Workshop Pelatihan Penelitian Kelas 2013

Workshop pelatihan penyusunan proposal penelitian—sebagai kegiatan pertama dalam rangkaian pelatihan penelitian—telah selesai dilaksanakan. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, dari tanggal 2 September hingga 6 September 2013 di GG House, Bogor. Berdasar komposisi wilayah, penelitian ini diikuti oleh lima orang peserta dari Sulawesi (Zulham Mahasin, Vahrun, Mohamad Affandi, Edi Sumardi, dan Hamzah), dua orang dari Kalimantan (Muhammad Zunni Irawan, dan Gemma Ade Abimanyu); serta lima orang dari Jawa (Muh. Laila Maghfurrodhi, Veri Zunaedi, Lia Wulandari, Monica Dian Adelina, dan Stephanie Johar). Mereka akan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pelatihan penyusunan proposal, penelitian lapangan, hingga penyusunan laporan penelitian.

Hari pertama pelatihan (senin, 2 September 2013) dimulai pada pukul 15.00wib. Dimoderatori oleh Sofyan, kegiatan pelatihan dimulai dengan pengantar dari ditektur Yayasan Interseksi, Hikmat Budiman.

 

dsc_0304

Dalam pengantarnya Hikmat menjelaskan latar belakang dan tujuan penyelenggaraan program pelatihan penelitian ini. Penelitian sosial, menurutnya, selama ini cenderung dianggap identik dengan dan dilakukan hanya oleh akademisi kampus, bukan oleh lembaga atau aktivis di luar kampus. Kegiatan pelatihan ini berupaya untuk keluar dari pola fikir tersebut, terlebih bagi para aktivis yang memiliki perhatian dalam bidang advokasi. Apresiasi ditujukan kepada para aktivis LSM karena mereka merupakan kelompok yang lebih dekat dengan subyek sehingga lebih tahu fenomena dan permasalahan yang ada, meski terkadang karena kedekatan dengan subyek itulah dalam banyak kasus kelompok ini gagal membangun argumen yang meyakinkan. Oleh karena itu, kegiatan ini berupaya mendorong peserta untuk dapat menulis dengan lebih baik dengan dasar analisis yang baik. Harapannya, semangat ini akan menyebar dan akan “menular” kepada para pegiat advokasi yang lain. Kegiatan ini, lanjut Hikmat, juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerja internal Interseksi dengan jejaring lembaga di daerah. Dengan jejaring tersebut, hasil-hasil penelitian yang diproduksi akan dapat dimanfaatkan oleh mereka yang tinggal di lokasi-lokasi penelitian. Di samping itu, dalam konteks yang lebih luas, melalui pelatihan bagi peserta dari luar Jawa, penelitian kota-kota, dan beberapa praktik advokasi di daerah, Interseksi sedang berusaha mengumpulkan kisah-kisah tentang kebangsaan, memahami perbedaan diskursus kebangsaan antar wilayah dan makna dari diskursus tersebut. Dalam posisi ini, Interseksi berupaya “memprovokasi,” mendorong orang Indonesia sendiri menulis tentang Indonesia, belajar memahami Indonesia.

 

dsc_0297

Setelah kata sambutan, kegiatan dilanjutkan oleh materi dari Prof. Halilintar Latief tentang pengalaman beliau melakukan penelitian di Sulawesi. Ia bercerita tentang pengalaman pribadinya dalam melakukan penelitian. Penelitian pertamanya, mengenai kebudayaan di Sulawesi Selatan, dilakukan tanpa dukungan dana. Pengalaman unik yang ia alami adalah bagaimana ia berupaya untuk tetap bertahan saat proses penelitian lapangan, dengan memanfaatkan budaya Bugis yang ramah terhadap tamu. Budaya Bugis mengajarkan untuk memberi jamuan makan bila ada tamu berkunjung ke rumah. Jadi, kenangnya, tidak memiliki uang bukan halangan untuk melakukan penelitian karena setiap selesai berkunjung ke rumah penduduk, ia dan tim penelitinya selalu mendapat makan. Pengalaman-pengalaman lain yang ia ceritakan adalah saat dia bertemu dengan kelompok-kelompok/suku yang memiliki ilmu-ilmu magis, bahasa yang berbeda-beda, aturan adat yang beragam dan bagaimana cara yang ia lakukan untuk dapat berinteraksi dengan mereka.

