Syiah dan Sunni: Pertemuan Kepentingan Teologis dan Politik

Dalam beberapa tahun terakhir, konflik berbasis sektarianisme melanda Timur Tengah. Salah satu konflik yang merembet hingga ke Indonesia adalah konflik antara Sunni dan Syiah. Pengusiran warga Syiah di Sampang, Madura yang terjadi pada 2012 merupakan salah satu dari beberapa deretan peristiwa yang mengeksklusikan pemeluk Syiah di Indonesia. Untuk membahasnya, Maarif Institute mengadakan peluncuran dan diskusi jurnal yang berjudul “Syiah, Sektarianisme, dan Geopolitik” pada tanggal 17 Februari 2016.

Fajar Rizal Ul Haq, Direktur Eksekutif Maarif Institute, dalam sambutannya menyampaikan bahwa konflik antara Sunni dan Syiah ini bukan semata-mata tentang permasalahan teologi saja, akan tetapi juga menyangkut kepentingan politik yang lebih luas. Selanjutnya, pembahasan lebih detail dilanjutkan oleh beberapa narasumber yang hadir, yaitu, Ahmad Imam Mujadin Rais (pemimpin redaksi Jurnal Maarif), Hikmawan Saefullah (Pengamat Politik Internasional), Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah), Dicky Sofjan (ICRS UGM), dan Umar Shahab (Ahlulbait Indonesia).

Pembahasan pertama disampaikan oleh Ahmad Imam Mujadin Rais yang menyampaikan tentang isi dari jurnal tersebut. Menurutnya, isu sektarianisme merupakan narasi yang bersifat politik. Isu ini turut dipengaruhi oleh konteks politik global dan lokal. Konflik ini juga diperkuat oleh adanya pertarungan wacana yang terjadi di berbagai macam media, termasuk di antaranya adalah jaringan sosial seperti facebook dan twitter. Media tersebut mempengaruhi pembentukan wacana konflik sektarianisme, yang justru menutupi kepentingan politik yang ada di dalam konflik tersebut.

Khusus di Indonesia, Rais menggarisbawahi bahwa era otonomi daerah memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan tindakan intoleran berbasis isu sektarianisme. Di era sekarang, pemerintah daerah memiliki wewenang penuh untuk membangun daerahnya. Pemerintah daerah menjadikan aspek agama sebagai salah satu wewenang utamanya, padahal, aspek tersebut seharusnya masih menjadi wewenang pemerintah pusat. Yang terjadi adalah, munculnya fenomena hate speech yang terus didengungkan sehingga mendorong masyarakat untuk bersifat intoleran. Terkait fenomena yang terjadi di tingkat global maupun lokal, maka Maarif Institute terdorong untuk mengundang beberapa penulis untuk membahas permasalahan tersebut di Jurnal Maarif vol. 10 no. 2 Tahun 2015. Beberapa tulisan di dalam jurnal tersebut merupakan hasil penelitian. Salah satunya yang ditulis oleh Wahyudi Akmaliah tentang pengungsi Syiah dari Madura yang masih tinggal di Wisma Puspo Argo, Sidoarjo.

Setelah Rais memberikan gambaran mengenai isi jurnal tersebut, selanjutnya, Hikmawan Saefullah memaparkan mengenai dinamika geopolitik global yang mempengaruhi konflik yang saat ini terjadi di Timur Tengah. Ia memulai paparannya dengan menjelaskan beberapa gerakan yang dianggap oleh pihak Barat sebagai ancaman terhadap kestabilan politik global. Pertama, pada awal abad ke-20, yang dianggap menjadi ancaman adalah gerakan-gerakan yang berideologi komunis atau yang dikenal dengan the red menace (ancaman merah komunis). Selain ancaman komunis, pihak lain yang dianggap dapat memberikan ancaman bagi dunia Barat adalah kelompok-kelompok dari Asia Timur. Pihak Barat menyebutnya sebagai yellow peril (bahaya kuning), yang merujuk pada warna kulit dari warga Asia Timur. Pasca perang dingin usai, pihak Barat merasa bahwa mereka harus menciptakan suatu musuh bersama. mereka pun menganggap bahwa ancaman selanjutnya muncul dari kelompok muslim. Ancaman ini disebut dengan istilah green peril (bahaya hijau).

Munculnya green peril bermula dari Revolusi Iran yang terjadi pada 1979. Pada masa itu, Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi yang menganut Syiah, berhasil merebut kekuasaan dari pemimpin Monarki Iran, Mohammad Reza Pahlavi. Revolusi Iran ini membakar semangat para kelompok Syiah di negara lain untuk melakukan revolusi yang serupa, salah satunya terjadi di Arab Saudi. Namun, revolusi yang terjadi di Kota Qatif, Arab Saudi, pada 1979 ini gagal. Sejak saat itu, kelompok Syiah dianggap berbahaya oleh kelompok monarki dan pihak Barat.

