Mencari
Asisten Peneliti, Menemukan Sugeng
Radjimo Sastro Wijono
Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di
komunitas Buda, Lombok Utara
|
Aku di bangku paling belakang di bus warna merah yang
menuju bandara Cengkareng, Tangerang, Banten, pada siang 5
Januari 2009. Aku duduk di situ karena itulah tempat yang
tidak disukai banyak orang. Para penumpang biasanya memilih
bangku depan atau tengah. Berbagai alasan mereka miliki
untuk memilih barisan depan di bus antarkota ini, dan yang
sering terlontar adalah masalah keamanan. Alasan mereka
memang kuat, bukankah cerita kriminal dalam angkutan umum
memang banyak dilakukan di barisan belakang. Dalam
perjalanan yang agak istimewa ini aku sengaja memilih
bangku belakang karena tak ingin terusik oleh penumpang
lain, baik diminta bergeser tempat duduk maupun diajak
ngobrol. Di belakang bus yang selalu ngebut itu aku
mengaharapkan dapat menyusun kegiatan selanjutnya, saat
tiba di Pulau Lombok: mencari asisten peneliti dalam tiga
hari pertama.
Pada awalnya suasana bus yang gaduh sempat membuat aku
tenggelam di dalamnya, yang penuh ketidaknyamanan. Memasuki
pintu tol Serang Timur, Banten, suasana bus yang kuinginkan
baru kudapatkan: ketenangan dalam ketegangan. Hampir sejam
perjalanan aku asyik dalam alam bayangan tentang orang yang
akan membantuku dalam penelitian selama sebulan di Lombok
Utara. Paling tidak ada tiga kontak person yang kumiliki,
sebagai alternatif asisten peneliti.
Pertama,
kontak person yang diberikan oleh M. Khoiron, Direktur
Eksekutif Desantara.
Kedua, kontak person dari
Erasmus, aktivis AMAN, dan
ketiga, kontak person
dari Mas Ashar, teman kuliah istriku.
Hampir satu tahun tidak terlibat dalam aktivitas penelitian
komunitas membuatku seperti melakukan penelitian yang
pertama kali. Keraguan pada banyak hal menjadi
kekhawatiran, tak aneh kebutuhan partner di lapangan sangat
penting kurasakan. Apalagi meneliti di tempat yang belum
kukenal betul dan masyarakatnya bahasa lokalnya masih kuat.
Pikirku, tak mungkin aku dalam waktu singkat dapat mengenal
daerah dan masyarakat setempat tanpa partner di lapangan.
Idealitas tentang asisten peneliti tergambar dalam
bayanganku: kenal lokasi dan kenal masyarakat dengan
bahasanya. Lama kelamaan bayang-bayangku tentang asisten
peneliti malah memunculkan ketakutan. Aku pun segera
menghentikan bayangan tentang asisten peneliti, sekaligus
mempersiapkan untuk turun dari bus. Tapi aku sempat
berpikir (mengutip sebuah kalimat dalam novel
Pram--mungkin), mengapa takut pada sesuatu yang belum ada.
Aku tidak membayangkan tentang penelitian dan asisten
peneliti sampai kakiku menginjak tanah Pulau Lombok, pada
jam 23.40 waktu Indonesia bagian tengah. Dalam perjalanan
ini aku merasa rugi waktu, pertama karena pengunduran
jadwal penerbangan selama hampir dua jam, dan kedua karena
konversi waktu sejam lebih awal. Aku berpikir baik-baik
saja dalam kekecewaan ini sampai
check-in hotel di
Jalan Airlangga, termasuk apa saja yang akan dicatat
malaikat atas amal-perbuatan yang hilang sejam itu.
Pagi hari pertama di Pulau Lombok datang tanpa memberiku
salam yang khas. Suara televisi yang tidak kumatikan
semalam masih menyala kala aku terbangun. Seperti pagi-pagi
biasanya kutemui. Bagai ciptaan yang terprogram, aku pun
melaksanakan rutinitas seperti pagi-pagi pada umumnya. Aku
sadar benar berada di Mataram setelah melihat kain tenun
selimut kasur ciri khas Lombok berwarna biru dan mendengar
obrolan orang-orang di luar kamar yang berbahasa Sasak.
