Sudahkah Anda Meng-Update Status Hari ini?

Laporan Seminar “Budaya dan Masyarakat Digital” 

privasi

Hari Senin, 10 Januari 2011, masih dalam rangka perayaan 10 tahun ruangrupa, diadakan sebuah seminar bertajuk “Budaya dan Masyarakat Digital (Culture and Digital Society)”. Acara yang dibagi atas dua sesi ini bertempat di Caleri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan pembicara Hikmat Budiman dan moderator Nirwan Ahmad Arsuka (sesi 1), serta Hafiz dan Nuraini Juliastuti dengan moderator Gustaff Hariman (sesi 2). Saya datang ketika presentasi materi telah selesai dan diskusi hendak dimulai. Ruangan yang dingin itu dipenuhi peserta, baik dari kalangan seniman dan mahasiswa, juga peserta umum yang kerap terlihat di setiap acara yang digelar oleh ruangrupa.

Banyak orang berharap dengan kehadiran teknologi di tengah mereka, akan ada perubahan menuju arah yang lebih baik. Entah dari segi kemudahan dalam mengakses segala sesuatu yang mereka butuhkan, “mendekatkan” jarak geografis, menaikkan status sosial hingga menghemat pengeluaran. Namun di samping itu, terdapat banyak ketakutan bahwa teknologi baru ini yang akan mengambil alih kehidupan kita, membuat kita kehilangan kemampuan untuk membuat prioritas dalam hidup, mengurangi sentuhan manusia (human touch) dan intensitas tatap muka, juga menguras kantong untuk membeli peralatan canggih. 

Harapan dan ketakutan ini bisa jadi benar, tetapi juga salah ketika manusia yang menggunakan benar-benar memahami teknologi yang ada di tangannya. Bukan manusia yang menuruti teknologi. “Kehadiran teknologi hanya menjadi ekstensi atau perpanjangan dari apa yang sudah biasa dilakukan masyarakat, dan tidak banyak membuat kita menjadi lebih maju,” ujar Hikmat Budiman. Banyak terjadi perubahan perilaku, dari yang kasat mata seperti menggunakan laptop dan smartphone di tempat umum, meng-update dan mengobrol lewat messenger menjadi kegiatan pengisi waktu luang ketika menunggu, hingga yang tidak kasat mata seperti pergeseran makna privasi dan rahasia bagi masing-masing pengguna. Disadari atau tidak, begitu banyak orang memamerkan rahasia di internet, yang mungkin selama ini hal-hal tersebut tabu untuk diumumkan ke khalayak ramai atau hanya untuk konsumsi pribadi. Jika negara menganggap penting censorship terhadap konten yang tergolong pornografi atau tidak, mengapa negara juga tidak memberikan batas-batas jelas mengenai mana hal yang sifatnya privat atau bukan? Wilayah privat masing-masing individu tentu saja berbeda satu sama lain, oleh karena itu, sampai kapanpun akan selalu ada penilaian yang sifatnya relatif di mata hukum mengenai privasi seseorang di internet. 

Lebih lanjut Hikmat Budiman mengatakan bahwa dalam konteks tradisi penulisan, salah satu akibat buruk dari era digital seperti sekarang adalah menurunnya kualitas editorial, pembaca dan penulis terbiasa dengan kualitas mediocre atau biasa-biasa saja. Di media lama (koran atau majalah) sebelum tulisan sampai ke tangan pembaca, harus melalui proses penyuntingan oleh editor terlebih dahulu. Namun di media baru seperti web dan blog, siapapun bebas mengunggah informasi apapun, tanpa khawatir akan disunting oleh editor dari segi konten dan bahasa. Kesalahan ketik atau typo dan kata yang disingkat menjadi hal yang lumrah. Semuanya masih bisa ditolerir selama masih bisa dibaca. 

Banyak orang juga tergiur dengan berkomunikasi atau mencari data menggunakan internet, dengan pertimbangan biaya yang lebih murah. Kita tidak perlu membeli komputer, kini dengan memiliki telepon genggam yang mampu terkoneksi dengan internet. Namun kita juga perlu ingat, tidak ada hal yang betul-betul gratis di dunia ini, setiap tindakan kita ada konsekuensinya. Seperti mesin pencari Google yang mampu menyimpan data pencarian kita dan aktifitas kita di internet.