Sebelum ke lokasi, ia menjelaskan, seorang peneliti harus siap terlebih dahulu. Sebagai antropolog misalnya, instrumen penelitiannya adalah dirinya, telinga, mata, insting, pemahaman-pemahaman terhadap fenomena, bagaimana melihat musik dan mendengar tari misalnya, dan ini diperlukan latihan yang terus-menerus. Peneliti juga harus mempersiapkan peralatannya dengan baik. Seperti rekaman, misalnya, harus ada label suara untuk memudahkan analisis. Sedangkan saat membuat catatan lapangan, ia menganjurkan untuk menulis apapun yang informasi yang di dapatkan, karena seringkali kita baru mengetahui manfaat dari berbagai macam cerita yang kita dapat tersebut saat melakukan analisis. Peneliti, lanjutnya, juga harus dapat memisahkan pendapat, perasaan kita dengan data murni hasil penelitian. Penulisan laporan harus dilakukan segera setelah mengumpulkan data lapangan agar tidak menjadi bias, dengan tidak lupa mencantumkan tanggal penulisannya.

 

dsc_0192

Dalam wawancara dengan tema yang sangat sensitif, prof. Halil menjelaskan, bunyi-bunyian, sikap informan juga harus dijelaskan dalam catatan lapangan. Hindari juga pertanyaan yang hanya akan dijawab dengan ya, atau tidak. Dalam budaya Bugis misalnya, banyak yang hanya mengangguk-anggukan kepala karena budaya yang mewajibkan mereka menyimpan rahasia. Peneliti, dengan demikian, harus dapat menggali informasi dan mencari jalan agar mereka mau bercerita.

Dalam diskusi, Hikmat ikut memberi penjelasan bahwa kesan, opini, pendapat, refleksi tidak boleh dicampuradukkan dengan fakta empirik. Wawancara haruslah dilakukan dengan ekstra hati-hati, lebih banyak mendengar, mengamati. Terkadang kita sebagai peneliti terjebak dalam kerja-kerja jurnalistik, lebih banyak bertanya, bukan berusaha memahami konteks. Sedangkan saat merekam, kita harus meminta izin terlebih dahulu, dan hasil rekaman tidak boleh dirubah. Dalam proses merekam juga harus berhati-hati terhadap bias karena informan yang merasa takut untuk menceritakan fakta karena sadar pembicaraannya sedang direkam. Bila informan tidak mau direkam, setelah wawancara, segera tulis sebanyak-banyaknya apa yang diingat. Sedangkan dalam hal menulis, khususnya laporan penelitian, juga perlu diperhatikan untuk fokus pada substansi, bukan gaya tulisan. Tulisan harus masuk akal, logis dan bersih.

Pemaparan dan diskusi oleh prof. Halil selesai pada pukul 17.30 wib. Setelah makan malam, acara dilanjutkan pada pukul 19.00 wib dengan presentasi dari Gemma Ade Abimanyu, peserta asal Kalimantan Tengah.

Gemma mempresentasikan proposal penelitiannya dengan judul “Dampak Desentralisasi terhadap Perekonomian Daerah, Perekonomian Masyarakat Lokal dan Perubahan Tata Guna Lahan. Studi kasus: pertambangan batubara di kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.” Presentasi berlangsung selama 15 menit, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa catatan mengenai proposal penelitiannya. Pertama, judul penelitian yang diajukan terlalu luas. Kedua, pemahamannya terhadap variabel-variabel penelitian yang ia gunakan masih belum baik, seperti tujuan menganalisis “perekonomian daerah” dengan “perekonomian masyarakat lokal,” perbedaan antara keduanya, dan indikator-indikator apa saja yang digunakan dalam menilai kedua variabel tersebut. Ketiga, judul, latar belakang dan permasalahan yang diajukan tidak sesuai. Pada bagian judul, ia berbicara tentang dampak kebijakan, namun latar belakang dan rumusan permasalahannya lebih mengarah pada analisis perbandingan perundang-undangan tentang otonomi daerah, lingkungan hidup, penanaman modal, dan implementasi perundang-undangan tersebut.