Saat bermalas-malasan di tempat tidur, sembari membaca-baca
bulletin gratisan dari bandara, pesan singkat masuk dalam
telepon genggamku. Rupanya pesan singkat berasal dari salah
satu kontak person yang akan kutemui dalam tiga hari
rencanaku di ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)
ini. Ia, kontak person dari teman kuliah istriku dan sudah
pernah menghubungiku saat di Serang, Banten. Isi pesan
singkat kontak person yang tinggal di Lombok Utara: akan ke
Kota Mataram menemui anaknya dan menemuiku. Seusai berbalas
pesan singkat dan menemui kata sepakat akan tempat dan
waktu bertemu, aku pun keluar kamar menyapa hari yang sudah
tidak pagi lagi.
Lebih dari tiga kali aku keluar-masuk kamar. Keluar yang
keempat kali, dengan membawa anak kunci di tangan kiri aku
menuruni tangga menuju resepsionis. Perlengkapan yang
kubawa dari rumah sudah kukemas seperti sedia kala saat aku
check out dari hotel yang membawaku kesan pada
sinetron TVRI tahun 1980-an,
Losmen, namun bedanya
setiap kamarnya tertulis: Dilarang membawa tamu yang bukan
muhrim.
Berada di gerbang hotel, beberapa tukang ojek dan pengemudi
taksi menyapaku dengan ramah, tentunya untuk menawarkan
jasanya. Karena tidak ada arah yang pasti kutuju sebelum
bertemu dengan kontak person teman kuliah istriku aku pun
menolak tawaran tukang ojek dan pengemudi taksi yang memang
sudah terbisa mangkal di situ. Kulihat jam di telepon
genggam menunjukkan pukul 09.30 (waktu Indonesia timur),
berarti ada dua jam lagi sebelum bertemu dengan kontak
personku. Kuputuskan pergi ke toko buku yang letaknya tak
jauh dari hotel. Karena lokasi toko tidak tahu persis, aku
pun beramah-tamah dengan orang di sekelilingku. Salah satu
tukang ojek yang kutolak jasanya dengan ramah memberikan
petunjuk dengan tepat. Bertemu dengan orang seperti ini
membawaku kesan lagi bahwa di sini masyarakatnya baik.
Kesan pertama masyarakat di sini (Lombok) masih baik
kudapatkan saat menginjakkan seribu langkah pertama di
pulau ini. Keluar dari bandara menuju hotel yang jaraknya
kurang lebih 3 kilometer pada tengah malam aku sengaja
berjalan kaki. Saat berjalan dalam temaram malam, perasaan
takut akan banyak hal terkadang menyelimuti langkahku dari
Jalan Udayana ke Jalan Airlangga. Cerita tentang Lombok
yang banyak hantu, berita kriminalitas yang mewarnai media
massa, anjing yang berkeliaran, dan orang-orang yang mabuk
di jalanan sempat membuat bulu kuduku merinding.
Ketakutan-ketakutan itu aku paksa pergi dari rasaku, walau
dengan tenaga yang tak penuh lagi. Dalam tigapuluh menit
lebih melawan takut inilah membawa kesan awal tentang
Lombok yang masih baik, bersahabat, dan asyik untuk
diteliti. Selain itu, seribu langkah awal menginjak kaki di
Lombok ini juga untuk menghilangkan mitos-mitos tentang
Lombok dan membawaku kesan pertama sendiri, serta
menjadikan tanda akan bagaimana nantinya melakukan
penelitian ini.
Di toko buku aku beli beberapa buku dan peta, sebagai bekal
mengetahui budaya masyarakat lokal dan hadiah untuk anak
calon asisten peneliti. Merasa persiapan ke komunitas telah
sepenuhnya siap, aku menunggu calon asisten peneliti di
warnet yang ada di Jalan Airlangga, Mataram. Dalam
menunggu, dering pesan singkat telepon genggamku beberapa
kali berbunyi, yang kebanyakan berasal dari pesan singkat
calon asisten peneliti. Aku berbalas pesan singkat
dengannya. Dan pada bunyi kelima, dering telepon masuk
menggantikan dering pesan singkat, masih dari calon asisten
peneliti. Karena ada gangguan pada operator seluler yang
kupakai sejak tahun 2003, tidak dapat menerima teleponnya
dengan baik, pun sebaliknya saat kutelpon dia tidak dapat
menerimannya dengan baik. Kuputuskan mengirimkanp pesan
singkat padanya lagi, yang intinya berisi tentang ciri-ciri
performaku: mengenakan kaos hitam dan rambut dikuncir, yang
berada di depan warnet dekat pintu gerbang hotel. Berbekal
pesan singkat tersebut, dengan tidak sengaja aku telah
memintanya mencari (meneliti), dan aku pun sibuk mencari
posisinya di antara kerumunan Kota Mataram yang sedang
lengang.
