangunan komplek perumahan tersebar dimana-mana, apartemen-apartemen dan pusat-pusat perbelanjaan tak terbendung, semuanya dilakukan dengan membabi buta tanpa memikirkan bagaimana agar keseimbangan alam tetap terjaga.

Dalam perjalanannya menjadi kota metropolitan, salah satu daerah yang kemudian menjadi tumbal keserakahan kapitalis besar Bandung adalah desa Cigondewa. Sebagaimana cerita masyarakat setempat, tempo dulu Cigondewa adalah desa yang sangat asri, pepohonan rindang ada dimana-mana, disana mengalir sungai-sungsi yang jernih airnya, hamparan sawah hijau nan luas menghasilkan padi dengan kualitas rasa yang istimewa. Namun semua ini tinggal kenangan, seakan mimpi buruk yang benar-benar menjadi nyata. Cigondewa menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. 

Beratus-ratus ton setiap harinya sampah berdatangan dari seluruh penjuru Bandung dan konon katanya sampah dari ibu kota juga berdatangan ke tempat ini. Bisa dibayangkan dulu Cigondewah adalah kawasan yang sehat, kini dalam sekejap menjadi lautan sampah. Tak bisa lagi kita temukan persawahan, air jernih, sungai dan rindang dedaunan pohon, sekarang yang tampak hanyalah tumpukan sampah dengan segala resiko yang akan di tanggung oleh masyarakat sekitar.

Keresahan ini menggugah sanubari Tisna Sanjaya untuk mengangkat nya menjadi tema dalam film-film dokumenter yang ditayangkan oleh tv lokal. Gayung bersambut, karena film-film dokumenter hasil garapannya juga diminati oleh masyarakat sekitar.

Saat ini, selain tetap melukis, pria yang selalu tersenyum saat menyampaikan ulasan, telah membeli tanah berukuran 560m2 di daerah Cigondewah. Bersama warga sekitar dengan semangat tinggi menanami bermacam-macam pohon, membuat taman bermain anak, dan tetap berusaha untuk selalu menjaga keseimbangan alam, sehingga kelak cita-citanya dapat terwujud, yaitu mempunyai taman wisata bernama “Pusat Kebudayaan Cigondewa”. 

Pembicara kedua dalam diskusi ini adalah Hilmar Farid (Sejarawan/Ketua ISSI). Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Tisna Sanjaya, dalam papernya Farid lebih menyoroti kemajuan teknologi yang tak dapat dibendung lagi. Perkembangan teknologi komunikasi dan informatika serta kemunculan yang sangat fenomenal dari situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter, sedikit banyak telah mempengaruhi pola perilaku manusia. Dalam banyak hal memang kemajuan teknologi membawa manfaat besar bagi anak manusia. Jarak menjadi masalah yang tidak terlalu penting utk dipersoalkan, semuanya terasa dekat, mudah dan cepat.

Melihat kasus seorang Ibu di AS membunuh bayinya hanya karena merasa terganggu oleh tangisan suara anaknya saat dia sedang asyik bermain facebook. Kemudian dalam beberapa contoh lain, hampir sebelum tidur dan sesaat setelah bangun tidur, terasa janggal jika kita belum membuka akun facebook atau twitter , entah sekedar check status, melihat status teman atau mungkin kita sendiri selalu aktif memperbaharui status. Seolah-olah ada sesuatu dorongan untuk mengharuskan melaporkan semua aktifitas yang sedang kita kerjakan, juga tentang perasaan atau hal-hal lain yang rasanya memang perlu kita share dengan orang lain. Inilah trend yang memang harus kita akui.

Tampak Jelas teknologi bukan hanya semata-mata sebagai alat yang digunakan manusia untuk kepentingannya, namun teknologi menjadi bagian yang sangatlah penting bagi manusia, seakan teknologi tak dapat dipisahkan dan sudah menyatu dengan jiwa manusia.

Jika berbicara masalah keterkaitan antara teknologi dengan aktivisme, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyampaikan pesan demi terciptanya perubahan sosial? atau bisajadi kita sendiri yang asyik bermain, lupa diri dan hanyut dalam fantasi teknologi?

Masalah yang kita hadapi dalam era globalisasi digitalisasi ini ialah adanya informasi yang melimpah ruah. Kita dapat mencari atau menemukan informasi dari media apa saja dengan cepat, namun yang menjadi PR adalah bagaimana sebisa mungkin kita dapat mengalokasikan waktu untuk mengelola informasi tersebut kemudian kita kupas, kita olah dengan analisis-analis sehingga menjadi informasi yang berbobot.

Sering tanpa kita sadari ternyata kita sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di depan komputer untuk kegiatan yang kurang bermanfaat. Memang waktu seakan berjalan begitu cepat dan hilang kesempatan kita untuk membaca buku atau melakukan aktifitas yang tak kalah penting sebenarnya. Hal lain yang harus kita ketahui, bahwa semakin lama kita menghabiskan banyak waktu di dunia maya, semakin banyak pula waktu yang kita habiskan untuk bekerja gratis, tanpa dibayar, karena dalam hal ini, kapital digital yang semakin diuntungkan. Semakin sering kita meng-click, semakin besar keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Sejauh ini gerakan sosial memandang bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyadarkan kelmpok sosial karena mereka menganggap kekurangan informasi adalah pangkal masalahnya, namun dalam era digital sekarang informasi begitu mudah didapatkan. Seyogyanya kita menggunakan teknologi dengan memanfaatkan sebaik-baiknya, tidak kemudian kita larut dalam arus percepatan teknologi tersebut. Strateginya bukan menambah informasi tapi menyediakan waktu untuk mengatur dan mengelola informasi tersebut. “Semua ini hanya mungkin jika kita tidak hanyut dalam percepatan. Perlu usaha sadar untuk memperlambat gerak dan mengendalikan arus secara kolektif. Produksi makna di dunia maya perlu diimbangi gerak bermakna di dunia nyata, agar kita tidak menjadi yang paling cepat tapi hanya jalan di tempat”, aku Hilmar Farid.

Sesuai dengan uraian-uraian yang disampaikan oleh kedua pembicara, baik Tisna Sanjaya maupun Hilmar Farid menyatakan bahwa jelas antara seni dan teknologi mempunyai keterkaitan erat dengan upaya perubahan sosial. Baik seni maupun teknologi mempunayi peranan penting sebagai media alternatif dalam menyampaikan ide, gagasan, dan aspirasi baik itu individu ataupun kelompok sosial. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita dapat menggunakan seni dan teknologi agar dapat secara efektif menyampaikan pesan moral demi terwujudnya perubahan sosial yang kita cita-citakan.

Finance Staf, Koordinator Diskusi Dwi Bulanan Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>