Presentasi kedua, Muhammad Zunni Irawan dengan judul “Disaat Kebijakan Investasi Memikul Beban Konflik. Studi kasus kriminalisasi petani di dusun seburan, kabupaten Sambas.” Desain proposal yang di kirimkan oleh Zunni masih banyak yang harus di revisi, karena tidak melampirkan tinjauan literatur, latar belakang dan permasalahan yang ingin di teliti juga masih belum jelas.

Presentasi ketiga, presentasi penutup pada hari pertama pelatihan, dilakukan oleh Mohammad Affandi dengan judul “Mengakhiri Jaringan Terror melalui Mekanisme Detterence.” dalam proposalnya, Affandi ingin melihat efektifitas penggunaan detterence dalam penanggulangan masalah terorisme di Sulawesi Tengah. Kritik yang disampaikan oleh peserta lain terhadap proposalnya adalah mekanisme detterence yang dimaksudkan oleh Affandi belum dilakukan di Indonesia. Affandi justru lebih terlihat berupaya mempromosikan mekanisme detterence sebagai solusi penanggulangan teror yang dapat dilakukan di Indonesia, yang dikritik oleh peserta lain justru akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Diskusi semakin memanas meski waktu telah menunjukkan pukul 12 malam saat Affandi dengan segala upayanya mempertahankan argumen mengenai detterence, hingga akhirnya sesi presentasi harus di tutup oleh moderator pada pukul 00.30 wib.

Kegiatan Workshop hari kedua dimulai dengan pelaksanaan field trip. Pukul 09.00wib, dengan membawa kamera, seluruh peserta menuju ke pasar induk Ciawi. Tugas mereka di sesi ini adalah mengambil beberapa gambar tentang fenomena sosial yang menarik yang mereka dapatkan untuk diceritakan pada sesi Social Documentary pada esok hari. Kegiatan ini selesai pada pukul 11.00wib. Setelah sesi field trip dan makan siang, kegiatan dilanjutkan pada pukul 13.00wib dengan materi dari Dr. Daniel Dhakidae tentang advokasi berbasis penelitian untuk penguatan warga negara.

 

dsc_0238

Dhakidae memulai dengan menegaskan fokus bahasan presentasinya hanya pada penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dipilih karena model penelitian ini yang paling feasible dilakukan dalam konteks pelatihan penelitian yang sedang dilakukan. Penelitian kuantitatif tidak dipilih karena penelitian ini merupakan penelitian yang mahal dan tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang. Dalam penjelasan mengenai penelitian kualitatif-pun, prof. Danel lebih menekankan pada bahasan tentang teknik membaca, yang menurutnya, merupakan bagian paling awal dan sangat penting dari proses penelitian.

Sebelum penelitian, ia menjelaskan, terkadang pelaku penelitian lupa bahwa membaca merupakan salah satu bagian penting dari meneliti. Langkah paling awal dalam meneliti adalah membaca, karena dengan membaca kita mengerti berbagai sudut pandang orang lain tentang tema atau permasalahan yang sedang di teliti. Ada dua jenis membaca, ia menekankan, pertama, fun reading, tujuannya suka-suka, hanya ingin menikmati isinya. Membaca seperti ini, menurutnya, pasif sifatnya, dan dengan membaca seperti ini, seseorang sebenarnya hanya menjadi konsumen, pemakai, penikmat tulisan. Sedangkan jenis membaca yang kedua, knowledge producing reading, membaca sambil bekerja, sambil membayangkan bahwa apa yang sedang di baca adalah fakta yang menjadi data dan secara aktif melakukan analisis. Janis membaca seperti ini adalah membaca produktif.

Dhakidae memberikan contoh bagaimana perbedaan tentang membaca yang “fun,” dengan membaca yang “memproduksi pengetahuan.” Dalam lembar presentasi, ia menjabarkan beberapa kutipan berita yang dimuat di koran. Kutipan berita tersebut ia ambil secara acak. Ia menjelaskan, surat kabar seperti tabelau, pentasan peristiwa manusia. Dari beberapa peristiwa yang digambarkan, kalau kita membaca secara fun, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara berita satu dengan lainnya. Namun, bila kita membaca dengan knowledge production reading, kita akan mendapatkan hubungan antar berita. Dengan bekerja sedikit lebih keras untuk keluar dari fun reading ke knowledge production reading, kita akan dapat menemukan makna mendalam dari rangkaian peristiwa yang sebelumnya kelihatan tidak berhubungan. Keterampilan dasar inilah yang harus dimiliki oleh seorang peneliti.