Bagiku, mencari asisten peneliti merupakan kerja pertamaku
dalam penelitian ini di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat,
dan menunggu kontak person di urutan ketiga ini bagian dari
kegiatan ini. Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan
Airlangga semua kulihat dengan seksama, apalagi kendaraan
yang berhenti di tepi jalan. Setiap pria dewasa yang
melewati jalan raya ini kuduga sebagai teman kuliahnya
istriku. Paling tidak ada 10 orang yang kutebak, dan
tebakanku salah. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pria
yang sedang menuruni
cidomo[1] . Mungkinkah ini, pikirku, dan
ternyata tebakanku salah lagi. Angkutan kota yang
masih menggunakan tenaga kuda tersebut oleh masyarakat
Lombok hingga kini masih banyak diminati warga. Tak
lama setelah aku memperhatikan penumpang cidomo,
seorang pria mengendarai motor keluaran terbaru
produksi Jepang berhenti dan terlihat mencari-cari
sesuatu. Aku merasa tebakanku kali ini tidak salah,
kontan aku berteriak menyebut namanya. Dan ia pun
langsung menganggukkan kepala, sambil berkata inggih.
Aku pun menghampirinya, berjabat tangang dan
memperkenalkan diri secara langsung. Ia pun demikian,
dengan senyum ramahnya ia mengucapkan namanya Sugeng.
Terlaksana sudah kegiatan awalku di Mataram, Lombok,
mencari calon asisten peneliti bernama Sugeng, kontak
person dari teman kuliah istriku.
Calon asisten peneliti yang pertama kutemui bernama Muh.
Sugeng Komari, SPd. Seorang guru seni di SMP N 3 Gangga,
Lombok Utara. Kesan pertama bertemu dengannya bagai bertemu
dengan seniman lokal di Jawa, yang giat berkesenian namun
keseniannya sudah tidak diminati banyak orang. Seperti
bertemu dengan pelaku seni Ngesti Pandawa di Semarang.
Mereka terus berkesenian wayang orang meski penonton tidak
banyak, dan gedung mereka pun beberapa kali berpindah
(termarjinalkan oleh budaya popular modern). Dalam
perkenalan selanjutnya ia suka menyebut dirinya
brinthik, rambut keriting. Temannya teman istriku
inilah calon asisten peneliti yang akan bekerja selama
sebulan denganku.
Seolah mengejar banyak hal yang tertinggal, seusai
perbincangan perkenalan, aku mengajak calon asisten
penelitian pertama menuju perpustakaan Universitas Mataram,
yang letaknya tidak begitu jauh dengan tempat kami bertemu.
Ia sepertinya tidak pernah mengunjungi perpustakaan
universitas, sehingga jalan menuju ke sana perlu bertanya
pada orang. Karena tidak tahu lokasi perputakaan, aku
sempat ragu akan pengetahuannya tentang penelitian. Tapi,
ia punya cara/metode untuk menemukan tempat. Ibarat dalam
proses pencarian asisten peneliti ada proses seleksi, maka
Mas Sugeng (panggilanku terhadapnya) pada kegiatan ini
telah mendapat dua nilai plus, pertama saat mencariku di
depan warnet (nilai kegigihan, sabar), kedua dalam cara
mencari tempat (nilai kreatif). Dalam perpustakaan Unram
yang terlihat sepi pembaca aku tidak menemukan informasi
yang mendukung penelitianku, walau petugas memberiku
pelayanan optimal. Aku pun keluar menuju parkir motor,
tempat Mas Sugeng menunggu. Sebatang rokok aku nyalakan
untuk memikirkan kegiatan selanjutnya sesampai di sana
sembari minta pendapat partner baruku, dan diskusi pertama
dengan calon asisten peneliti terjadi di tempat parkir
Unram. Diskusi-diskusi dengannya terus kami lakukan
selanjutnya, termasuk dalam perjalan menuju tempat
tinggalnya di Dusun Todo, Desa Bentek, Kecamatan Gangga,
Lombok Utara. Dalam perbincangan di atas kendaraan roda dua
yang melaju nyaman melewati jalan yang berkelok-kelok Mas
Sugeng bercerita tentang apa yang ia lihat, apa yang ia
alami, apa yang ia rasakan, dan apa yang ia dengar.
Mendengar banyak hal yang ia ketahui aku menjadi menahan
sedikit rasa ingin tahuku akan banyak hal yang ada di sini,
menelan arus informasi/data dengan pelan-pelan dan tidak
terburu-buru.
Satu jam lebih perjalanan kami dari Kota Mataram menuju
Lombok Utara dengan motor membuat badanku terasa capek.