Selanjutnya, Saefullah menjelaskan tentang fenomena konflik Sunni dan Syiah yang dicatat oleh Toby Matthiesen dalam bukunya yang berjudul Sectarian Gulf. Buku tersebut menceritakan bahwa terdapat upaya-upaya untuk mempertegas perbedaan antara Sunni dan Syiah. Tujuannya adalah untuk menghindari kolaborasi yang mungkin terjadi di antara mereka untuk menaklukan rezim monarki. Lebih lanjut, Saefullah menjelaskan tentang meledaknya Arab Spring pada 2011. Setidaknya, terdapat tiga anggapan masyarakat umum mengenai terjadinya kondisi tersebut. Pertama, upaya masyarakat kelas bawah untuk menuntut keadilan dari rezim yang berkuasa. Kedua, ada yang menganggap bahwa kejadian tersebut diinisiasi oleh agen intelijen CIA dan Mossad untuk memecah belah negara muslim. Ketiga adalah upaya perusahaan multinasional untuk meningkatkan kapital di wilayah Timur Tengah.

DSC_7681

Terkait dengan pemahaman masyarakat Indonesia tentang konflik yang terjadi di Timur Tengah, Saefullah menyebutkan bahwa sebagian besar pengetahuan kita tentang konflik di Timur Tengah bersumber dari media arus utama. Kebanyakan pemilik media arus utama tersebut memiliki kepentingan di Timur Tengah. Pengetahuan lain terkait dengan penyebaran informasi yang ada di jaringan sosial, yang belum bisa terverifikasi. Ceramah-ceramah dari pemuka agama juga memiliki andil yang besar untuk memenuhi pengetahuan masyarakat Indonesia tentang Syiah dan Sunni. Di sisi yang lain, kita sudah terlanjur memberikan platform Syiah atau Wahabi pada ulama-ulama yang sudah kita ketahui.

Pada bagian akhir presentasinya, Saefullah menyimpulkan bahwa geopolitik di Timur Tengah, khususnya hubungan antara Arab Saudi dan Iran berdampak pada hubungan Syiah dan Sunni di Indonesia. Selain itu, wacana tentang anti Syiah dikonstruksi dan disebarkan oleh aktor politik yang membangun persepsi sektarian melalui berbagai media dan lembaga yang mempunyai jaringan dengan Arab Saudi. Terakhir, ia menyarankan bahwa kita harus bisa menyaring setiap informasi dan berusaha untuk melakukan verifikasi terhadap isu-isu yang terkait dengan persoalan sektarian.

Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah, menyampaikan tanggapan selanjutnya terkait dengan pembahasan dalam Jurnal Maarif yang terbaru. Di awal sesinya, ia menyampaikan bahwa konflik Sunni dan Syiah ini merupakan pertemuan dua kepentingan yaitu kepentingan teologi dan politik. Permasalahannya adalah, ada orang yang hanya membahas dari aspek politiknya saja tanpa melihat aspek teologi. Padahal, kedua aspek ini memiliki urgensi yang sama untuk dibahas.

Menurut Ilyas, terdapat beberapa kelompok Syiah yang berkembang di Timur Tengah. Syiah Zaidiyah, misalnya, yang cukup berkembang di Yaman. Ilyas menjelaskan bahwa kelompok ini hampir sama dengan Sunni. Perbedaannya adalah mereka menganggap bahwa yang paling pantas untuk menjadi pemimpin adalah Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, mereka tidak menolak kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiq, Umar Bin Khatab, dan Usman bin Affan. Maka dari itu, ulama Zaidi diterima dan sebagian masuk ke Indonesia.

Syiah yang kedua adalah Syiah Imamiyah. Kelompok ini punya ideologi yang berbeda karena menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Bagi mereka, ketiga khalifah ini adalah orang yang zalim karena telah merampas haknya Ali bin Abi Thalib. Hal ini menyebabkan mereka menolak semua hadist yang berasal (atau berkaitan) dengan ketiga khalifah. Namun demikian, menurut sebagian ulama, Syiah Imamiyah ini masih bagian dari umat Islam, meskipun ada ulama yang mengkafirkan mereka.

Syiah yang ketiga, adalah Syiah Ghulat, yang secara harafiah berarti ekstrim. Golongan ini memiliki banyak sekali aliran, salah satunya adalah Syiah Nushairiyah yang dianut oleh Bashar al-Assad, Presiden Suriah saat ini (Presiden Suriah ke-10). Bashar al-Assad merupakan anak dari Hafid al-Assad, Presiden Suriah ke-9. Hadirnya Bashar al-Assad memberikan harapan baru bagi masyarakat Suriah, karena pada masa sebelumnya Suriah dipimpin oleh rezim yang diktator. Alasan dari munculnya harapan tersebut adalah bahwa Bashar al-Assad merupakan seorang dokter dan lulusan dari Inggris. Masyarakat pun berharap bahwa ia akan memimpin Suriah secara lebih manusiawi dibandingkan dengan ayahnya. Namun, menurut Ilyas, ketika bicara tentang kepentingan politik, maka Bashar al-Assad akan berupaya untuk mempertahankan kekuasaannya dari ancaman pihak lawan. Akibatnya, konflik politik ini dikaitkan dengan perselisihan berbasis sektarianisme.