Mengenai advokasi berbasis penelitian yang dilakukan oleh LSM, LSM memiliki keleibihan/kekuatan karena ukuran lembaganya yang relatif kecil. Karena kecilnya ini, LSM seperti pipa kapiler yang bisa menyusup masuk ke dalam setiap organisasi manapun di dalam masyarakat. Penelitian penting sebagai alat untuk mendukung upaya-upaya advokasi. Hasil penelitian merupakan sesuatu yang kering, tidak emosional. Dengan menggunakan hasil riset sebagai bahan advokasi, ada pemilihan nilai, dan membela nilai tersebut dengan cara apapun karena pemihakan terhadap nilai yang kita anggap baik tersebut.

Presentasi Dhakidae selesai pada pukul 16.00wib. Setelah coffe break, kegiatan dilanjutkan dengan presentasi dan diskusi oleh Muh. Laila Maghfurrodhi yang berjudul “Multikulturalisme Semu: Respon Gerakan Islam Yogyakarta atas Kebijakan The City of Tolerance.”

Dalam sesi tanya jawab, ada beberapa catatan mengenai draft rancangan penelitian yang dipresentasikan oleh Muh. Laila. Pertama, gerakan islam yang dimaksud dalam proposal masih belum jelas. Peserta lain belum mendapat impresi yang kuat mengenai konsep multikulturalisme yang dimaksud. Berangkat dari pengalaman Yayasan Interseksi melakukan penelitian tentang problematik multikulturalisme di Indonesia selama hampir enam tahun, Hikmat bahkan cenderung merekomendasikan untuk lebih kritis terhadap pendekatan multikulturalisme dalam konteks pembangunan Indonesia. Kedua, penggunaan kata multikulturalisme semu dalam judul tidak jelas maknanya, bahkan beberapa peserta merekomendasikan untuk menghapusnya. Ketiga, makna dari the city of tolerance, apakah hanya semboyan atau jargon saja, atau tujuan pembangunan. Bila tujuan pembangunan, upaya mewujudkan “kota toleransi” harus tercermin dalam program-program pembangunan, dan penelitian harus bisa mengelaborasi hal tersebut.

Presentasi selanjutnya, oleh Veri Junaidi, dilakukan pada pukul 19.00wib setelah makan malam. Veri mempresentasikan proposal penelitiannya yang berjudul “Penerapan Prinsip-prinsip hukum dalam Penyelesaian Permasalahan Hukum Pemilu: Studi kasus terhadap penyelesaian sengkata administrasi pemilu oleh Bawaslu dan penanganan kode etik oleh DKPP.” Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah peradilan yang dilakukan telah menggunakan prinsip-prinsip yang tercakup dalam IFES dan IDEA. Pada awal sesi tanya jawab, diskusi kurang berkembang. Nico Harjanto, yang menyadari hal ini, menanyakan kepada para peserta mengenai menarik tidaknya topik yang diangkat. Affandi menganggap tema proposal ini terlalu politis, elitis, sedangkan Edi, menganggap masalah yang diangkat kurang menarik dan terlalu makro.

Nico, sebagai pembahas, mengulas permasalahan ini. Ia mengatakan, ada beberapa hal yang biasanya membuat proses diskusi menjadi tidak berkembang, ada mind blocking karena ketidaksukaan terhadap tema, tidak mengerti, daan lain-lain. Padahal, peer group dalam penelitian merupakan hal penting agar peneliti dapat mengetahui kelemahan penelitiannya dari berbagai sudut pandang. Mengenai proposal yang disampaikan Veri, ia mengaku tidak memahami banyak kajian formal pemilu. Namun, yang perlu diperhatikan dalam mengamati penggunaan prinsip-prinsip IFES dan IDEA tersebut adalah tujuan dari penggunaan prinsip tersebut dan apakah prinsip-prinsip tersebut memiliki discriminatif power, karena ia menilai, semua prinsip tersebut hampir sama. Di dalam penelitian, Nico mempertanyakan penggunaan prinsip-prinsip tersebut, apakah akan digunakan sebagai pembanding atau dijadikan poin-poin untuk menilai hakim melakukan hal tersebut atau tidak. Jika digunakan sebagai indikator, takutnya ada indikator yang bisa selesai dalam satu kalimat, ada yang panjang.