Jalan yang di sisi kanan dan kirinya dihiasi bendera partai
peserta pemilu 2009 tersebut terasa sangat jauh. Namun alam
yang masih enak dipandang membuatku tidak bosan melaluinya.
Memasuki perkampungan yang tidak jauh dengan jalan raya,
kami berhenti di sebuah rumah yang bentuknya unik. Karena
bentuknya yang berbeda dengan rumah lain tersebut, aku
menjadi selalu teringat akan focus penelitianku tentang
rumah masyarakat Buda di Lombok. Berada dalam rumah yang
dibangun atas jerih payahnya selama 10 tahun menjadi guru
di Lombok, Mas Sugeng terus mengajak berbincang untuk
mengakrabkan kami. Dan tak lebih dari sepuluh menit di
rumah, di kampung, di desa ini saya merasa betah dan
memutuskan tinggal di sini serta menetapkan Mas Sugeng
Brintik menjadi asisten penelitiku. Artinya, aku memilih
kontak person dari teman istriku, dan kontak person lain
yang memang keduanya belum aku temui terpaksa kubatasi
jasanya pada penelitian ini.
Tak lama berselang, datang tamu di rumah mungil dan antik
ini. Ia seorang guru sejarah. Bertiga kami duduk di
beruga. Beruga (kadang ditulis
berugaq, bruga), sebuah tempat yang diciptakan
untuk tempat berkumpul bersama, baik antaranggota keluarga
maupun tamu yang datang. Beruga biasanya terletak di
pelataran rumah, di depan maupun di samping. Bangunan yang
khas Lombok ini kerangkanya terbuat dari kayu, atapnya
terbuat dari dedaunan (kelapa, rumput gajah [namun beberapa
sudah terbuat dari asbes atau seng]), dan tempat duduknya
dari anyaman bambu
(lasah)[2]. Selain berfungsi sebagai ruang
keluarga dan ruang tamu, beruga juga berfungsi sebagai
tempat ritual
[3], dan tempat evakuasi kala bencana
datang
[4]. Pada awalnya yang disebut beruga
hanya bangunan yang berkaki enam
(sekenem),
namun karena keterbatasan finansial warga bangunan
berkaki empat
(sekempat) pun kini juga
disebut beruga. Di tempat duduk yang unik ini aku pun
mempertegas apa yang akan kukerjakan dan kontrak
sosial dengan Mas Sugeng. Intinya, mencari teman
adalah tujuan utamaku, dan penelitian merupakan media
untuk mempertemukan. Kami pun bersepakat, dan akan
saling membantu dalam hal-hal sepatutnya dan
semampunya.
Di beruga ini kami sering mengawali dan mengakhiri
kegiatan. Pagi merencanakan kegiatan; siang, sore atau
bahkan malam mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan. Dalam
melakukan peneltian ini, yang membantuku di lapangan tidak
hanya Mas Sugeng, namun juga teman-temannya. Temannya teman
istrikulah yang sejauh ini mempermudahku memahami, menemui
narasumber, bersosialisi dengan warga setempat: Ada Pak
Ali, Pak Toha, Pak Annas, Pak Sony, Pak Arif, dan Pak Eddy.
Mereka sebagian besar adalah guru yang sudah lama mengabdi
untuk kemajuan pendidikan di Pulau Lombok lebih dari 10
tahun. Peran penting dalam masyarakat telah menjadikan
mereka sangat dihargai warga desa. Sehingga, dalam live-in
di desa Bentek, sebagai pusat keberadaan masyarakat Buda,
aku merasa sangat terbantu dalam memahami kesehariannya.
Atas kerjasama yang baik dengan asisten peneliti, Mas
Sugeng dan teman-temannya, dalam dua minggu pertama, hampir
semua narasumber yang memiliki informasi tentang keberadaan
masyarakat Buda sudah aku ajak berbincang-bincang. Sengaja
dalam penelitian ini aku gunakan istilah bincang-bincang,
bukan wawancara. Tradisi bertutur/lisan masyarakat yang
masih baik mendukungku dalam menggali data yang kubutuhkan,
bahkan aku terkadang kewalahan menelan informasi-informasi
yang terus mengalir dalam perbincangan. Tak jarang, hanya
dalam sekali pertemuan mereka dapat memberikan data yang
aku perlukan.