Umar Shahab, narasumber selanjutnya, menjelaskan mengenai Syiah yang berkembang di Indonesia. Menurutnya, Syiah takfiri (kelompok yang mengkafirkan kelompok lainnya) tidak diterima di kalangan Syiah di Indonesia. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Syiah yang ada di Indonesia merupakan Syiah yang moderat. Ia menyamakan kelompok Syiah di Indonesia sama dengan Syiah di Iran. Mereka sama-sama memiliki toleransi dengan golongan lainnya dan tidak memusuhi satu sama lainnya. Selain dua golongan Syiah yang sudah disebutkan, Shahab juga menjelaskan bahwa terdapat golongan Syiah tradisional. Salah satu contoh dari golongan ini adalah Syiah yang dipimpin oleh Ayatulloh Sistani di Irak.

Dua organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Ahlulbait Indonesia (ABI) dan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) merupakan kelompok Syiah yang moderat. Menurut Shahab, hingga saat ini pemeluk Syiah di Indonesia sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Papua. Berdasarkan perkiraannya, jumlah penganut Syiah di Indonesia saat ini berjumlah sekitar satu sampai dua juta orang. Namun demikian, saat ini belum ada data yang akurat mengenai jumlah pasti pemeluk Syiah di Indonesia.

Satu hal yang Shahab tegaskan adalah dua organisasi Syiah di Indonesia secara tegas menolak kehadiran kelompok-kelompok Syiah yang radikal. Sebaliknya, ABI dan IJABI merupakan organisasi yang moderat. Mereka pun secara tegas mengakui bahwa gerakannya tidak menyempal dari Pancasila.

Selanjutnya, Dicki Sofjan menyampaikan pendapatnya terkait dengan kajian yang dibahas dalam jurnal tersebut. Menurutnya, perlu ada beberapa klarifikasi konsep supaya masyarakat awam bisa memahami permasalahan yang terkait dengan konflik Sunni dan Syiah. Ketidaktahuan masyarakat tentang Syiah menimbulkan reaksi yang bermacam-macam, yang paling sering terlihat di kanal media sosial adalah seruan tentang anti Syiah. Selain itu, terdapat juga ramalan yang tersebar di masyarakat bahwa Syiah akan bertransformasi seperti gerakan komunis. Ramalan ini persis seperti konstruksi komunis oleh Orde Baru, bahwa sel-sel kecil Syiah dapat bertransformasi untuk mengganggu kedaulatan NKRI.

Kerancuan selanjutnya yang perlu diklarifikasi adalah pendapat tentang sektarianisme. Menurut Sofjan, terdapat tiga kondisi untuk melihat sektarianisme. Pertama adalah solidarity, yang ditunjukkan melalui hubungan tiap orang di dalam kelompok. Kedua, adalah sense of belonging, yang terwujud dalam bentuk seseorang yang merasa bagian dari suatu kelompok. Ketiga, adalah recognition, yaitu bagaimana seseorang mengidentifikasi orang lain berdasarkan identitas individu atau kelompok. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tindakan takfiri, merupakan perwujudan dari politics of recognition, yaitu berupa tindakan sebuah kelompok yang menyematkan label kafir terhadap kelompok muslim lainnya. Salah satu contohnya adalah kelompok Syiah yang dianggap kafir oleh kelompok muslim lainnya.

Fenomena lain yang ia lihat adalah munculnya mahdi-isme yang dalam beberapa tahun terakhir cukup marak di Indonesia. Contohnya mulai dari Lia Eden hingga Gafatar. Pertanyaan reflektif yang ia lontarkan adalah mengapa banyak umat muslim yang bergabung di dalamnya? Fenomena ini terjadi, menurutnya, karena adanya kekecewaan dan alienasi yang dialami oleh umat muslim. Kondisi yang mendorong mereka untuk bergabung dalam kelompok-kelompok tersebut.

Di akhir presentasinya ia menyampaikan bahwa selama ini terdapat salah kaprah yang menganggap bahwa Syiah merupakan agama minoritas. Hal ini menunjukkan adanya sesat pikir karena Syiah sendiri merupakan bagian Islam. Kategorisasi ini terjadi karena adanya pengelompokan yang dilakukan oleh kelompok mayoritas. Apa yang dialami oleh para pemeluk Syiah saat ini adalah perwujudan dari adanya minoritisasi agama.

Junior Researcher, Program Officer, the Interseksi Foundation