Presentasi terakhir hari kedua, di isi dengan presentasi dari Lia. Lia mempresentasikan penelitian yang berjudul “Riset Belanja Kampanye Pemilu: Kebutuhan dan Efektifitas.” Berdasar hasil diskusi, peserta lain menilai bahwa ia masih belum dapat merumuskan masalah dengan fokus. Di dalam proposalnya, Lia juga tidak memasukkan literatur review. Lokus dari penelitian ini, apakah pemilihan bupati, gubernur, juga belum jelas. Hal tersebut penting untuk dijelaskan karena jumlah dan jenis pengeluarannya akan sangat berbeda. Selain itu, perlu diperhatikan untuk mengamati faktor-faktor lain yang berpengaruh, seperti popularitas, hubungan kekerabatan, geografis, jaringan, dan lainnya. Presentasi Lia selesai pada pukul 11.30wib.

 

dsc_0257

Hari ketiga pelatihan, dimulai dengan presentasi dari Tantyo Bangun. Ia membagi presentasinya dalam tiga bagian. Bagian pertama persentasinya membahas tentang fotografi jurnalistik. Ia mendefinisikan fotografi jurnalistik sebagai bentuk khusus dari jurnalisme, menggunakan media gambar (gambar diam) yang menceritakan sebuah kisah berita. Fotografi jurnalistik ini bersifat up to date, namun umurnya pendek. Fotografi jurnalistik cenderung tidak menekankan pada sisi artistiknya, tetapi unsur beritanya. Yang terpenting dalam fotografi jurnalistik, adalah menggambarkan beritanya dulu, dengan cara apapun.

Sebagai fotografer, kita harus kritis terhadap obyektifitas. Fotografer dengan demikian tidak boleh memihak. Contohnya, pada saat kerusuhan, foto yang di ambil harus merepresentasikan kedua kubu yang bertikai. Ia juga harus dapat mengontrol diri, emosi, terutama pada saat sedang mengambil peristiwa yang menggugah emosi, seperti peristiwa pembunuhan. Foto-foto yang dihasilkan juga harus didokumentasikan dengan baik, seperti menyimpan negatif film-nya karena dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari sejarah. Di Indonesia, kesadaran untuk menyimpan dengan baik dokumen-dokumen tersebut masih belum serius dilakukan.

Bagian kedua dari presentasinya, menjelaskan tentang fotografi jalanan. Fotografi jalanan ia definisikan sebagai upaya untuk menampilkan subyek dalam situasi “tersembunyi/candid” di tempat-tempat umum seperti jalan, taman, pantai, mall, konvensi politik dan aktivitas publik lainnya. Jenis fotografi ini menggunakan teknik fotografi langsung (straight) dan lebih sering menampilkan sisi unik manusia dibanding obyek alam/pemandangan. Ia menampilkan seorang fotografer yang menggeluti fenomena fashion di jalan-jalan di London sebagai contoh fotografer jalanan.

Sedangkan bagian ketiga dari presentasinya, ia memperkenalkan fotografi dokumenter. Tujuan dari fotografi dokumenter ini adalah mencatat alur peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah. Fokusnya, berusaha menghasilkan foto yang obyektif, jujur dan fokus pada topik tertentu, melihat drama dan memvisualisasikan drama tersebut dalam rangkaian foto. Sebagai contoh, ia menampilkan rangkaian foto yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang dokter di kota terpencil di Amerika.

Dalam sesi diskusi, peserta mendiskusikan permasalan etika dalam pengambilan foto, seperti Zuni yang menceritakan pengalamannya ingin memfoto seorang ibu yang jatuh dari motor saat sesi field trip. Ia ragu apakah mengambil foto terlebih dahulu atau menolong ibu tersebut dengan resiko kehilangan momentum kejadian tersebut. Permasalahan etika juga ditanyakan oleh Veri tentang perlu tidaknya meminta izin dalam mengambil foto seseorang. Dalam hal ini, Tantyo menegaskan bahwa jika seorang fotografer memiliki waktu yang sempit dalam mengambil suatu momen, perlu menimbang tingkat resiko, dampak yang akan dialami oleh obyek foto apabila kita tidak membantu. Selama tidak membahayakan orang yang menjadi obyek foto tersebut, misalnya pada saat kejadian terjatuh, boleh memotret terlebih dahulu. Sedangkan mengenai izin, Tantyo menilai, hal yang paling mudah adalah membiasakan kehadiran kita sebagai fotografer di sekitar orang yang menjadi obyek foto.