Cara yang aku gunakan untuk mendapatkan data tentang
deskripsi kebu¬dayaan sebagaimana adanya rumah masyarakat
Buda di Kampung Baru sini adalah
live-in. Di Desa
Bentek
[5] , aku lebih banyak belajar dari
pemilik kebudayaan, dan sangat respeks terhadap cara
mereka berprilaku sehari-hari. Pada saat menyusun
desain penelitian, aku merencanakan seminggu melakukan
penelitian di sekitar Kampung Baru (perpustakaan
setempat, BPS, dll) dan tiga minggu di desa tempat
Kampung Baru
(live in). Namun dengan bertemu
Mas Sugeng dan teman-temannya, yang tinggal di sekitar
obyek yang kuamati, aku memutuskan live-in sejak hari
kedua sampai satu bulan ke depan. Sedangkan untuk
mencari data pelengkap (sekunder: buku, monografi,
koran, dll), setiap Sabtu pagi atau ada keperluan yang
lain aku pergi ke Kota Mataram.
Selama dua pekan lebih, saya mendapatkan data yang dapat
digolongkan menjadi dua macam: data kualitatif dan data
kuantitatif. Tinggal bersama masyarakat pada dasarnya
merupakan suatu proses penyelidikan, yang mirip dengan
pekerjaan detektif yang investigatif (Miles 1992). Dari
“memata-matai”aku menghimpun data-data utama dan sekaligus
data tambahannya. Sumber data utamanya kata-kata dan
tindakan sehari-hari warga, sedangkan data tertulis, foto,
dan statistik merupakan data tambahan.
Aku berusaha menjadi bagian dari warga desa. Tiga hari
tinggal di Desa Bentek, aku menyaksikan langsung datangnya
bencana banjir bandang yang melanda desa yang damai ini.
Sabtu pagi, 10 Januari 2009, keluarbiasaan terjadi di desa
ini: ruas jalan desa dari kampung Karangkates menuju
kampung Selelos, yang melewati dusun Karang Lendang, Todo,
dan Bangket terputus di Todo (tepatnya di kampung Genting).
Praktis, Dusun Todo, Bangket, dan Selelos terisoler dari
transportasi kota. Selain terisoler dari jalur
transportasi, listrik dan air PAM pun demikian. Selama dua
hari warga kesulitan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Kejadian luar biasa kedua adalah terkenanya banjir bandang
di Dusun Bangket dan Buani. Di Bangket, selatan Dusun Todo,
puluhan warga kehilangan rumah tinggal yang terendam oleh
pasir, lumpur, dan potongan-potongan kayu. Tidak ada korban
jiwa, namun harta benda rumah-rumah yang ada di muka dusun
tersebut hanyut dalam derasnya air bah. Di Buani, timur
Dusun Todo, tempat tinggal masyarakat Buda, akibat banjir
bandang sebanyak lima rumah ikut hanyut. Pagar vihara yang
diresmikan tahun 2005 oleh bupati Lombok Barat rubuh.
Kejadian luar biasa ini mendapat respons dari media, baik
cetak maupun elektronik. Sejumlah TV swasta nasional
meliput kejadian ini, pun media cetak. Adanya kejadian ini
membuatku harus memiliki alternatif kegiatan, bahkan peran.
Aku menargetkan paling tidak tiga hari, jika tidak ada
bencana susulan, mengurangi waktu kegiatan penelitian.
Kejadian luar biasa ini menjadikanku relawan bencana dan
narasumber menjadi korban bencana. Semampuku, aku ikut
bergotong-royong dengan warga. Bagiku ini juga kesempatan
untuk bersosialisasi. Di ruas jalan yang terputus, aku ikut
membuat jembatan di sungai yang muncul akibat banjir pada
Sabtu pagi dini hari itu. Warga menyebut sungai yang muncul
pada tanggal 10 Januari 2009 sebagai sungai baru. Namun
menurut keterangan orang-orang tua di Dusun Todo, sungai
baru bukanlah baru. Sungai yang luasnya hampir 10 meter
tersebut memang sudah ada pada tahun 1950-an, dan dihambat
pada tahun 1960-an.
Selain terlibat dalam menghadapi bencana yang melanda desa
ini untuk kesekian kalinya ini, aku juga terlibat dalam
kegiatan warga lainnya. Misalnya kegiatan hiburan warga,
yakni bermain sepakbola dan bermain kartu di beruga warga
desa. Kedua kegiatan ini merupakan bahasa universal,
bukankah setiap orang ingin menghibur diri. Dari
kegiatan-kegiatan yang rileks ini tak jarang aku
mendapatkan data-data yang penting.