Pada sesi kedua, Nuraini Juliastuti atau yang akrab dipanggil Nuning dari KUNCI Cultural Studies Centre, Yogyakarta mendapat giliran pertama mempresentasikan penelitiannya tentang ruang hibrida dan hubungan interpersonal pengguna internet. Ia melakukan penelitian terhadap tiga responden laki-laki dan perempuan yang berusia 18-30 tahun yang menggunakan internet via telepon genggam. Hipotesisnya adalah hubungan interpersonal yang dilakukan dengan media internet ternyata dapat murni sekedar hubungan tanpa ada maksud berketurunan (kontak fisik bukan syarat utama). Dalam penelitian ini Nuning menggunakan teori de Souza e Silva mengenai ruang hibrida. Ruang hibrida adalah ruang mobile yang tercipta akibat pergerakan pengguna peralatan portable yang terhubung secara konstan dengan layanan internet dan pengguna internet lainnya. Ruang ini muncul ketika komunitas virtual (misalnya via chatting atau multi player online game), berpindah atau bermigrasi ke ruang fisik karena penggunaan tekonologi mobile seperti telepon genggam. Ketika interface berubah dari PC ke telepon genggam maka ruang virtual menyusup ke dunia riil. Perangkat mobile dan aplikasi internet di telepon genggam menciptakan hubungan yang lebih dinamis antara pengguna dengan internet, ia dapat “mengikuti” penggunanya beraktifitas ke mana saja, sehingga tidak ada istilah “tidak terhubung” atau disconnect dengan ruang digital. Hal ini seperti konsep nomad yang membangun ruang untuk ditinggali ke manapun mereka berpindah. Dalam taraf ini, terdapat pergeseran persepsi mengenai dunia virtual dan dunia nyata, yang sebelumnya sangat dikotomis, menjadi tidak berbatas dan paralel.

Di ruang hibrida inilah, sesuatu yang sulit diwujudkan dalam dunia riil dapat terjadi. Misalnya, responden dalam penelitian Nuning adalah seorang siswi SMA yang dilarang berpacaran, bisa asyik dengan dua pemuda sekaligus melalui Facebook, messenger dan sms. Responden lainnya, ada yang memiliki 3 pacar sekaligus di tempat yang berbeda dan jauh-jauh jaraknya, dan juga ada yang berpacaran sesama jenis. Semuanya menjadi mungkin karena dalam hubungan mereka, kontak fisik bukanlah syarat utama. Intensitas menjadi syarat untuk sebuah hubungan, misalnya ketika mereka putus cinta, artinya mereka tidak lagi saling menuliskan pesan di wall Facebook, menghapus mantan pacarnya dari daftar teman atau tidak lagi saling bertelepon dan ber-SMS.

Kita juga patut bersyukur dengan kehadiran perangkat teknologi digital yang makin terjangkau dewasa ini. Hal ini memungkinkan semakin banyak kalangan mendokumentasikan kegiatannya selain dengan menulis, tetapi juga memotret dengan kamera atau merekam video. “Kamera terbaik adalah yang ada di tangan kita,” ujar Hafiz dalam penjelasan mengenai video komunitas yang diselenggarakan oleh Forum Lenteng. Tidak terlalu menjadi masalah jenis kamera yang kita gunakan, yang terpenting adalah keberanian kita untuk mengutarakan pendapat. Kehadiran youtube untuk mengunggah dan menonton video via internet adalah salah satu alternatif untuk para pembuat film, karena teknologi berperan sebagai mediator antara seniman dengan penikmat karya. Sang seniman tidak perlu lagi bersusah payah beriklan, cukup mengunggah karya atau trailer karyanya di youtube dan karyanya bisa disaksikan oleh banyak orang. Namun ketika karya seni termediasi oleh internet, maka karya tersebut adalah milik semua orang. Siapa saja bebas melakukan perubahan terhadap karya itu, memperbanyaknya hingga menjualnya tanpa sepengetahuan pemiliknya. 

Memang lebih mudah mempercayai sesuatu daripada harus memikirkannya. Pro dan kontra penggunaan teknologi digital sudah sering muncul, kemudian diabaikan. Teknologi bukan ‘dewa’, ia sama seperti benda-benda lainnya dalam hidup ini. Teknologi dibuat untuk membantu kehidupan manusia, bukan memperbudak manusia.

Program Officer Yayasan Interseksi
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>