Sesi Tantyo diakhiri dengan presentasi tentang teknik dasar pengambilan foto. Dalam sesi ini ia menjelaskan tentang perrmasalahan pencahayaan, jarak, komposisi, variasi waktu, posisi kamera dan variasi horizontal-vertikal dalam pengambilan foto. Keterampilan ini akan meningkat seiring dengan pengalaman. Setelah sesi presentasi, ia memberi komentar mengenai foto-foto hasil bidikan para peserta saat field trip selasa kemarin.

Presentasi dan diskusi Tantyo Bangun selesai pada pukul 12.00wib. Kegiatan dilanjutkan pada pukul 13.00wib oleh presentasi dari Zulham dengan judul “Kajian Interaksi Sosial Masyarakat dalam Membangun Integrasi Sosial di Desa Transmigrasi. Studi kasus: program transmigrasi di kecamatan Wonosari, Gorontalo.”

Ada beberapa perubahan yang ia lakukan di dalam proposal penelitiannya, pertama, perubahan lokasi. Pada proposal awal yang di kirimkan ke Interseksi, lokasi penelitiannya berada pada tingkat desa (desa Ayumolinggo, Gorontalo) sedangkan di dalam presentasi, ia mengubah lokasi penelitiannya menjadi kecamatan Wonosari, Gorontalo. Latar belakang penelitianpun diubah, dari yang hanya fokus ke pertanian, menjadi lebih luas. Pada sesi tanya jawab, hal utama yang dikritisi oleh peserta yang lain terkait proposal penelitiannya adalah penggunaan metode campuran kualitatif dan kuantitatif. Zulham ingin menganalisa hubungan antara interaksi sosial dengan integrasi dengan analisis kuantitatif, dan menggambarkan fenomena interaksi sosial yang terjadi dengan kualitatif. Dengan mempertimbangkan waktu penelitian yang singkat serta penguasaan metode, rekomendasi yang diberikan untuk Zulham adalah fokus pada penelitian kualitatif-nya saja.

Sesi presentasi Zulham berakhir pada pukul 15.00wib. Setelah itu, M. Vahrun Mato, peserta asal Sulawesi Tengah mendapat giliran presentasi. Ia mempresentasikan proposal penelitiannya yang berjudul “Eksplorasi Emas di Balaesang Tanjung.” Dari hasil diskusi, peserta lain menilai bahwa proposal yang diajukan oleh Vahrun masih belum jelas fokusnya. Tinjauan pustaka yang dirumuskan masih belum baik, karena masih berupa daftar pustaka-pustaka yang ia baca, bukan menelaah secara kritis fokus-fokus dari pustaka yang ia kumpulkan. Penelaahan pustaka penting untuk melihat kontribusi studi yang akan dilakukan terhadap tema penelitian tersebut, karena permasalahan eksplorasi dan hubungannya dengan masyarakat tempatan sudah banyak yang menelitinya. Vahrun juga masih belum dapat merumuskan permasalahan penelitian dengan baik dan pemilihan judul yang baik.

Setelah sesi presentasi dan diskusi proposal Vahrun, kegiatan dilanjutkan dengan sesi presentasi proposal penelitian Stephanie Djohar yang berjudul “Hak Kewarganegaraan dalam Selimut Otonomi Daerah.” Peserta lain menilai fokus dari penelitian yang diajukan masih belum jelas. Ada kebingungan dalam mehami mengapa di dalam proposal, Stephanie mengaitkan otonomi daerah dalam memahami kebutuhan ruang publik di Bumi Serpong Damai (BSD—sebagai daerah penelitian) yang dapat diakses oleh semua masyarakat, termasuk masyarakat luar kompleks. Peserta menilai, pengembangan kota mandiri dan otonomi daerah merupakan hal yang berbeda dan dalam praktek, BSD sebagai daerah penelitian, di bangun jauh sebelum UU Otonomi Daerah diberlakukan. Selain itu, rumusan pertanyaan penelitian masih belum jelas. Peserta lain tidak memahami maksud dari “sistem peradilan” yang dimaksud, karena latar belakang penelitian yang dijabarkan lebih pada masalah terkait akses masyarakat terhadap ruang publik.