Live in di tempat yang udaranya masih segar dan
pemandangannya indah telah membuatku jatuh cinta pada
lokasi penelitian. Apalagi masyarakat di sini ramah dan
bersahabat, serta kooperatif. Saat pagi menyapa,
suara-suara alam terdengar sangat merdu dan pemandangan
sebuah bukit yang diselimuti kabut membuat semangat dalam
mengisi hari ke arah yang lebih baik terus tinggi. Saat
siang menjelang, jalan desa yang tak jauh dari rumah
menjadi pemandangan yang menggambarkan masyarakat yang
guyub: saling menyapa sembari melempar senyum, dan akan
mengehentikan aktivitasnya ketika ada orang yang
menghampirinya. Saat sore datang, beruga menjadi padat oleh
anggota keluarga atau tamu yang berkunjung: pembicaraan
hangat tersuarakan tentang apa saja. Saat malam
menghampiri, temaram malam menjadi teman istirahat warga,
dan tak jarang beruga diisi warga yang menghibur diri. Dan
dalam jatuh cintaku pada lokasi dan komunitas tidak
membuatku lupa akan kerjaku. Dalam dendangan
tembang-tembang cinta yang terngiang, paling tidak ada
beberapa kegiatan yang kulakukan dalam menghimpun data, di
antaranya:
1. Pengamatan langsung
Kegiatan yang dilakukan pada awal memasuki daerah awal ini
oleh Mas (Dr.) Pujo Semedi dinamai menjadi Nabi Qidir.
Dalam hal ini aku mengamati secara bebas dan tidak
terstruktur. Aku menghanyutkan diri dalam pandanganku.
Kantong celanaku biasanya penuh peralatan: alat tulis, alat
rekam, dan terkadang tustel. Tak jarang dalam melakukan ini
aku duduk di warung milik warga. Bisanya, dalam transaksi
yang terjadi antara pemilik warung dan pembeli juga terjadi
pembicaraan, dan kesempatan ini aku gunakan untuk menguping
(walau kadang tersiksa dengan bahasa yang belum aku
pahami).
Ketika memasuki perkampungan, tak jarang warga menjadi
pengamat dari kegiatan pengamatanku, dan agar tidak
dicurigai aku biasanya menghampiri salah satu diantaranya
sembari menanyakan sesuatu. Misalnya, lokasi vihara, alamat
rumah kadus/rumah banjar, atau nama orang yang aku
kenal/pernah dengar.
2. Pertanyaan spontan
Aku melakukan kegiatan ini biasanya berbarengan dengan
pengamatan langsung. Saat mengamati sesuatu, benda atau
kegiatan yang berlangsung, tetapi tidak dapat mendapatkan
kejelasan maka orang di sekitar sesuatu itu menjadi
informan. Setelah mendapatkan keterangan, aku kembali
melakukan pengamatan kembali. Dalam hal ini bisa dikatakan,
kegiatan ini aku lakukan saat lambat menangkap sesuatu yang
terjadi.
3. Wawancara (berbincang dengan
narasumber)
Aku melakukan kegiatan wawancara, mencari data yang detail,
biasanya kepada orang-orang yang oleh masyarakat setempat
dianggap mumpuni. Kegiatan ini aku lakukan pada minggu
kedua, setelah pengamatan dan pertanyaan spontan, serta
merasakan langsung jiwa masyarakat. Setelah merasa cukup
dengan peralatan, narasumber kudatangi ke rumahnya. Tak
sulit menemukan mereka, dan ditemui mereka. Pengalamanku
menemui mereka di rumah, sesibuk apa pun, mereka bersedia
menerima kedatanganku dengan ramah dan bersahabat.
Narasumber tidak menanyakan siapa aku, tetapi pertanyaan
awal yang terlontar adalah menanyakan apa yang dapat
dilakukannya untuk membantuku. Kesempatan baik ini aku
langsung optimalkan dengan pertanyaan-pertanyaan umum dan
khusus, dan biasanya mereka menjawab dengan sepenuh hati
dan tulus. Ketika tahu banyak hal, ia menambahi
jawaban-jawaban pertanyaanku. Ketika tidak tahu pada suatu
hal, ia mengatakan dengan jujur atas ketidaktahuannya dan
memberikan informasi siapa orang yang lebih tahu.
Sejauh ini, pada pertemuan pertama dengan narasumber aku
langsung dapat melakukan wawancara (bincang-bincang yang
bermakna). Aku mengikuti alur perbincangan yang
berlangsung, pertanyaanku kadang terinspirasi dari
penuturan narasumber. Dalam memilih narasumber aku mulai
dari tingkat yang memiliki informasi sedikit: dari orang
biasa, ketua banjar, ketua dusun, pemuka agama, dan orang
ahli. Hal ini agar lebih memudahkanku menangkap fenomena
sosial dan aku tidak terbelenggu oleh informasi dari para
ahli/elit desa.