Presentasi Stephanie berakhir pada pukul 17.30wib. Acara kemudian dilanjutkan pada pukul 19.00wib dengan presentasi dari Hamzah Eister setelah makan malam. Presentasi Hamzah berjudul “Sibaliparriq dalam Pemenuhan Nafkah Keluarga di laingkungan Masyarakat Mandar. Studi kasus: pembuat gula aren, nelayan, pa’gandeng, pedagang subuh.” Dalam presentasinya, Hamzah mengerucutkan fokus kasusnya hanya pada fenomena pembuat gula aren dan pedagang subuh (pappasar subuh).

Dalam sesi diskusi proposal Hamzah, peserta menanyakan tentang konsep sibaliparriq. Konsep sibaliparriq digambarkan dengan fenomena istri yang ikut serta dalam peningkatan ekonomi keluarga, seperti dengan membantu berjualan di pasar pada pagi hari (pappasar subuh). Kritik terkait proposal Hamzah yang disampaikan oleh peserta lain adalah letak keunikan konsep ini, karena fenomena istri membantu berjualan merupakan fenomena yang lumrah di banyak kebudayaan di Indonesia, dan apakah permasalahan tersebut hanya terjadi pada kelas tertentu saja (misal masyarakat miskin) atau tidak. Latar belakang yang dipaparkan dalam proposal juga belum jelas dan pembahasan pustaka hanya sekedar merinci beberapa pustaka yang ia baca, bukan me-review-nya.

Presentasi terakhir, proposal penelitian Edi, memaparkan tentang penelitian mengenai dinasti politik di Sulawesi Selatan, dengan studi kasus keluarga Yassin Limpo. Kritik terhadap proposal penelitiannya, adalah lebih seperti investigasi jurnalistik. Foskus kegiatan ini seharusnya lebih dalam dari sekedar investigasi jurnalistik. Bacaan yang mendukung penelitian juga masih sedikit yang di jelaskan dalam kajian literatur. Penelitian juga harus menggambarkan peta kekerabatan dalam keluarga serta posisinya di pemerintahan, dan dalam level yang paling bawah, perlu diperhatikan feonmena patron-klien dan bagaimana hal tersebut menentukan posisi mereka dalam posisi di pemerintahan.

 

dsc_0294

Dimulai pada pukul 09.00wib, hari keempat pelatihan diawali dengan presentasi dari prof Heddy. Prof. Heddy mengawali presentasinya dengan penjelasan tentang paradigma. Paradigma, menurutnya, berbeda dengan teori. Dalam ilmu sosial budaya pasti ada paradigma. Paradigma juga bisa disebut perspektif, pendekatan, kerangka teori atau konseptual, kerangka pemikiran. Penelitian, dengan demikian, pasti memiliki paradigma. Semua proposal penelitian menggunakan paradigma. Tetapi masalahnya, kita terkadang kurang memahami paradigma yang kita pakai, masih terpecah-pecah.

Pemilihan paradigma penting dalam penelitian, karena meski obyek yang diteliti sama, tetapi kalau paradigmanya berbeda, hasilnya akan berbeda. Paradigma, ada yang disadari dan tidak. Paradigma yang tidak disadari, seperti asumsi, nilai, model, dalam penelitian harus dibuat eksplisit, dalam artian dapat ditelaah secara kritis, diketahui kelebihan dan kekurangannya dan diketahui kelogisannya. Dalam proposal, paradigma yang kita gunakan harus dapat secara eksplisit terlihat dalam rumusan masalah yang diteliti, konsep yang dipakai, metode penelitian yang digunakan, metode analisis, dan dalam laporan penelitian harus terlihat dalam hasil analisis dan representasi.

 

dsc_0288-3-2

Prof. Heddy lalu mengulas beberapa proposal penelitian peserta, ia memberi catatan, masih ada permasalahan di konsep-konsep yang dipakai oleh peserta, serta penguasaan literatur. Di proposal peserta, lanjutnya, juga tidak ada kerangka teori yang disampaikan. Kerangka teori dan tinjauan pustaka merupakan hal yang berbeda. Dalam tinjauan pustaka, kita mengulas berbagai penelitian yang sudah dilakukan dan melihat mana yang belum diteliti dan yan sudah. Definisi-definisi yang digunakan juga harus dijelaskan di dalam proposal. Peneliti juga sedapat mungkin tidak menggunakan metafor, karena akan membuatnya semakin tersesat, mengecoh pemahaman tentang hal yang diteliti.

Kegiatan berlanjut dengan sesi tanya jawab, mengenai penentuan definisi yang cocok, boleh tidaknya mengarahkan informan, penggunaan istilah baru, dan baik tidaknya penggunaan sumber tulisan dari internet. Menurut Prof. Heddy, dalam menentukan definisi, peneliti dapat mengulas semua definisi yang ada, kemudian mengambil yang paling cocok untuknya. Bila tidak ada definisi yang cocok, peneliti boleh menggunakan definisi sendiri, asalkan dapat dipertanggungjawabkan. Peneliti dapat mengarahkan informan, namun tidak boleh mempengaruhi/mengintimidasi agar informan memberikan pernyataan sesuai kemauannya. Sedangkan mengenai istilah, gunakan kamus, dan bila benar-benar tidak ada di kamus, kita dapat menggunakan istilah yang kita buat sendiri. Mengenai sumber tulisan dari internet, sedapat mungkin tidak digunakan karena memiliki kelemahan, yaitu tidak ada peer review para cendekiawan seperti yang wajib dilakukan pada tulisan-tulisan yang dibuat menjadi buku dan jurnal.

Presentasi dan diskusi prof. Heddy berakhir pada pukul 12.00wib. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan presentasi revisi masing-masing peserta setelah makan siang pada pukul 13.00wib.

Dalam sesi presentasi revisi, moderator mempersilahkan siapa saja yang mau mulai terlebih dahulu. Lia mengacungkan tangan tanda bersedia. Dalam presentasinya, Lia berencana mengkerucutkan tema penelitiannya, dengan hanya memotret politik biaya tinggi. Setelah lia, peserta yang mendapat giliran presentasi adalah Affandi. Analisis yang akan dilakukan Affandi, adalah dengan mencoba mengkomparasikan antara efektifitas deradikalisasi dengan upaya meminimalisir jaringan kelompok teror, dan mencoba menawarkan gagasan detterence. Masalah penelitian-pun diperkecil, dengan mempertanyakan cocok tidaknya mekanisme detterence digunakan di Sulawesi Tengah.

Sesi presentasi revisi pada hari kamis berakhir pada pukul 15.00 wib. Berdasarkan kesepakatan, presentasi revisi akan di lanjutkan pada esok hari di kantor yayasan Interseksi. Peserta berkemas dan berangkat menuju lokasi.

Sesi pada hari Jumat, dimulai dengan diskusi mengenai tema advokasi yang akan dilakukan di Sulawesi. Sesi ini dimoderatori oleh Panji. Dimulai pada pukul 09.30.wib, Panji menjelaskan tentang tujuan dari advokasi yang dilakukan. Ia menjelaskan bahwa tujuan praktek advokasi ini adalah mengangkat isu-isu/permasalahan demokrasi dan kewarganegaraan yang dianggap paling penting untuk diwujudkan dalam praktek advokasi. Gagasannya, diambil dari tema-tema yang diusung oleh peserta dalam proposal penelitiannya. Dalam sesi ini, ia jelaskan, selain memilih tema, juga merekomendasikan lokasi advokasi, yaitu satu lokasi di Sulawesi bagian utara dan satu lokasi di Sulawesi bagian Selatan. Dalam pelaksanaannya, nantinya akan ada beberapa alumni pelatihan penelitian yang akan ikut terlibat dalam proses advokasi, dan bekerjasama dengan beberapa pihak di lokasi, seperti media massa, LSM, dan lainnya. Panji memulai diskusi dengan memberi satu pertanyaan: “Berdasar hasil diskusi dan presentasi proposal penelitian yang telah dilakukan, tema/isu apa yang paling menarik untuk diwujudkan dalam praktek advokasi dan lokasinya?”

Peserta kemudian mengelaborasi berbagai permasalahan yang ada di Sulawesi selatan yang mereka anggap menarik untuk di teliti. Dari hasil diskusi, disepakati bahwa permasalahan yang menarik adalah mengenai isu agraria dan kewarganegaraan.
Setelah selesai shalat jumat, Kegiatan dilanjutkan oleh dengan presentasi perbaikan oleh Zulham, Laila, Gemma, Vahrun dan Stephanie. Kegiatan pelatihan selesai pada pukul 16.00wib.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>