4. Studi dokumen
Kegiatan mengumpulkan data dengan menghimpun dokumen
tertulis dan gambar di Desa Bentek ini aku lakukan di
kantor kepala desa. Dokumen yang telah kuperoleh masih
kubaca sekilas, belum kuanalisis atau pun kubandingkan
maupun kupadukan. Jadi untuk data tertulis aku belum
membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh.
Dalam studi ini aku lebih banyak memproduksi dokumen,
berupa foto. Keluarbiasaan peran foto ini sangat kusadari
sangat penting dalam penelitian ini. Saya jadi ingat sebuah
buku,
On Photography, yang mengatakan: Jika seni
rupa adalah sastra, dan lukisan adalah puisi, maka
fotografi adalah bahasa. Foto yang tanpa preseden mampu
mengabadikan dan menggandakan semua citra (bukan hanya yang
bisa langsung dicerap), fotografi memang bukan lagi sekadar
sebuah bentuk seni; ia lebih luas dari seni kata Susan
Sontag. Kesadaranku yang tinggi akan foto ini membuatku
menjadi manusia sadar kamera, walau sampai sekarang aku
belum memilikinya. Hampir setiap keluar rumah aku selalu
membawanya, dan untuk menyiasati agar tidak terlihat aneh
oleh warga aku membungkus kamera dengan tas plastik hitam.
Aku sangat menikmati penelitian ini. Pernah suatu ketika
Mas Sugeng menanyakan, apakah aku tidak bosan atau kangen
dengan rumahku. Pertanyaannya ini mengingatkanku akan
bagaimana strategi merasionalisasi rasa kangen dan
kejenuhan. Dalam hal ini rasa kangen akan rumah memang
selalu muncul, apalagi bayangan anak-anak, cahaya pilihan
hidupku. Untuk menghadapi rasa kangen dan jenuh, aku
mengaturnya dengan tiga hari kerja penuh dan satu hari
untuk rileksasi. Rileksasi di desa ini biasa aku jalani
dengan nongkrong di warung pada pagi menjelang siang, atau
bermain sepak bola pada sore hari, atau bermain kartu remi
pada malam hari. Bosan, sejauh ini, belum menghinggapi
rasaku. Betapa tidak, hampir setiap saat rumah Mas Sugeng
selalu kedatangan tamu, dan tamunya (baik pemuda setempat
maupun teman sejawatnya) selalu memiliki cerita yang
informatif. Bahkan, dalam membantu proses penelitianku,
pada dua minggu pertama ini, seorang tetangga Mas Sugeng
membawakan lagu-lagu pop sasak beserta alat pemutarnya.
Hal penting yang kudapat dari
live-in adalah harus
memiliki banyak alternatif pilihan kegiatan. Sehingga, saat
tidak terlaksananya sebuah rencana awal maka selanjutnya
dapat melaksanakan rencana lainnya. Dari sini aku merasakan
tidak pernah menemui kegagalan dalam beraktivitas bersama
warga. Pikiran-pikiran gagal, susah, sulit, dan hal-hal
negatif lainnya pun harus kutanggalkan, agar dalam bersama
warga kita selalu cerah (tidak ada beban). Beruntung aku
dalam penelitian ini memiliki asisten peneliti bernama
Sugeng, yang dalam sikap dan lakunya membawa penelitianku
lancar, sehat, dan selamat. Ia yang terbebani 10 tahun
dalam hidup rumahtangganya tidak menjadikannya menutup
diri, malahan ia supel dan ringan tangan kepada siapa saja.
Dalam masyarakat, ia telah menanamkan modal sosial yang
tidak sedikit. Sehingga, kelancaran, keselamatan,
ke-sugengan-an penelitianku di sini merupakan keuntungan
dari modal sosial yang ia tanamkan. Peran gurunya yang
tidak hanya di sekolah tapi juga di masyarakat, yang pernah
dilecehkan oleh orang yang sangat dekat dengannya,
membuatnya memiliki nilai tertinggi sertifikasi guru di
Provinsi NTB pada tahun 2008. Ia seorang bapak beranak satu
yang sabar, guru yang sabar, seniman yang kreatif, tukang
pijat yang handal, dan kooperatif dalam bekarja. Tak jarang
ia memberikan wawasan dan alternatif pilihan beraktivitas
dalam penelitian ini. Namun demikian ia juga manusia biasa,
subyektivitasnya kadang memengaruhiku dalam mencari data.
Misalnya pilihan-pilihan narasumber. Ia juga teman yang
protektif, yang terkadang kekhawatirannya berlebihan dan
membuatku terkadang menjadi ciut dalam melangkah.
Aku berusaha tegar dengan subyektivitasku terhadap obyek.
Beda subyektivitas dengan asisten peneliti dalam hal ini
tidak aku tolerir. Beda pendapat, dalam diskusi yang kami
lakukan hanya untuk menemukan kesamaan jalan dalam
meneliti, dan perbedaan visi sekedar memperkaya
pengetahuanku. Dalam penelitianku aku sadar akan
kepentinganku. Untuk memadukan antara kepentingan
(subyektivitas) dan pengetahuan, saya setuju dengan Auguste
Comte (1798-1857), pendiri positivisme, yang hanya mengakui
satu kepentingan yang syah, yakni kepentingan
memperjuangkan "pengetahuan untuk pengetahuan".
Sampai saat ini, aku masih melakukan penelitan bersama Mas
Sugeng, dan aku bersyukur sejauh ini penelitianku
benar-benar sugeng, selamat. Artinya, banyak informasi yang
kudapatkan atas jasanya. Kadang ia menemaniku langsung
dalam wawancara, dan kadang ia meminta teman-temannya
menemaniku dalam berwawancara, terutama dengan narasumber
yang tidak lancar berbahasa Indonesia.
Bertemu dengan Mas Sugeng dalam mencari asisten peneliti,
aku telah menjadikan Sugeng brintik seorang peneliti dan
penelitianku menjadi sugeng (selamat, lancar, dan...semoga
sukses).
Di tengah rintik hujan di malam hari di Desa Bentek,
27 Januari 2009
Endnotes
1. Angkutan tradisional ini merupakan
ciri khas Lombok, oleh sebagian masyarakat dianggap
sebagai bagian identitas kotanya. Angkutan berbentuk
dokar atau delman ini menggunakan kuda sebagai
tenaganya, dan roda yang digunakan adalah roda bekas
dari mobil. Identitas kota ini menunjukkan bahwa
modernitas (mobil sebagai agen kemoderenan) sudah
membaur dengan masyarakat yang masih menjaga adat
dengan kuat. Konon penamaanya diberikan oleh Menteri
Penerangan Jaman Orde Baru, Harmoko, yang terkenal
dengan kegiatan Safari Ramadhan.
2. Menurut kepercayaan masyarakat
setempat, lasah setelah fungsinya tidak optimal lagi
(rusak) tidak boleh dibakar atau dijadikan kayu bakar.
Hal ini karena lasah merupakan tempatnya kehdiupan,
anyaman bamboo ini dianggap telah berjasa dalam
menemani masyarakt dalam kehidupannya, sebagai tempat
lahirnya dan tidurnya bayi, tempat duduk sehari-hari,
serta tempat memandikan mayat.
3. Di kampung baru, Desa Bentek, dikenal
beruga agung yang berfungsi sebagai kegiatan upacara
tradisi. Sedangkan di rumah-rumah penduduk Desa
Bentek, fungsi ritual ini digunakan pada acara hajatan
(begawe). Saat pembacaan doa dilantunkan, hanya kyai
dan orang-orang tertentu yang duduk di beruga,
sementara warga yang lain berada di sekelilingnya.
4. Pulau Lombok merupakan daerah rawan
bencana. Pada 30 Mei 1979 terjadi gempa yang
mengakibatkan hancurnya infrastruktur kota. Misalnya,
di Pasar Tanjung dari serangkaian bangunan ruko dan
bangunan lainnya yang tersisi hanya satu unit ruko,
yang letaknya persis di depan tugu peringatan bencana
tersebut (sisi kiri terminal Tanjung). Gempa kecil
sering terjadi, sehingga desain rumah diciptakan tahan
terhadap gempa.
5. Sejak 30 Desember 2008, sebagai
bagian dari wilayah administratif Kecamatan Gangga
masuk ke dalam pemekaran wilayah Kabupaten Lombok
Utara. Desa ini membawahi 10 dusun, yang beberapa
diantaranya menjadi tempat tinggal masyarakat Buda:
Dusun Karang Lendang, Dusun Lenek, Dusun Kampung Baru,
dan Dusun Buani. Sebagai pusat pemerintahan berada di
Dusun Todo (kantor kepala desa). Dan aku merencanakan
tinggal selama sebulan di Dusun Todo, di rumah Mas
Sugeng.